
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
^^^-Beberapa jam yang lalu-^^^
- Sudut Pandang Louis -
Valarie namanya bagus sekali, orang tuanya pasti punya harapan besar untuknya.
Hah, apa Eliza akan marah kalau aku membahas hal seperti ini dengannya? Sudahlah, lebih baik aku tidak memikirkan hal ini lagi, dia kan sangat sensitif masalah anak.
"Valarie ayo sini sama mama"
Wanita itu? Rasanya aku pernah melihatnya tapi dimana yah? Hah sayang sekali Valarie pergi padahal aku senang, dia anak yang lucu.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing
"Darren! Brengsek kau, apa yang kau lakukan"
"Kak Louis, dia sendiri yang mau, aku hanya membantunya"
"Diam kau!"
BUKKK
TAKKK
"Pukul saja aku, tapi jangan sakiti dia"
BUKKK
TAKKK
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing
Akh sakit sekali!
Yang barusan itu apa? Aku pernah bertengkar dengan Darren? Kapan? Kenapa aku tidak ingat, siapa yang dia bantu? Tentang apa?
Sepertinya ada yang tidak beres, aku harus mengajak bicara Darren, kenapa selama ini dia tidak menjelaskan padaku kejadian itu.
Kenapa semua orang bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, sebenarnya ada apa denganku dan Darren.
- Sudut Pandang Selesai -
...*...
__ADS_1
...*...
Adrienne menggendong Valarie menuju rumah yang sudah beberapa tahun ini dihuninya.
Benar, Adrienne pindah bersama Valarie ketempat yang tidak jauh dari apartemen lamanya, dia sangat menyukai suasana kota dan jalan raya yang dulu sering dilaluinya bersama Deon.
Meski Laura melarangnya tapi Enne berhasil membujuk ibu Deon agar dia bisa hidup sendiri, dia tidak ingin merepotkan keluarga Brian lagi, itu sebabnya dia pergi.
Tapi Laura mengizinkan Enne dengan syarat dia mau menerima uang setiap bulan agar wanita yang dicintai anaknya itu bisa hidup bahagia dan tidak repot-repot bekerja lagi, bagi Laura Adrienne berhak bahagia.
Dia masih menyesali perbuatannya karna sudah membohongi calon menantunya dan tidak memberitahu tentang penyakit anaknya.
Sebagian rasa sakit dan pedih yang dialami Enne adalah karna ketidaktahuannya tentang kanker otak yang diidap mantan calon suaminya.
Laura tahu itu dan dia amat sangat merasa bersalah.
Valarie memainkan rambut panjang mamanya, dia tersenyum manis "Hm, mama, aku teringat om Louis, dia tampan sekali" Adunya senang.
Sepertinya Valarie jatuh hati dengan aktor tampan itu.
Enne menurunkan anaknya, sejak tadi Valarie hanya menggumamkan tentang betapa tampan dan baik Louis itu.
Dia bahkan masih tersenyum mengingat kejadian tadi pagi saat Louis menggendongnya dengan suka rela.
"Duh putriku, ayah Deon pasti cemburu mendengar anak kesayangannya memuji orang lain" adu Enne, dia tidak suka anaknya menyebut pria itu, dia benar-benar tidak mau.
"Ah iyah heheh, ayah Deon maaf, ayah tetap lebih tampan kok, maaf yah" kata Valarie saat menatap foto ayah dan ibunya yang terpampang jelas di ruang tamu.
Lagi-lagi mereka saling bercanda dan tertawa, malam yang indah dan penuh makna itu berlalu dengan cepat, mereka terlelap tanpa ada beban sama sekali.
...*...
...*...
Disisi lain Louis baru saja pulang, wajahnya agak pucat, dia memang sangat kelelahan, jadwal hari ini cukup padat.
Tubuhnya bersandar di dinding ruang tamu, Eliza yang baru selesai mandi menyambutnya, dia menatap suaminya penuh kekhawatiran.
"Sayang capek yah? Mau makan? Aku sudah beli makanan kesukaan kamu" ucapnya.
"Nanti saja, aku ingin istirahat"
Louis berjalan meninggalkan Eliza tapi istrinya menahan dan berkata dengan cemas.
"Makan dulu yah, ngga enak nanti makanannya dingin" bujuknya.
"Sebentar, aku istirahat dulu tolong mengerti" jawab Louis sangat lelah, dia tidak bisa mengontrol emosinya.
