Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 30


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


.


.


.


.


“Aku bukanlah seorang pendendam. Namun, sakit yang kamu berikan sungguh terlalu dalam, hingga membuatku membencimu secara perlahan.”


~Natasya Quiella Natapraja~


Suasana taman kota yang tenang membuat seorang Tasya betah berlama-lama di sana, dengan segelas cup white coffee di tangannya. Matanya tampak memandang area sekitar sambil mengayun-ayunkan kakinya. Keadaannya masih seperti tadi, tenang.


Puk


Seseorang menepuk pelan pundak Tasya membuat sang empunya menoleh. Dia menatap pria yang berdiri di sampingnya yang juga tengah menatapnya.


“Bisa kita bicara, Sya?” tanya Vino, ya pria itu adalah Vino.


Tasya mengangguk lalu kembali menyeruput kopinya.


“Gue mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Gue tahu gue salah, gue menyesal, Sya.” Vino berucap pelan, sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar. Untungnya keadaan taman masih tenang seperti tadi.


“Jangan pernah datang lagi, aku sudah tidak mau berharap kembali. Ingat, bahkan kamu pernah meninggalkan tanpa pikir panjang!" ucap Tasya tanpa mau memandang wajah pria yang sedang duduk di sampingnya ini.


“Gue tahu apa yang gue lakuin dulu itu salah, Sya, bahkan salah besar. Gue baru menyadari perasaan gue setelah kisah kita sudah usai. Gue, gue sayang sama lo, Sya.” Vino menatap wajah Tasya dari samping.


“Nikmati penyesalanmu, karena apa yang kamu alami hari ini adalah apa yang kamu perbuat di hari lalu. Penyesalan yang kamu bawa tak akan dapat menyembuhkan perasaanku yang telah kecewa.”


Vino speechless mendengar apa yang diucapkan oleh Tasya. Dia menatap sendu ke arah Tasya. Vino sadar bahwa semua ini salahnya. Andaikan saja dia tak melakukan hal bodoh itu, mungkin saat ini Tasya masih bersamanya. Namun, Vino juga tak mampu melawan egonya. Saat itu, Vino terlalu bahagia dengan kembalinya Rika di kehidupannya.


“Lo nggak perlu sesali kesalahan yang pernah lo lakuin. Percuma lo menyesalinya, karena itu semua udah berlalu. Yang harus lo lakuin sekarang adalah, sayangi wanita yang saat ini bersama lo. Jangan kecewain dia, cukup gue aja yang selalu lo buat terluka.” Tasya tersenyum tulus.


Tasya bangkit dari duduknya, meninggalkan Vino yang menatap sendu punggung Tasya yang semakin menjauh.


Tasya menoleh sebentar ke arah Vino lalu kembali melanjutkan langkahnya. Dia tak boleh goyah, dia pasti bisa merelakan Vino. Tasya harus bisa berdiskusi dengan hati agar dapat melepaskan dengan ikhlas.


“Sorry, Vin.”

__ADS_1


🎀


Vino memarkirkan motornya di depan sebuah rumah besar. Bukan, bukan rumahnya melainkan rumah sahabatnya.


Tok tok tok


“Eh Vino, ayo masuk. Rangga-nya ada di kamar, kamu masuk aja!” cerocos seorang wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah mama Rangga.


Vino mengangguk, dia mulai melangkah memasuki rumah besar itu. Vino menaiki tangga yang membawanya menuju kamar dengan pintu berwarna biru muda.


Ceklek


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Vino segera memasuki kamar Rangga.


Rangga menoleh, menatap Vino dengan dahi berkerut.


“Lo kenapa? Ada masalah? Muka lo kusut banget, kayak belum disetrika,” celetuk Rangga, kembali fokus pada game yang sedang dia mainkan di ponselnya.


“Lo percaya nggak, gue nyesel sekarang?”


Rangga kembali menoleh, dia meletakkan ponselnya di atas meja belajar lalu menghampiri Vino yang sedang duduk di atas ranjangnya.


“Why?”


“Gue baru menyadari kalau perasaan gue sama Rika udah nggak seperti dulu. Kalau dulu, setiap berada di dekat Rika, jantung gue selalu berdetak dua kali lebih cepat, tapi sekarang udah nggak. Gue baru sadar, perasaan gue udah pindah ke lain hati. Dan, sekarang perasaan gue sedang berlabuh di hati cewek yang pernah gue sia-siain kehadirannya, Ngga.”


“Gue harus apa, Ngga?” tanya Vino frustasi.


Rangga mengangkat kedua bahunya.


“Lo tahu nggak kenapa Tuhan buat lo kecewa?” Vino menggeleng. “Lo terlalu menyepelekan perasaan seseorang hingga lo lupa Tuhan adil dalam memberi luka!” ucap Rangga, hm sok quotes.


“Argh, bangsat!” Vino mengacak rambutnya kasar. Kenapa, apa ini karma dari Tuhan?


