
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Seseorang pernah bilang padaku, Adrienne itu nama yang dia beri karena kecantikan ku, dia begitu mengagumiku. Hingga akhirnya aku tumbuh besar dan mulai menganggap orang-orang mendekatiku hanya karena parasku.
Aku marah.
Rasa benciku semakin menjadi karena merasa tidak mendapatkan pernyataan tulus dari orang-orang yang menganggapku temannya.
Lambat laun sikapku berubah menjadi dingin tanpa aku sendiripun bisa menyadarinya, mungkin itu adalah cara diriku dengan alami mengatasi lingkungan yang buruk.
Diingatanku masih jelas tergambar wajah-wajah orang yang mendekatiku karena ingin memanfaatkan parasku, aku bahkan hampir terjebak pelecehan seksual karena mereka.
Aku marah pada mereka.
Dan dengan bodohnya aku malah berfikir mungkin menjadi anak nakal dan benar-benar tidur dengan pria akan membuat frustasi ku pergi.
Kebetulan, waktu itu aku menggilai idol bernama Louis, aku jatuh cinta dengan parasnya yang menawan dan sangat menarik perhatianku.
Setiap hari aku menggila karenanya.
Dan setelah menemukan cara agar bisa bertemu dengannya, aku benar-benar nekat meminta dia meniduriku.
Saat itu aku benar-benar gila.
Entah apa yang membuatku jadi kesetanan seperti itu.
Mungkin saja karena aku tidak lagi punya pilihan, hariku berat karena satu sekolah membuliku habis-habisan, tekanan dari panti asuhan juga menambah beban pikiranku.
Aku merasakan kesepian yang mendalam.
Waktu itu, aku mewajarkan segala yang kulakukan, apalagi tidak ada siapapun yang mengajarkanku tentang hal-hal baik yang bisa dilakukan.
Hingga waktu berlalu dan aku dipertemukan dengan seorang pria bernama Aron, pria yang memperlakukan ku sama seperti Deon, dia begitu menyayangiku sampai aku berpikir takut kehilangannya.
Kumohon tidak lagi.
Cukup Deon yang menipuku, aku tidak ingin lagi kehilangan siapapun.
Dan tibalah hari ini, saat yang belum pernah kubayangkan, Aron mengajakku dan Valarie ke taman bermain dan bahkan mengelilingi pasar tradisional yang ada di kota, aku sangat senang, sampai-sampai bibirku tidak merasa lelah untuk tersenyum.
Padahal saat di taman bermain, cuaca tidak mendukung dan banyak awan yang berwarna abu-abu tapi sekarang langitnya jadi cerah, sepertinya hujan tidak akan turun hari ini, sia-sia saja aku membeli payung ini.
__ADS_1
...*...
Aron berjalan menenteng tangan kecil Valarie mengikut Adrienne dibelakangnya, wanita itu terus tersenyum memandangi dua orang yang kini menjadi begitu spesial dimatanya.
Setiap tangan Valarie menunjuk, Aron segera membelinya, sehingga tangan kirinya penuh dengan tas belanjaan.
Aron menoleh dan mendapati Enne juga sedang menatapnya, mereka saling memandangi satu sama lain.
"Jangan jauh-jauh, nanti kamu hilang" kata Aron pada ibu Valarie.
Enne terkekeh mendengar arahan Aron.
"Aku tidak akan hilang" sahutnya masih merasa geli.
Dia berjalan cepat dan ikut menggandeng tangan putrinya, kini mereka berdua terlihat seperti keluarga seutuhnya.
Aron melihat rambut Enne yang tergerai bebas dan keningnya berkeringat karena gerah, dia pun pamit sebentar karena melihat situasi calon istrinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Enne penasaran.
Aron tersenyum "Tunggu sebentar" katanya.
Valarie dan Adrienne menghentikan langkahnya dan menunggu Aron, mereka tetap menatapi pria tampan itu sampai presensinya hilang dari pandangan.
"Mama, papa Aron kemana?" tanyanya mulai bingung.
"Mama juga tidak tahu sayang, tapi pasti papa Aron sedang melakukan hal penting, kita tunggu saja disini, dia pasti akan segera datang" hibur Enne sedikit canggung, sepertinya panggilan papa masih belum bisa membuatnya terbiasa.
"Baiklah, semoga papa tidak pergi jauh" harapnya.
Setelah beberapa menit menunggu, Aron kembali dalam keadaan lelah karena berlari dengan jarak yang cukup jauh.
