MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
50


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Louis berdiri di balkon rumahnya.


Saat ini, tidak ada satupun yang mampu menghibur lara hatinya, ketiadaan Valarie membuatnya hampa, meski mereka tak hidup bersama, tetap saja kenyataan yang dia lihat beberapa waktu lalu melubangi hatinya.


Alih-alih duduk disofa yang nyaman, dia malah sengaja menyiksa diri dengan membiarkan panas matahari membakar kulitnya.


Setiap Valarie terlintas dibenaknya, dia akan bergumam dengan sedih "Anakku" katanya dengan nada yang rendah dan terdengar menyakitkan.


Dia sudah mencoba tegar dan mencari cara, agar bisa selamat dari pikiran dan raganya, pilu dihatinya sudah diluar batas kemampuannya.


"Putriku" rengeknya, Louis menangis lagi, dia menyesali waktu-waktu yang tidak dihabiskan bersama anaknya.


Tanpa sadar, Louis memukul pagar besi balkonnya dan darah segar mencuat keluar dari jarinya, dia meringis kesakitan, kesabarannya sudah diambang batas.


"Apa-apaan ini, sial! Padahal aku merelakan mereka hidup bahagia tapi malah terjadi seperti ini, apa kau bercanda denganku?" ungkapnya geram kedua tangannya mengepal sangat kuat.


Pria bersurai coklat itu menunduk lemah, dia tak sanggup mengangkat kepalanya "Bagaimana aku akan hidup kalau anakku pergi meninggalkan ku? Bagaimana bisa aku hidup? Putriku yang malang, maafkan ayah" sesalnya, air matanya semakin deras membasahi pipinya.


Louis mengelus kasar dadanya seakan menyuruh sakit itu menghilang, tapi ayah mana yang tidak sakit hati melihat berita kematian putrinya terpampang jelas di TV! Apalagi banyak penyesalan yang semakin memperumit pikirannya.


Tangisnya pecah, sulit baginya mengendalikan perasaannya yang perlahan semakin menyakitinya, begitu banyak keinginan yang belum bisa dia lakukan.


Harapannya sirna, khayalan yang selalu dia nantikan kini hanya tinggal keinginan semata, Valarie tidak mengetahui dirinya dan Louis terkekang oleh janjinya untuk tidak menggangu kehidupan Enne dan putrinya.


Benar, dia menepati janji yang dia buat bersama Adrienne tapi disela-sela kegiatannya yang berada jauh dari orang-orang yang dia cintai, Louis memupuk banyak harapan untuk bisa bertemu lagi dengan putrinya, sesuai yang Enne janjikan lima tahun lalu.


Keinginan itulah yang paling mematahkan hatinya, semua rencananya hancur dan kini dia hanya bisa menangisi nasibnya yang terasa pahit sekali.


"Kenapa aku tidak pernah mengalami hari yang baik, apa aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk merasakan ketenangan? Apa tuhan sengaja menghukumku?" gumamnya masih larut dalam kesedihan.


Ditengah tangisan yang terdengar pilu itu, Louis baru teringat wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Enne, apa dia ada dipesawat itu? Apa dia selamat? Aku harus menemuinya" monolognya.


Louis menenangkan hatinya, dia bangkit dari tempatnya dan mulai memikirkan keadaan Adrienne.


"Aku harus bertemu Enne" ucapnya tegas.


Louis mengambil kopernya dan memutuskan kembali ke rumah lamanya untuk sementara waktu, apalagi dia sedang berada di Papua yang terhitung cukup jauh dari pulau Jawa.


Selama berada diperjalanan menuju bandara, Louis hanya bisa melamun dan mengingat-ingat waktunya bersama Valarie yang sangat sedikit, dihitung-hitung dia hanya pernah bertemu empat kali dengan putrinya, pikiran itu membuat tubuh dan jiwanya lemah.


"Padahal kau putriku satu-satunya" sesal Louis, lagi-lagi air matanya menetes, ingin rasanya dia ikut mati menyusul putrinya, mungkin saja disurga sana, dia bisa bertemu Valarie dan menikmati hidup bersama tanpa ada beban lagi.


"Tck, sayangnya aku tidak punya nyali melakukannya, maaf putriku, ayah sangat egois, tapi ayah janji, ayah akan menemuimu dan selalu mendoakan kebahagiaan mu disana" ucap Louis, dia merasa miris dengan dirinya yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membunuh dirinya dan ikut bersama Valarie yang sudah berada di surga.


...*...


...*...


Hawa ruangan terasa lebih dingin.


Laura memasang syalnya dan masih berjaga disamping Enne, dia menatap menantunya dengan sedih.


Tapi tiba-tiba kecelakaan merenggut nyawa cucu dan keponakannya, berita itu bagaikan petir disiang bolong, rasanya nyawanya sedang ditarik saat mendengar kabar itu.


