
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
3 Bulan berlalu sangat cepat.
Hari-hari keluarga kecil Adrienne disibukkan urusan pernikahan.
Benar sekali, saat itu juga, Deon langsung mengabulkan ucapan pacarnya.
Tak berselang berapa hari, undangan mulai disebar, gaun pengantin dibuat dan dijahit khusus oleh Laura, dia sangat bersemangat membuat gaun pengantin menantunya, sampai-sampai dia selalu telat makan karna rancangannya.
Catering dan berbagai urusan lainnya sebagian besar diatur oleh Deon dan bibinya, mereka sangat sibuk beberapa bulan terakhir ini.
Sayang sekali Enne tidak terlalu bisa membantu karna pasca melahirkan dia masih harus istirahat dan menjaga bayi mungilnya.
Deon baru saja pulang setelah menyelesaikan urusannya dan segera menemui calon istri dan putri kecilnya.
Dia masuk kekamar Enne, dimatanya terlihat wajah cantik pacarnya yang sedang tersenyum menatapi si mungil dengan bahagia.
"Sayang, aku pulang" sapanya lembut.
Adrienne menoleh dan menyambut calon suaminya "Kau sudah bekerja keras, apa kamu lapar? Tadi bibi memasak udang dan cumi, makanan kesukaan kamu" ujarnya sangat perhatian.
"Aku mau makan, tapi sepertinya melihat kamu dan Valarie membuatku kenyang" ujar Deon lalu mengecup kening anaknya.
Dia sangat menyayangi Adrienne dan juga Valarie, nama yang dia beri dengan makna yang mendalam, ada banyak harapannya didalam nama putrinya itu.
'Jadilah kuat dan sehat anakku, lindungi ibumu dari kesedihan, jauhkan dia dari hal buruk, berbudi luhur lah seperti nenek dan kakekmu, ayah akan sangat senang kalau kamu tumbuh besar seperti namamu Valarie Brian' Deon membatin.
"Aku rindu sekali dengan putriku" Deon mengecup lagi kening putrinya.
Adrienne begitu senang, kecurigaannya sudah hilang sejak lama, dia tahu Deon tulus menyayangi dan mencintai anaknya, rasa terima kasih sepertinya tidak akan cukup membalas kebaikan pria didepannya ini.
"Apa kau tidak rindu denganku?" sahut Enne tiba-tiba.
Deon menoleh kearah calon istrinya, dia tersenyum jahil dan berkata "Sepertinya tidak" candanya.
"Ish dasar, kalau begitu aku marah, besok tidak jadi menikah" Enne memanyunkan bibirnya.
Deon lalu mendekati pacarnya dan segera mengecup lembut tangan Enne, dia tersenyum dan berkata "Maksudku tidak salah lagi, aku memang sangat merindukan mu sayang" Lanjutnya menggoda.
Adrienne ikut tersenyum, sepertinya sudah cukup gurauan malam ini, Deon memang selalu membuatnya serba salah.
"Kamu pasti lapar, ayo, aku temani" ajak Enne, Deon tersenyum hangat dan menyambut tangan calon istrinya.
Mereka saling berpegang tangan menuju dapur yang sangat luas dan besar, Enne menuntun Deon agar duduk didepannya dan dia asik mengatur meja agar calon suaminya bisa makan dengan nyaman.
"En-
__ADS_1
"Kalau hal seperti ini jangan larang aku, kamu tidak tahu aku sangat suka melayanimu, tenanglah, aku tidak merasa diriku pembantu" Enne tahu Deon akan melarangnya dan memanggil ART tapi dia tidak mau, dia benar-benar ingin sekali saja merasakan menjadi calon istri yang baik didepan Deon.
Selama ini pria itu terus memanjakannya dan dia merasa tidak enak.
"Baiklah, tapi untuk kali ini saja, kedepannya kamu harus duduk disampingku saja dan menemaniku makan, sekali lagi, aku tidak mau kamu kelelahan Adrienne, aku takut kamu sakit" tegur Deon.
"Iyah sayang, sekarang makanlah" balas Enne dia lalu ikut duduk disamping Deon.
Begitulah mereka melewati malam sebelum hari yang ditunggu-tunggu datang.
...*...
...*...
Pagi yang sibuk menyambut Enne dan juga Deon, sejak tadi mereka asik mendandani diri dan berada dikamar terpisah.
Setelah selesai Deon mendatangi calon istrinya dan berkata "Adrienne, kamu duluan saja dengan mama, aku akan menyusul secepatnya" ujarnya.
