MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
10


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Adrienne menatap lekat punggung Deon, senang sekali rasanya kalau tempat tinggalnya ini terus ribut seperti sekarang.


"Adrien, Hei... Apa kau mendengar ku?" Deon melambaikan tangannya didepan wajah Enne, pria itu tau kalau omelannya tidak ada yang masuk ditelinga Adrien.


"Ah, ada apa? Kamu mengatakan sesuatu?" Enne balik bertanya, pandangan mereka berdua bertemu dan Deon mendekatkan diri tepat beberapa senti dari wajah cantik Adrien.


Adrienne gugup tangannya refleks menutup bibir tipis nan menggoda milik Deon.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Deon setelah berhasil menarik diri dari tangan Enne.


Enne marah "Ti-tidak seharusnya kamu menciumku, kita kan baru pacaran masa langsung ciuman" tegurnya, dia jelas tidak mau memulai hubungannya dengan nafsu belaka.


Deon mengernyit, sebenarnya pikiran apa lagi yang ada di otak pacarnya itu, sudah cukup kesalahpahamannya terjadi.


"Kapan aku menciummu? Ckck, aku mau menanyakan pendapat mu tentang penggantian tirai itu, kamu malah membahas ciuman, hayo kamu memikirkan hal aneh kan?" Deon blak-blakan menunjukkan sisi santainya berbeda dengan Enne yang kaku dan canggung.


Mendengar jawaban Deon pipi Enne merona, tentu saja dia malu.


"Tapi Adrien, sebelum pikiranmu semakin aneh aku akan mengatakan sesuatu, kau mungkin akan tenang mendengarnya" Deon menatap lekat iris hitam nan pekat milik Enne.


"Apa itu?" tanyanya.


"Aku tidak akan pernah melakukan hal diluar batas denganmu, perasaanku bukan karna nafsu Adrienne, aku memilihmu untuk menemaniku mewujudkan hidup bahagia bersama bayimu, jadi jangan pikirkan hal lain, sebelum kita menikah tidak akan ada yang terjadi" jelasnya diakhiri senyum hangat.


Tatapan lembut penuh kasihnya berhasil membuat Enne malu dan juga lega, meski itu hanya kalimat panjang dan sekedar janji tapi Enne sangat menghargainya, setidaknya komitmen yang Deon impikan tidak sama sekali merendahkan dirinya.


"Terima kasih Deon" ujarnya, Enne membalas senyum pria didepannya.


Deon kembali mendudukkan dirinya, tangannya menepuk-nepuk sofa dengan raut wajah memanggil Enne untuk ikut duduk didekatnya.


Entah karna dia senang atau sekedar berterimakasih, akhirnya dia mau menuruti keinginan Deon.

__ADS_1


Deon tersenyum, manis sekali, jarak mereka hanya beberapa senti membuat sicalon ibu gugup untuk beberapa alasan.


"Bolehkah aku memegang perutmu?" Sorot mata Deon dipenuhi rasa penasaran.


"Boleh" jawab Enne sedikit kaget, permintaan Deon memang selalu penuh dengan kejutan.


"Wah, rasanya hangat, apa kamu tidak sesak? Kelihatannya perutmu akan meledak deh" Komentar polos keluar dari mulut Deon, dia masih memegang dan memandangi perut Enne karna takjub.


"Hahaha tidak kok, perutku cukup elastis dia bisa membesar dan mengecil jadi kau tidak perlu khawatir" Enne terkekeh, lucu juga melihat tingkah Deon, dia seperti anak kecil.


"Kamu keren sekali, oh ya, apa kamu sudah tahu jenis kelaminnya?" Deon semakin penasaran.


Enne menggeleng "Belum, aku akan memeriksanya kalau itu sangat dibutuhkan, lagipula baik laki-laki maupun perempuan aku suka apapun jenisnya" jawabnya tegar tapi Deon melihat kesedihan mata Adrien.


Tanpa sadar Deon memegang tangan Enne dan berujar lembut "Tidak apa-apa, pelan-pelan saja, mulai sekarang apapun akan kulakukan untukmu, minggu depan mari kita periksa jenis kelaminnya dan mulai nanti kita harus rutin mengecek kehamilanmu" jelasnya.


