MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
49


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Sejak tadi Enne terus menghubungi nomor suaminya yang tidak aktif.


Dia gelisah, hatinya tak karuan setelah melihat berita dengan jurusan pesawat yang sama mengalami kecelakaan.


'Aron tolong angkat telfonnya' batin Enne sedih.


Adrienne kembali memeriksa berita yang dilihatnya tapi kondisi televisinya sudah mati, Valarie juga tidak ada dikursi, dia kebingungan dan segera mencari anaknya.


"Valarie sayang, kamu dikamar ya?" tanyanya sambil berjalan menuju kamar putrinya.


Enne membuka pintu kamar anaknya, tidak ada siapapun didalam, dia masuk dan memeriksa keberadaan Valarie, tiba-tiba perasaannya tidak enak, dengan langkah tergesa-gesa dia mengelilingi rumahnya dan mencari kemana putrinya berada.


"VALARIEEE KAMU DIMANA NAK?" teriak Enne tak tahan lagi, air matanya menetes, entah mengapa dadanya terasa sesak.


"VALARIEEE" teriaknya lagi.


Adrienne berlari menuju luar rumahnya, semua terlihat biasa saja tapi suasananya sangat sepi dan langit begitu gelap mengelilingi perumahannya.


"Valarie kamu dimana nak? Tolong jawab mama" gumamnya, air matanya semakin deras.


Tak tahu harus apa, Enne memutuskan menelfon Tiara sahabatnya.


NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF-


"Kenapa dia tidak aktif?" Enne semakin kebingungan, rasa cemas terus menghantuinya.


Lagi-lagi dia menelfon sahabatnya dan jawaban yang sama membuatnya menyerah, dia memilih kembali masuk dan mencari Valarie tapi saat dia naik ke tangga depan rumahnya dia tersandung dan kepalanya terbentur.


Enne terbangun dengan susah payah, penglihatannya buram, samar-samar dia mendengar suara yang asing ditelinganya.


"PASIEN SUDAH SADAR, CEPAT PANGGIL DOKTER"


"TOLONG SELAMATKAN MENANTU SAYA, TOLONG DOKTER" teriak yang lain.


'Rasanya kepalaku sakit sekali, kenapa lama sekali aku bisa mengendalikan diriku, ayo bangun Enne, kau harus mencari anakmu, jangan lemah, cepat bangunlah' batin Enne.


Pelan-pelan kedua mata yang indah itu terbuka, wajahnya pucat dan keadaannya baru saja melewati masa kritis.

__ADS_1


Adrienne sudah koma sejak tiga hari yang lalu, Laura berada disampingnya dan terus menemaninya, dia menatap nanar mantan calon menantunya itu.


Enne menoleh, dia terlihat kebingungan mendapati dirinya berada dirumah sakit, apalagi ada Laura disampingnya.


"Mama" ucapnya sangat pelan, bahkan suaranya masih tidak sanggup dia keluarkan.


Laura terkejut, dia segera mendekati wanita yang sudah dianggap menantunya itu.


"Enne sayang, kamu sudah sadar? Terima kasih tuhan, terimakasih, aku benar-benar berterimakasih" Laura memeluk Enne dengan erat seakan tidak ingin menantunya pergi lagi.


Adrienne baru benar-benar sadar setelah mendengar rintihan Laura, matanya membulat dia memaksa untuk bangun tapi ibu Deon menahannya.


"Ma, Valarie mana? Aku tadi sedang mencarinya, dia dimana ma?" tanyanya panik, suara Enne parau, dia susah payah mengeluarkan suaranya yang membuat tenggorokannya sakit.


Laura mengalihkan pandangannya, dia terlihat kebingungan, tangisannya semakin menjadi, Enne memandangi wanita yang dianggapnya ibu sendiri.


"Kenapa mama menangis?" tanyanya aneh.


Laura sesenggukan, dia meremas bajunya.


"Kumohon tabahlah nak, anak dan suamimu sudah berada disurga bersama Deon" ungkap Laura, sangat jelas dia menahan kesedihannya agar Enne bisa tegar mendengar kenyataan itu.


Saat mendengar pernyataan Laura, Adrienne baru benar-benar sadar, kondisinya yang lemah dan tubuhnya yang terpasang alat medis, menandakan dirinya sedang dalam keadaan yang parah, lalu tiba-tiba sekelabat ingatan menghampirinya.


PAPA! AKU TAKUT.


ARON, AKU TAKUT.


PEJAMKAN MATA KALIAN, SEMUA PASTI AKAN BAIK-BAIK SAJA.


