MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
9


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


- Sudut Pandang Deon -


Namanya Adrienne...


Sangat cantik, sesuai dengan artinya.


Aku tidak tahu kenapa sejak pertama otakku hanya berfokus padanya, rasa penasaranku membesar dengan sendirinya.


Dari sikapnya, kecerobohannya, senyumnya yang canggung dan matanya yang menatap kesal padaku, itu semua sangat kusukai.


Sudah berulang kali kupikirkan, sepertinya dia harus bersamaku, aku ingin menemani kesepiannya.


Tapi apakah terlalu cepat bagiku meminta dia mendampingiku?


Tidak, aku tahu pilihan ini adalah yang terbaik, Adrien membuatku sadar harus sekuat apa aku hidup didunia ini, sama seperti dia yang tegar melewati hari penuh kesendiriannya.


Dia menyadarkanku dan aku terlena padanya, dirinya candu untukku.


Kapan kau akan tersenyum untukku Adrien? Sepertinya wajahmu hanya bisa kesal kalau bersamaku, padahal aku bukan orang jahat.


Dadaku sakit melihat kebencianmu, keberanian ku melamarmu adalah bukti ketulusan dan keinginan ku yang sangat besar Adrien, asal kau tahu itu.


Aku bukan orang yang sembarang memilih wanita, kau adalah yang pertama untukku, perasaan ku hanya tertuju padamu sejak kita bertemu untuk pertama kalinya.


Apa aku berlebihan?


Tapi aku sangat ingin bersamanya, menemani dan berjuang bersamanya. Yah, katakan saja sifatku egois tapi kalau bukan saat ini, mungkin tidak akan lagi ada kesempatan seperti ini.


"Jadi kau mau bilang apa?"


Hm, imut sekali!


Sepertinya dia sendiri tidak tahu betapa menggemaskan tingkahnya saat ini, meski harus kuakui wajah cantiknya tidak bisa diabaikan, dia SEMPURNA.


^^^- Sudut Pandang Selesai -^^^


...*...


...*...


Kedua mata Enne membulat, bulu kuduknya berdiri, dia merinding, kalimat Deon sangat mengejutkannya.


"Adrien, apa kau mendengar ku?" Deon masih menatap Enne yang membeku didepannya.

__ADS_1


Kesadarannya kembali dan Enne memilih diam, sepertinya dia harus berpikir sangat keras untuk pertanyaan itu.


"Adrien..." sapa Deon lagi, dia mencoba meminta tanggapan ataupun jawaban Enne.


"Tapi kita baru bertemu kemarin ma-


"Setidaknya kita sudah bertemu, yang aneh kalau kita tidak pernah bertemu dan tiba-tiba menikah! Kamu tahu bukan pembahasan ini yang kuinginkan"


Tahu! Enne sangat tahu jawabannya tapi mulut mungilnya tidak bisa berkata apapun, otaknya ikut membeku, dia tidak paham harus berbuat apa.


Bayangkan saja, seorang pria yang tiba-tiba saja menanyakan latarbelakang janinnya dan selang satu hari malah melamarnya, bagaimana bisa dia mempertimbangkan hal yang sudah tentu akan ditolaknya.


Masalahnya, jika dia menolak, Deon mungkin akan marah dan meninggalkannya sendiri lalu tidak memberi tumpangan untuk pulang padahal dia lupa bawa dompet.


Enne merasa serba salah!


Tangan kanannya bergerak, mengambil jus stroberi didepannya, alih-alih menjawab si pria bersurai hitam itu, dia justru asik menyedot minumannya.


Kerutan di wajah Adrienne kembali, jelas dia sedang memikirkan jawaban tepat untuk lamaran yang tiba-tiba ini.


Setelah siap memutuskan jawabnya dia memulai percakapan dengan serius.


"Maaf Deon, aku tidak bisa, lagipula aku tidak mungkin menikah denganmu, aku hamil dan keluargamu mungkin tidak akan menerima keadaanku" Enne berhasil menemukan alasannya tapi lagi-lagi Deon punya segala jawaban.


"Ah itu, kemarin malam setelah bertemu denganmu aku langsung menelfon orang tuaku, mereka sudah tahu, kalau aku mau melamarmu dan jika kamu menerimanya, kita akan menyegerakan pernikahan" Deon antusias menjawab sedang Enne menatapnya karena tak habis pikir.


'Rupanya aku sudah masuk perangkap yah, dia tidak akan melepaskan aku segesit apapun aku mengelak dan menolaknya, hah dia aneh tapi aku lebih aneh karna justru berpikir agar menerimanya, baiklah Deon, mari kita lihat se serius apa kamu denganku' Enne membatin.


Sejenak, pandangan Enne beralih ke luar jendela, dia melihat bangunan-bangunan diseberang café, banyak restoran terjejer sampai di ujung jalan sana, pasangan muda mudi juga berlalu-lalang sambil menyahut tawa, membuat Enne iri saja.


'Mereka tidak punya beban yah?' pikir Enne.


Lalu dia tersenyum agak kesal.