"Kamu mau kemana? Jangan lama-lama, aku menunggumu" jawab Enne yang sudah mau berangkat ke gedung pernikahannya.
"Ada urusan sebentar, baru begini saja sudah kangen" ejek Deon, Enne merona dan berkata "Siapa juga yang kangen, kalau begitu aku pergi" Enne naik ke mobil dengan buru-buru dan Deon terkekeh melihat tingkah calon istrinya.
-
Alunan musik terdengar seperti meditasi.
Nyaman sekali mendengarnya.
Dia mengambil hp dan menelfon Deon tapi tidak diangkat, sejak tadi dia hanya sibuk mengecek hp agar rasa gugupnya menghilang.
Tapi sepertinya itu bukan solusi yang berguna, dia tidak sabar lagi dan memilih keluar dari ruang pengantin, dia sangat ingin bertemu Deon.
"Ma"
"Enne kenapa keluar?" Laura segera mendekati calon menantunya.
"Aku mau ketemu Deon dulu Ma, aku gugup" jawab Enne, dia sibuk mencari posisi calon suaminya.
"Hahaha kamu ini, tadi pagi kan sudah ketemu, Deon ada urusan sebentar paling 10 menit lagi datang" Laura mencoba menenangkan.
"Ooh, kalau sudah datang titip pesan ke ruangan aku ya ma-
Drrrt~
Drrrrt~
Drrrrt
Laura mengangkat telfonnya dan menjawab suara dari seberang sana.
"Halo"
__ADS_1
"Halo, nyonya Laura.........."
"APA? Saya segera kesana"
Laura sangat terkejut, dia segera memberitahu suaminya dan bergegas pergi tapi suara Enne menghentikan langkahnya.
"Ma, ada apa?" tanyanya penasaran.
"Ikut Mama" Laura menarik tangan calon menantunya, tanpa berkata apapun dia berlari, mengikut Enne yang untung saja memakai gaun ringan dan tidak menyulitkannya menyamai langkah calon mertuanya.
Perasaan Adrienne menjadi khawatir, kalau dia harus ikut itu artinya ada sesuatu yang terjadi dengan Deon.
Laura melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Enne yakin ada sesuatu yang terjadi tapi rasa penasarannya tertutupi karna mama Deon sama sekali tidak mengatakan apapun.
Dia terdiam, banyak pikiran yang menyerang benaknya.
Tiba-tiba dia tersadar sesuatu yang selama ini diabaikannya.
Deon itu sangat misterius.
Dari sikap dan keputusan-keputusan yang dibuatnya, semua tidak pernah masuk di logika Adrienne.
Sejak dulu, dia selalu bertanya-tanya tentang alasan mengapa pria itu sangat menyayangi dan mencintainya.
Awal pertemuan mereka tidak begitu romantis tapi juga tidak buruk, Deon selalu tertawa apapun yang dilakukan Enne.
Kemarahan dan kata-kata yang agak pedas dari Enne tidak membuat Deon marah tapi justru semakin sayang serta menurut dengan semua ucapan Enne.
Benar! Itu aneh, tapi entah sejak kapan Adrienne menyampingkan perasaan dan pertanyaan penting itu.
Kini, mobil berhenti dirumah sakit yang dulu menjadi tempat bersalin Enne, dia bingung, dadanya terasa berat, pikiran buruk mulai menghantuinya.
'Apa Deon kecelakaan?' pikir Enne.
"Ma, kenapa kita kesini?" tanyanya takut, dia berharap jawaban Laura bukan sesuatu yang ada dipikirannya.
"Ayo masuk, kamu akan tahu sebentar lagi" Dengan lembut Laura menuntun calon menantunya.
Langkah mereka terhenti didepan sebuah ruangan, perasaan Enne semakin berat, dia masih berharap tidak ada hal menyakitkan yang terjadi.
Memikirkannya saja tidak bisa, Enne menenangkan hatinya, dia mencoba tidak berekspektasi apapun.
Laura membuka pintu dan seseorang terlelap diatas kasur pasien, tubuhnya dipenuhi alat bantu pernapasan, begitu juga infus yang terpasang ditangannya, itu terlihat sangat menyakitkan.
"Masuklah, Deon ada didalam" Suara Laura bergetar, sangat perih mengatakan kalimat itu ke calon menantunya.
...*...
...*...
-Ilustrasi Gaun Adrienne 🤧
__ADS_1