
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Kali ini gelap itu datang lagi, aku tidak bisa melihat apapun, teriakan iri dan dengki terus terulang menggangu pikiranku.
"Hm, memangnya kenapa kalau kau bukan pelacur? Kami melakukan semua ini karena membencimu! Kalau kau menangis itu akan lebih bagus, karena memang tangisan cengeng mu yang membuat kami terhibur HAHAHAHAHAHAHA"
"SIAPA KALIAN? LEPASKAN AKU! AKU BUKAN PELACUR, PERGI KALIAN, PERGIIIIII" teriakku pada kehampaan yang menyelimutiku, dingin dan tak berperasaan, sebenarnya aku dimana? aku ingin kembali, Valarie pasti menangis, siapapun tolong aku, kumohon.
Padahal sudah selama ini aku menahan kesakitan didadaku, kulumat habis semua ejekan, hinaan dan penderitaan agar aku bisa bertahan, menjaga dan melindungi putriku.
Tapi kenapa?
Kemana perginya ketegaran itu? Tolong kembali, rasa rinduku sudah begitu besarnya, jangan kau halangi aku bertemu putri mungilku, jangan kau coba renggut dia dan kebahagiaannya, kumohon.
"Lihat, dia pura-pura tuli, padahal sendirinya egois, munafik sekali hahahahaha, tidak tahu malu, pelacur memang menjijikkan apalagi hamil diluar nikah, apa yang kau banggakan hahahahaha lucu sekali"
"Benar, katakan saja semaumu, aku ingin kembali, jangan harap aku akan termakan omonganmu lagi, sudah cukup, pergi sana"
Kabut hitam itu menghilang entah kemana, aku terus berjalan mencari ujung penyiksaan ini, kakiku menginjak pecahan-pecahan kaca yang datang entah dari mana, sakitnya luar biasa menyiksaku.
Aku terhenti, air mataku tak dapat ku tahan lagi, teriakan sedih dan putus asa menguasai diriku.
"Adrien, jangan menangis"
Suara seseorang yang familiar, lama sudah aku tidak mendengar suara itu, aku menoleh dengan sebongkah harapan, mungkin saja itu benar dia.
Aku melihatnya, bibirnya tersenyum manis membuka kedua tangannya agar aku bisa memeluk tubuh hangatnya.
"Deon" Sahutku.
Kubangkitkan tubuhku, meski penuh luka tak kubiarkan diriku berhenti mengejar sosok yang sudah lama kurindukan.
"DEON, TUNGGU AKU" teriakku lagi.
Anehnya semakin kukejar, Deon malah semakin menjauh, ku percepat lagi langkahku sampai rasanya kakiku akan patah karenanya tapi dirinya perlahan memudar, menjadi samar karena cahaya silau yang ada tepat dibelakangnya.
"Bahagialah Adrienn, biar aku yang menanggung semua sedihmu, pergilah, jaga anak kita, buat Valarie bahagia, katakan kalau aku selalu mendengar doanya, katakan juga kalau ayahnya ini sangat mencintainya" begitu dia menyampaikan kalimatnya.
Tanpa rasa bersalah dia pergi lagi meninggalkanku untuk kedua kalinya.
"TUNGGU DULU, DEON TOLONG TUNGGU, JANGAN PERGI DEOOON-
"Mama? Mama bangun?"
Adrienne menoleh, melihat anaknya yang terduduk kaku dengan mata sembab disekeliling matanya.
"Valarie, kenapa kamu menangis nak?" tanyanya khawatir, dia langsung memeluk putri semata wayangnya.
"Mama sudah sembuh? Mama tidak akan sakit lagi kan? Valarie takut" Rengekan putrinya membuat Adrienne semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Iyah mama baik-baik saja, jangan menangis putriku, nanti ayah Deon marah sama mama, apa mama membuatmu takut?" tanyanya lagi.
Valarie mengangguk sedih, air matanya menetes lagi.
"Aku pikir mama akan meninggalkan ku seperti ayah Deon, aku takut sekali ma" jawabnya.
"Mama tidak akan pergi, mama akan selalu disamping Valarie, jangan takut sayang"
Tiara baru saja tiba, membawa makanan untuk Valarie makan, dilihatnya Enne memeluk putrinya tanpa sedikitpun terganggu dengan kedatangannya.
"Enne" Sapa Tiara ragu-ragu.
Adrienne menoleh kearahnya, rasa bahagia tak dapat terbendung kala sahabatnya itu tersenyum menyapa balik dirinya.
"Tiara" Sahutnya.
Tanpa ragu Tiara berlari memeluk Enne, dia menangis sejadi-jadinya, padahal saat Adrienne tak sadarkan diri dia menguatkan hatinya, tak pernah sekalipun menitihkan air matanya.
