MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
25


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Louis tersenyum.


"Kabar baik, aku kesini karna ingin berbicara dengan Adrienne, apa boleh?" tanya Louis, dia melirik kearah wanita cantik yang sama sekali tidak menaruh perhatian padanya.


Edric mengatupkan mulutnya, sebenarnya apa maksud pria ini sampai dia ingin berbicara dengan sahabatnya, padahal baginya sudah cukup Enne menderita dan tiba-tiba saja datang si penambah masalah ini.


"Maaf Louis tapi Adrienne sedang ingin sendiri, lagipula percuma kamu mengajaknya berbicara dia-


"Louis? Kak Louis, apa ini kamu? Aku rindu padamu kak" rengek Enne tiba-tiba, dia memeluk tubuh Louis yang menjadi kaku karena sikapnya.


Edric tak suka, dia membantu Enne agar lepas dari pelukan Louis tapi sangat susah karna pelukan itu terjadi atas kemauan sahabatnya.


'Enne kumohon berhentilah, dia tidak pantas bersamamu' batin Edric.


"Adrienne, bisa tolong lepaskan pelukanmu?" tanya Louis kurang nyaman, lagipula dia takut akan melukai istrinya jika tahu dia berpelukan dengan orang lain.


Adrienne menatap wajah Louis, cukup lama sampai dia menangis karena sedih.


"Enne ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya ayah Lian, dia menarik tangan Enne dan melepas pelukan mereka berdua.


Enne masih menatap sedih Louis.


"PEMBOHONG! PEMBOHONG! AKU BENCI KAK LOUIS, PENGHIANAT, KAKAK JAHAT, LOUIS JAHAT, AKU BENCI" Teriak Enne, lagi-lagi penyakitnya kambuh, sepertinya Louis adalah pemicunya.


Edric segera memeluk sahabatnya "Sssst, Sssst, Enne tenanglah ada aku disini, Louis tolong panggil istriku" pintanya gelisah, padahal dia sudah agak tenang, kenapa dia sedih lagi, Edric bingung.


Louis menghampiri Tiara, dia sangat khawatir "Tiara, suamimu menyuruhku memanggilmu, Adrienne dia teriak -teriak di taman" jelasnya ketakutan.


"APA? Oke kamu duluan saja kesana, aku akan mengambil anak-anak dulu" Tiara tak sempat menanyakan alasan kedatangan suami Eliza, kekhawatiran menguasai dirinya, dia takut, sangat takut melihat kesedihan Enne.


'Sebenarnya siapa yang sudah melukaimu sampai separah ini Enne? Hatiku sakit memikirkanmu' batin Tiara sedih.


Louis kembali lagi kesana, teriakan putus asa Enne masih terngiang dipikirannya, entah apa yang sudah dilakukannya sampai Adrienne sangat benci dengannya.


"Tidak! Bukan, aku bukan pelacur, Edric aku bukan pelacur, mereka bohong Edric, tidak, anakku bukan anak yatim, dia punya ayah, Edric kau tahu kan siapa ayahnya, tolong Edric, anakku bukan anak yatim, Edric aku bukan pelacur, aku bukan pelacur" Gumam Enne, dia terus mengulang kalimatnya.


Louis terlanjur mendengar dan melihat semuanya, Edric terpaksa meminta agar suami Eliza itu merahasiakan semua yang dilihatnya dan Louis berjanji akan tutup mulut.


"Sayang, bagaimana keadaan Enne?" tanya Tiara yang baru saja tiba, mengikut Lian dan Valarie di genggamannya.


"Tidak baik-baik saja, kita harus meminumkan obatnya, kamu panggil dokter yang minggu lalu memeriksanya, kita harus tahu keadaan Enne" jelas Edric, Tiara merasa lemah, dia tidak kuat melihat sahabatnya seperti itu.


Adrienne lemah, kesadarannya hilang, dia hanya melantur dan mengatakan kalimat berulang, meski sempat tertarik dan mengajak Louis berbincang tapi rupanya rasa benci menggerogoti dirinya.

__ADS_1


Banyak hal yang menghantui pikiran Louis saat ini, perasaannya tidak baik, dadanya cukup sesak melihat keadaan Adrienne.


Dia penasaran, rasa ingin tahunya bertambah, kenapa wanita yang terlihat dingin dan selalu mengacuhkan ditiap pertemuannya, menjadi lemah seperti itu? Louis penasaran.


'Apa sekarang, bukan waktunya aku mengetahui semuanya?' batin Louis.


Edric membopong Enne kedalam mobil, mengikut Tiara yang masih memegang tangan Lian dan Valarie, raut wajahnya sangat khawatir.


"Tiara kamu duduk dibelakang, peluk Enne, jangan biarkan dia merasa kesepian, Lian dan Valarie duduk didepan saja, kalian berdua mau kan membiarkan tante dan mama kalian istirahat dibelakang?" bujuk Edric, dia menjelaskan dengan penuh perhatian.


Valarie yang sudah menahan tangisnya hanya mengangguk, dia menunjuk Louis dan berkata dengan sedih.


"Aku mau paman Louis ikut" pintanya, dia menatap pria itu.


Edric tidak suka tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah.


"Baiklah, Louis tolong yah, kamu ikut" pinta Edric setengah terpaksa, sudah jelas dia tidak ingin pria itu ikut, andai saja Valarie tidak memohon padanya.


"Baiklah, aku akan mengikuti dari belakang" jawab Louis, sebenarnya dia harus pulang karena mungkin saja istrinya sudah menunggunya.


Tapi entah mengapa Louis tidak bisa menolak permintaan anak Enne.


Mereka masuk ke dalam, begitupun Louis yang mengendarai mobilnya menuju kediaman Walden, harap-harap cemas dia ingin Eliza tidak mencarinya.


