
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
"AKU TIDAK MAU" teriak Enne, dia berlari keluar dari kamarnya dan menggendong putrinya yang masih terlelap.
Reza berlari mengejarnya, dia berteriak karena kesal.
"BERHENTI ATAU AKU AKAN MENEMBAKMU" teriaknya marah, ditangannya ada pistol yang mengarah ke tubuhnya. Otomatis Enne berhenti dari tempatnya, tentu dia tidak akan mau kalau anaknya melihat kejadian menakutkan itu.
"Apa yang kau inginkan Reza? Uang? Kau ingin itu?" tanya Enne yang sedang menahan ketakutannya.
Reza terkekeh.
"Hahahaha sejak kapan aku butuh uang? Aku hanya ingin kau melayaniku, itu saja, kenapa kau keras kepala sekali, ayo cantik, kemarilah, sebelum aku benar-benar kesal'" ajak Reza masih menahan kesabarannya.
Adrienne tidak punya pilihan lain, dia kembali meletakkan Valarie yang masih tertidur, dengan jelas dia melihat pintu rumahnya terbuka lebar, adalah salahnya karena lupa mengunci pintu, dia ceroboh mengira hanya sebentar mengemasi barang-barang.
Tidak dia sangka, pria yang menimbulkan trauma padanya datang setelah sekian lama tidak memunculkan diri.
Dia berjalan mendekati Reza yang menyeringai senang dengan keputusan yang diambil Enne.
"Bagus, ayo sini sayang, kita nikmati malam indah berdua" Reza begitu senang, dia menurunkan resleting celananya dan menyuruh Enne mendekat padanya, dia sangat puas melihat Enne melemah dan akan menuruti keinginannya.
Reza sangat menikmati ketakutan dan rasa jijik yang terbaca jelas di wajah Adrienne.
Sedikit lagi, Enne terpaksa harus melakukannya, agar Valarie tidak mendapatkan pengalaman mengerikan dari pria gila penikmat nafsu yang ada didepannya ini.
"Ayo cepat sini cantik"
"BERHENTI DISANA" Teriak seseorang, dia berlari menuju tempat Reza berdiri dan langsung menendang wajah pria gila itu.
Adrienne tak tahu harus berkata apa, dia menangis sejadi-jadinya, bebannya serasa menghilang, sedangkan pria yang baru datang itu langsung menyetrum tubuh Reza agar dia tidak bisa bergerak lagi.
Reza kesakitan, saking terkejutnya dia hanya berteriak dalam diamnya, aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya seperti membakarnya.
"Terimakasih Aron" ucap Enne lemah, dia sudah tidak tahan, pandangannya buram dan tubuhnya terkulai lemas.
Aron segera menelfon polisi, lalu mengangkat tubuh Adrienne kedalam kamar mengikut Valarie yang juga dia pindahkan disamping ibunya.
__ADS_1
'Ada apa ini? Kenapa aku harus melihat kejadian seperti itu?' batin Aron tak menyangka.
Polisi datang dan menangkap Reza, keponakan Laura menjelaskan semua yang terjadi saat dia datang tadi, setelah itu polisi membiarkan Aron tetap dirumah untuk menjaga Adrienne yang masih tidak sadarkan diri.
"Terimakasih pak" ucap Aron segera setelah polisi pamit pergi.
Aron menelfon Laura untuk jaga-jaga, diapun tidak begitu lengkap tahu permasalahan yang dialami Adrienne tapi jelas kalau Enne tidak menginginkan kejadian tadi terulang lagi, wajahnya yang ketakutan sampai terlihat ingin mati membuatnya tak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah ini.
Drrt
"Halo tante"
"Iya Aron, apa kau sudah dirumah Enne?" tanya Laura penasaran.
"Iya tante! Tapi Adrienne pingsan, saat aku datang ada pria yang hampir melecehkannya, untung saja aku datang" jelas Aron masih mengingat jelas kejadian beberapa waktu lalu.
"APAA?" teriak Laura.
"Tante tenang saja, semua sudah beres, pria itu sudah dibawa ke kantor polisi, sekarang aku sedang menjaga Valarie dan Adrienne, mereka ada di kamar" jelasnya.
