
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Hari ini harusnya jadi hari paling membahagiakan untuk anak dan calon menantunya tapi takdir berkata lain, Deon mencapai batasnya.
"Ma, itu bukan Deon" Enne tidak mau masuk dan menolak memastikan siapa pria yang terbaring didalam.
'Tidak, tadi kami masih saling bercanda, dia sehat, apalagi hari ini kami akan menikah, Deon tidak mungkin sakit, benar, dia bukan Deon' Batin Enne.
Laura memegang pundak Enne, dia tak sanggup lagi menahan air matanya, sedih sekali melihat takdir anaknya, dia ingin marah tapi tidak ada gunanya, tidak akan ada yang membantu meski dia mengamuk dan berteriak.
Laura kecewa, takdir sangat kejam, dia terus bertanya mengapa anaknya terlahir dengan penyakit kanker, mengapa dia tidak bisa melihat senyum anaknya.
Begitu banyak penderitaan yang dialami Deon, pengobatan dan perawatan yang menyakitkan terus dirasakannya, masa kecilnya tidak memiliki kenangan indah.
Laura sempat hilang harapan, apalagi saat dokter berkata hidup anaknya tidak lama lagi tapi untuk pertama kalinya, Deon meminta dan memohon padanya.
Malam itu, dia menelfon dan meminta agar bisa menikahi seorang wanita hamil, dia begitu menggebu mengatakan kalau dia sangat menyukainya.
Tentu saja Laura mengabulkannya, baru saat itu Deon bersemangat, dia yang murung dan pendiam begitu cerewet menjelaskan keadaan Adrienne.
Tapi sekarang, akhirnya hari yang ditakutkan Laura kembali datang dan menyapanya, takdir seolah tidak peduli lagi berapa banyak hati yang akan hancur melihat keadaan anaknya.
"Enne" Dengan berat hati Laura menjelaskan semuanya.
Adrienne membeku ditempatnya, dia sulit percaya karna senyum Deon tadi pagi masih segar diingatannya.
Tapi penjelasan Laura menamparnya kuat-kuat, akhirnya firasatnya menjadi kenyataan.
Dia memang curiga, Deon selalu bertingkah dan berbuat seolah harinya akan berakhir, dia selalu bekerja keras menyenangkan hati Enne, tidak ada satu haripun dia memperlihatkan rasa lelahnya.
Pelan-pelan Enne masuk, dia paksa saja kakinya bergerak, berat hatinya melihat pria yang sudah merebut hatinya justru terbaring lemah diatas kasur.
Pria bersurai hitam itu, terbaring lemah dihadapannya, tidak ada tanda kalau dia akan terbangun, seolah Deon menyapa dingin dirinya.
Air mata Enne mengalir dengan sendirinya, belum pernah dia melihat Deon yang terdiam dan mengacuhkannya.
'Rasanya sakit sekali Deon, mengapa kau membohongi ku' batin Enne.
__ADS_1
Laura berdiri disamping calon menantunya, dadanya sesak, dia tak sanggup melihat dua orang yang nasibnya malang sekali, mama Deon tahu perjalan hidup Enne, dia juga menjalani hidup yang pahit.
Adrienne Sudah tidak bisa berkata apapun, penjelasan Laura sudah mampu membisukannya, dia merutuk dirinya.
Bagaimana mungkin selama ini dia tidak tahu, kalau pria yang terus tertawa didepannya hanya terlihat kuat saat itu saja, ternyata diam-diam penyakit mematikan menggerogoti hidupnya, tumor otak, penyakit yang hanya menanti ajal saja.
Entah Enne yang terlalu terbuai atau Deon yang sangat pintar menyembunyikannya.
'Kenapa kau berpura-pura kuat didepanku' batin Enne lagi.
"Enne sayang, mama akan mengurus pernikahan mu, kau disini saja, temani Deon, mari kita undur saja pestanya, kamu sabar yah" ucap Laura mencoba menyalurkan kedamaian dihati calon menantunya.
"Iya ma" jawab Enne pelan.
Dia terduduk disamping Deon, pria itu tak kunjung membuka matanya, membuat Enne semakin khawatir dan takut.
...*...
...*...
Siapa yang paling tersakiti akan fakta ini? Apa Adrienne? Atau Deon?
Andai saja dia sedikit lebih peka, tentang mengapa Deon tiba-tiba harus pergi, tiba-tiba ada urusan, meski sudah memastikan tidak ada jadwal apapun tapi tetap saja ada hal yang membuatnya harus pergi.