"Tidak! Tidak, itu tidak benar, tidak, tidak, aku tidak mau, aku pasti bermimpi, tidak, ini bukan kenyataan, aku pasti masih bermimpi, ayo bangun Enne, ayo, ini bukan kenyataan" Ucapnya lemah, dia berusaha memejamkan matanya.


"Enne, sabar nak, kamu pasti kuat" Laura mencoba menenangkannya tapi Adrienne sedang terbius dalam mimpi dan menganggap kenyataan yang sekarang dia rasakan adalah mimpi.


"Mama tolong jangan ganggu aku! Aku akan bangun, ini mimpi, ini hanya mimpi, ayo Enne bangunlah, tolong bangunlah" rengekan Adrienne menyayat hati Laura, dia juga ikut sakit mengetahui bagaimana perjalanan hidup Enne.


"Enne sadarlah nak, mereka sudah tiada! Kamu harus menerima kenyataan itu" ungkap Laura mencoba menyadarkan menantunya.


Adrienne menggeleng dengan kencang, dia menolak apapun kenyataan yang terdengar ditelinganya.


"Kumohon jangan katakan itu Ma, kalau mereka mati, artinya aku juga sudah tidak didunia ini lagi, jadi jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu, kumohon ma" pintanya penuh tangisan.


"Aron dan Valarie dikuburkan kemarin-

__ADS_1


"KUBILANG DIAAMMM! AAAAKHHH, MEREKA TIDAK MATII, MEREKA MASIH HIDUP, MEREKA TIDAK MATI! PEMBOHONG, MAMA PEMBOHONG, AKU BENCI MAMA, AKU BENCI, AKKKKKHHHHHH, JANGAN BOHONG MA" Enne berteriak tak terkendali.


Dia tak sanggup menerima kenyataan yang sudah terjadi.


Anak dan suaminya tidak berhasil selamat dalam kecelakaan pesawat yang sebenarnya tidak cukup parah, Enne adalah satu dari beberapa penumpang yang berhasil selamat.


Sayangnya karena tidak sanggup menerima situasi yang terjadi, Adrienne ambruk dan kembali tak sadarkan diri.


Begitu besar tekanan batin yang dialaminya sampai-sampai dia tak sanggup menahan dirinya sendiri untuk sadar.


Laura memanggil dokter, dia berlari mencari siapapun untuk memeriksa kondisi menantunya.


...*...


...*...


Disisi lain, Louis merasakan sedih yang luar biasa, sejak beberapa hari lalu, hidupnya berubah, dia kembali menjadi pria yang tak mengkhawatirkan dirinya sendiri.


Nafsu makannya hilang, kebiasaan melukisnya hilang dan semua aktifitas yang selalu dia lakukan ikut pudar karena satu masalah.


Bagaimana tidak, dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat berita kecelakaan pesawat dan daftar orang yang dinyatakan meninggal dalam peristiwa itu.


Betapa hancur dan perihnya hati Louis mendapati nama Valarie Brian juga ada di daftar korban yang meninggal didalam pesawat, bahkan ada nama Aron, Edric, Tiara dan anak-anaknya.


Dia benar-benar terpukul dengan berita putirnya, tapi dia tidak bisa melihat jasad Valarie untuk yang terakhir kalinya karena hari itu bertepatan dengan acara kematian ayahnya.


Louis melempiaskan semua kesedihannya, air matanya tumpah bahkan membuat orang-orang yang datang ikut sedih.


"Anakku" Gumamnya, dia menangis sejadi-jadinya, hatinya hancur, putri yang tidak bisa dia rangkul pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


Kenyataan itu menampar Louis dengan kuat.


'Apa ini hukumanku? Apa aku mendapatkan semua ini, karena menjadi pria yang tidak bertanggung-jawab atas kesalahan yang dulu kuperbuat?' Louis membatin.


Air matanya terus mengucur, sesekali dia memukul dadanya yang sakit.


"Akh sakit sekali, ini sakit sekali, aku harus bagaimana?" rengek Louis, tak henti-hentinya dia menyalahkan dirinya dimasa lalu.


'Andai saja aku tidak lupa ingatan, mungkin aku sudah menjalani hidup bahagia dengan Enne dan putriku, andai saja Enne lebih memilihku, mungkin anakku tidak akan pergi dari dunia ini' pikir Louis.


Berkali-kali dia memaksa dirinya untuk tabah tapi hatinya lemah saat ingatan putrinya hadir, senyuman manis Valarie tentu tidak bisa dilupakannya "Ayah kira, kamu akan tumbuh menjadi dewasa dan Enne memberitahumu, kalau aku ini ayahmu, ayah kira, suatu saat nanti, aku bisa mendengarmu memanggilku dengan sebutan ayah" ucap Louis, dia terisak bersama perih yang menyakitinya dengan kejam.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2