"Syukurlah! Untung saja aku menyuruhmu menjenguknya, dia pasti mengalami hari yang berat, tolong temani dia Aron, andai saja aku tidak sedang di luar kota, aku pasti sudah kesana sekarang"
"Terimakasih, oh iya cucuku bagaimana? Dia baik-baik saja kan?" tanya Laura takut.
"Valarie tidur, dia tidak tahu kalau sesuatu terjadi" jelas Aron lagi.
Dari seberang terdengar helaan nafas lega Laura, dia mungkin akan benar-benar meninggalkan pekerjaannya jika cucunya ikut merasakan hal buruk.
"Syukurlah! Kalau begitu aku matikan telponnya, kamu jaga Enne dan Valarie, aku titip mereka, terimakasih untuk kebaikanmu Aron"
"Baik tante, tidak usah sungkan denganku"
...*...
...*...
Disisi lain Louis terburu-buru menuju rumahnya setelah membaca chat istrinya. Wajahnya merah karena emosi, tatapannya penuh dengan kebencian, rasanya dia bisa menghancurkan satu gedung kalau mengingat isi chat yang dikirim Eliza padanya.
Kakinya yang jenjang melangkah lebar menuju pintunya, tanpa basa-basi dia mendobrak dan menendangi pintu kayu rumahnya.
Eliza yang terkejut segera membuka pintu dan mendapati Louis yang tida terkendali, dia mendorong tubuh istrinya dan berusaha mencekiknya.
__ADS_1
"Lo-uis a-apa yang kau la-kukan, lepaskan a-aku" ucapnya terbata-bata, sayangnya Louis tidak peduli keinginannya, dia fokus menekan leher istrinya, kebenciannya sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Aku akan membunuhmu! Lebih baik kau mati saja Eliza" ucap Louis dipenuhi amarah.
Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan Eliza dari sifat Louis yang lepas kendali, salahnya sendiri memancing singa yang tertidur.
"Kau pikir aku akan diam kalau kau mengancamku? Jika benar kau mengirim orang untuk membunuh Enne dan Valarie, aku juga akan membunuhmu, PAHAM?! Cepat hubungi suruhanmu untuk berhenti sebelum aku benar-benar menghabisi nyawamu, CEPAT!" teriak Louis, dia tak tahan lagi, dadanya mual, rasa jijik menghampirinya setelah melihat wajah mengesalkan Eliza.
Eliza ketakutan.
Baru kali ini dia melihat Louis marah sampai sebegitunya, dia tahu tidak ada harapan lagi, akhirnya dia menyerah dan menghubungi Reza tapi pria itu tidak mengangkat telfonnya, membuat Louis kembali marah.
"Kenapa kau belum menghubunginya?" tanya Louis, suaranya terdengar mengerikan.
"Di-dia tidak mengangkat telfonku" jawab Eliza ketakutan.
Louis berdecak kesal, dia segera keluar dari rumahnya tapi sebelum itu sebuah kalimat keluar dari mulut mungilnya.
"Besok pagi, aku akan kembali dan aku tidak mau melihat satu barangmu ada di rumahku dan segera tanda tangani akta cerai kita, kalau tidak, aku akan lebih merusak namamu sampai kau tidak bisa lagi berkarir di negara ini" ucapnya penuh penekanan.
Eliza mengangguk saja, nyatanya dia tidak memiliki nyali sebesar yang dikira, dengan patuh dia mengemasi barang-barangnya meski Louis sudah beranjak pergi meninggalkannya.
Segera pria itu melajukan mobilnya menuju rumah Enne, benaknya dipenuhi rasa gelisah, jangan sampai wanita yang dia cintai itu mendapatkan hal buruk,Louis sangat takut membayangkannya.
"Semoga kalian baik-baik saja" gumam Louis khawatir.
Adrienne masih tidak sadarkan diri, jadi Aron memutuskan menginap di rumah mantan pacar sepupunya, tentu saja dia khawatir akan terjadi kejahatan susulan, akan lebih baik jika dia menjaga wanita cantik dan putrinya itu malam ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
tok~
tok~
Suara ketukan membangunkan Aron dari tidurnya, dia berjalan dengan hati-hati menuju pintu utama.
"ENNE, BUKA PINTUNYA" teriak Louis dari luar, dia baru saja tiba, terdengar jelas kegelisahan dari suaranya.
"Siapa lagi sekarang? Apa dia orang baik?" gumam Aron yang masih ragu, apa harus membuka pintu atau tidak.
...*...
...*...
__ADS_1