MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
22


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Para tamu berdatangan, teman-teman sekolah Lian juga ikut memeriahkan hari jadinya.


Lian sangat senang, dia bersemangat sekali, apalagi melihat teman-temannya yang hadir sangat banyak.


Tiara tersenyum, sebentar lagi acaranya dimulai, para tamu mulai duduk di kursi masing-masing dan sang bintang utama juga sudah ada disinggasananya.


Adrienne dan Valarie juga ikut duduk tepat di samping kenalan Tiara, sepertinya sahabat cantiknya itu sudah mengatur agar mereka berdekatan.


"Selamat datang di pesta ulang tahun anakku, senang bertemu kalian semua, kalau begitu mari kita mulai acaranya, semua mohon berdiri dan kita nyanyikan bersama lagu ulang tahunnya" Tiara menggebu-gebu sekali.


Semua tamu berdiri dan mulai menyanyikan lagu ulang tahun untuk Lian.


Acaranya berjalan lancar, teman-teman sebaya Lian sedang bermain di taman dan para orangtua asik berbincang-bincang.


Adrienne melirik Louis yang berjarak beberapa meter dari tempatnya, dia sangat waspada, sejak tadi Valarie merengek ingin berbicara Dengan pria itu, untung saja Lian bisa membujuknya bermain.


Tiara menyenggol pelan lengan Enne.


"Kau sedang lihat siapa? Rasanya matamu akan keluar kalau kau terus memandanginya" celetuk Tiara penasaran.


Enne menggeleng "Tidak, aku hanya melihat bunga di tiang itu, sepertinya bunganya mau copot" jawabnya asal.


Tiara terkekeh "Hahaha, kau tidak andal berbohong Enne" komentarnya geli.


"Serius, aku memang sedang melihat bunga itu" Enne bersikukuh dan Tiara hanya balas tertawa.


"Permisi, boleh saya ikut?" tiba-tiba seseorang menyela.


Enne dan Tiara menoleh, didapatinya pria bertubuh langsing dan tinggi melirik senang, wajahnya tirus, bibirnya mungil, hidungnya mancung dan kulitnya bersih bercahaya, Tiara menyeringai, dia mengedipkan matanya dan meninggalkan Adrienne yang berdiri kaku.


'Tiara, dasar wanita itu, dia pasti menjebak ku' batin Enne.


"Boleh kita berkenalan?" tanya pria itu.


"Tidak" jawab Enne ketus, dia bermaksud membuat kesan buruk agar tidak didekati.


"Judes sekali" ulas pria itu, dia menatap dingin Adrienne dan wanita itupun tak begitu peduli, toh itulah tujuannya, agar perbincangan itu berakhir cepat.


"Kalau be-

__ADS_1


"MAMAAAA~"


Suara teriakan Valarie mengagetkan Enne, dia berlari tanpa memedulikan kalimat pria yang berbincang dengannya.


Rupanya Valarie jatuh dan lututnya berdarah, Enne panik, dia segera menggendong anaknya, Edric dan Tiara ikut khawatir, mereka segera mengambil kotak P3K.


Orang-orang melihat tiga orang tua itu sibuk, wajahnya cemas apalagi Adrienne yang belum pernah sekalipun melihat Valarie menangis, terlebih jika penyebabnya hanya karna terjatuh, putrinya bukan anak lemah.


"Valarie sayang pasti sakit yah, sini mama obati, tunggu yah sayang, sebentar lagi pasti sembuh, fuh fuh" ucap Enne mencoba menenangkan putrinya, dia juga meniup-niup luka anaknya agar cepat kering.


Anehnya Valarie tidak terhibur dan semakin menangis, dia menutup matanya dan berteriak kencang.


Orang-orang masih memandangi anak dan ibu itu terpaksa Tiara menyudahi acaranya dan orang-orangpun satu persatu pergi.


Louis memandangi Valarie, dia sangat ingin mendekati gadis mungil itu tapi Eliza terus berpura-pura sakit dan tidak bisa ditinggalkan sehingga pria itu hanya bisa memandanginya.


Bahkan Eliza sudah pamit dan tidak membiarkan suaminya mendekati Valarie, dia sangat membatasi Louis, tapi sepertinya pria itupun sedang banyak pikiran, dia juga tidak begitu berani menyapa Adrienne apalagi setelah terungkapnya masa lalu diantara mereka.


'Apa kita pernah saling suka? Apa Valarie itu putriku? Tapi kenapa Enn tidak mendatangiku, kenapa dia bersikap seolah tidak mengenaliku? Sebenarnya kenapa?' batin Louis.


...*...


...*...


Anak kecil itu terkejut "Lian kenapa kau mendorong ku?" tanya gadis itu.


"Apa yang kau katakan padanya?" Lian masih menatap tajam teman sebayanya.


"A-Aku, aku tidak bilang apa-apa" Jawab anak itu, dia gemetar apalagi tatapan Lian seolah menusuknya.


