MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
20


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Akhirnya Darren sampai dikediaman Louis Vit, kakak yang sangat akrab dengannya, kakinya yang jenjang berlapis celana jeans hitam melangkah cepat menuju pintu rumah Louis.


Beberapa kali dia memencet tombol bel yang terletak disamping pintu.


Tidak butuh waktu lama, suami Eliza membuka pintunya, dia tersenyum ramah menyambut tamunya dan Darren masuk dengan langkah ringannya.


"Hai kak, jadi ada apa kakak memanggilku?" tanyanya tak mau basa-basi.


Louis menatap Darren, dia sangat penasaran.


"Sebenarnya kemarin aku mengingat sesuatu yang aneh, dan itu sangat menggangu pikiranku" adu Louis.


"Kalau boleh tau, kakak ingat apa memangnya?" tanya Darren lagi, dia masih tidak berekspektasi apapun.


"Aku melihat kita bertengkar dan kamu memohon-mohon padaku, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku tidak ingat apapun?" tanya Louis.


Darren terperanjat, bibirnya beku, sepertinya pembahasan yang diinginkan Louis tidak bisa dibicarakannya.


"Ha-ha-ha! Ka-kapan kita bertengkar? Kakak mungkin hanya berkhayal saja, mana mungkin itu terjadi" elak Darren, dia mencoba menghindari tatapan mata Louis.


"Benarkah? Tapi itu tidak seperti khayalan, aku benar-benar ingat kita bertengkar dan tiba-tiba kepalaku sakit" Jelas Louis, dia menatap Wajah Darren, pria itu gemetar.


"Kau tidak Bohong kan?" Lanjutnya masih penasaran.


Darren menggigit bibir bawahnya, dia gugup dan sangat tertekan dengan tatapan mencekam Louis.


"Jawab aku, apa aku pernah memukulmu?" kali ini Louis hampir hilang kesabaran.


Darren mengangguk mengiyakan karna takut.


"Apa yang terjadi? Ceritakan padaku semuanya!" pinta Louis, dia tidak tahan lagi, ingatan kemarin benar-benar menggangunya.

__ADS_1


"Tapi, kalau kakak tahu kebenarannya, kumohon jangan lakukan apapun, biarkan saja semua berjalan seperti ini" Darren memohon dengan sangat, dia tidak ingin kakaknya mengambil keputusan gila karna menyesali tindakannya.


"Itu tergantung, cepat ceritakan" pinta Louis benar-benar penasaran.


Darren menelan salivanya, rasa gugup dan takutnya bercampur jadi satu, entah darimana dia akan memulai ceritanya.


"Sekitar 5 tahun lalu, aku bertemu gadis yang sangat cantik, dia menyamar jadi staff di agensi kita, waktu itu aku sangat terkejut, kupikir kenapa ada gadis secantik itu di asrama kita, kalau kakak ingat, kejadian itu beberapa bulan sebelum kita keluar dari asrama dan hidup masing-masing"


Louis mendengarkan saksama cerita Darren, dia masih belum menangkap inti ceritanya.


"Malam itu aku mendapatinya akan masuk ke kamar kakak, aku pikir dia mungkin penggemar gila yang mau menyusup jadi aku menariknya dan menyuruhnya mengaku, tapi dia tidak mengatakan apapun dan justru menangis, aku merasa bersalah dan menyuruhnya pulang saja"


Darren menarik nafas sambil sesekali mengecek respon suami Eliza, tampaknya dia masih ingin cerita berlanjut.


"Lalu gadis itu semakin menangis, aku tidak tahu harus apa, jadi kusuruh saja dia melakukan kemauannya tapi dia beruban pikiran dan malah meminta bantuanku"


"Bantuan?" tanya Louis.


"Iyah, di-dia memintaku agar bisa membuatnya hamil anak kakak" jawab Darren, dia sangat takut melihat ekspresi Louis.


Rasanya Darren kehabisan nafas, bagaimana dia akan menjawab kalau dia membantu gadis itu.


"Jawab Darren, apa kau membantunya?" suara Louis meninggi.


"I-iya-


"APA?!-


"Tapi kakak jangan marah dulu, aku benar-benar hanya membantunya sedikit, aku juga tidak tahu apa yang terjadi selama gadis itu didalam kamar kakak, urusan itu kakak sendiri yang harus ingat" Darren menyela ketakutan, kali ini tamat sudah riwayatnya.