"Kenapa aku harus melihat hal seperti ini dihari tuaku" ungkapnya.


Laura mengelus pelan dahi Enne, kasih sayangnya terlihat jelas, seolah wanita yang berbaring dan tak sadarkan diri itu adalah darah dagingnya.


Saat itu seseorang masuk dan mendekati Laura.


"Kak" sapanya.


Laura melirik wanita yang berdiri tepat disampingnya "Kenapa kau kesini Maya?" tanyanya, dia terlihat tidak suka dengan kedatangan Maya.


"Aku salah, saat itu aku hilang kendali kak, kau tahu aku sangat sedih kehilangan putraku, bagaimana bisa aku memikirkan yang lain?" ungkapnya terus terang.


"Aku mengerti! Aku juga pernah merasakan yang kau rasakan tapi menghiraukan cucumu yang meninggal bukanlah perilaku yang bermartabat Maya" tegur Laura.

__ADS_1


"Maaf kak! Aku ceroboh" sahutnya sedih.


"Jika aku tidak ada, apa kau akan menghiraukan cucumu? Jika aku tidak ada saat itu, apa kau akan menemani menantu mu yang malang ini?" Laura semakin marah.


Maya tak tahu harus menjawab apa, dia berlutut dan memohon maaf, baru kali ini dia melihat kakak iparnya sangat marah tapi Maya sadar kemarahan Laura timbul karena perbuatannya.


...-Tiga hari yang lalu-...


Maya baru saja menjemput jasad putranya mengikut Laura disampingnya.


Ibu Aron histeris, dia memeluk mayat anaknya dengan kuat sedangkan Laura langsung berjalan melihat mayat cucunya yang diturunkan dari mobil setelah keponakannya.


Saat Laura sedang menahan kesedihannya tiba-tiba dia mendengar adik iparnya teriak dan menyalahkan menantunya.


"INI SEMUA SALAH WANITA ITU, HARUSNYA ANAKKU MASIH HIDUP, AKU MENYESAL MERESTUI MEREKA, ARON ANAKKU SAYANG, AYO BANGUN NAK, JANGAN MENIPU IBU, AKU TAHU KAMU HANYA TIDUR, AYO NAK BANGUN, KAMU MEMBUAT IBU KHAWATIR" teriaknya semakin menjadi-jadi.


Laura mendatangi Maya dan menamparnya kuat-kuat.


"Sadarlah! Apa sekarang kau menyalahkan Enne? Dasar munafik, padahal kemarin-kemarin kau selalu membanggakan menantumu itu dan sekarang kau menyesal? Sadarlah Maya, kendalikan dirimu" kecamnya, Laura tidak terima mendengar penyesalan adik iparnya.


Entah angin apa yang membuat Maya menjadi berani, dia membalas kasar perkataan iparnya.


"KAKAK YANG HARUSNYA SADAR! DIA ITU WANITA YANG MELAHIRKAN ANAK DILUAR NIKAH, JANGAN URUSI MEREKA KAK, LIHAT KEPONAKAN MU, DIA MATI KARENA WANITA JAHAT ITU, DEON JUGA MATI KARENA BERHUBUNGAN DENGANNYA KAN? APA KAKAK TIDAK INGAT?" balas Maya.


Dia sangat geram mendengar kalimat yang keluar dari mulut iparnya.


"APA KAU TIDAK KASIHAN DENGAN CUCUMU? MESKI DIA SUDAH TAK BERNYAWA TAPI JIWANYA PASTI MENDENGAR KATA-KATAMU BARUSAN" Laura juga berteriak sambil menunjuk jasad cucunya.


"Cucu? Apa kakak bercanda? Dia bahkan bukan darah daging putraku, aku tidak mau menganggapnya cucu, aku tidak peduli lagi, anakku lebih berharga dari mereka, Aron lebih berharga dari Valarie kak" ungkapnya tak merasa bersalah.


"Baik! Aku anggap perkataan mu itu sebagai tanda memutuskan hubungan dengan Valarie dan Enne, sekarang dia anakku dan juga cucuku, kau tidak berhak lagi memiliki hubungan dengan mereka, biar aku yang mengurus pemakaman cucuku, kau urus saja pemakaman putramu" ucap Laura penuh penekanan.


Laura tak tahan lagi dan berbalik meninggalkan Maya, dia merasa sangat marah mendengar pernyataan adik iparnya.


Ibu Aron tak peduli dan terus menangis melihat anaknya yang sudah tak bernyawa lagi, dia sangat kehilangan, apalagi Aron adalah anak bungsu kesayangannya, itu sebabnya Maya kehilangan kendali dan sangat marah atas kematian putranya.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2