"Tapi-


"Aku tidak menerima penolakan Adrienne, sangat penting untuk memeriksa kehamilan, aku tidak mau bayi kita kenapa-kenapa" Deon masih menatap mata bulat Enne.


'Ada apa denganku, rasanya seperti tersengat listrik, kalimat Deon, apa dia juga menganggap anakku ini sebagai anaknya? Tapi kenapa dia baik begini? Aku bingung, apa dia benar menyayangi bayiku atau hanya kebohongan untuk menarik hatiku saja, aku bingung' batin Enne.


"Bagus, kalau begitu aku pulang dulu, sebenernya hari ini aku juga harus kembali ke rumahku jadi hari ini hari terakhirku menemani bibi tapi kamu tenang saja aku akan selalu menemuimu" Deon pamit, meski berat dia melangkah pergi meninggalkan Adrienne sendirian.


"Baiklah, hati-hati dijalan" Enne mengantar Deon sampai depan pintu, keduanya saling melambai lalu sosok Deon pun menghilang dari pandangannya.


Pelan namun pasti Enne mengunci pintunya dan berjalan masuk ke kamarnya, dia baring dan sibuk memikirkan situasi yang sudah dialaminya seharian ini.


Air matanya menetes lagi, tentu saja Salma masih teringat jelas dihatinya, kematian ibu panti benar-benar tidak pernah ada dalam bayangan Enne dan hari ini kepergiannya masih sangat membekas di hatinya.


"Ibu, hari ini pria yang cukup baik melamarku tapi aku menolaknya, pilihanku sudah benar kan bu? Hiks, aku sedih, aku benar-benar sedih Bu" gumamnya.


...*...


...*...


Tok~

__ADS_1


Tok~


"Adrienne aku datang" teriak Deon.


"Ckckck, giliran bertemu wanita cantik kamu jadi lupa dengan bibi" wanita paruh baya itu mencubit perut ponakannya.


"Aww bi, tentu saja aku kan pacarnya sekarang, lagipula kenapa bibi ada disini? Perasaan tadi aku hanya sendiri" Deon cemberut.


"Kau ini, bibi mau berangkat kerja, tapi kamu sudah ada disini padahal kemarin kamu pamit tanpa melihat wajah bibi benar-benar anak nakal, giliran lihat Enne matamu langsung berbinar begitu" Bibi tang mengomel tapi Deon tidak mengindahkan ucapannya dan memilih mengetuk pintu Enne lagi.


Tok~


Tok~


"Huh dasar, ya sudah aku pergi yah, jaga Enne baik-baik, kamu sudah siap jadi calon ayah yah sampai-sampai bawa makanan sebanyak itu" bibi Tang hendak pergi dan Deon menjawab pernyataannya.


"Tentu saja, aku ini calon ayah yang baik, aku membelikan susu dan buah-buahan untuk anakku jadi bibi tidak usah khawatir, nah hati-hati dijalan bi, dadah!"


Deon melambai dan bibi Tang hanya bisa menggeleng melihat tingkah ponakannya, Deon benar-benar dimabuk cinta ternyata.


Cklek


"Oh kamu datang yah, masuklah" sambut Enne lesu.


"Kamu kenapa? Matamu bengkak, kamu habis menangis yah?" tebak Deon, dia bergerak cepat mengikuti langkah Enne yang sudah masuk duluan.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja" jawabnya lemah, Enne merebahkan dirinya diatas sofa, sepertinya dia tidak sadar kalau tubuhnya sakit.


"Coba sini" Deon memeriksa suhu tubuh Enne dan mengetahui kalau pacarnya ini sakit.


"Tck, Enne suhu tubuhmu sangat panas dan kamu hanya bilang sedikit pusing? Apa kau bercanda denganku? Tidak bisa, kau harus dibawa kerumah sakit, ayo ikut" Deon mencoba membangunkan Enne dan setelah berhasil tanpa ragu dia langsung membawa calon istrinya kerumah sakit terdekat.


Adrienne tidak merasakan apapun selain rasa kantuk yang besar, samar-samar dia melihat Deon yang menyetir, wajahnya terlihat takut dan khawatir, saat itu Enne merasa sangat lega sudah memutuskan menerima Deon mendekatinya.


'Benar! Pilihanku tidak begitu buruk, Deon mohon kerjasamanya, mulai sekarang aku mengandalkan mu' batinnya tenang.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2