
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
-Beberapa jam yang lalu-
Edric berlari mengejar istrinya, dia tidak tahu mengapa Enne memarahinya dan menyuruh membujuk Tiara, padahal tidak ada masalah apapun.
"Tiara, tunggu" Edric menangkap tangan istrinya.
Tiara masih memunggungi suaminya "Sayang, coba jelaskan kenapa kamu meninggalkan ku?" Tanya Edric, dia masih belum melihat keadaan Istrinya.
Tiara diam saja "Tiara, apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kamu mengabaikan ku?" tanyanya lagi.
Tetap saja Tiara tidak merespon pertanyaannya.
"Sayang, aku tidak mengerti, Enne memarahiku karna kamu pergi, apa aku melakukan kesalahan sampai kau dingin begini?" lanjut Edric, dia terus memaksa istrinya berbicara tapi tetap tidak ada jawaban.
Edric jelas bingung, sebenarnya dia sudah melakukan apa sampai istrinya diam begitu, tak sabar lagi Edric memaksa istrinya menatapnya.
Betapa terkejutnya Edric mendapati istrinya ternyata menangis, pantas saja dia tidak menjawab pertanyaan suaminya.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" Edric cemas dan langsung mencium tangan istrinya, dia tidak pernah membayangkan sekalipun kalau Tiara akan menangis karna istrinya bukan wanita cengeng.
Tiara terisak-isak, tangisnya pecah, Edric semakin takut dan langsung berlutut didepan istrinya.
"Sayang maafkan aku, apapun kesalahan ku tolong hukum saja, jangan menangis Tiara, aku tidak rela melihatmu sedih seperti ini karna aku, pukul saja diriku yang bodoh ini" Terus terang Edric tidak tahu apa kesalahannya tapi tidak ada satupun orang termasuk dirinya yang boleh membuat istrinya sedih apalagi sampai menangis begitu.
"Kamu tidak salah apapun, aku hanya cemburu, sepertinya kamu lebih menyayangi Adrienne daripada aku" Adunya, dia masih menangis dan Edric tetap berlutut, dia mencium tangan istrinya dan memohon ampun.
"Aku salah, maafkan aku karna tidak mengerti isi hatimu Tiara, tapi percayalah, rasa sayangku sangat besar padamu, baik kamu maupun Enne adalah orang yang berharga bagiku, jangan samakan dirimu dengan sahabatku itu, kau adalah hidupku dan Adrienne adalah adikku, kasih sayangku sama besarnya untuk kalian berdua, jangan iri padanya, karna kau tetap yang pertama dihatiku Tiara" ujar Edric, dengan penuh penyesalan dia memohon agar kesedihan istrinya berkurang.
Edric tidak akan rela menyakiti Tiara, sejak bertemu dengannya, hati Edric sudah menjadi milik istrinya, tapi kesalahpahaman yang dirasakan Tiara mungkin karna dia terlalu posesif dengan urusan Adrienne.
"Benarkah? Apa kamu tidak menyukai Enne sebagai wanita?" Tiara memastikan.
"Apa yang kamu katakan, tentu saja tidak sayang! Dia adalah adikku, bagiku dia tetap anak kecil, kamu sia-sia cemburu dengannya, Enne bahkan hanya menganggapku kakak yang menyebalkan, jadi Tiara jangan bersedih, aku tidak rela kalau kau menangis karna masalah ini, kamu hanya salah paham sayang" Edric membujuk istrinya, dia tidak akan lagi melakukan hal berlebihan, semoga saja Tiara menerima penjelasannya.
"Begitu ya" Tiara menghapus air matanya dan membantu suaminya berdiri, sepertinya perasaannya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Aku jadi tidak enak, Adrienne pasti kaget melihatku, apa dia akan menerimaku lagi? Aku sudah salah paham dengannya" Sesal Tiara, dia jelas tidak mau kalau hubungannya dengan Enne putus.
Tiara mengakui kalau Adrienne adalah wanita yang lembut dan baik hati, sangat sulit menemukan teman yang tulus ingin mendengar keluh kesahnya, dan Enne adalah orang yang bersedia menjadi pendengar curhatannya.
'Sepertinya aku harus minta maaf, semoga Adrienne mau memaafkan pikiran burukku' batin Tiara.
__ADS_1
"Apanya, kamu tidak perlu khawatir, justru Enne yang memarahiku habis-habisan, lagipula dia sudah menganggapmu kakak ipar, setahuku Enne orang yang sulit memberikan posisi agar bisa berada didekatnya jadi dia tidak akan tersinggung untuk hal seperti ini, percayalah dia lebih dewasa dari usianya" jelas Edric, dia senang karna kesalahpahamannya berakhir.
"Benarkah? Semoga saja begitu" Sahut Tiara mencoba tenang.
"Kalau begitu ayo kita pulang dan membuatnya" ajak Edric tiba-tiba.
Tiara tersenyum "Ih sudah kubilang belum bisa, hari ini bukan masa suburku" gerutunya senang.
Edric cemberut "Lalu kapan waktunya? Aku juga ingin punya bayi" rengeknya seperti anak kecil, Tiara tertawa melihat tingkah suaminya dan Edric pun ikut tertawa.
Merekapun pulang dengan hati lega.
...*...
...*...