Sepenting itu, tapi tetap tidak memancing curiga Enne, sepertinya Deon memang terlalu pintar menyembunyikan penyakitnya.
"Deon~" sapanya lembut, tangannya mendekap pelan kesela-sela jemari Deon.
"Maafkan aku! Aku pasti sangat egois kan? Kau pantas membenciku, hampir setahun kita bersama dan aku tidak tahu hal sepenting ini, aku minta maaf Deon" sesalnya semakin sedih, Enne mungkin tidak menyadari kalau air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Deon, bangunlah kumohon, aku tidak mau kehilanganmu juga, jangan buat aku kesepian, bukankah kau bilang akan menunggu Valarie besar? Kita sudah janji akan keliling dunia, iya kan?" monolognya sedih.
Ada yang bilang orang tidur itu bisa dengar apa yang dibicarakan orang didekatnya, mungkin Deon mendengar suara Enne.
Matanya perlahan bergerak membiarkan pandangannya diisi cahaya ruangan.
Dia melihat Enne masih menangis dan tidak menyadari kesadarannya.
"Adrien" suara serak Deon menghentikan rengekan Enne.
"Deon~"
__ADS_1
"Hm, kau sudah tau yah?" Deon tersenyum pahit.
"Jangan bicara dulu! Aku tidak mau kau kenapa-napa lagi tunggu kupanggilkan sust-
Tangan Deon menahan Enne, dia menatap lembut wajah calon istrinya.
"Sayang...kemari" ajaknya.
Deon menggenggam tangan Enne, ia memandangnya lekat sekali, seolah itu adalah tatapan terakhir darinya, bibirnya tersenyum payah, susah sekali memang, tersenyum menghadapi kenyataan pahit ini.
"Kamu cantik sekali sayang, bagaimana? Kamu suka semuanya?" tanyanya kacau.
Adrienne menahan nafasnya, ia paham situasi yang sedang dihadapinya ini, Deon mungkin akan pergi meninggalkannya.
Setidaknya ikuti saja kemauan terakhirnya, dengar dan jawab saja sejujur-jurunya Adrienne, Jangan menangis, berpura-puralah tegar, sebentar saja, demi dia, demi pria yang kau cintai.
"Em, cantik sekali, aku paling suka gaun ini, apa kau yang beritahu mama kalau aku suka lilac?" tanyanya berpura-pura tegar.
"Iya sayang, aku sudah mengatur semuanya, mungkin aku tidak akan bertahan lebih lama dari ini! Valarie anakku yang sangat kusayang, aku sudah membuatkan tabungan untuknya, kalau dia butuh, berikan apapun yang dia inginkan, anggap saja itu hadiah terakhir ayahnya ini" jawab Deon semakin lemah.
Tenggorokan Enne seperti dicekik, sakit sekali rasanya menahan tangis, tapi Deon masih saja tersenyum.
"Valarie pasti senang punya Ayah sebaik kamu, dan aku beruntung mencintaimu, aku cinta sama kamu Deon hikh" akhirnya Enne menangis juga, tidak ada satupun manusia tahan melihat orang yang dicintainya terbaring lemah dan masih mengkhawatirkan orang lain bukan dirinya sendiri.
"Jangan menangis sayang, aku senang sekali, ternyata cintaku tidak sepihak! Kalau begini, aku bisa pergi dengan tenang" Suara Deon semakin pelan.
"Deon jangan bilang begitu hikh" Enne terisak, dia tidak rela kalau Deon meninggalkannya.
"Aku cinta kamu sayang, bahagialah tanpaku" ucapnya, Enne menggeleng, dia tidak mau, tapi mata Deon perlahan menutup.
"Tidak, tidak! Kamu sudah berjanji akan hidup bahagia denganku dan Valarie, aku tidak mau Deon, bangunlah, kumohon" Enne menggila, dia berteriak berharap Deon mendengar isakannya tapi pria itu sudah tidak bernyawa, dia sudah pergi meninggalkan dunia ini.
Jiwanya kini meninggalkan raga, Deon mungkin tersenyum lega meninggalkan Adrienne tapi tidak dengan calon istrinya yang kini berontak menangisi kepergiannya.
"Deon Aku Juga Mencintaimu" bisiknya pada raga yang sudah tak bernyawa lagi.
Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Berkali-kali ia mengecup tangan dan wajah Deon, memohon agar dia kembali, pelukannya bahkan semakin erat, tapi yang diharap tidak lagi menjawab dan hari itu Adrienne benar-benar terpukul.
...*...
...*...
__ADS_1