MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
52


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Edric menggendong putrinya menuju pesawat mengikut istri dan anak sulungnya dibelakang, mereka terlihat sangat bahagia dan tanpa beban.


"Ayah, kita pulang?" tanya Lian.


Edric menoleh dan menjawab pertanyaan putranya.


"Tentu saja, kenapa? Apa kau suka disini?" Edric balik bertanya pada Lian.


"Iya, disini seru sekali" sahutnya.


"Aku lebih suka di rumah daripada disini" ucap Valarie tiba-tiba.


Lian melirik Valarie dan mengerucutkan bibirnya, sepertinya dia tidak suka pernyataan temannya itu.


"Ayo sayang cepat naik, nanti lanjut didalam saja yah ceritanya" ajak Enne buru-buru.


"Baik Ma" sahut Valarie senang.


Aron menuntun putrinya masuk mengikut istri dan sahabat-sahabatnya, sesekali mereka bercanda ria dan tertawa senang.


-


"Hahahaha, sudah, aku tidak sanggup lagi mendengarmu Aron" adu Enne, dia memegangi perutnya yang terasa panas karena terus tertawa.


"Enne, aku akui, candaan Aron, sudah diluar akal ku, bagaimana bisa dia membuat lelucon seperti itu, aku hampir pingsan karena tertawa" puji Edric, dia sangat menyukai lelucon tua yang biasa dilakukan Aron.


"Aku tidak tahu dimana letak lucunya" ungkap Tiara jujur, dia tidak mengerti alasan ketiga orang disampingnya itu tertawa sampai sebegitunya.


"Aron, apa tidak ada yang lain? Aku masih mau mendengarnya" tanya Edric penasaran.


Aron tersenyum "Tentu, masih banyak, hari ini aku akan membuatmu lelah karena tertawa" sahutnya senang.


Tak lama pesawat berangkat dari bandara menuju Indonesia, awalnya semua baik-baik saja tapi tiba-tiba suara peringatan terdengar kesegala arah, semua penumpang langsung menerima arahan pramugari.


Wajah mereka cemas.


KAMI AKAN MELAKUKAN PENDARATAN DARURAT, SEMUANYA KENCANGKAN SABUK PENGAMAN DAN TETAP DITEMPAT DUDUK MASING-MASING.


Ditengah-tengah suasana yang tegang itu, Valarie melihat wajah ayah dan ibunya yang nampak tidak baik-baik saja, rasa penasaran membuatnya bertanya.

__ADS_1


"Papa, apa pesawatnya bermasalah?" tanyanya penasaran.


Aron menatap putrinya, dia tidak ingin membuat Valarie ketakutan jadi dia mencoba tenang dan menjawab hangat pertanyaan putrinya.


"Kamu tenang saja sayang, semua akan baik-baik saja" sahutnya.


Tapi keadaan semakin mencekam sehingga Enne hanya bisa menggenggam erat tangan putri dan suaminya.


Aron menenangkan Enne "Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja" ucapnya.


Adrienne mengangguk, dia percaya kata-kata suaminya, tapi siapapun yang mengalami keadaan itu pasti akan berpikir yang tidak-tidak.


'Apa aku akan mati disini?' batin Enne panik, andai saja tidak ada Valarie disampingnya, dia pasti akan menangis ketakutan tapi tidak mungkin dia memperlihatkan ketakutannya sebab Valarie pasti akan ikut panik.


Suasana lebih menegangkan karena suara-suara disekitar mereka terdengar menakutkan, ada yang menangis dan ada juga yang terus berdoa, pesawat mengalami guncangan parah.


Genggaman Enne semakin Erat dan pesawat semakin tak terkendali, orang-orang berteriak sangat kencang, Valarie dan Lian yang duduknya berdekatan menjadi takut dan menangis.


"ARON AKU TAKUT" teriak Enne, dia benar-benar tak bisa mengendalikan ketakutannya.


"ENNE PEGANG TANGANKU, TENANGLAH SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA" balas Aron, dia menggenggam erat tangan istrinya.


"HIKH PAPA! PAPA AKU TAKUT" Valarie ikut berteriak, tangisannya semakin kencang membuat ayah dan ibunya kasihan.


"PEJAMKAN MATA KALIAN, SEMUA PASTI AKAN BAIK-BAIK SAJA" hanya itu jawaban yang keluar dari mulut ayahnya, tentu saja Aron juga sangat panik, untung saja dia masih bisa merespon putrinya ditengah keadaan yang sangat kacau itu.


Dari total 86 penumpang, setengahnya meninggal dunia termasuk pilot yang membawanya.


Dan rombongan yang ada, hanya Adrienne yang selamat di kursi sepantarannya, kedua sahabatnya yang berada di ujung tidak terselamatkan, begitupula anak-anaknya.


...*...


...*...


