MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
33


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Baru Lima menit yang lalu suara ketukan Aron terdengar nyaring ditelinga Adrienne dan sekarang pria itu sudah beradaptasi dan secepat kilat akrab dengan putrinya.


Sementara dia sibuk membuat teh hangat, Aron dan Valarie malah bermain kuda-kudaan, tawa mereka saling bertautan, benar-benar pemandangan yang cukup layak dikagumi.


Memang sangat indah, seolah bumi dengan sombongnya memberitahu, keluarga yang sesungguhnya itu yang seperti ini, bukan hanya anak dan mama, kalimat sarkas yang enggan untuk dicerna, nyelekit dan tidak memberi kenyamanan apapun.


'Semesta pasti sedang mengejekku" batin Enne, dia menyadari ada beberapa


kalimat yang sebenarnya tidak cukup pantas untuk dikatakan.


"Nah ini minumannya, ayo Aron, diminum dulu baru pulang" tawar Enne sesaat setelah menaruh cangkir berisi teh yang dibuatnya.


Aron tersenyum.


"Terima kasih" sahutnya, tanpa basa-basi Aron meneguk habis teh Enne, membuat si tuan rumah menatapi aneh dirinya.


"Apa kau baik-baik saja? Sepertinya teh itu masih panas, bisa saja mulutmu melepuh" tanya Enne khawatir.


Aron terkekeh.


"Tidak panas, ini hangat kok, pas untuk diminum, tenggorokanku jadi lega, terima kasih minumannya" jawab Aron yang masih terkekeh, raut muka Adrienne memang sangat lucu untuk beberapa saat.


"Oh baiklah" jawabnya canggung.


Adrienne memperbaiki duduknya, dia melirik Aron yang ternyata juga sedang menatapnya, karena terkejut tiba-tiba saja adrenalin Enne berpacu, detak jantungnya berdetak kencang, dia semakin canggung.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aron.


Adrienne mencoba tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.


"Aku baik-baik saja" jawabnya gugup.

__ADS_1


'Aku kenapa sih' batin Enne.


"Sepertinya Valarie mengantuk, dia tidak merespon candaanku" adu Aron.


Enne menoleh dan mendapati Valarie yang sudah setengah sadar menyender di sofanya, waktu memang sudah menunjukkan pukul dua siang, dan biasanya Valarie memang akan tidur dijam segini.


"Benar, aku akan membawanya ke kamar, kamu tung-


"Tidak perlu, saya masih ada urusan, oh iya ini barang yang lupa kamu bawa, bibi juga menitipkan hadiah untuk cucunya! Kebetulan tadi aku ada urusan di butik anak-anak sekalian saja kubeli untuk Valarie, anggap saja hadiah karena tumbuh menjadi gadis cantik yang pintar" sela Aron, dia menaruh barang-barang itu diatas meja kaca Enne.


Dia terdiam, sepertinya ada hal lain didalam pikirannya, ucapan Aron terasa seperti penolakan, akhirnya Enne merasa kalau Aron benar-benar tidak mungkin bersamanya.


Sangat jelas, siapa juga pria yang ingin bersama wanita dengan anak diluar nikah, apalagi Aron adalah orang sukses, dia pasti akan lebih memilih wanita dengan kelas yang lebih tinggi, bermartabat dan selevel dengannya.


'Sebenarnya apa yang kuharapkan sih?' batin Enne.


"Kalau begitu aku pamit" lanjut Aron buru-buru.


"Baiklah, terima kasih sudah repot-repot membawakan barang kami" sahut Enne.


Aron tersenyum, lalu berbalik menuju pintu rumah Adrienne, mengikut si pemilik dibelakangnya.


...*...


...*...


"Aku tidak peduli lagi, aku harus menanyakan pendapat Adrienne tentang semua kesalahpahaman ini" gumamnya, tangannya masih tegang, sebisa mungkin dia fokus mengendarai mobilnya.


Louis sudah mendapatkan alamat Adrienne berkat Edric yang terpaksa memberinya karena alasan istrinya yang butuh, padahal nyatanya dia yang sangat ingin menemui Enne.


Langit masih gelap, sudah berapa hari hujan turun di daerah kota, hati Louis bimbang, akankah Adrienne menjawab semua pertanyaan yang mengganjal dihatinya atau sebaliknya wanita itu mengusirnya dan membencinya.


