Matahari Di Tengah Hujan Deras

Matahari Di Tengah Hujan Deras
Chapter 21


__ADS_3

Happy Reading❣


.


.


.


“Jika dengan melepaskan bisa membuatmu bahagia. Meski sulit, tetapi aku akan berusaha dengan perlahan akan kuikhlaskan kau menjadi miliknya.”


~Natasya Quiella Natapraja~


Saat Vino hendak melangkah pergi, tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri mereka. Dia meninju rahang Vino dengan keras hingga membuat tubuh Vino tersungkur di tanah.


“Maksud lo apaan, hah?!” tanya Vino menatap tak percaya ke arah abangnya yang baru saja meninju wajahnya sambil mengusap sudut bibirnya yang robek.


“Lo yang apaan? Gue udah pernah bilang sama lo, perasaan perempuan bukan buat mainan! Dan sekarang, apa yang lo lakukan? Lo udah mainin perasaan perempuan. Mama pasti kecewa lihat kelakuan lo yang kayak gini, Vin. Jangankan Mama, gue aja kecewa sama kelakuan bajingan lo ini!” bentak Gilang.


“Berhenti bawa-bawa Mama!” Vino segera melayangkan bogem mentah di wajah Gilang. Entah kenapa dia paling tak suka jika kelakuannya dibawa-bawa dengan nama mamanya.


Bugh!


Tak ingin kalah, Gilang pun sama, dia juga meninju wajah Vino.


Bugh!


“SETOP!” seru Tasya sambil memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya.


“Sya!” Gilang segera menarik Tasya ke dalam pelukannya, mengusap punggung rapuh itu pelan. Sementara Vino sudah pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan campur aduk.


“Mama? Maksudnya apa, Bang?” tanya Tasya setelah melepaskan diri dari pelukan Gilang.


“Vino adik Abang, Sya dan marga L di belakang nama Abang itu sama kayak Vino. Udah kamu jangan nangis lagi ya, aku ada di sini.”

__ADS_1


“Tapi, Bang. Rasanya sakit, baru kali ini Tasya ngerasain yang namanya kecewa karena cinta,” ucap Tasya sambil memandang mata teduh milik Gilang.


Gilang menangkup wajah Tasya dengan kedua tangannya.


“Tasya dengerin Abang, cinta itu tidak akan sempurna tanpa adanya luka. Kecil atau besar luka yang diberikan oleh cinta jangan sampai merubah kepribadian yang ada di dalam diri kamu. Kamu harus bisa membuktikan bahwa karena luka kamu bisa menjadi orang yang lebih kuat lagi.”


Tasya hanya bisa menangis di dalam pelukan Gilang. Jujur, rasanya sakit bahkan sangat. Namun, apa yang dikatakan oleh Gilang ada benarnya juga. Dia harus bisa membuktikan kepada semua orang kalau dirinya akan menjadi gadis yang lebih kuat lagi. Menjadi gadis yang tidak mudah rapuh karena luka yang diberikan oleh cinta.


Cinta itu satu paket dengan luka. Di mana ada cinta disitu ada luka. Namun, di mana ada luka belum tentu ada cinta. Tasya menghirup udara sebanyak-banyaknya, mencoba menetralkan perasaannya. Tasya melepaskan diri dari pelukan Gilang.


Dia menatap Gilang sambil tersenyum hambar. Dia mengingat setiap perkataan yang beberapa menit lalu dilontarkan oleh Vino. Ternyata jatuh karena cinta memang semenyakitkan ini.


“Bang, bisa tinggalin Tasya sendiri dulu?” tanya Tasya sambil menatap Gilang yang juga tengah menatapnya.


“Iya, Abang tahu kamu perlu waktu untuk sendiri, tapi ingatkan kalau Abang pernah bilang gini sama kamu, ‘kalau Vino nyakitin kamu bilang ya sama Abang. Biar Abang yang bahagiain Tasya.’ Tasya percayakan sama Abang?”


Tasya mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bang. Tasya ingat, makasih Bang Gilang selalu ada untuk Tasya.”


“Ya udah, Abang pergi dulu. Ingat, luka yang diberikan oleh cinta adalah sesuatu yang bisa membuatmu lebih kuat lagi dan lebih dewasa lagi, tapi tergantung bagaimana cara kamu menghadapinya,” tutur Gilang mengusap lembut rambut Tasya lalu beranjak dari duduknya memberikan Tasya waktu untuk sendiri.