Kembali ke lima hari setelah peristiwa itu terjadi.


Adrienne masih tenang dan tidak terlalu memperlihatkan emosinya, dia juga sudah tidak menangis lagi, melihat itu Laura merasa lega meski ada rasa khawatir karena sikap Enne yang sangat berbeda.


Dia masih ingat saat dulu Deon meninggalkannya, Enne berteriak tak karuan bahkan sampai tidak menerima bila Deon dimakamkan karena dia percaya calon suaminya itu masih hidup.


Sebegitu menderitanya Enne dulu tapi sekarang dia hanya menatap kosong ruangan dan tidak mengatakan apapun, seolah pikirannya sedang tidak ada diruangan itu.


'Aron suamiku, sekarang kamu sedang apa ya disana? Kamu sudah makan kan? Sayang sekali, aku tidak bisa lagi membuatkanmu nasi goreng yang biasa kau makan, tapi pasti disana kamu bahagia kan bersama Valarie? Benar, kalian pasti bersenang-senang' batin Enne, tiba-tiba dia teringat dengan Edric dan Tiara.


"Mama, bagaimana dengan keluarga Walden? Mereka selamat kan?" tanyanya penuh harap.

__ADS_1


Lagi-lagi Laura merasa berat dengan pertanyaan itu, bagaimana dia akan memberitahu kenyataan pahit itu, dia sangat tahu kalau Enne begitu menyayangi sahabat-sahabatnya.


Laura menghela nafas.


"Mereka, tidak selamat" sesal Laura, dia menunduk karena tak mampu melihat raut wajah wanita malang yang terbaring lemah didepannya.


Adrienne menelan salivanya yang terasa pahit, dia tidak begitu berharap memang, karena jika suami dan anaknya tak selamat, itu berarti tempat duduk yang berada disampingnya lah yang mengalami tabrakan paling parah.


Senyum Enne menghias kaku diwajah cantiknya yang terlihat pucat, air matanya menetes lagi, begitu banyak duka yang datang tiba-tiba.


"Baguslah, setidaknya Valarie tidak kesepian disana, ada Lian, om dan tantenya juga disana, mereka pasti sudah sangat bersenang-senang meski tanpaku" komentarnya.


Mendengar pernyataan Enne membuat hati Laura semakin lemah tak berdaya, dia tahu Adrienne sedang sangat tidak baik-baik saja, tapi Laura tidak ingin menghancurkan suasana yang dibangun wanita menyedihkan itu.


"Besok, aku ingin menemui putri dan suamiku, boleh kan ma?" tanya Enne, dia menatap Laura, tatapannya sedih dan tegar diwaktu yang bersamaan.


Tidak ada yang bisa Laura lakukan, dia mengangguk mengiyakan kemauannya.


"Baiklah, karna kamu sudah sadar, mama akan menemani mu menjenguk mereka, pokoknya besok mama akan menemani kemanapun kamu mau pergi" sahutnya, Laura mencoba semangat agar Enne bisa tersenyum.


"Terimakasih ma" balas Enne, dia tersenyum lagi, terlihat jelas rasa syukur di wajahnya, mungkin itu salah satu penyebab Enne masih bisa kuat bertahan dengan situasinya karena setidaknya ada Laura yang menyemangati dan menyayanginya dengan tulus.


-


Pagi yang cerah menyambut setiap insan didunia termasuk Adrienne yang sudah bersiap-siap menuju makam orang-orang yang dia sayangi.


Dia membeli bunga dan boneka untuk putri kesayangannya, wajahnya terus tersenyum, tekadnya kuat untuk tidak terlihat sedih didepan siapapun.


Laura dan Enne duduk didalam mobil dan sopir dengan tenang mengantar mereka ke pemakaman.


Begitu mereka sampai, tiba-tiba perasaan Enne menjadi tak terkendali, dia melihat jelas tanah kuburan yang masih basah dan bunga-bunga segar tertabur diatas sana.


"Enne, kau baik-baik saja?" tanya Laura, sepertinya dia menangkap ekspresi Enne.


"Aku baik-baik saja ma" sahutnya, dia segera melangkahkan kakinya menuju makam putri dan suaminya.


Tepat didepan makam Valarie, pertahanan Enne runtuh, dia memeluk tanah anaknya dan menangis sejadi-jadinya, tangisannya menyayat hati Laura, lagi-lagi ibu Deon menangis karenanya.


"Anakku sayang, mama datang nak, mama datang sayang"


Hanya itu kalimat yang terus terulang dari mulut Enne, dia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan perasaannya yang sakit dan patah lagi, sudah berkali-kali dia kehilangan orang-orang terdekatnya, lalu bagaimana dia bisa bertahan hidup dengan mengingat rasa sakit karena ditinggal mati itu.


Adrienne menggila dalam tangisnya.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2