
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Akhirnya Tiara dan Edric sampai dikediaman Deon, mereka sudah melakukan pertemuan mengharukan, ternyata Tiara sangat merindukan Enne, itu sebabnya dia memaksa suaminya agar mau menyetir jauh ke selatan.
Empat orang itu terduduk disofa, banyak cerita yang mengalir dari mulut Tiara, lagi-lagi dia curhat tanpa memedulikan keberadaan suami dan pacar Enne.
"Adrienne"
"Em?"
Tiara tidak sanggup lagi, dia mengulum senyum penuh arti, menggebu-gebu sekali dimata Enne, di sisi lain Edric mengubah posisi duduknya, dia terlihat serius saat Tiara menunjukkan kodenya.
"Aku hamil" Ucap Tiara terus terang, Adrienne terkejut.
"Apa? Serius? Hamil? Kamu hamil?" Tanyanya ikut senang, dia meraih tangan Tiara dan melompat kegirangan, sontak Edric dan Deon bangkit dan menahan pasangan mereka.
"Apa yang kau lakukan sayang, tolong hati-hati" tegur Deon, dia segera mendudukkan calon istrinya.
"Tiara kamu jangan lompat-lompat, ingat kamu sedang hamil muda sayang" Edric juga menasehati istrinya.
Keduanya saling menatap dan tertawa karna mendapati situasi aneh yang diberikan pasangan masing-masing.
"Hahahaha, mereka lucu sekali" ucap Enne bersenang-senang.
"Benar, cara mereka marah sangat imut" Timpal Tiara yang juga setuju.
"Oh iya, Edric kau hebat juga baru beberapa bulan langsung isi" canda Enne.
"Jangan menggodaku"
HAHAHAHAHAHHAA
Mendadak ruang tamu dipenuhi canda tawa, Tiara mungkin akan mengulur-ulur waktu agar pulangnya bisa ditunda, siapa yang tidak suka berbincang dengan nyaman? hari berlalupun mungkin tidak akan terasa.
Edric jelas patah hati saat melihat istrinya tiba-tiba murung karna dia tidak bisa mengabulkan permohonannya untuk menginap.
'Urusan kantor! Sial, dia merenggut tawa istriku' batinnya.
"Lain kali, kami akan kesini lagi, tunggu aku Enne" ujar Tiara mencoba melepas genggaman tangannya bersama Enne.
"Tenang saja, kami selalu menunggu kalian hehe! Hati-hati dijalan" Adrienne membalas senang.
"Deon, sayang sekali ada urusan mendadak, padahal aku ingin membicarakan sesuatu denganmu" Edric masih tidak ikhlas, sekertarisnya memang tau kapan waktu terbaik untuk memotong kesenangannya.
"Masih ada hari esok, jangan buru-buru" jawab Deon mencoba menenangkan sahabat pacarnya.
"Baiklah sampai bertemu lagi"
__ADS_1
Akhirnya Tiara dan Edric pulang, tiba-tiba saja rumah menjadi sepi dan Enne sangat merasakan perbedaannya.
"Sepi sekali" gumam pacar Deon.
"Sayang, kan ada aku" Deon mendengar keluhan calon istrinya.
Lagi-lagi Enne terhibur dan akhirnya Deon menemani pacarnya dikamar, dia menunggu sampai calonnya benar-benar tertidur.
...*...
...*...
Malam berganti siang, siang berganti malam dan hari yang ditunggu-tunggupun datang.
Entah hanya Deon atau semua pria mengalaminya, rambut acak-acakan, baju yang dipilih asal, sendal rumah dan celana tidur, outfit seperti itu mungkin bisa dimaklumi kalau keadaannya sama seperti pria satu ini.
Padahal sejak 3 hari terakhir Deon sudah ancang-ancang kalau-kalau air ketuban Adrienne pecah, terlebih di jam-jam krusial seperti tengah malam.
Dia pikir persalinan akan aman lancar jaya, ternyata karna kelelahan mengurus pacarnya, dia kebablasan dan malah ketiduran!
sekitar jam 1 dini hari, Adrienne mengalami ketuban pecah, Deon tak sempat merapikan apapun, dipikirannya secepat mungkin pacarnya harus kerumah sakit, bermodal dompet dia segera mengantar calon istrinya.
"Deon bagaimana keadaan Enne?" wanita berkulit putih dengan tubuh idaman baru saja datang dan langsung duduk menemaninya, wajahnya terlihat cemas.
"Sementara ma" sahut Deon.
Deon sebenarnya adalah anak konglomerat, ibu dan ayahnya sama-sama keturunan orang kaya itu sebabnya pacar Enne ini tidak perlu repot-repot bekerja, dia hanya menikmati kekayaan orangtuanya.
Selama ini Deon hidup biasa saja dan tidak sering mengeluarkan uang tapi setelah Enne hadir dihidupnya, barulah dia memakai kartu berisi uang yang tak terbatas miliknya.
"Kamu takut yah?" Mamanya menangkap ekspresi takut Deon.
