MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
21


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Adrienne bersama Tiara sedang mendekorasi taman dikediaman Walden, sedangkan Valarie dan Lian masih asik memainkan kincir angin kertas yang dibuatkan Enne.


Mereka berdua tampak akur dan bahkan tidak segan saling membantu saat salah satunya jatuh akibat terlalu bersemangat memainkan kincir anginnya.


Alasan Enne membantu Tiara adalah karena besok adalah hari ulang tahun Lian, anak laki-laki Edric.


Tiara sangat ingin membuat pestanya sendiri, berbeda dengan tahun-tahun lalu dimana biasanya Tiara hanya menyewa jasa dekorasi.


Katanya kali ini dia ingin tampil beda saja.


Bicara tentang Lian, dia adalah anak dengan wajah dan sifat yang jarang ditemui, diusianya yang akan menginjak 4 tahun, sikapnya sangat tenang dan hanya berbicara jika dibutuhkan, tapi kalau bersama Valarie biasanya Lian akan sering tersenyum.


Lian juga memiliki fitur wajah seperti ibunya, tirus dan juga bola mata yang bulat berwarna hitam pekat, selain itu, semuanya mirip dengan Edric, mulai dari sikap, cara bicara serta lesung pipi yang dalam dikedua pipinya, benar-benar anak yang sangat tampan.


Tiara bangga akan hal itu.


"Pesta besok pasti akan sangat menyenangkan" ucap Enne senang.


Tiara mengangguk "Benar, aku akan membuat pesta ulangtahun yang sangat meriah, aku sudah mengundang beberapa tamu khusus juga" sahut Tiara cepat, dia masih lanjut merangkai bunga plastik ditiang-tiang yang ada.


"Tamu? Jangan bilang kamu akan melakukan kejutan seperti dulu, aku sangat terkejut saat tahu kamu mengundang Eliza Ma dan Louis Vit, mereka kan orang sibuk" Tebak Enne tak sabar.


Tiara terkekeh "Hehe aku tertangkap basah yah" jawabnya terpojok.


Enne menggeleng lagi "Ckckck, besok akan jadi hari yang merepotkan" ramalnya.


"Eh tidak-tidak, justru besok bisa jadi hari yang menguntungkan untukmu, kamu pikir kenapa aku mau mengundang banyak orang?" Tiara menunjukkan wajah kecewanya.


"Hm, baiklah-baiklah, tapi aku tidak mau dipaksa, jangan jodohkan aku, kalaupun misal aku tertarik dengan seseorang nanti kuberitahu" jawab Enne, dia hanya bisa mengikuti alur perbincangan Tiara, sudah beberapa bulan ini dia terus menjodohkannya dengan teman prianya atau kerabatnya.


"Iyah, aku cuma mau kamu tidak berlama-lama membiarkan Valarie besar tanpa sosok ayah, tapi tetap saja semua keputusan kembali padamu" Tiara menghela nafasnya, diapun tahu bukan hal sopan menjodohkan Enne dengan pria kenalannya tapi sejak Valarie mengatakan keinginannya memiliki ayah, Tiara jadi iba dan berusaha membuka hati sahabatnya itu.


...*...


...*...


Eliza baru saja pulang, ditangannya ada beberapa paper bag dengan merek terkenal, sepertinya dia habis berbelanja.


Diletakkannya barang-barang itu diatas sofa, tubuhnya yang kurus terlihat sempurna, dia memang model yang sedang naik daun.

__ADS_1


Sepertinya Eliza mencari keberadaan suaminya, sudah dicari dimanapun tapi Louis tidak tampak batang hidungnya, entah kemana dia pergi.


"Louis kemana ya? Padahal aku sengaja pulang cepat karna katanya dia tidak ada jadwal apapun hari ini" monolog Eliza.


Tak lama berselang, Louis pulang bersama Darren, dia mabuk berat, untung saja adik termuda di grupnya itu tidak ikut minum jadi dia bisa membawa Louis pulang dengan selamat.


Tubuh berat Louis dihempas pelan oleh Darren, pria muda berbadan kekar itu memijat bahunya yang nyeri, dia tidak habis pikir suami Eliza itu akan mabuk-mabukan setelah mendengar ingatan lama yang dilupakannya.


"Hah, padahal semua sudah berjalan sampai sejauh ini, kenapa kakak harus mengingat pertengkaran itu" Darren menatap Louis yang terlelap nyaman diatas sofa.


"Bertengkar? Maksudnya apa?" tanya Eliza, dia tak sengaja mendengar penyesalan Darren.