Mendengar itu Eliza sedih dan ikut marah.
__ADS_1
"Baiklah, lakukan sesukamu" ujarnya.
Terpaksa Louis menguatkan diri dan membujuk istrinya agar tidak cemberut dan marah lagi, begitu Eliza selalu memenangkan perhatian suaminya.
"Jangan cemberut sayang, aku kelelahan saja, kalau sudah istirahat aku akan makan oke?" ujarnya memberi pengertian tapi Eliza menolak, sepertinya dia sangat ingin suaminya mengikuti kemauannya.
"Tidak! Kamu harus makan" pintanya, dia sangat egois saat mengatakannya. Eliza bahkan tidak peduli selelah apa suaminya sekarang, dia hanya ingin melihat Louis makan.
Louis tidak bisa melawan dan hanya mengikuti saja kemauan istrinya.
"Baiklah, aku makan" jawbanya singkat.
Lagi-lagi Eliza tersinggung dan meninggikan suaranya "Aku tau kenapa kau begini, karna aku tidak bisa memberimu anak kan? Akhir-akhir ini kau terus mengabaikanku, aku tahu Louis, kau tidak mencintaiku lagi kan?" teriaknya tak tahan lagi.
Louis tertegun heran, kenapa istrinya berpikir demikian, dia bahkan tidak pernah mencoba memikirkan hal itu, meski yang dikatakannya benar, tapi dia tau jelas, cintanya tetap ada pada Eliza.
Meski istrinya belum memberi momongan tapi tidak menjadi alasan untuk Louis berhenti mencintainya.
"Apa yang kau pikirkan sayang? Aku tidak mungkin seperti itu, aku akan selalu mencintaimu, percayalah" bujuknya lagi.
Louis mendekati Eliza yang masih memakai handuk mandi, dengan lembut dia memeluk erat istrinya, membiarkan suhu tubuhnya menyatu dalam kehangatan itu, wajahnya mendekat, bibirnya mengecup lembut kening Eliza.
"Aku sudah berjanji menikahimu, aku sudah berjanji melindungimu, tidak mungkin aku tega memikirkan hal seperti itu sayang, aku akan tetap memegang janjiku, apapun yang terjadi" Bisiknya pelan, Eliza agak terkejut meski akhirnya dia balik mengecup bibir suaminya dan membalas pelukan itu.
"Terimakasih sayang" balas Eliza, meski tiba-tiba pikirannya dipenuh banyak pertanyaan tapi dia lebih memilih menikmati waktu bersama suaminya itu.
...*...
...*...
Pagi menyapa dan seperti biasa Eliza menikmati harinya bersama secangkir kopi dan tentu saja hp untuk melihat berita atau tren baru yang ada di instagram.
Dia terus menggeser story IG yang ada sampai tiba-tiba dia melihat salah satu akun centang biru yang memposting foto Louis dan seorang anak kecil yang disadarinya sangat mirip.
Bahkan caption akun itu berkata "Ya ampun, mungkin seperti ini wajah anak kak Louis nanti" darah Eliza mendidih, dia tidak suka melihat foto itu, dia melempar hpnya karena marah.
'Sial! Siapa anak itu, aku harus mencari tahunya, berani sekali dia duduk dipangkuan suamiku, tidak tahu diri, hanya anakku yang boleh bersama Louis' batin Eliza.
Dia mulai mencari anak itu, dia terus mencari sampai dia menemukan beberapa akun yang juga mengirim foto Valarie, dia terkejut melihat Adrienne yang ternyata adalah ibunya.
Eliza sangat marah "Lagi-lagi wanita itu, haha sudah lama tidak bertemu dan sekarang dia menggoda suamiku menggunakan anaknya lagi, dia sangat tidak tahu malu" ucap istri Louis, dimatanya terlihat kebencian yang sangat besar.
Louis baru saja bangun, dia berjalan mendekati istrinya, seketika Eliza mengubah ekspresinya, dia tersenyum ramah dan hangat.
"Hai sayang" sapa Eliza.
Louis tersenyum "Pagi sayang, sedang apa?" sahut Louis lagi, dia menyender ditubuh istrinya dan memeluknya erat.
Eliza tersenyum dia sangat suka rutinitas pagi yang selalu dilakukan suaminya, berkat itu, dia semakin tidak ingin ada yang menggangu rumah tangganya.
__ADS_1
...*...
...*...