Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 17


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


...“Hujanmu membuatku kedinginan. Bahkan, tanpa pikir panjang, kau hadirkan petir yang membuatku semakin ketakutan. Hujanmu menyakitkan, bahkan tanpa belas kasihan, kau pergi meninggalkan.”...


...~Natasya Quiella Natapraja~...


Sesuai rencana mereka tadi. Kini Vino dan Tasya sedang dalam perjalanan menuju kafe milik Alvan. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya keduanya telah sampai. Vino memarkirkan motornya di parkiran depan kafe.


“Ayo, Bang Alvan udah nunggu di dalam,” ucap Tasya. Vino hanya mengangguk sambil melepas helm dari kepalanya.


“Emangnya Bang Alvan nggak sekolah apa?”


“Enggak, dia bolos lagi.”


Vino dan Tasya berjalan beriringan memasuki ruangan kafe yang sengaja di desain khas anak muda. Maklumlah, selain karena pemiliknya masih muda, letak kafe ini juga menjadi alasan dibalik desainnya.


“Permisi!”ucap Tasya kepada salah satu pelayan yang baru saja lewat di hadapan mereka.


Pelayan itu menoleh. “Iya, ada yang bisa saya bantu?”


“Bang Alvan di mana, ya?”


“Oh, Bos sedang berada di ruangannya, ada perlu apa ya?”


“Saya adiknya Bang Alvan, saya sudah ada janji dengan dia.”


“Oh baik, mari saya antar.”


Tasya dan Vino pun mengikuti pelayan itu, hingga ketiganya berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang bertuliskan 'ALVAN'S ROOM'


“Ini adalah ruangan Bos, kalau begitu saya permisi dulu.”


Setelah pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua, tangan Tasya terulur mengetuk pintu berwarna coklat itu.


Tok-tok-tok!

__ADS_1


“Masuk!” Terdengar suara dari dalam sana.


Ceklek!


Tasya menyembulkan kepalanya dari celah pintu.


“Bang!”


“Oh udah sampai kamu, Sya. Sini!” sahut Alvan sambil menghadap ke arah adiknya.


Tasya dan Vino kembali melangkah menghampiri Alvan di ruangannya.


“Lo beneran mau kerja di sini, Vin?” tanya Alvan saat mereka bertiga sudah duduk di sofa.


Vino mengangguk. “Iya, Bang.”


“Oh oke lo diterima di sini.”


“Kapan, gue bisa mulai kerja, Bang?”


“Mulai hari ini lo udah bisa kerja, sebentar lagi ada pelayan yang bakalan bawa baju buat lo.”


“Terima kasih, Bang.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena tadi pagi Vino baru saja pergi mengambil uang di ATM untuk membeli keperluan sehari-harinya. Namun, saat dia mengecek saldo yang berada di rekeningnya lebih banyak dari sisa uang yang sebelumnya, dan hasil gajinya selama sebulan bekerja di kafe milik Alvan.


Dia tahu, papanya tak pernah benar-benar berniat untuk menyuruhnya pergi dari rumah atau bahkan mengusirnya. Seminggu setelah dia keluar dari rumah megah milik papanya, papanya menelepon dan menyuruhnya kembali ke rumah.


Namun, karena egonya Vino tidak ingin kembali ke rumah. Karena dia merasa ini belum waktunya. Dia hanya tak ingin papanya kembali membeda-bedakan dirinya dengan sosok abangnya. Apakah Vino tidak pernah menjadi anak membanggakan bagi papanya?


Ah sudahlah, dari pada pusing memikirkan hal yang tak perlu dipusingkan, Vino segera menancap gasnya menuju kafe milik Alvan dan bekerja di sana. Dengan bekerja setidaknya bisa mengurangi beban yang berada di pikirannya.


Setelah sampai di kafe, Vino segera mengganti bajunya dengan baju pelayan. Oh iya, selama sebulan ini Tasya sering menemani Vino selama bekerja. Entahlah Vino jadi merasa bersalah, Tasya selalu ada untuknya.


Tasya melambaikan tangannya ke arah Vino sambil tersenyum.


“Siang, Mas Pacar!”


Vino hanya membalasnya dengan senyuman. Rasa bersalah itu selalu hadir saat Vino melihat Tasya tersenyum kepadanya. Dia hanya takut membuat Tasya kehilangan senyumannya. Tasya harus bahagia, walaupun tidak bersamanya.


Sampai sekarang, perasaan Vino ke Tasya masih abu-abu. Dia masih belum mengerti dengan perasaannya. Kadang dia merasa bahagia berada didekat Tasya, tetapi kadang dia juga merasa risih melihat Tasya yang selalu mengikuti ke mana pun dia pergi.


“Lo udah makan?” tanya Vino sambil berusaha menetralisir rasa bersalahnya.