Tubuh Darren bergetar, dia takut, Eliza bukan lawan yang mudah ditangani, dia tahu kebohongan besar apa yang sudah dilakukan wanita didepannya ini dan melihat perkembangan sikap Eliza sampai saat ini, membuat jarak antara Louis dan Darren semakin jauh.


'Andai saja aku tidak memukul kak Louis, semua ini tidak akan terjadi' batin Darren.


"Halo, apa kau mendengar ku?" Eliza menangkap wajah masam Darren, sepertinya pria bergigi kelinci itu amat sangat tidak bersahabat dengan istri Louis.


"Saya pamit pulang, Maaf menggangu" ucap Darren, buru-buru dia menarik jaket dan kunci mobilnya yang ditindih Louis, setelah itu dia pergi tanpa menatap wajah bingung Eliza.


"Ada apa dengannya? Dasar Aneh" komentar Eliz heran.


"Engh, tidak, aku tidak mungkin punya anak, kamu salah Darren haha" Louis mabuk berat, kalimat yang tak terhindarkan pun keluar dari mulutnya.


'Awas saja, aku tidak akan membiarkan kedua orang itu menggangguku dan Louis' batin Eliza.


Drrrt


Dering telpon mengembalikan kesadaran Eliza, dia mengambil ponselnya dan segera mengangkat telpon itu.


"Halo"


"Halo Eliz, besok jadi kan?"


"Ah iya, tentu saja Tiara"


"Wah baguslah, sekalian saja ajak suamimu, yah itu kalau dia ada waktu"


"Haha baiklah, oh iya aku tutup dulu yah ,suamiku sedang mabuk, aku mau memindahkannya dulu"


"Oh ok, Maaf mengganggu Eliza, kalau begitu sampai jumpa besok"


"Iyah, sampai jumpa besok" jawab Eliza tanpa senyum, dia menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban Tiara.


Dingin sekali.

__ADS_1


'Tck, benar, besok anak itu pasti datang bersama ibunya, lihat saja, besok aku akan memperingatinya agar menjauhi suamiku' batin Eliz diakhiri seringainya.


"Hah Louis, jangan pernah berharap aku akan melepasmu" Monolognya dipenuhi keserakahan.


Eliza mulai membuka sepatu dan jaket suaminya, dengan terpaksa dia membantu membopong Louis agar bisa masuk ke kamar.


...*...


...*...


Pagi menyapa dua wanita yang masih terlelap dibalik selimut tebal berwarna putih bersih itu, Adrienne menyadari terik matahari yang mulai menyilaukan matanya.


Dia terbangun, senyumnya mengembang setelah mendapati wajah imut Valarie yang juga masih terlelap, dia mencubit pelan pipi anaknya.


"Hm, mirip Deon" pujinya.


Enne bergegas memasak sarapan untuk putri kecilnya dan juga untuk dirinya sendiri, tak lupa dia menyapa foto mantan pacarnya.


"Pagi Deon" sapanya senang, sepertinya hati Adrienne sudah ikhlas, dia berhasil berdamai dengan keadaannya.


Sekitar beberapa menit berlalu dan Valarie terbangun, dia tak menemukan eksistensi ibunya tapi gadis mungil itu tahu, Enne sedang didapur, pasti.


Dengan sangat yakin dia bergegas menuju dapur dan berhenti didepan foto Deon yang ada diatas meja hias, dia tersenyum manis.


"Pagi ayah Deon, hari ini cuacanya cukup bagus, sudah dulu yah, aku lapar, love you ayah, bye bye" monolognya menggebu-gebu.


Valarie pun sangat menantikan hari perayaan ulang tahun Lian, dia sangat menyukai anak dari pamannya itu.


Sudah berapa kali putri Adrienne menyatakan perasaannya tapi Lian tidak pernah menanggapi ungkapan cinta Valarie.


Mungkin bagi Lian, cinta bukanlah hal mudah yang bisa dimengerti anak kecil Sepertinya.


Adrienne mendapati putrinya berlari kearahnya, dia terkekeh melihat langkah kecil Valarie, Enne menyambut gembira putrinya, mereka berpelukan dan Valarie mengecup pipi ibunya begitupula Enne balik mengecup kening anaknya.


"Pagi putriku" sapa Enne melepas pelukannya.


Valarie tersenyum bahagia "Pagi Mama" sahutnya senang.


...*...


...*...


(Kincir angin Lian dan Valarie)


__ADS_1


__ADS_2