MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
32


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Semua mata mengarah ke Eliza, dia basah kuyup dan wajahnya tertutup cream putih juga sisa-sisa es coklat menempel diwajahnya.


Orang-orang mengambil videonya, tentu saja tidak ada yang sempat merekam Adrienne, kejadiannya terjadi sangat cepat.


Tapi penampilan menyedihkan Eliza masih cukup layak diunggah dan dijadikan bahan candaan atau drama kehidupan, itu pasti akan jadi berita terhangat.


Eliza pulang dengan kesal, rasanya dia ingin sekali menyingkirkan wanita pengganggu itu, sepertinya Adrienne sangat memancing amarah istri Louis.


"Berani sekali dia!" ucapnya kesal, dia masih mengendarai mobilnya.


"Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa Adrienne, tunggu saja, aku akan membuatmu menderita dan memilih untuk bunuh diri saja" monolognya diakhiri seringai jahat.


...*...


...*...


Adrienne memukul dadanya yang sesak, nafasnya terasa berat, berbagai pertanyaan muncul dibenaknya, sebenarnya kenapa Eliza sampai sebenci itu dengannya dan kenapa juga dia bertingkah seolah sudah mengenalnya sangat lama.


"Padahal aku benar-benar tidak mengenalinya, tapi kenapa dia jadi seperti itu?" tanya Enne mencoba mengatur alur nafasnya agar kembali normal.


Dia berjalan menuju dapur, segera gelasnya dia isi air dan meminumnya dengan buru-buru, untung saja Valarie masih disekolah jadi dia tidak melihat kondisi ibunya yang kesakitan begitu.


"Bukan saatnya aku begini, aku harus ke sekolah Valarie, dia pasti menungguku" ucapnya sadar diri.


Enne kembali keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya, dia menuju sekolah baru Valarie. Edric, Tiara dan Adrienne sepakat untuk memindahkan anak-anak mereka mengingat lingkungan sekolah anaknya sudah tidak sehat.


Sesampainya disana, Enne berjalan masuk ke lingkungan sekolah, dia melihat Tiara duduk didepan kelas anaknya, sebentar lagi jam pulang Valarie.


"Enne, kamu dari mana saja?" tanya Tiara sesaat setelah melihat kedatangan sahabatnya.


Adrienne menggaruk kepalanya, dia bingung harus menjawab jujur atau tidak karena Eliza termasuk teman dekat Tiara.


"Em itu, aku habis bertemu seseorang" jawabnya gugup, Tiara melihat tatapan aneh Adrienne, dia tahu ada sesuatu.


"Seseorang? Siapa?" tanyanya lagi.


"I-i-itu-


"Siapa Enne?" tanya Tiara kembali menegaskan, sudah jelas dia tidak ingin mendengar jawaban basa-basi.


Adrienne menyerah, dia menghela nafasnya.

__ADS_1


"Eliza, aku habis bertemu dengannya" jawab Enne khawatir.


"Ooh, ada urusan apa dengan dia?" lagi-lagi Tiara menanyakan penyebabnya.


"Aku juga tidak tahu kenapa dia mengajakku bertemu, tapi dia membuatku marah dan karena tidak tahan lagi, aku menampar dan menyiram mukanya dengan minuman" jelas Enne tak mau berbohong lagi.


Tiara jelas terkejut mendengar penjelasan sahabatnya. Dia bingung, orang seperti Eliza, bagaimana bisa dia membuat Adrienne yang penyabar bisa semarah itu.


"Kenapa kamu marah? Apa Eliza mengatakan sesuatu?" tanyanya.


Adrienne mengangguk.


"Dia mengataiku pelacur" jawab Enne singkat, lagi-lagi Tiara kaget dengan jawaban sahabatnya, apalagi selama berteman dengan Eliza, dia belum pernah mendengar wanita itu bertindak atau berucap kasar.


'Sebenarnya ada apa ini?' batin Tiara.


Saat asyik mengobrol tak terasa Valarie dan Lian sudah keluar dari kelasnya.


Wajah Valarie masam, bibirnya manyun, Adrienne melihat ekspresi anaknya dan segera menanyainya.


"Valarie sayang, ada apa? Kamu terlihat kesal, apa ada orang yang mengganggumu?" tanyanya cemas.


"Lian jahat ma" Adunya sedih.


Kening Enne mengerut, tumben sekali Valarie tidak akur dengan Lian.


"Dia bilang, aku tidak cantik, katanya Wani lebih cantik dari aku" jawab Valarie dia masih terlihat kesal.


Tiara menatap putranya, sepertinya Lian tidak merasa bersalah sudah membandingkan kecantikan Valarie dengan gadis bernama Wani itu.


"Benarkah? Secantik apa sih Wani itu? Masa dia lebih cantik dari Valarie?" tanya Tiara pada Lian.


