MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
24


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Seminggu berlalu, Adrienne sudah kembali tenang, tujuh hari itu sangat berat dilaluinya begitupula Edric dan Tiara yang tak hentinya mengawasi Enne agar tidak melukai dirinya.


Hari ini Valarie mulai bersekolah lagi setelah sempat berhenti karna takut diejek Risa, padahal dia masih sangat muda tapi justru mendapat tekanan hidup yang berat.


Tiara bersiap, Valarie sudah naik dimobil bersama Lian, Edric mengambil cuti untuk menemani istrinya mengantar Valarie bersama putranya.


Dia tidak ingin kejadian seminggu lalu kembali menyakiti perasaan keponakannya, hari ini juga Risa akan diintrogasi mengenai pernyataannya.


Edric dan Tiara memang belum bisa mencari pelaku karna sibuk merawat Enne tapi hari ini, mereka sudah bertekad mencari tahu penyebabnya.


Adrienne berjalan mendekati Tiara yang sudah selangkah keluar dari pintunya, ekspresinya datar, emosinya seolah hilang dari tubuhnya.


"Aku ikut" pintanya, Tiara sedih, hilang sudah senyum indah itu dari wajah sahabatnya.


"Baiklah, kamu ganti baju dulu, sini kubantu" ucap Tiara tak sanggup melarang.


Tiara memasangkan cardingan dan juga jeans panjang agar Enne tidak kedinginan, meski tidak merespon apapun tapi Adrienne tetap mengikuti langkah Tiara menuju mobilnya.


Pintu terbuka otomatis, Edric menatap istrinya, tentu saja dia terkejut melihat Enne ikut dengannya.


"Katanya dia mau ikut, aku tidak sanggup melarangnya" jelas Tiara pada Edric.


Valarie melirik ibunya, dia sangat ingin menyapa tapi rasa takut dan khawatir membuatnya bungkam dan lebih memilih berpura-pura sibuk bersama Lian dalam permainan.


"Baiklah, pasang sabuk pengaman mu Enne" perintah Edric tapi Adrienne tidak merespon dan hanya menatap lurus ke depan, sangat terlihat kalau dia tidak mendengar dan memikirkan apapun, seolah jiwa Enne sedang tidak bersama raganya.


Tiara dan Edric sangat tersiksa melihat sahabat mereka yang berubah menyedihkan, terpaksa Tiara memasangkan sabuk pengaman Enne lalu mereka pun berangkat ke sekolah.


Langit begitu biru, Adrienne menatap benci keindahan yang terlihat dimatanya, rasa sakit dan sesal terus menghantui pikirannya.


Bayang-bayang teman sekelas dan juga siswa sekolah yang merundung dan melecehkannya terangkat pelan seolah menjadi topik hangat yang memenuhi otaknya


Valarie dan Lian berada didalam kelas, mengikuti jam belajar dengan santai, Edric berjaga dipintu kelas, dia terus mengawasi agar tidak ada yang mendekati atau mencoba menggangu Valarie.


Tiara sempat menemani Enne tapi dia memanggil suaminya dan menyuruhnya berganti tugas, dia tahu Edric pasti sangat lelah berdiri didekat pintu.


"Sayang, sini gantian, kamu jaga Enne saja, sekalian istirahat, kakimu pasti pegal" pinta Tiara, Edric tersenyum lembut dan mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Baiklah sayang, kalau kamu lelah, panggil aku yah" ucap Edric perhatian.


"Iya sayang, sudah sana" sahut Tiara lagi.


Adrienne masih terduduk dikursi panjang yang terletak tidak jauh dari kelas anaknya, retina matanya redup seperti tak ada semangat, auranya hampa, andai dia tidak mendengar suara anaknya tadi pagi, dia mungkin tidak akan ikut mengantar Valarie.


...*...


...*...


Sekitar pukul 11 pagi, rapat grup Dream selesai, para member mulai meninggalkan ruangan menyisakan Darren dan Louis yang sudah bersepakat untuk membahas lebih lanjut mengenai Adrienne dan Valarie.


Pria bertubuh kekar itu meminum kopinya yang mulai dingin sedang Louis terlihat ragu untuk menanyakan pendapat si bungsu.


"Ada apa kak?" tanya Darren penasaran, dia tahu Louis pasti sedang ragu, apalagi semenjak pernyataannya beberapa waktu lalu.