Dua bulan lebih berlalu dengan cepat, perut Enne semakin besar dan banyak hal yang terjadi, Deon semakin posesif melindungi calon istrinya, dia sangat menjaga kehamilan Adrienne.
Didalam kamar luas bernuansa biru itu sinar mentari masuk menembus jendela besar milik Enne, langit birunya begitu indah dan menyenangkan dan dua insan yang saling menyandar itu menikmati pemandangannya.
Alunan musik terus terdengar, Deon tertarik mendengar karna liriknya yang sangat dalam dan penuh makna.
"Lagu ini sangat bagus, judulnya apa?" tanya Deon.
Adrienne tersenyum, dia juga setuju, lagunya memang sangat bagus.
"Ephipany" jawab Enne.
"Ephipany adalah sebuah momen dimana kita tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat berharga untuk diri kita, lagu ini mengajarkan cara untuk mencintai diri sendiri” Enne menjelaskan dengan antusias, dia sangat tahu makna lagunya karna lagu ini dinyanyikan oleh salah satu member dari grup idola kesukaannya.
"Artinya dalam sekali, mereka benar-benar membuat lagu yang luar biasa, aku mengapresiasi kreativitas mereka" Deon salut, tidak banyak lagu dimasa sekarang yang bisa menginspirasi dan Ephipany sangat bermakna.
Enne tersenyum lagi, akhir-akhir ini dia semakin kagum dengan pria disampingnya itu.
"Aku sangat menyukaimu Deon" ungkapnya bahagia.
Deon tersenyum mendelik bebas keluar ruangan, dia jelas menikmati alur pembicaraan ini.
"Kenapa?" tanyanya.
"Karna kamu sangat keren, kamu adalah pria terhebat yang pernah kutemui, bayi kita pasti sangat senang memiliki ayah sepertimu" puji Enne.
Deon tersenyum, dimatanya terpancar kesedihan yang sayangnya tidak diketahui Enne, kalimat penghiburan Adrien ternyata menyayat hati Deon.
Sebisa mungkin dia menyembunyikannya, dengan bebas Deon memegang tangan Enne dan mengecupnya.
"Jadi, apa sekarang kamu sudah mencintai ku?" seperti biasa, Deon selalu menanyakan perasaan Enne.
__ADS_1
Enne tersenyum lagi "Belum, tapi sepertinya sedikit lagi aku akan sangat tergila-gila denganmu" jawabnya diselingi senyum cerah.
"Ooh, Kukira sudah jatuh hati ternyata belum yah! Hm, aku harus extra usaha mencuri hatimu" sahut pria itu bersemangat, Adrien tertawa puas melihat raut wajah Deon yang bersinar terang.
"Hahaha, jangan curi hatiku, uangku tidak cukup untuk beli hati lagi" Canda Enne.
"Kau ini, pintar sekali mengeles" Sahut Deon ikut terkekeh, lagi-lagi Enne mengerjainya.
Senda gurau memenuhi kamar Adrienne, ruangannya baru saja ditempati, benar, dia sudah tidak diapartemennya lagi.
Sejak seminggu lalu Enne memutuskan pindah karna Deon terus mendesaknya, cukup banyak perdebatan sampai akhirnya terjadi insiden dia hampir jatuh di tangga apartemennya, Deon tak tahan lagi dan memaksanya pindah kerumahnya yang ada di selatan.
"Bagaimana? Edric jadi kesini?" tanya Deon.
"Em, katanya berangkat sore, mungkin sampainya malam" jawab Enne tenang.
"Baguslah, kita beli makanan cepat saji saja yah, akhir-akhir ini masakan bibi agak asin, ibu juga sedang diluar negeri, bagaimana?" tanya Deon lagi.
"Boleh, oh iya, ibu bilang kamu jangan kemana-mana minggu depan" jawab Enne.
"Kenapa?"
"Ish kamu lupa yah, si mungil kan sudah mau lihat dunia ini" Enne menatap Deon dengan kesal.
"Hahaha aku tau sayang, aku suka saja menjahilimu, menyenangkan"
Sejak sebulan lalu Deon sudah terbiasa memanggil Enne dengan sebutan sayang, hubungannya bersama Edric juga sudah lebih baik dan malah terkesan sangat akrab, itulah sebabnya dia tidak lagi kesal jika sahabat Enne itu mau berkunjung.
"Huuh dasar, aku kedapur dulu mau ambil cemilan"
"Biar aku saja, kamu jangan banyak gerak"
"Justru itu aku harus banyak gerak, biar nanti kalau melahirkan cepat keluarnya! Kamu tunggu disini yah" Enne menahan pacarnya, sesekali dia ingin melakukan sesuatu sendiri.
"Baiklah hati-hati turun tangganya" pesan Deon khawatir.
"Em" sahut Enne, dia berlalu pergi meninggalkan Deon yang tiba-tiba kehilangan senyumnya.
'Apa dia sudah pergi?' batin Deon.
Sunyi menjawab benaknya, tanpa sadar air matanya menetes lagi, akhir-akhir ini Deon menjadi sangat cengeng.
Entah apa yang menyebabkan Deon lemah, dia selalu melamun, pikirannya seolah menjelajah jauh dan tak terjangkau .
Entahlah...
Dunia punya rahasianya, kisah manusiapun begitu, takdir adalah sosok misterius yang belum terpecahkan jadi Deon hanya akan menjalaninya saja.
__ADS_1
...*...
...*...