"Aku hanya bilang Wani juga cantik, aku tidak bilang Wani lebih cantik dari Valarie" jelas Lian, tapi Valarie tetap menganggap pengakuan Lian sama saja seperti mengakui Wani lebih cantik darinya.


"Tuh, Lian bilang Valarie lebih cantik kok, kenapa Valarie marah?" tanya Enne heran.


"Tapi aku mau Lian hanya menganggap aku yang cantik, yang lain tidak boleh" aku Valarie.


Adrienne menggelengkan kepalanya, entah angin apa lagi yang merasuki anaknya, sedang Tiara terkekeh melihat ponakannya cemburu begitu.


"Kamu dengar kan Lian? Hanya boleh bilang cantik sama Valarie, yang lain tidak boleh" ucap Tiara mengingatkan putranya.


"Iya ma" sahut Lian cepat, seketika itu senyum Valarie mengembang, semudah itu suasana hatinya berubah, dia lalu menjulurkan kelingkingnya dan membuat Lian berjanji, merekapun pulang ke rumah masing-masing dengan rasa senang.


Belum juga Enne menutup pintu rumahnya, putri kecilnya sudha bertanya-tanya tentang papa yang diinginkannya.


"Mama, bagaimana? Besok sudah bisa punya papa?" tanyanya sesaat setelah menyapa ayah Deon-nya.

__ADS_1


Sontak mata Enne membulat, pertanyaannya begitu tiba-tiba, otaknya tidak bisa berpikir, dia bahkan belum memikirkan kandidat pria yang cocok dengannya.


Adrienne berusaha menampilkan senyumnya, dia berjalan mendekati putrinya.


"Sayang, kalau mau punya papa, butuh waktu lama, kamu doakan saja mama, semoga bisa cepat dapat papa untuk Valarie" jawab Enne asal.


"Yah, baiklah aku akan mendoakan agar mama bisa cepat dapatkan papa" sahutnya sedikit kecewa.


Valarie berjalan menuju kamarnya dan Adrienne baru saja memikirkan bagaimana cara membujuk Valarie untuk tidak berpikir ke arah sana saja.


Baru saja dia memikirkan sesuatu, tiba-tiba handphonenya berbunyi, mengejutkan dia dalam renungannya.


"Halo" sapa Enne.


"Halo, apa ini dengan Adrienne?" tanya orang yang menelfon dari seberang sana.


"Iya benar, ini saya, kalau boleh tahu, saya sedang berbicara dengan siapa ya?" tanya Enne penasaran tapi sepertinya suara pria itu tidak asing ditelinganya.


"Aku Aron, kemarin bibi menyuruhku membawakan barangmu, katanya ada barang yang kamu lupa bawa, kalau boleh tahu alamat kamu dimana? Kebetulan aku sedang di kota" jelas Aron.


"Ooh Aron, baiklah aku akan kirim alamatnya, aku matikan ya" jawab Enne gugup, sepertinya sebuah jawaban datang menghampirinya, tapi apa Aron mau dengannya? Dan apa boleh memiliki hubungan dengan sepupu mantan pacarnya? Adrienne bingung tapi sebenarnya dia terlalu memikirkan itu, dia bahkan tidak tahu apa Aron tertarik menjadi ayah Valarie.


"Baiklah kutunggu" sahut Aron, dia lalu mematikan sambungan telfonnya.


Adrienne lalu mengirim alamatnya melalui pesan dan dia segera merapikan rumahnya, rasanya cukup mendebarkan, entah mengapa Aron selalu membuat Enne merasakan hal aneh yang menggelitik seluruh tubuhnya.


"Kenapa aku jadi begini?" gumamnya merasa ganjal.


"Mama, aku lapar" Valarie baru saja berganti pakaian dan mendapati ibunya yang memamerkan senyum anehnya.


Adrienne terperanjat melihat anaknya berdiri tepat disampingnya, dia berharap Valarie tidak mendapati dirinya yang bertingkah aneh.


"Kamu lapar? Tunggu yah, mama buatkan ayam goreng, oh ya, om Aron mau datang loh, Valarie senang?" tanyanya menanti ekspresi apa yang akan dikeluarkan putrinya.


Valarie tersenyum, dia kelihatan ceria sekali.


"Benarkah? Horeeee, kapan om Aron datang?" Valerie melompat kegirangan.


"Sepertinya sebentar lagi sampai" tebak Enne asal.


"Hehe, apa om Aron datang karena ingin bermain denganku?" tanya Valarie lagi.


"Iya, mungkin saja" sahut Enne, jelas dia berbohong tapi ibu mana yang tega menghilangkan senyum diwajah anaknya, tentu saja dia memilih kebahagiaan Valarie dibanding melihat putrinya sedih.


"Wahh aku senang sekali" Valarie lanjut melompat-lompat, akhirnya dia bisa bertemu pria yang ingin dijadikan papa-nya.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2