“Nikmati penyesalan lo saat ini. Setelah itu, lupakan semua. Karena gue juga nggak yakin Tasya mau nerima pria brengsek kayak lo yang bisanya cuma nyakitin perasaan cewek!”


Vino mendelik mendengar ucapan sahabatnya ini. Wow, cukup ... ah tidak, sangat sadis. Baru kali ini Vino mendengar Rangga berucap sesadis ini. Karena biasanya, di antara sahabatnya, hanya Putra-lah yang terbiasa mengucapkan kata-kata sadis.


“Jujur aja, Vin, gue marah sama lo, tapi gue nggak bisa apa-apa. Sebagai sahabat lo, yang bisa gue lakuin cuma menasehati lo, supaya lo nggak mengulang kesalahan yang sama. Sekarang lo udah punya Rika, jangan sia-siain dia, Vin. Kalau lo memang udah nggak ada rasa sama dia, lepaskan. Jangan lo buat wanita yang berada di dekat lo merasakan kecewa seperti yang Tasya rasakan dulu. Gue yakin lo juga tahu, ‘kan? Tasya sampai trauma gara-gara lo sering nyebut dia murahan?”


Vino mengangguk pelan. “Gue tahu gue salah, tapi apa semua ini nggak bisa diperbaiki, Ngga?”


Rangga menggeleng. “Gue nggak tahu, semuanya tergantung sama seseorang yang lo buat kecewa.”


“Gue bingung, Ngga. Sekarang gue akui, gue sayang sama Tasya, tapi di sisi lain gue nggak rela ngelepasin Rika. Gue juga sayang sama dia, walau perasaan sayang gue lebih besar kepada Tasya.”


Rangga menepuk pundak Vino. “Kalau gue boleh bilang, lo itu egois, lo itu bego, Vin. Lo bahkan nggak bisa memahami perasaan lo yang sebenarnya. Dan, lo juga plin-plan, tadi lo bilang sayang sama Tasya terus sekarang lo juga bilang kalau lo juga sayang sama Rika. Belajarlah Vino, pahami perasaan lo sendiri. Jangan sampai keplin-planan lo ini ngebuat lo mengambil keputusan yang salah, yang akhirnya ngebuat lo menyesal kayak sekarang! Ingat, karma tak semanis kurma.”

__ADS_1


🎀


“Raka!!” Teriakan Tasya menggelegar di dalam rumah. Gadis itu berlari menghampiri seseorang yang sedang duduk anteng.


Merasa namanya dipanggil, pria itu pun menoleh. Dia tersenyum lebar, merentangkan tangannyamenunggu Tasya menghampirinya.


Tasya segera berlari, menghambur kedalam pelukan sahabat kecil yang sangat dia rindukan.


Raka Alfarasya Romenson, sahabat kecil Tasya. Memiliki mata sipit, hidung mancung, dan em ... pastinya handsome.


“Apa kabar?” tanya Raka setelah melepas pelukannya.


Tasya tersenyum lalu mengangguk.


“Seperti yang lo lihat. Baik, bahkan sangat baik!”


“Gue tahu apa yang terjadi sama lo selama ini, Sya. Gue udah diceritain sama Bunda tentang semua yang menimpa lo. Gue tahu lo gadis kuat, lo pasti bisa ngelewatin ini semua, Sya.”


Tasya tersenyum, dia kembali memeluk tubuh Raka.


“Santai aja, gue udah nggak papa. Kejadiannya juga udah berlalu. Benar kata Bang Gilang, berdamai dengan masa lalu itu tidak buruk.”


“Bang Gilang siapa, Sya?” tanya Raka, menatap Tasya dengan tatapan intimidasi andalannya saat sedang menginterogasi gadis yang berada di depannya.


“Gue udah pernah cerita, masa lo lupa sih. Apa jangan-jangan karena lo semakin tua makanya lo jadi pikun?”


Refleks Raka menepak kening Tasya.


“Sembarangan kalau ngomong, gue sama lo cuma beda dua bulan ya. Dan umur gue itu masih 17 tahun, sama kayak lo.”


“Gue belum 17 tahun ya, masih 16. Bulan depan baru 17!” ralat Tasya.


“Sama aja.”


“Beda!”


“Sama!”


“Pokoknya beda, ya tetap beda. Ngalah dong sama perempuan, lo jadi pria masa gak mau ngalah sih sama gue!”


Oke, Raka mengalah. Lebih baik dia pergi ke kamar Alvan dan menganggu pria itu, mungkin Lebih baik, dari pada meladeni gadis yang suka ngambek.


“Woe, Raka lo mau ke mana? Lo udah buat mood gue turun dan sebagai permintaan maaf, lo harus traktir gue baksonya Pak Gugun, nggak mau tahu!”


Tasya segera menarik lengan Raka agar mengikutinya. Oke, jika sudah begini Raka hanya pasrah. Demi sahabatnya yang super menyebalkan.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2