"Oh begitu, aku bisa membuatmu lebih menderita dibanding Valarie, jadi cepat jawab dengan jujur-


"KAN SUDAH KUBILANG BUKAN AKU, AKU HANYA DISURUH TANTE CANTIK, AKU TIDAK SALAH APAPUN" teriak gadis itu memotong kalimat Lian, dia ketakutan.


Lian menyeringai "Aku tidak peduli kau disuruh atau tidak, yang pasti kau salah karna membuatnya menangis, cepat katakan kenapa Valarie menangis?" tanyanya tanpa ampun.


"Aah, aku bilang dia anak haram, anak yatim tidak punya ayah, ibunya pelacur, orang hina, aku hanya mengatakan yang disuruh tante cantik, aku tidak salah apapun" aku gadis itu.


Wajah Lian merah, dia sangat marah, bagaimana bisa anak berusia empat tahun sudah mampu mengatakan hal kejam itu, karna sangat kesal Lian memukuli gadis itu sampai menangis deras.


Orangtua yang masih tersisa datang melerai setelah mendengar teriakan gadis yang dipukul Lian.


Edric sangat terkejut, anaknya yang pendiam memukul perempuan, dia tidak habis pikir, belum juga masalah Valarie selesai anaknya malah ikut menambahnya.


Tiara dan Edric meminta maaf kepada orangtua si gadis tapi Lian sama sekali tidak Sudi memohon maaf, dia bersikukuh kalau dia tidak bersalah.

__ADS_1


Para tamu sudah pulang, hanya tersisa Edric, Tiara dan Enne beserta putra dan putri mereka disana.


Edric menatap tajam putranya, dia tidak pernah mengajarkan Lian menjadi pria tak berperasaan yang dengan mudah memainkan tangan untuk memukul seorang perempuan.


"Apapun alasannya, perbuatan mu ini salah Lian Walden" ucap Edric penuh penekanan.


Lian diam.


"Sayang, coba katakan, kenapa kamu memukul Risa? Bukankah dia teman baikmu dikelas?" Tiara mencoba mencairkan suasana.


Adrienne hanya bisa menatap Lian yang sedang dihakimi, dia masih menggendong putrinya, Valarie masih terisak tapi tidak begitu menggangu perhatian orang lagi.


Lian menatap ibunya, dia percaya mengatakan pada Tiara lebih ampuh dibanding ayahnya yang keras kepala.


"Anak itu jahat, dia membuat Valarie menangis, aku tidak suka" jawab Lian masih marah karna mengingat tangisan Valarie terus terbayang diingatannya.


Tiara mengelus kepala anaknya "Memang apa yang Risa katakan sampai Valarie menangis nak?" tanyanya mencoba memahami jalan pikiran Lian.


Edric masih bersabar, alasan Lian masih tidak masuk akal baginya.


"Dia bilang, Tante Enne pelacur, Valarie anak haram dan banyak lagi kata-kata jahat yang diucapkannya, aku sangat marah, aku tidak peduli dia perempuan atau laki-laki, kalau dia melukai keluargaku, aku akan memukulnya sampai mati" Ucap Lian menggebu-gebu, rasanya dia masih ingin memukuli gadis bernama Risa itu.


Semua orang terkejut, bagaimana bisa kata-kata kasar itu keluar dari mulut anak berusia empat tahun.


Edric ikut tersulut emosi "Kalau benar begitu, kau memang harus membalasnya sampai mati, beraninya dia mengatai Valarie dan Enne tanpa tahu kebenarannya" ucapnya berbalik membela putranya.


Tiara memukul kepala suaminya "Kau jangan ikut-ikutan, ucapan mu itu tidak mencerminkan pribadi yang baik, Lian sayang, apa kamu tahu kenapa Risa mengatakan hal buruk itu?" Tiara masih mencari tahu kebenarannya.


Dia jelas marah mendengar ejekan Risa tapi tidak mungkin kalimat buruk itu keluar begitu saja dari mulut anak kecil yang bahkan menulis saja masih tidak lancar, pasti ada seseorang dibaliknya.


"Dia bilang, dia disuruh sama Tante cantik" ungkap Lian.


Adrienne membisu, kata pelacur yang sudah lama tidak didengarnya, kenapa bisa kalimat itu keluar dari mulut anak kecil?


Enne berpikir 'Apa salah satu tamu Tiara adalah teman sekolahku? Tapi aku tidak menemukan wajah yang familiar, kenapa anak kecil itu bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu?' batin Enne.


Rasa takut dan trauma seolah menjalar kembali menghantui pikiran Enne, masa-masa sekolahnya yang kelam teringat lagi, dia berusaha menepis ketakutannya tapi ternyata dia tidak bisa, tanpa sadar Enne memukul kepalanya dan berteriak-teriak seperti orang gila.


Valarie yang masih menangis semakin menjadi melihat ibunya, dengan sigap Edric memeluk sahabatnya dan Tiara mengambil Valarie dari gendongan Enne yang hampir lepas.


Sore itu semua terkejut atas apa yang menimpa Adrienne dan Valarie.


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2