MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
53


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Kata pepatah.


Semua akan indah pada waktunya...


Tapi bagi Adrienne, keindahan itu sudah berlalu dari hidupnya, baginya masa-masa itu menghilang tepat setelah kepergian keluarga kecilnya.


'Bagaimana bisa kalian pergi tanpa aku? Aku tidak akan bisa bertahan sendiri didunia ini, tidak akan pernah bisa' batin Enne tak yakin.


Udara pagi tidak menyejukkan hatinya, tanah merah yang masih basah itu menggoyahkan komitmen Enne untuk tetap bertahan didunia ini.


Perjalanan hidupnya penuh dengan derita, kebahagiaannya pun datang bagai angin segar tapi memiliki tenggat waktu, jujur, tidak mudah menjalani hidup seperti Enne.


Meski begitu banyak yang dialami wanita ini, dia selalu mencoba tegar, hingga kadangkala keteguhan dan rasa sabar itu meremukkan hatinya, lagi dan lagi.


'Setiap yang datang pasti akan pergi tapi kenapa harus putriku? Aku bahkan tidak berani memikirkan kematiannya, tega sekali takdir itu memisahkan ku dengan anakku' pikir Enne.


"Tuhan, apa waktu lima tahun terlalu banyak untukku merasakan bahagia itu? Apa bahagiaku memiliki jangka waktunya? Harusnya beritahu aku lebih cepat, agar aku tidak terlalu mencintai mereka, sebab orang-orang yang sangat kusayangi itu, ikut membawa jiwaku, aku hampa karenanya" adu Enne sendirian, tangisannya pecah lagi.


Laura memilih menunggu di mobil agar tidak menggangu wanita yang sudah dianggap anak itu.


Dalam tangis dan rindu yang menyatu, Enne merengek melihat makam suaminya yang berada tepat disebelah Valarie putrinya.


Adrienne menaruh Boneka kecil yang dia bawa tadi didekat papan nama anaknya, dia menyiram air dan menaburkan bunga-bunga segar agar putrinya merasa senang.


Dia menoleh.


Menatap manja makam suaminya yang baik hati.


Mungkin, kenangan bersama Aron adalah yang terbaik yang pernah dia rasakan tapi tidak juga mengalahi kenangan Deon yang juga sangat membuatnya bahagia.


"Aron, kau jahat sekali" adunya lemah.


"Jadi ini maksud dari nasehatmu malam itu? Apa kau pikir aku sekuat itu Aron? Apa kau pikir aku tidak akan gila dengan kepergianmu dan Valarie? Lihat aku sekarang, apa aku terlihat bahagia? Kau tega sekali melimpahkan semuanya padaku hikh, bagaimana aku akan bertahan tanpa kalian? Bagaimana Aron?" rengek Enne , dia merasa tidak adil dengan keadaannya.


Waktu berlalu dan Enne masih menangis ditempatnya, seseorang menyapanya dengan tenang, dia Louis, ayah kandung Valarie.


Pakaiannya serba hitam, wajahnya juga tertutup masker dan kacamata.


Louis menaruh bunga dan coklat diatas makam putri semata wayangnya, tidak terlihat apa yang dia rasakan karena wajahnya yang tertutup itu.

__ADS_1


"Lama tidak berjumpa, Enne" sapanya.


Adrienne tak menoleh, dia masih melanjutkan tangisnya, dia sangat sedih dan tidak akan ada yang bisa mengganggunya sekalipun itu Louis.


"Adrienne" Louis menyapa lagi.


"Kenapa kau kesini?" tanyanya dingin.


"Apa kau sebenci itu denganku?" Louis balik bertanya tapi Enne tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku hanya ingin bertemu anakku, meskipun dia sudah tidak didunia ini lagi" sahutnya.


"Pergilah, jangan ganggu aku" balas Enne, dia benar-benar tidak sanggup melihat wajah ayah Valarie.


Louis menatap punggung wanita yang dicintainya, dia tampak kurus, hatinya perih, ingin sekali dia memeluk dan menenangkan Enne tapi itu tidak akan pernah terjadi, karena Louis tidak pernah berhak melakukan itu.


"Aku merindukanmu" ungkap Louis, sejenak Enne terdiam, dia menoleh ke arah Louis dan menatap jijik pria itu.


"Berani sekali kau mengatakan itu didepan suami dan anakku, apa kau tidak malu?" emosi Enne meluap-luap.


Bukan karena dia membenci rasa yang diutarakan Louis, tapi karena dia sendiripun malu mengetahui hatinya senang mendengar pernyataan itu.


'Aku benar-benar sudah gila' batinnya.