"Mama pernah bilang kan, melahirkan itu sakit sekali, seperti tulang-tulang dipatahkan secara bersamaan" jelas Deon ketakutan.
Deon menautkan lengannya, cemas sudah pasti, wajahnya yang tenang tidak setenang pikirannya, siapa yang mengira ucapan klise tapi fakta dari ibunya akan menakutinya seperti ini.
"Memang sakit sih, kalo yang itu mama juga tidak tau harus bilang apa" Laura tidak menemukan kalimat hiburan untuk anaknya.
"Ma... aku takut Adrienne kesakitan"
Deon menangis, dia takut terjadi apa-apa dengan calon istrinya, padahal dia bukan pria yang cengeng, apalagi jarang sekali dia menunjukkan perasaannya.
"Deon sayang, setau mama Enne bukan orang yang lemah, kamu doakan saja semua lancar oke? oh yah, bibi juga akan datang, kamu lupa bawa semua barang-barang yang dibutuhkan Adrienne kan?" tanyanya.
Laura mencoba mengalihkan fokus anaknya, sepertinya Deon agak berlebihan dan dia tidak bisa melihat anaknya sedih.
"Ah benar, aku buru-buru tadi" Deon menyeka air matanya.
"Papamu dulu lebih parah lagi, sampai semuanya dilupa, uang saja tidak bawa" Laura tiba-tiba bercerita.
"Benarkah? Aku kira hanya aku yang mengalami kejadian ini ternyata papa lebih parah" Deon terhibur saat mamanya menceritakan semua kejadian lucu yang dulu papanya lakukan.
__ADS_1
...*...
...*...
Waktu berlalu dan persalinan Adrienne berjalan lancar, Deon juga sudah masuk diruang persalinan dan menyaksikan langsung perjuangan calon istrinya, dia menangis sejadi-jadinya, suara tangis dari bayi mungilnya memecah hening, wajah sendu dari seorang wanita yang kini bergelar ibu menatap lega, akhirnya penantian selama ini tercapai.
"Deon" Enne menatap lemah pacarnya, baru kali ini dia melihat pria yang selalu tertawa disampingnya menangis sampai separah ini.
Deon mendekat "Em?" jawabnya masih menangis.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa, selain itu aku ingin mengatakan sesuatu" Enne menatap wajah Deon, dia terlihat bahagia meski kulit dan bibirnya pucat setelah melahirkan.
"Apa?" Deon menatap Enne, dia jadi penasaran, tumben sekali wanita didepannya ini ingin mengajaknya bicara serius.
Adrienne menampilkan senyumnya lalu berkata dengan lembut.
"Sekarang aku bersedia menikahimu" ujarnya tanpa ragu.
Deon melotot tak percaya, akhirnya setelah sekian lama menanti, Enne menjawab lamarannya, pria itu menangis lagi, dia sangat bahagia rasanya kebahagiaan berturut-turut mendatanginya.
"Benarkah? Kamu tidak akan menarik kata-katamu tadi kan? Kamu benar-benar mau menikah denganku kan?" tanya Deon, dia senang sekali.
"Iyah, aku mau jadi istrimu" Jawab Enne lembut.
"Benarkah? Kalian akan menikah? Aku tidak salah dengar kan?" tanya Laura yang baru saja masuk, dia tidak sengaja mendengar percakapan anak dan calon menantunya.
"Iyah ma, aku mau menikah" jawab Enne mengiyakan semua pertanyaannya.
"Horeeeee, akhirnya aku bisa memakaikan baju rancangan ku padamu, aku senang sekali" Laura lebih girang dibanding anaknya.
Profesi Laura adalah desainer dan dia bukanlah desainer biasa melainkan yang ternama dan sangat diincar oleh kalangan atas, satu baju rancangannya saja mencapai milyaran rupiah tapi itu semua dianggapnya hanya hobi saja.
"Laura, ini dirumah sakit jangan berisik" tegur bibi Tang yang juga datang membawakan perlengkapan Enne.
"Baiklah kak, sepertinya aku terlalu bersemangat, oh iya, jadi dimana cucuku?" tanya Laura penasaran.
"Dia diruangan lain, sepertinya suster akan membawanya kesini sebentar lagi" jawab Deon, dia lalu mengurus Enne yang kelelahan.
Di ambilnya tisu basah untuk membersihkan tubuh Enne, dia tahu pacarnya ini pasti merasa lengket karna keringatnya, Laura yang melihat anaknya mengukir senyum manisnya.
"Kau sudah dewasa Deon" pujinya.
"Kau benar, sekarang dia sudah dewasa" Timpal bibi Tang.
Bibi Tang adalah kakak dari suami Laura, dia memilih hidup sederhana dan jauh dari perkotaan maka dari itulah dia tinggal diapartemen dan meninggalkan kediamannya yang mewah dan bergelimang harta.
Dia merasa hidupnya lebih bermakna jika tidak punya apa-apa, uang yang diinginkannya adalah hasil dari kerja keras bukan dari orangtuanya, maka dari itu Tang lebih memilih bekerja dan hidup sederhana.
...*...
...*...
__ADS_1