
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Sudah satu bulan berlalu.
Louis selalu mencari keberadaan Adrienne, dia sangat menyesal karena tidak menemui wanita yang dicintainya waktu itu.
Badannya kurus bahkan tengkorak pipinya terlihat jelas, dia kehilangan nafsu makannya, satu-satunya hal yang membuatnya bersemangat adalah bertemu Enne dan Valarie.
Perceraiannya dengan Eliza membuatnya bebas dan tidak lagi terikat dalam hubungan suami istri tapi Adrienne menghilang, wanita yang banyak menarik perhatiannya justru pergi dan tidak ada yang tahu keberadaannya.
Louis putus asa mengharapkan wanita itu dan putrinya kembali, dia sangat ingin bertemu, banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Enne, tentang perasaannya yang tidak pernah pudar tentang cintanya yang tidak akan padam.
Kini dia terbaring diatas sofanya, menikmati rindu yang terus menggerogoti hatinya, menanti-nanti waktu berlalu agar dia bisa bertemu Valarie dan Enne.
"Hari, cepatlah berganti, aku rindu mereka! Tolong jangan halangi aku menemui wanita ku dan putriku" katanya pada kehampaan yang terasa begitu sesak.
Tiba-tiba saja, bayangan Enne dan Valarie muncul didepannya, wanita itu menari dalam tawanya dan putrinya berlari-lari sambil tersenyum bahagia.
Mereka berdua bersenang-senang sambil sesekali melirik Louis.
"Sayang, ayo ikut" panggil Enne pada Louis.
Valarie juga melambaikan tangannya dan berteriak dengan ceria "Ayah, ayo sini" begitulah bayang-bayang mereka berdua mengundang senyum Louis.
Rasanya saat ini, dia bersedia menyerahkan hidupnya demi bisa mendapatkan kehidupan seperti tadi, membayangkan bagaimana wanita yang dicintainya memanggil lembut namanya, dan putrinya terus menyambut dan menatapnya penuh sayang, membuatnya merasa bersyukur bisa hidup menyaksikan tawa anaknya yang cantik dan manis.
"Kalau saat itu tiba, aku pasti akan jadi pria paling beruntung didunia ini" komentar Louis pada khayalan yang terus muncul dipikirannya.
"Sebenarnya, kemana kalian pergi? Apa kalian menghindariku? Apa aku begitu menggangu?" tanya Louis.
Dia sangat penasaran, tentang alasan Adrienne meninggalkan rumahnya dan pergi menjauh, bahkan Edric tidak ingin buka mulut dan memilih diam meski Louis sangat putus asa mencari keberadaan mereka berdua.
Seketika perasaan takut dan gelisah menghantui Louis, dia berpikir, mungkin saja hatinya akan terus sakit, karena tidak ada alasan bagi Enne untuk mau menerimanya kembali.
Dia sudah sangat terlambat, lima tahun bukanlah waktu yang singkat, membayangkan Adrienne membesarkan Valarie sendirian membuatnya semakin takut, bisa saja, khayalannya akan tetap jadi ilusi dan tidak bisa terwujudkan.
__ADS_1
Louis menyeringai, tawanya yang getir terlihat menyedihkan.
"Dasar egois" ledeknya, dia tidak mengatakan itu untuk siapapun tapi dia berbicara seperti itu karena mengejek dirinya yang sempat terlalu percaya diri bisa mendapatkan Adrienne lagi.
Begitulah hari-hari Louis berlalu, setiap pagi dia akan singgah dirumah Enne untuk mengecek keberadaan wanita yang begitu dicintainya, lalu siangnya dia akan menemui Edric untuk mencari tahu keberadaan Adrienne.
Jika dia tidak mendapatkan kabar apapun, dia akan pulang dengan wajah lesu dan langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil mengkhayalkan masa-masa bahagia bersama putri dan wanita yang ingin dia jadikan istri.
Makan sangat jarang dia lakukan, entah mengapa, dia tidak begitu lapar, dia hanya terus menghabiskan waktunya menatap foto Valarie dan Adrienne yang didapatkannya dari fansite.
Padahal waktu itu, Valarie sudah berada dipangkuan-nya, andai saja dia mengenali putrinya yang begitu mirip dengannya. Banyak penyesalan Louis yang semakin menekan hatinya dan membuatnya merasa sesak, sepertinya dia sedang menghukum dirinya sendiri.
...*...
...*...