"Maaf! Aku pergi" pamit Louis, dia tak sanggup lagi menahan rindunya yang begitu besar tapi dia sadar hati Enne tidak akan memilihnya, jadi dia pun pergi meninggalkan wanita itu.


'Kenapa kau selalu datang diwaktu yang tidak tepat Louis?' batin Enne lagi.


Selepas kunjungannya di makam keluarga Brian, Enne melanjutkan ke tempat sahabatnya disemayamkan.


Hari ini, Adrienne tak henti-hentinya menangisi nasibnya yang harus kehilangan orang-orang terdekatnya, akibatnya dia kembali sakit dan harus dirawat di rumah sakit.


...*...


...*...


Hari-hari Adrienne berlalu dengan sepi, rumahnya bersama keluarga kecilnya sudah tak berpenghuni, dia memutuskan keluar dari bayang-bayang Brian demi menyelematkan mentalnya yang terus merasa bersalah akan kematian suaminya.


Meski tidak lagi berhubungan dengan Laura tapi Enne tetap menerima pemberiannya sebagai jalan untuk menyambung hidup.


Laura memberi salah satu butiknya yang selama ini dia kelola, stok-stok baju yang diam-diam selalu dia tambahkan juga kadang membuat Enne bingung, dia juga sering mendapatkan pelanggan yang baik hati dan sering memborong baju-bajunya.


Semua itu Laura lakukan agar wanita yang dia sayangi itu tidak mengalami penderitaan karena masalah uang.


Setelah dua bulan berlalu, butiknya berjalan lancar dan sukses, dia berhasil mengembangkan butiknya dan diminati banyak wanita kelas atas, untunglah Enne bekerja keras dan tidak bermanja-manja meski Laura mendukungnya.

__ADS_1


Disela-sela waktunya yang kosong Adrienne menemukan lagi surat didepan butiknya, sudah berapa kali dia mendapatkan surat anonim yang tak tahu siapa pengirimnya.


Isinya selalu sama "Cafe Valarienne, 19.00" nama tempatnya tidak asing di telinga Enne, tentu saja itu gabungan namanya dan alamarhum putri kecilnya.


"Mana ada cafe seperti itu" gumamnya, dia tidak percaya dengan keberadaan tempat yang entah mengapa terasa janggal baginya.


"Dia gigih sekali" celetuk seseorang.


Adrienne terkesiap membuat surat yang ada ditangannya jatuh, dia melirik assistennya seakan ingin memarahi gadis nakal itu, sepertinya bukan kali pertama dia mengejutkan Enne.


"Acha, kenapa kau ada disini?" tanyanya, dia terlihat agak kesal sedangkan gadis bernama Acha itu hanya terkekeh menanggapi bosnya.


"Hehe, kakak, aku lapar, kakak juga belum makan kan? Ayo makan bersamaku" ajaknya antusias.


Hati Enne luluh lagi melihat tingkah menggemaskan assitennya.


"Tck, kerjaan mu hanya makan saja, sepertinya aku salah memilih assisten, kau manja sekali" ledek Enne gemas.


Acha sudah biasa mendengar omelan Enne, dia terus merayu bosnya agar mau ikut dengannya.


"Ayolah kak, kali ini aku tidak bohong, aku benar-benar lapar, ayo kak" kali ini Acha agak memaksa.


Adrienne hanya bisa menghela nafasnya.


"Ya sudah, tidak ada gunanya aku menolak mu, kau pasti akan menggangaku kalau aku tidak pergi" keluh Enne, dia mengikut saja saat assistennya yang manis itu menarik lengannya.


Sesampainya di McB, Acha langsung memesan makanan dan minumannya sedangkan Enne langsung duduk di meja pilihannya.


Lagi-lagi Enne menggeleng tak habis pikir dengan tingkah Acha, dia malah menjatuhkan tas nya dan asik memungut barang-barangnya.


Acha langsung berlari menuju meja yang sama dengan Enne setelah memasukkan barang-barangnya yang jatuh berserakan.


"Ih kak Enn, kenapa tidak membantuku sih hiks! Kakak berubah" keluhnya tak terima.


Adrienne melirik asistennya.


"Balas dendam" jawab Enne, dia melihat Acha memanyunkan bibirnya, membuatnya tertawa gemas.


"Padahal aku sudah memesan makanan dan minuman kesukaan kakak, aku bahkan berniat menraktir ka-


"Tidak boleh" potong Enne, tiba-tiba raut wajahnya berubah datar, seakan dia akan pergi meninggalkan Acha jika dia mendengar lanjutannya.


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2