Tasya menggeleng. “Belum, tadi pas pulang sekolah langsung ganti baju terus ke sini, gue mau nyemangatin Mas Pacar gue waktu kerja.”


“Harusnya lo lebih pentingin diri lo. Lo, kan punya penyakit maag, kalo kambuh lo juga yang sakit. Lagian gue nggak perlu lo semangatin, gue udah semangat. Oke, sekarang lo mau makan apa,? Biar gue ambilin."

__ADS_1


“Cie perhatian, ya? Gue mau makan mi goreng aja deh, gue lagi pengin itu soalnya.”


Vino mengangguk lalu membalikkan badannya menuju dapur kafe. Dia mengambil sepiring mi goreng, juga jus alpukat untuk Tasya.


Satu fakta yang dia ketahui tentang Tasya. Tasya adalah gadis pecinta minuman yang berhubungan dengan alpukat. Namun, gadis itu tidak suka jika memakan buah alpukatnya secara langsung.


Vino membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Tasya, dia berjalan menghampiri Tasya yang sudah menunggunya di salah satu meja.


“Nih, lo makan aja. Gue mau kerja dulu, ya.”


Tasya mengangguk lalu mulai menyantap makanannya. Selama menyelesaikan aktivitas makannya, mata Tasya terus mengikuti ke mana pun Vino pergi. Dia tersenyum sambil mengunyah makanannya.


‘Ya Allah, apakah aku dan Vino adalah dua orang yang kau takdirkan untuk bersama atau malah sebaliknya?’ batin Tasya.


Kenapa dia bertanya seperti itu? Karena dia masih merasakan kecuekan Vino terhadapnya. Bahkan tak jarang Vino mengabaikan kehadirannya. Namun, Tasya tak pernah menganggap itu semua. Tasya hanya berusaha agar bisa berpikir positif tentang Vino. Tasya selalu menenangkan hatinya, dengan berkata ‘jangan sedih Tasya, Vino cuek mungkin karena kecapean habis kerja seharian’. Namun, terkadang Tasya tampak merasa kesal dengan sikap Vino yang sering seperti itu.


Hujanmu membuatku kedinginan. Bahkan, tanpa pikir panjang, kau hadirkan petir yang membuatku semakin ketakutan. Hujanmu menyakitkan, bahkan tanpa belas kasihan, kau pergi meninggalkan. Mungkin kata-kata itu sudah cukup untuk menganalogikan bagaimana perasaan Tasya sekarang.


Tak terasa sudah dua jam Tasya berada di sini. Kerjaannya hanya memandang sambil diam-diam memotret Vino yang sedang bekerja. Dia tersenyum menatap hasil jepretannya. Tasya beranjak dari duduknya, dia ingin pulang karena sedang memiliki sesuatu yang harus dikerjakan.


"Vin, gue balik dulu, ya. Tugas gue lagi numpuk soalnya," ucap Tasya saat sudah berada di samping Vino.


Vino mengangguk. “Maaf ya, gue nggak bisa nganter. Soalnya masih ada kerjaan juga.”


“Enggak apa-apa kali, lagian gue balik sama Bang Al. Nah, tuh Bang Al,” sahut Tasya sambil menunjuk Alvan yang berjalan ke arah mereka.


“Ayo, Sya, udah mau sore soalnya,” ucap Alvan melirik sekilas ke arah jam mahal yang melingkar sempurna di tangan kirinya.


“Gue pulang dulu, Vin. Yang semangat kerjanya.” Vino membalasnya dengan senyuman, juga anggukan.


Sedangkan Alvan, dia hanya acuh tak memedulikan kehadiran Vino di antara mereka. Alvan pun tak tahu kenapa dia bisa merasa tak suka kepada Vino tanpa sebab. Apa karena Vino berpacaran dengan adiknya? Sudah dibilang Alvan tidak tahu alasannya, bukan?


Tasya sedikit berlari guna mengimbangi langkah abangnya yang cepat.


“Bang tungguin kenapa? Jalan lo cepat banget sih,” gerutu Tasya saat sudah berada di samping Alvan.


“Lo aja yang lambat, udah buruan.”


Alvan memasuki mobilnya diikuti oleh Tasya yang duduk di kursi penumpang. Setelah memastikan Tasya sudah benar-benar memakai sabuk pengamannya, Alvan segera menginjak pedal gas mobilnya.


“Bang, gue lihat-lihat kenapa kayaknya lo nggak suka sama Vino?” tanya Tasya yang dirundung rasa penasaran.


Alvan mengangkat kedua bahunya.


“Gue nggak tau sebabnya, intinya setiap ngelihat dia, emosi gue serasa meluap-luap. Gue juga nggak tau apa kesalahan dia yang buat gue nggak suka sama dia.”


Tasya hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Ia sebenarnya kurang puas dengan jawaban yang Alvan berikan.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2