Aron dan Adrienne menikmati makan malam bersama Valarie, mereka saling melempar senyum, kebahagiaan sangat terpancar dari ketiganya, apalagi setelah Aron melamar Enne.
Tidak ada kabar yang lebih membahagiakan Valarie, dibanding kabar bahwa pria yang duduk disampingnya itu akan menjadi ayahnya.
Itu sebabnya dia selalu tersenyum, menunjukkan betapa bahagianya dia karena akan memiliki keluarga yang lengkap.
"Pelan-pelan saja makannya sayang" ledek
Valarie merasa malu, dia sadar kalau dirinya terlalu bersemangat menyantap ayam bakar yang dibuat Aron.
"Aku suka ayam yang dibakar om Aron" jawab Valarie, dia mencoba membela diri.
Aron besar kepala, dia ikut tersenyum.
"Benarkah? Hehe, aku harus belajar membakar ayam lagi, sepertinya masih ada beberapa yang kurang matang, tapi terimakasih Valarie karena sudah memujiku" sahut Aron, dia cukup merendah karena kemampuannya memang masih kurang.
"Tidak kok! Masakan om Aron sangat enak" puji Valarie.
Aron terkekeh.
"Terimakasih pujiannya putriku yang cantik" Aron balas memuji Valarie.
Adrienne yang sejak tadi hanya menikmati makanannya langsung menghentikan kegiatannya dan mencoba memastikan kalimat yang keluar dari mulut Aron.
__ADS_1
"Aku pasti salah dengar" kata Enne, dia meletakkan garpu dan sendoknya.
Aron menggeleng.
"Kamu tidak salah dengar! Sebentar lagi kita akan menikah, tidak ada salahnya lebih dulu memanggil Valarie putriku, toh ini juga bisa jadi latihan agar aku tidak merasa canggung, benarkan?" jelas Aron tak merasa salah dengan omongannya.
Enne mengerti dan ikut lega dengan penjelasan yang diberikan Aron, ada rasa syukur dihatinya karena mendapatkan pria yang baik hati dan sangat luar biasa.
"Aku senang sekali! Kalau begitu, aku juga akan memanggil om Aron, papa, papa Aron yang tampan" ucap Valarie disela-sela makannya yang lahap.
Aron terharu, dia memeluk Valarie dan berkata dengan lembut.
"Terimakasih sudah menjadi putri yang pintar dan baik hati" bisiknya, tentu saja senyum Valarie mengembang ketika mendengar pujian itu.
"Kalian sedang membicarakan aku yah?" tanya Enne yang merasa terasingkan.
"Rahasia" jawab putri kecilnya.
"Iya, itu rahasia" timpal Aron.
"Jahat sekali" ujar Enne pura-pura kesal.
Lalu mereka bertiga menghabiskan makan malamnya dengan tawa yang sesekali terdengar begitu renyah ditelinga, begitu nikmat pemandangan yang mereka bertiga tampilkan, seperti keluarga yang terlihat sangat harmonis.
Valarie yang manis terlelap dipangkuan Aron, dia tertidur pulas setelah menyarankan untuk nonton bersama, Adrienne yang panik hendak memindahkan putrinya ke kamar tapi Aron melarangnya.
"Biarkan saja! Kapan lagi aku bisa merasakan tingkah manja putrimu ini" ucap Aron menahan tangan Enne.
"Tapi nanti kau lelah" sahutnya khawatir.
"Kalau hal seperti ini, aku tidak akan lelah, jadi tenang saja" jelas Aron menenangkan Enne yang masih terlihat khawatir.
Adrienne terdiam, dia tampak memikirkan seusatu dan Aron yang peka langsung menanyakan penyebabnya.
"Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Aron.
"Aku hanya merasa, hubungan kita terlalu cepat, bahkan langsung ke jenjang pernikahan, aku khawatir orang tuamu tidak akan merestui pernikahan kita, apalagi aku sudah punya anak, sedangkan kamu punya segalanya, tidakkah kau berpikir hidup bersamaku hanya akan menyia-nyiakan waktumu?" Enne menjelaskan kekhawatiran yang sudah beberapa hari mengganjal dihatinya.
Aron cukup terkejut dengan pertanyaan Enne, sepertinya dia paham kenapa Adrienne sangat takut, didunia yang kejam ini, mana ada seorang ibu yang rela menikahkan putranya yang sukses dengan seorang wanita yang punya anak diluar nikah, kalaupun ada, itu hanya Laura saja dan beberapa ibu yang baik hati didunia ini.
__ADS_1
...*...
...*...