‘Luka yang kurasa mungkin tidak akan berarti apa-apa bagimu, tapi di sini aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu. Meski aku tak tahu, dapatkah aku belajar ikhlas melepaskanmu?’ batin Tasya.


“Sya!” panggil seorang pria yang baru saja duduk di samping Tasya.


Tasya menurunkan telapak tangannya, menoleh ke samping lalu memeluk seseorang yang memanggilnya tadi.


“Bang, hati Tasya sakit. Tasya nggak kuat, Bang. Rasanya sakit banget. Apa luka karena cinta memang sesakit ini? Seandainya aja dari awal Tasya dengerin apa kata Arin, mungkin sekarang Tasya nggak bakalan ngerasain luka sedalam ini. Tasya terlalu jatuh, jatuh sejatuh-jatuhnya sama laki-laki berengsek kayak dia, Bang. Kenapa cinta pertama Tasya harus menimbulkan luka?” Tasya terus mengeluarkan unek-unek yang ia rasakan di dalam pelukan abang kandungnya.


“Tasya, dengerin Abang. Tuhan hanya sedang menguji kisah cintamu. Tidak ada kata seandainya, semua takdir manusia udah ada yang ngatur. Jangan pernah salahkan takdir. Karena takdir juga yang membuatmu mengerti dan belajar dari kesalahan yang pernah kamu lakukan. Jangan sedih lagi, laki-laki seperti dia tidak pantas kamu tangisi. Yang lalu biarlah berlalu, lupakan semua sakit yang kamu rasakan. Kamu harus bangkit, tunjukkin ke semua orang, bahwa kamu tidak selemah yang mereka bayangkan,” tutur Alvan, mengusap lembut rambut adiknya yang masih berada di dalam dekapannya.


Tasya sudah tidak sanggup mengeluarkan kata-katanya, dia hanya bisa menangis di dalam pelukan Alvan. Perlu waktu sendiri? Itu hanya alibinya agar tidak ada yang melihatnya sedang rapuh. Bukan dia malu, tetapi karena dia tak ingin membuat orang di sekitarnya mengkhawatirkan dirinya.


Luka yang diciptakan Vino sangat membekas di hatinya. Entah siapa yang patut disalahkan, dirinya? Vino? Atau perempuan yang katanya adalah kekasih Vino?

__ADS_1


Namun, menurut Tasya, perempuan itu tidak bersalah. Dia tidak tahu bahwa Vino telah memiliki seorang kekasih lagi. Mungkin, bila perempuan itu tahu yang sebenarnya, dia juga akan merasakan sakit seperti yang Tasya rasakan saat ini.


Perempuan itu sama seperti Tasya, dia juga termasuk korban di sini, tetapi mungkin yang menjadi perbedaan di sini adalah Vino yang mencintainya secara tulus dan Vino yang mencintai Tasya hanya karena tantangan, ah ralat, apa mungkin Vino tidak pernah memiliki rasa sedikit pun untuk Tasya?


Tasya kembali menangis, apalagi saat mengingat Vino yang selalu menyebutnya murahan. Sudah tak terhitung berapa kali Vino menyebutnya seperti itu. Apakah tidak ada kata lain yang lebih pantas diucapkan Vino kepada Tasya? Apakah hanya kalimat itu menurut Vino yang pantas diucapkannya kepada Tasya?


Lo terkesan kek murahan!


Terkesan kek murahan!


Kek murahan!


Murahan!


Murahan!


Tasya melepaskan diri dari dekapan Alvan secara tiba-tiba, sia langsung memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


“Gue nggak murahan! Berhenti ngatain gue murahan! Gue nggak murahan!” pekik Tasya sambil menggelengkan kepala.


Alvan terpaku melihat kelakuan adiknya, dia kembali menarik Tasya kedalam pelukannya.


“Siapa yang bilang Tasya murahan? Tasya nggak murahan. Tasya sangat berharga bagi Abang, Ayah, dan Bunda. Tasya jangan bilang kayak gitu lagi.” Tak terasa bulir demi bulir air mata mulai terjun bebas di pipi Alvan.


Tasya tampak tak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Alvan. Dia terus saja menggumamkan kata-kata bahwa dirinya bukan murahan. Hingga matanya mulai berkunang-kunang dan setelahnya hanya gelap yang dapat dia rasakan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue ....


__ADS_2