'Kenapa aku seperti ini? Eliza, semoga kamu tidak marah' batin Louis.


...*...


...*...


"Pak Edric, saya akan menambahkan obat untuk pasien, setelah dia sadar tolong segera bawa ke psikiater, pasien akan merasa lebih tenang jika melakukan terapi dan perawatan dengan ahlinya, kalau begitu saya pamit dulu" Jelas pak dokter.


Edric membiarkan dokter berlalu melewatinya, dia menatap sahabatnya, begitu banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya.


'Sebenarnya ada apa denganmu Enne' batinnya tak tega.


Menyingkirkan kekhawatirannya, Edric menoleh kearah Louis yang dia tahu ingin membahas sesuatu.


Edric bertekad, dia akan menyelesaikan semuanya tanpa melibatkan Enne, sudah cukup sahabatnya menderita.


"Louis, bisa kita bicara sebentar?" ajak Edric.


Louis cukup terkejut dengan tawaran itu tapi dia memang menunggu waktu tepat untuk menanyakan tentang Enne, apalagi setelah mendengar Adrienne mengatakan kalau Edric tahu siapa ayah dari Valarie.


"Tentu" ikutnya mengiyakan.


Mereka berdua duduk di taman, Edric menanyakan tujuan Louis kemari tanpa basa-basi.


"Sebenarnya kenapa kau ingin berbicara dengan Adrienne? tanyanya serius.

__ADS_1


Louis mengernyit, dia menyadari kalau Edric tidak begitu suka dengan kedatangannya.


"Apa saya tidak boleh bertemu dengannya?" Louis balik bertanya.


Edric menyeringai, pertanyaan itu membuatnya geli, dia rasa Louis memang pria bebal dan tidak tahu malu.


"Bisa dibilang begitu" jawab Edric ketus.


Louis semakin bingung, sebenarnya kenapa pria disampingnya ini sangat membencinya.


"Kenapa anda begitu?" tanya Louis, dia cukup tersinggung dengan sikap Edric.


Edric menatap tak suka "Daripada itu, jawab saja, kenapa kau ingin bertemu Enne? Apa sekarang kau sudah sadar? Begitu?" tanyanya kesal.


"Sadar? Maksudnya apa? Saya hanya ingin menanyakan sesuatu dengan Adrienne" jelas Louis, dia semakin bingung.


"Tanya? Kamu mau tanya apa?" sahut Edric cepat.


"Apa saya dan dia punya hubungan atau tidak, dan apa Valarie itu anak saya? Kira-kira itu yang ingin saya tanyakan" jawab Louis.


Edric tidak mengerti, bukankah Louis harusnya tahu kalau sahabatnya hamil anaknya? Tapi kenapa dia baru datang setelah empat tahun berlalu.


"Apa kau pikun? Itu pertanyaan tidak masuk akal, apa kau pikir Adrienne tiba-tiba punya anak? Tentu saja Valarie anakmu, kalau kau datang untuk bertanggungjawab, itu sudah sangat terlambat Louis" jelas Edric kesal.


Penjelasan Edric membuat Louis membeku, benar, Valarie anaknya, kenyataan itu membuatnya bingung, seketika otaknya tak bisa bekerja.


'Apa ini? Kenapa aku bisa menghamili Enne? Apa dulu aku benar menghamilinya? Tapi kenapa aku malah menikahi Eliza? Argh kepalaku sakit memikirkannya' pikiran Louis tidak mendapatkan solusi apapun.


"Jadi Valarie anakku?" tanyanya setengah sadar.


Edric menyeringai "Hm, apa kau tidak ingin mengakuinya? Yah tentu saja kau tidak akan mengakuinya, lagipula kau sudah lari dari kenyataan selama ini, aku tidak mengerti kenapa baru sekarang kau datang" ejeknya, kalau bukan karena kondisi Enne, dia pasti sudah memukuli pria disampingnya ini.


"Siapa yang bilang begitu? Aku akan mengakuinya, aku cuma bingung, bagaimana bisa aku tidak tahu ada kejadian seperti ini, andai saja aku tidak amnesia, aku mungkin akan lebih cepat bertanggungjawab, tapi sayangnya ingatanku kembali baru-baru ini, dan aku sudah sangat terlambat" Jelas Louis, dia menyesal dan pikirannya buntu.


"Sejak kapan kau amnesia?" tanya Edric.


"Sepertinya lima atau empat tahun lalu, aku juga kurang tahu tapi sepertinya sekitar tahun-tahun itu" jelas Louis.


Edric baru paham, jadi Adrienne selama ini pun tidak tahu kalau ayah dari anaknya mengalami amnesia, jadi sahabatnya hidup dengan membenci Louis dan Louis hidup tanpa tahu kenyataannya.


Pikiran Edric seperti benang yang tergulung kusut, dia pun tidak tahu harus bagaimana menjawab persoalan-persoalan ini.


"Mau diapakan lagi, sudah begini, biarkan saja Louis, setidaknya kau sudah tahu kenyataannya tapi Adrienne dia sakit dan aku tidak akan memberitahukan apapun, bisa saja dia semakin parah, jadi lupakan saja semuanya, toh kau punya istri, mau sebaik atau se cinta apapun kau dengan sahabatku di masa lalu, semuanya sudah berakhir" Jelas Edric, dia harap Louis bisa melupakan semuanya, demi kebahagian setiap orang.


Mendengar kalimat-kalimat itu membuat Louis tidak enak, dadanya lagi-lagi sesak, teriakan Adrienne terus terngiang di telinganya.


'Kenapa dia menganggapku penghianat? Kenapa Adrienne membenciku?' batinnya penasaran.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2