'Kalau dipikir-pikir, mungkin itu hanya topeng ataupun kesenangan sesaat, pada akhirnya saat panggung selesai dan tirai tertutup, semua akan kembali ke sifat aslinya, benar, tidak ada yang abadi dikehidupan ini' batinnya lagi.


Deon masih asik menatap Enne, dia berpikir ada apa dengan wanita didepannya ini sampai keningnya berkerut dan bibirnya juga menyungging seperti tak suka.


"Bagaimana?"Suara Deon memecah keheningan.


Adrienne tersadar dari lamunannya, kini dia beralih fokus tangannya terpaut memilah-milah kalimat apa yang pas untuk pertanyaan sulit itu.


"Masalahnya, aku harus terbiasa denganmu, kalau menurutku kamu bisa jadi ayah yang baik, mungkin aku akan mempertimbangkannya" Keluhnya mencoba bernegosiasi.


Deon tersenyum penuh kemenangan, soal yang dipermasalahkan Enne bukan hal yang sulit untuknya.


"Begitu yah? Baiklah, kalau begitu kita pacaran saja dulu, pelajari aku dengan cepat dan terima aku jadi suamimu, bagaimana?" tawarnya.


"Pa- Pacaran? Tapi-

__ADS_1


"Kali ini apa lagi Adrien?" Deon menyela, dia tahu Enne hanya akan basa-basi padahal intinya dia setuju dengan kemauan pria itu.


"Ah tidak-tidak, baiklah kita pacaran, haha" jawab Enne, jelas sekali dia tidak ikhlas, apalagi kalau diajak pacaran tapi tidak ada unsur romantisnya sama sekali, yah itu juga bukan harapan besarnya sih.


'Pria ini benar-benar tidak masuk akal, aku jadi takut tapi dalam kesendirianku ini memasukkan Deon dalam hidupku mungkin bukan pilihan yang buruk, dia juga tidak terlihat berniat jahat denganku, yah meskipun menikah sepertinya terlalu berlebihan' Enne membatin.


-


Malam menyapa kedua pasangan itu, mereka baru saja kembali dari cafe dan Deon sudah asik menuntun Enne menaiki tangga apartemen lagi.


"Tck, apa kamu mau pindah kerumah ku? Disini sangat berbahaya untukmu" keluh Deon, belum apa-apa dia sudah khawatir berlebihan.


Enne canggung dengan kebaikan dan tatapan lembut Deon, rasanya masih baru dan aneh, dia tidak membenci sikap itu tapi juga disisi lain cukup geli melihat tingkahnya.


"Apa kamu juga berkata seperti itu pada bibi?" tanya Enne penasaran.


Deon mengernyit tak paham maksud wanita yang sedang dituntunnya.


"Bibi? Kenapa aku harus mengkhawatirkannya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Lagi-lagi Enne menggeleng, bibi benar-benar salah menceritakan kebaikan pria ini, buktinya dia tidak terlihat sebaik itu, bagi Enne, Deon hanya pria mengesalkan yang tidak bisa diajak berdebat karna sudah pasti akan kalah.


"Nah sekarang sudah malam, sampai ketemu lagi nanti bye" akhirnya kebahagiaan Enne datang juga, dia akan berpisah dengan Deon.


"Apa? Siapa bilang aku mau pergi, aku kan juga mau melihat apartemen mu" Tanpa pikir panjang Deon melangkah masuk dan mereka saling berhadapan, tubuh Enne terasa sangat dekat membuat jantung Deon berdetak tidak normal.


"Apa yang kau lakukan, cepat mundur" Keluh Deon, dia terus mengomel dan tanpa rasa malu masuk keruang tamu pacar barunya itu.


Adrienne menutup pintunya dan mengejar Deon "Ishhh kamu mengesalkan sekali, masa kamu tidak dengar jawabanku dulu" teriaknya kesal.


Seketika ruangan terasa sunyi dan Deon membeku disofa yang baru saja didudukinya, sepertinya teriakan Enne mengejutkannya.


'Aduh, kenapa aku teriak sih' batin Enne.


"Ah mm, aku minta maaf, aku ti-


"Apa teriakan itu juga karna faktor kehamilan? Atau kamu memang suka berteriak?" Lagi-lagi pertanyaan Deon berhasil membuat Enne malu.


"Bukannnnn, ish kan sudah kubilang aku tidak suka" Enne hampir menangis, dia memanyunkan bibirnya dan memilih ikut duduk disofa depan Deon berada.


Deon terkejut dan langsung mendekati Enne.


"Iya, iya maaf, bercandaku berlebihan yah? Kamu jangan menangis aku salah, maaf Adrien" Deon berusaha menghiburnya, dia merasa bersalah, sedih bukan hal yang ingin Deon beri untuk wanita didepannya ini.


Ketulusan itu terlihat, Enne menyadarinya, dia tahu hari-hari kedepannya akan berubah, dari wanita kesepian menjadi Adrienne yang super sibuk, yah sibuk meladeni sikap mengesalkan Deon.


'Yah, kuharap, hatiku bisa terbuka untukmu dan aku bisa melupakan Louis' batin Enne.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2