
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Hari ini pertama kalinya, awan mengabu dan langit tak terlihat sama sekali, rintik hujan menahan Adrienne dan putrinya untuk pulang ke kota.
Suasana terasa sendu, hawa begitu dingin menyengat kulit yang tak tertutup selimut, wajah Valarie masih masam karena kepergian Aron.
Mereka berdua terduduk diatas kasur dan memandangi hujan diluar jendela yang tak tahu kapan berhentinya.
Enne menyentuh tangan putrinya, berharap Valarie bisa meredakan marahnya.
"Apa Valarie sangat menyukai om itu?" tanya Enne.
"Iya" jawab putrinya singkat.
"Kan baru kenal sehari, masa langsung suka?" tanya Enne lagi, dia benar-benar tidak mengerti kenapa putrinya sampai semarah ini.
Mendengar pertanyaan itu, Valarie menangis kencang, membuat Enne kebingungan karenanya.
"Sssst, sssst sayang, ayo cerita sama mama, kenapa Valarie nangis? Apa kata-kata mama bikin Valarie sedih?" tanya Enne mencoba menenangkan anaknya.
"Aku mau punya papa, aku juga mau ditemani papa, aku tidak mau diejek lagi, aku mau punya papa" jawab Valarie, dia menangis menjelaskannya.
Adrienne trenyuh melihat sosok Valarie yang susah payah mengungkapkan lara hatinya, betapa bodohnya dia karena tidak menyadari perasaan anaknya.
Tanpa basa-basi, dia memeluk putrinya, penyesalan terbesarnya adalah membiarkan Valarie tumbuh tanpa ayah dan tidak menyadari betapa tersiksa anaknya.
'Aku memang bodoh, aku sangat bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa berfikir kalau Deon bisa melengkapi putriku, sedangkan dia sudah tidak ada lagi di dunia ini' batin Enne menyalahkan dirinya.
"Maafkan mama sayang, maafkan mama, jangan menangis kumohon maafkan mama" ucapnya ketakutan, sontak saja Valarie menghentikan tangisannya.
Dia tidak ingin ibunya kembali merasakan kesedihan dan berubah menjadi ibu yang tidak dikenal seperti beberapa waktu lalu, itu sebabnya dia menghentikan rengekannya.
"Kenapa sayang?" tanya Enne yang menyadari perubahan anaknya.
Valarie menggeleng "Jangan menangis mama, nanti mama sakit lagi" sahutnya sedih, matanya berkaca-kaca, sepertinya dia berusaha menahan rasa takutnya.
"Mama tidak akan sakit sayang, jangan sedih, tapi Valarie kamu benar mau papa baru? Ayah Deon-nya gimana?" tanya Enne memastikan, dia tidak ingin salah mengambil langkah.
"Ayah Deon kan disurga, aku mau papa yang bisa menemaniku bersama mama"jawabnya lagi.
Adrienne mengelus pucuk kepala putrinya, dia paham keinginannya tapi disatu sisi Enne juga bingung, bagaimana caranya mencari orang yang cocok dan bisa menyayangi Valarie sepenuh hati.
"Baiklah! Sekarang Valarie makan dulu, tadi kan cuma makan sedikit, kalau kamu makan, mama akan carikan papa untukmu sayang" tawar Enne.
__ADS_1
Valarie cemberut.
"Aku mau om Aron saja atau om Louis, mereka kan sudah janji mau menemuiku lagi" jelasnya ketus.
Tentu itu bukan pernyataan yang mendamaikan hati Enne.
Louis adalah ayah kandungnya tapi dia sudah menikah dengan orang lain dan Aron adalah sepupu Deon, bagaimana bisa dia menjalani hubungan dengan kerabat mantan pacarnya.
'Aku harus bagaimana? Kenapa Valarie malah menyukai dua orang yang paling tidak mungkin kudekati?' Enne membatin.
"Mama akan mengabulkannya kan?" pertanyaan Valarie membuyarkan lamunan ibunya.
"Ahaha, i-iya sayang, mama usahakan" jawab Enne terpaksa.
...*...
...*...
Dikediaman Louis, suasananya sepi, tidak ada tanda kehidupan disana, sepertinya pasangan itu memasuki masa kritis dalam pernikahannya.
Padahal hujan membuat sekitar menjadi gelap tapi tidak ada siapapun yang mencoba menyalakan penerangan, suasana yang kelam dan suram.
Louis masih terbaring diatas sofanya, netranya menilik bebas diruangan, tidak ada kebahagiaan diwajahnya, yang terbaca hanya kehampaan dan putus asa.