Tapi entah mengapa, saat ini rasanya dia sangat sedih, rasa takut menyelimutinya, apa yang akan dia lakukan jika Enne benar-benar pergi meninggalkannya atau jika sahabatnya terus terkekang dalam perihnya.
"Terima kasih, aku sangat berterimakasih Enne, karena sudah kuat menjalani hidupmu selama ini, terimakasih" Ujar Tiara penuh syukur, dia masih menangis dalam pelukan sahabatnya.
Adrienne tidak mengerti alasan Tiara menangis , rasanya dia tidak melakukannya apapun tapi tangannya senantiasa mengelus punggung sahabatnya, menyalurkan rasa nyaman tak terhingga.
"Tenanglah Tiara, aku baik-baik saja" Ucapnya bersungguh-sungguh.
...*...
...*...
"Bagaimana dokter? Apa anda bisa melakukannya?" tanya Louis penuh harap.
Dokter itu tersenyum lucu.
"Anda tenang saja pak, tentu saja bisa asalkan bapak mengikuti arahan saya dengan baik" Jawab dokter itu.
Tanpa basa-basi lagi, Louis melakukan terapi dan membiarkan dirinya terbawa arus bawah sadarnya.
Dokter mengarahkan dengan tenang begitupun Louis yang mendengar patuh arahannya.
"Jika kau menemukan pintu disana, dekati dan buka pintu itu" tuntunnya sangat hati-hati.
Aku melihat pintu itu.
Tanganku segera mendorong pintu berwarna putih itu agar terbuka, sedangkan mataku menyipit karena cahaya yang sangat silau, butuh waktu lama agar bisa melihat dengan normal.
Tiba-tiba cahaya disekitar ku menjadi redup, cukup sulit melihat keadaan sekitar, benar, aku berada didalam kamar asrama, sepertinya inilah ingatan yang terlupa.
Tok~
Tok~
Aku dengar dengan jelas suara ketukan itu, seseorang masuk, aku tak cukup bisa melihat wajahnya, penerangan diruangan ini sangat minim.
__ADS_1
"Siapa kau" tanyaku.
Dia terkejut "Sa-saya staff, saya disuruh membawa minuman ini" sahutnya gemetar.
Dia wanita, dari suaranya sangat jelas kalau dia masih muda.
Pelan-pelan dia mendekat, tangannya menaruh minuman diatas mejaku dengan hati-hati, kupikir setelah itu dia akan keluar tapi ternyata dia malah berdiam diri disamping kursi yang kududuki, aku menatapnya sinis karena merasa terganggu.
"Apa lagi?" Bentakku.
"Da-Darren bilang, aku harus melihat kakak meminumnya" Jelas gadis itu, sepertinya dia ketakutan.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan juniorku, kenapa dia menyuruh staff membawakan minuman, kenapa tidak dia saja.
Tapi tidak ada gunanya juga aku mengeluhkan hal itu pada gadis yang gemetaran hanya karena berdiri disampingku ini.
"Hah, baiklah aku akan meminumnya" Kataku agak kesal.
Kuteguk habis minuman itu, rasanya biasa saja tidak begitu spesial, aku jadi bingung kenapa Darren ingin aku meminumnya.
"Sudah, sekarang kamu keluar aku mau sendiri"
Begitu kataku, gadis itu menurut awalnya lalu kemudian dia mendorong dan mengunci pintunya.
Tanpa ada kalimat atau penjelasan yang bisa masuk ke akalku, tiba-tiba saja dia membuka seluruh pakaiannya menyisakan sepasang dalaman yang menutupi dirinya.
Aku malu melihatnya.
Aku juga bingung.
Tapi entah mengapa, badanku terasa panas, apalagi setelah gadis itu menyalakan lampu dan nampaklah dengan jelas tubuhnya yang menarik perhatianku.
Wajahnya yang merah karena malu membuatku semakin ingin mendekatinya, lalu tanpa sadar aku terbawa suasana, kutarik paksa tangan gadis itu dan kuhempas diatas kasur yang empuk itu.
"To-tolong pelan-pelan" katanya.
Barulah kulihat jelas wajahnya, begitu cantik dan membuat jantungku berdegup tak karuan, ada rasa aneh yang muncul dipikiranku.
"Siapa kamu? Aku belum pernah melihat staff sepertimu! Apa kau berbohong? Apa yang kau beri diminuman itu?" tanyaku penasaran.
Gadis itu tak menjawab, dia hanya mendekatkan tangannya didadaku dan menatapku malu.
"Tolong tiduri aku"
Mendengar itu, aku semakin panas, bibirku menyeringai, seolah tahu apa yang diinginkan gadis naif ini.
"Murahan" Umpatku.
Dia terkejut mendengarnya dan dia menangis tapi aku tidak peduli, segera saja kuambil kesempatan untuk menidurinya.
...*...
...*...
__ADS_1