"Aron, kamu dari mana saja? Kau terlihat berantakan" komentar Enne sesaat setelah Aron mendekatinya.
Aron melambai menyuruh Enne mendekatinya, nafasnya masih tersengal-sengal, dengan pelan dia mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal.
Wanita cantik itu tak ambil pusing dan segera mendekati Aron, tanpa basa-basi, pria berlesung pipi itu merapikan rambut Enne dan memasangkan ceppolan hitam yang dibelinya.
Kini rambut Enne tidak berantakan lagi dan Aron tersenyum puas melihat hasil jerih payahnya.
"Sekarang kau tidak keringatan lagi" ucapnya lega.
Perhatian itu, menyentuh nurani Enne, bertambah lagi satu poin yang membuatnya semakin sulit untuk tidak jatuh hati dengan Aron.
'Gawat! Sepertinya aku suda jatuh hati denganmu Aron' batinnya.
__ADS_1
Jantung Enne berdetak tak karuan, rasanya begitu menyenangkan ketika Aron memikirkan hal-hal kecil yang ia rasakan.
"Terimakasih Aron, jepitan ini sangat membantuku" ungkapnya sangat bahagia.
"Bukan apa-apa" sahut Aron senang.
"Papa, aku juga mau jepitan itu" celetuk Valarie, Aron yang mendengarnya terkekeh.
"Sudah kuduga, putri kecilku ini pasti mau juga, ini aku belikan jepitan bunga, cantik bukan?" ucap Aron sambil memakaikannya di poni samping milik Valarie.
Senyum Valarie langsung mengembang, dia terlihat sangat senang menerima hadiah yang diberikan calon ayahnya itu.
"Nah, sekarang kita makan yuk, kalian pasti sudah lapar" ajak Aron, Enne dan Valarie mengikut saja dengan keinginan pria yang sudah membuat mereka senang.
...*...
...*...
Disisi lain, Edric baru saja menelfon Louis dan memberitahu lokasi terbaru Adrienne, dia menyerahkan semua keputusan pada ayah kandung Valarie, Edric hanya ingin akhir yang baik untuk sahabatnya tanpa harus ada yang tersakiti.
Louis sebenarnya sudah ada di lokasi yang disebutkan Edric karena dia tanpa sengaja melihat Adrienne dan Valarie naik di mobil milik pria yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu, pria yang mengaku sebagai calon suami Adrienne.
Dia bahkan sudah melihat begitu erat dan bahagia waktu-waktu yang mereka bertiga lalui, membuat kaki Louis berat untuk sekedar melangkah mendekat dan menyapa Adrienne.
Tak banyak yang mengenali Louis karena dia memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya, dengan pelan dia terus mengawasi ketiganya dari belakang, bersikap seolah dia bukanlah siapa-siapa.
'Sepertinya aku memang benar-benar tidak punya kesempatan untuk hadir dalam hidup mereka' batin Louis perih.
Dadanya sesak, sedih sekali melihat putrinya yang manja bergandeng dan bersikap lembut pada pria lain, apalagi wanita yang dicintaiya terlihat sangat menyukai keberadaan Aron.
Louis mencoba tenang, dengan hati yang sakit dia mendekati Adrienne dan menarik lengannya.
Adrienne yang ditinggal sendiri karena Aron dan Valarie sedang membeli eskrim terkejut bukan main, dia melihat pria yang menarik lengannya, tanpa sadar dan tanpa perlu dia menarik masker yang menutupi wajah pria itu, Enne sudah tahu siapa dia.
Genggamannya yang hangat dan tangannya yang lembut, membuat Enne menyadari kalau pria itu adalah ayah Valarie.
Akhirnya wanita cantik itu memilih diam dan tetap mengikuti langkah pria yang menuntunnya, entah kemana dia akan dibawa.
'Kenapa Louis ada disini?' batin Enne.
Setelah cukup jauh, langkahnya terhenti, dilorong sempit yang jarang orang lewati, Louis membuka maskernya, Enne tidak terkejut, tatapan mereka beradu satu sama lain.
Sekarang sudah berbeda, karena Enne tahu pria didepannya ini adalah pria yang sudah mengingat kembali masa lalunya, jadi beberapa perasaan yang dulu ada mulai muncul lagi, membuat hatinya gelisah dan bimbang.
"Hai" sapa Louis canggung.
__ADS_1
...*...
...*...