"Valarie, Adrienne, nama mereka sangat cantik" gumam Louis yang tiba-tiba mengingat dua wanita itu, tak sadar kalau istrinya baru saja keluar dari kamar, mungkin saja Eliza mendengar pujian suaminya.
Louis jengah dengan istrinya.
Malas sekali dia meladeni Eliza, terpaksa dia bangun dan meninggalkan sofa yang sudah nyaman ditidurinya, entahlah, sorot matanya sama sekali tidak menyisakan rasa sayang atau perhatian untuk istrinya.
Salah Eliza sebenarnya, untuk apa dia menunjukkan wajah aslinya, tidak ada akhir baik dari keputusannya. Dan bodohnya dia malah geram sendiri melihat Louis acuh dengan pertanyaannya.
"Lihat saja Adrienne, aku akan membuatmu menderita" ucap Eliza melempiaskan amarahnya.
Tadinya dia ingin mengambil segelas air putih didapur tapi sejak Louis menatap sampah dirinya, dahaganya menghilang begitu saja.
Seseorang terlintas dibenaknya, wajah marah dan licik itu berubah menjadi raut datar dengan bibir tersenyum simpul, dia terlihat memikirkan sesuatu yang menarik.
"Tunggu saja! Kau pasti akan menikmati hadiahku Adrienne" Eliza membatin.
Dia berlalu meninggalkan ruangan dalam sepinya.
...*...
...*...
Adrienne masih tidak mengerti dengan keadaan yang dialaminya.
__ADS_1
Pagi ini, tiba-tiba saja istri Louis mengajaknya bertemu, padahal mereka saja tidak punya hubungan atau sekedar saling kenal.
Enne bertanya-tanya maksud dari wanita cantik didepannya ini, sebenarnya kenapa dia meminta bertemu.
"Kau kenal aku kan?" tanya Eliza tiba-tiba, sorot matanya tajam ke lawan bicaranya, terlihat jelas rasa dengki diwajahnya.
Kening Enne mengerut, satu alisnya naik karena tak mengerti dengan pertanyaan mendadak itu.
"Maaf?" tanya Enne.
Dia masih mencoba sopan meski sebenarnya dia tidak nyaman dengan sikap Eliza yang blak-blakan memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Apaan ini, kamu masih sama seperti dulu, tidak pernah mengakui hal yang sudah kau lakukan, Adrienne, kau masih tetap menjijikkan yah" ujaran kebenciannya dan hinaan dilayangkan Eliza.
Adrienne jelas tidak terima, entah apapun alasan Eliza marah, harusnya dia tetap tidak boleh mengatakan hal seperti itu pada orang yang baru dikenalnya.
"Memangnya dulu kita saling kenal? Aku bahkan baru beberapa kali bertemu denganmu" sahut Enne masih berpikir tenang.
Mata Eliza meneliti penampilan Enne dari atas sampai bawah, bibirnya menyungging karena geli.
"Hm, baju-baju mu selalu bermerek yah? Padahal kau tidak punya keluarga, apa kau menjual tubuhmu? Kalau jadi pelacur sih sepertinya bisa membiayai hidupmu hahahaha" tawa Eliza meledak, geli sekali dia melihat Enne yang selalu bertingkah elegan, padahal dia hanya kotoran.
"Sepertinya ucapanmu tidak bisa dimaafkan lagi, kamu sangat keterlaluan" tegur Enne tak senang.
Eliza terkekeh mendengar suara Enne yang meninggi.
"Hahaha, sekarang kau bisa melawan yah pelacur" Ledek Eliza dengan tingkahnya yang menjengkelkan.
Karena tak tahan lagi Adrienne menampar pipi istri Louis, sangat keras sampai orang-orang yang ada di cafe menoleh ke arah mereka berdua.
Eliza tidak terima, matanya membulat karena terkejut, dia tidak menyangka Enne akan menamparnya.
"DASAR PE-
Adrienne lanjut menyiram wajah Eliza dengan minuman dingin yang tadi dipesannya, dia tidak mengatakan apapun selain rasa marah yang tidak bisa diterima akal sehatnya, tingkah Eliza memang sangat berlebihan, entah apa maksudnya mengatai Enne sampai sebegitunya.
"Saya tidak tahu apa masalah anda, tapi anda sudah sangat keterlaluan, maaf saya pamit" Ucap Adrienne, dia berlalu meninggalkan Eliza yang sangat malu dengan kondisinya.
"Sial"umpatnya kesal.
...*...
...*...
...✨ Bonus ✨...
Eliza 🤡
__ADS_1