Sekitar 15 menit perjalanan dan Louis sampai didepan sebuah rumah yang cukup besar, sesuai alamat yang diberika Edric, dia membuka pintu mobil dan buru-buru masuk ke pekarangan rumah Adrienne.


Suara bel terus berbunyi dan Enne yang sedang menjaga Valarie bergegas melihat siap orang yang datang.


Detik-detik yang menegangkan, baik itu Louis maupun Adrienne, dua-duanya mematung, pertemuan yang sudah sangat lama tidak terjadi, tatapan lembut dan penuh kasihan terbaca jelas diwajah Louis.

__ADS_1


Adrienne masih diam.


"Hai" sapa Louis yang basah kuyup karena hujan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Enne tidak suka. Terlihat jelas kakinya yang gemetar dan matanya membulat saking takutnya.


Dia berharap waktu yang dirasakannya hanya mimpi dan pria yang berdiri didepannya ini adalah fatamorgana, ilusi yang tak perlu dia percayai.


'Tadi pagi istrinya, sekarang suaminya yang datang, sebenarnya aku ada salah apa dengan mereka?' batin Enne curiga.


"Adrienne, aku sudah ingat semuanya" ungkap Louis, matanya berkaca-kaca, rindu sekali dia dengan wanita didepannya ini.


Lagi-lagi jantung Enne berpacu, setelah lima tahun berlalu Louis datang mengatakan sesuatu yang tidak pernah ada dalam pilihan kemungkinan alasan pria itu mengingkari janjinya.


"Ma-maksudnya? Kamu lupa ingatan?" tanya Enne, dia kebingungan, tidak tahu harus merespon bagaimana.


Louis mengangguk.


"Maafkan aku, aku sudah bersalah, harusnya aku menikahimu, bukan Eliza" Ucap Louis, meski tubuhnya gemetar karena kedinginan tapi tekadnya sangat kuat, dia ingin menepati janji lama yang dia buat bersama Enne.


Ada sedikit rasa senang mendengar pernyataan Louis, begitu lama dia menanti jawaban yang tersimpan rapi dibenaknya, tentang mengapa dia dilupakan dan dikhianati begitu saja, namun disisi lain rasanya semua sudah sangat terlambat, Louis sudah beristri.


"Jadi kamu lebih memilih kembali denganku dan akan meninggalkan istrimu?" tanya Enne, dia tidak suka bila Louis dengan mudahnya meninggalkan wanita yang sudah menjadi istrinya sejak 5 tahun lamanya.


Louis menggeleng.


"Adrienne aku tidak pernah mencintainya, aku salah, karena aku lupa ingatan, aku mengira Eliza itu kamu, makanya aku menikahinya tapi dia berbeda, dia tidak sepertimu, dia tidak bisa menipuku" jelas Louis, air matanya mengalir bebas membuat Enne ikut sedih.


Tapi disatu sisi dia bingung, bagaimanapun keadaannya dan apapun alasannya, tidak ada wanita berotak yang akan merusak rumah tangga orang lain, hanya berdasar cinta.


"Sudah terlambat! Kamu sudah sangat terlambat Louis, jangan biarkan aku jadi alasan penghancur hubungan kalian, aku tidak mau, kumohon pergilah dari sini, aku akan berterima kasih atas ingatan-ingatan lama yang kembali anggap saja itu salah satu kisah yang hanya bisa dikenang saja, terima kasih dan tolong jangan pernah menemuiku lagi" jelas Enne, dia menegaskan segalanya dan Louis merasa patah, rasanya tidak satu hal pun yang berjalan lancar sesuai keinginannya.


"Tunggu! Setidaknya beritahu aku, apa Valarie adalah putriku?" tanya Louis, setidaknya dia masih menyimpan harapan pada gadis kecil yang sampai sekarang dia anggap putrinya.


Adrienne lagi-lagi terkejut dengan pertanyaan pria didepannya ini tapi sepertinya Louis akan benar-benar kasihan jika tidak tahu putrinya sudah sebesar itu.


"Iya! Tapi tidak ada alasan aku harus mempertemukan kalian, sekarang pergilah, aku tidak akan menerima suami orang masuk ke dalam rumahku" usir Enne tak tahan, bisa-bisa dia luluh, apalagi Louis terlihat memprihatinkan, tubuhnya kurus, matanya sembab dan tatapannya kosong, dia pasti sedang sangat merasa putus asa.

__ADS_1


...*...


...*...


__ADS_2