Louis menggaruk belakang kepalanya, dia marah, sebenarnya penjelasan Darren sama sekali tidak menjawab kenapa mereka bertengkar tapi gara-gara itu, dia jadi tahu satu fakta kalau ada kejadian gila yang terjadi beberapa tahun lalu.


"Jadi, kau membantunya agar dia bisa hamil anakku? Begitu? Kalau benar begitu, dimana gadis itu sekarang? Bukannya dia ingin anakku agar bisa memiliki kedudukan dan harta?"tanyanya lagi, Louis benar-benar sudah sangat bersabar dengan Darren.


"Sebenarnya, saat fansign kemarin, dia datang tapi kak, jangan salah paham, gadis itu benar-benar tidak mau harta kakak, dulu dia bilang dia melakukannya karna sangat ingin memiliki anak kak Louis, itu saja" Darren mencoba menjelaskan, dia jelas tidak mau Enne mendapat kesalahpahaman.


"Mau dia ingin harta atau tidak, tetap saja dia pasti punya maksud lain tapi sayang sekali harapannya itu hanya mimpi, aku tidak bisa mempunyai keturunan jadi yah lupakan saja, kukira tentang apa, ternyata hanya masalah sepele" Louis merasa sedikit lega.

__ADS_1


"Tapi kak-


"Ah iya, ceritamu belum menjelaskan kenapa kita bertengkar waktu itu dan kenapa aku tidka mengingat kejadiannya?" potong Louis.


Jantung Darren berdetak kencang, kalau dia menjelaskan alasan kakaknya ini lupa ingatan, dia pasti akan dipukul lagi.


"Ta-tapi janji dulu" rengek Darren.


Louis mengernyit "Janji apa?" tanyanya terheran-heran.


"Tolong jangan pukul aku" pintanya takut, Louis terkekeh melihat tingkah adiknya.


"Iyah aku tidak akan memukulmu" jawabnya.


"Alasannya karna kakak membuat gadis itu menangis, aku tidak tahan dan memukuli kakak tapi kakak hampir membunuhku waktu itu jadi aku mendorong kakak dan kepalamu terbentur , bangun-bangun sudah lupa ingatan" jelas Darren ketakutan.


Louis mengernyit lagi, dia memikirkan sesuatu.


"Jadi intinya, kamu memukulku karna aku membuat gadis itu menangis? Sebenarnya kenapa? Memangnya dia secantik apa sih? Sampai kau luluh begitu?" Louis sangat heran dengan adiknya ini, setaunya Darren bukan orang yang gampang dikendalikan.


"Kan sudah kubilang dia sangat cantik, seperti malaikat, aku ada fotonya, kemarin dia ikut di acara tanda tangan kita dan aku memotretnya, tapi saat aku menyapanya, dia tidak mau mengungkit masa lalunya, aneh kan?"


"Kemarin? Yang mana? Aku tidak melihat wanita cantik kecuali ibu gadis kecil bernama Valarie, yang aku gendong kemarin, kamu lihat kan? Foto Valarie tranding di media sosial, dia mirip sekali denganku, dia juga sangat imut, kau juga pasti berpikiran sama" tiba-tiba Louis antusias, dia tidak sadar kalau Darren memperhatikannya.


'Ckckckck, dia benar-benar tidak peka' batin Darren.


"Iya kak, dia sangat mirip denganmu, ngomong-ngomong, gadis yang aku maksud itu adalah ibu dari anak yang kemarin kakak gendong" Ucap Darren, dia mencoba memberi petunjuk agar Louis peka.


"Benar-benar, dia memang sangat cant- HAH? APA? Dia gadis yang 5 tahun lalu masuk ke kamarku? Jangan bilang, Valarie itu putriku?" Louis hampir jantungan, dia seperti tertimpa tangga, tiba-tiba dia mulai memikirkan sesuatu.


'Jika Valarie anakku, berarti aku sudah menghamili gadis itu, tapi aku kan belum bisa memiliki anak, buktinya Eliza belum juga hamil, tunggu dulu, kalau begitu, alasan kenapa mukaku dan Valarie sama, itu karna dia anakku?' Louis membatin.


"Aku tidak sampai berpikiran kesitu, tapi tidak ada salahnya kalau kakak mengecek DNA anak itu, tapi ingat kak, apapun hasilnya jangan merusak apa yang sudah terbangun selama ini, ingat kakak sudah beristri, jangan coba-coba mendekatinya" Darren mengingatkan.


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2