Louis menghela nafasnya "Aku sangat ingin menemui mereka tapi aku takut Eliza curiga, kau tahu kan, dia hafal semua jadwalku" ungkap Louis tak tahan lagi.


Darren terdiam, sejenak dia mencoba memikirkan jalan keluar dari masalah rumit yang menggerogoti pikiran kakak kesayangannya.


Tiba-tiba terlintas dipikirannya, sesuatu yang mungkin akan jadi solusi terbaik untuk Louis.


"Bagaimana kalau kakak bilang mau menyiapkan sesuatu untuk istri kakak? dia kan sangat suka barang mewah, jadi sempatkan saja beli baju atau semacamnya sambil kakak menemui Adrienne dan anaknya" usul Darren serius.


"Kau memang jenius, kalau begitu aku pergi" Louis bergegas, dia berlari menuju mobilnya yang ada diparkiran.


Mobilnya sudah melaju cepat, dia pun sudah beli baju merek C untuk istrinya tapi ditengah jalan dia baru sadar, dia tidak tahu tempat tinggal Adrienne.


"Tck, kenapa aku tidak memikirkan hal itu" Gerutunya kesal.


Dia segera menghentikan mobilnya dipinggir jalan, diambilnya ponsel dari saku jaketnya, dengan gesit jarinya menggeser kontak seseorang dan mencari nama Edric disana.


"Untung saja waktu itu aku meminta nomornya" Gumamnya.


"Mereka berdua kan bersahabat, pasti Edric tahu posisi Enne sekarang" lanjutnya masih bergumam.


Setelah menemukan kontak bernama Edric, Louis langsung menelfon pria itu.


Drrrrt


"Halo"


"Ah halo Edric, saya Louis Vit suami Eliza ma sahabat istri anda" jelas Louis.

__ADS_1


"Iyah, ada apa Louis?" tanya Edric diseberang.


"Saya ingin bicara sesuatu, kalau boleh apa bisa kita bertemu sekarang?" ajak Louis, rencananya dia akan menanyakan tempat tinggal Enne.


"Maaf, sekarang sepertinya tidak bisa, saya sedang menemani anak dan keponakan saya, mereka baru saja bersekolah jadi maaf Louis, mari kita bertemu di lai-


"Oh tidak apa-apa, saya akan menyusul anda kesana, sebutkan saja lokasinya?" buru-buru Louis mengganti topik, dia tidak mau kehilangan kesempatan ini, keponakan yang dimaksud Edric pasti adalah Valarie artinya Adrienne mungkin saja ada di sekolah itu.


"Kalau begitu maaf merepotkan, saya ada di lokasi *****" jawab Edric tak merasa curiga.


Louis tersenyum senang " Kalau begitu sampai jumpa disana" tutup Louis.


...*...


...*...


Mobil Louis tiba didepan sebuah sekolah taman kanak-kanak, nuansanya biru dan merah muda sangat ceria dilihat dari segi manapun.


Louis turun, dia kagum, perhatiannya sedang tercuri, banyak permainan dan gambar-gambar lucu yang khas didepan sekolah.


Terlintas dipikiran Louis, jika nanti dia juga memiliki anak, mungkin dia akan sering menemani anaknya ke sekolah dan banyak melaksanakan aktivitas bersamanya.


Dia memperhatikan sekitarnya dan tepat diujung sana, seseorang terduduk bersama pria yang Louis kenali sebagai suami Tiara, sahabat istrinya.


"Syukurlah, aku bisa bertemu denganmu" ucap Louis gembira.


Dia berjalan lurus, menuju tempat yang diduduki Adrienne, langkahnya lebar dan cepat, Louis mungkin sangat tak sabar, sesaat lagi, dia akan tahu kenyataannya.


Rasa gugup menggerogoti dirinya, terlebih saat dia sudah berada didepan Enne.


"Permisi" sapa Louis.


Edric menoleh, dia langsung menyambut Louis dan mengajaknya berbicara.


"Apa kabar? Saya merasa bersalah karna membuat orang sibuk seperti anda datang jauh-jauh kesini, kalau boleh tahu, ada urusan apa anda dengan saya?" tanya Edric tak mencoba basa-basi.


Dia tahu identitas Louis, dirinya kesal melihat pria didepannya ini tapi tidak ada gunanya marah, Edric tahu tidak akan ada yang berubah meski dia menuntut tanggung jawab Louis.


Dia sudah beristri, kenyataan itu saja sudah membuat Edric frustasi.


'Padahal Enne berhak bahagia' batin Edric.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2