MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
54


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Acha mendengus tak suka "Kakak selalu saja begitu" gumamnya sedih.


Enne menghela nafas lagi, dia tak tega melihat wajah sedih Acha, terpaksa dia menjawab pertanyaan yang sudah lama ingin Acha ketahui.


"Acha, kamu tidak usah pura-pura lagi, aku tahu kamu termasuk keluarga Brian, aku juga tahu kalau mama Laura menyuruhmu mendampingi ku, itu sebabnya aku tidak mau kamu membayar makanan ku, aku berhutang banyak pada kalian jadi harusnya aku yang melakukan itu dan sekarang kau tidak usah pura-pura lagi menyamar jadi mahasiswa fashion atau apalah" jelas Enne.


Acha sangat terkejut "Sejak kapan kakak tahu?" tanyanya malu.


"Sejak awal aku sudah tahu, dasar gadis bodoh" ejek Enne, dia menjitak kepala Acha membuat sang empu meringis kesakitan.


"Aww aduh, ih kakak makin hari makin kasar deh hmph, baguslah kalau kakak sudah tahu, aku jadi bebas dan tidak perlu berpura-pura lagi" sahutnya senang.


"Ah iya, kakak sudah cek cctv? Sepertinya orang yang menaruh surat itu memiliki maksud tersembunyi deh kak" tebak Acha.


Adrienne menggeleng.


"Tidak perlu di cek, nanti juga kalau bosan pasti hilang sendiri" Sahutnya.


"Tapi isi suratnya apa sih kak?" tanya Acha, matanya berbinar menatapi Enne agar mau menjawab pertanyaannya.


"Rahasia" jawabnya.


"Hmph, dasar pelit"


Mereka berdua lalu menyantap makanan yang sudah ada diatas meja makannya, kadang-kadang Acha akan mencuri cemilan Enne dan menjahili atasannya itu.


"Aku akan ganti assisten" ungkap Enne disela-sela makannya.


Acha tersedak kentang yang baru saja dia ambil dari piring Enne.


"Uhhuk, Ka-kak, aku kan cuma ambil kentang saja, kenapa kakak mau menggantikan aku?" tanyanya sedih.


Adrienne menggeleng "Bukan menggantikan mu, aku memang butuh assisten yang profesional Ca, kau tetap bisa datang ke butik kapanapun kau mau, lagipula aku tau jadi assisten bukan kemauan mu" jawabnya.


"Bagaimana kakak tahu? Kalau ini bukan kemauan ku" tanya Acha lagi.


"Tentu saja aku tahu, aku masih ingat saat kau datang ke pesta pernikahanku, kau bilang kau sangat menyukai Aron dan akan menjadi pengusaha kan? Ya, meski penampilan mu dengan yang sekarang sangat berbeda, aku memang sempat tidak mengenalimu" jelasnya lagi.


Acha sangat terkejut mendengarnya, dia merasa seperti orang bodoh sudah berpura-pura tahu tentang fashion.


"Kakak, aku malu" sesalnya.

__ADS_1


Enne terkekeh mendengar pengakuan Acha, dia lalu menggeser kentang miliknya dan membaginya ke gadis cantik itu.


"Makanlah, kau sudah tumbuh besar dan cantik, aku bangga denganmu" puji Enne.


Tiba-tiba air mata mengucur dipipi Acha "Ternyata kakak masih mengenaliku, bahkan juga ingat dengan cita-cita ku, terimakasih kak" ungkapnya terharu.


"Dasar cengeng" ejek Enne lagi.


...*...


...*...


Hari demi hari berlalu begitupun bulan berganti dengan cepat, sampai Enne tidak menyadari kalau satu tahun sudah terlewati.


Perasaannya kian membaik, mungkin kini, dia berhasil berdamai dengan lukanya.


Butiknya semakin sibuk, banyak pelanggan yang memesan baju ditempatnya, bisa dibilang Adrienne sukses besar, meski kini dia telah sendiri tanpa anak ataupun pasangan.


Adrienne meminum es coklat kesukaannya, lagi-lagi dia menemukan surat dengan isi yang sama.


Sebenarnya Enne sangat penasaran, tentang identitas pengirim surat itu tapi dia tidak mau berharap lebih atau terlalu jauh berpikir tentang suratnya.


'Mungkin saja, ini dari Louis, karena hanya dia yang tahu tentang aku dan putriku, apalagi Valarienne adalah nama gabungan kami' batin Enne.


Ia kembali meneguk minuman dinginnya.


"Acha, jangan berteriak, tidak sopan! Memang siapa yang datang?" tanya Enne.


"Itu kak, artis, coba kakak keluar dulu" jawab Acha, dia menyeret lengan Enne agar bisa mengikutinya.


Tubuh Enne terdorong tepat didepan tamu yang membuat Acha histeris, dia menatap wajah pria didepannya dengan kaget.


"Louis" ucapnya gugup, ini adalah pertemuan pertamanya semenjak setahun yang lalu, waktu itu pertemuan mereka sangat singkat dan penuh emosi.


"Hai Enne" sapa Louis senang, senyumnya mengembang ceria.


"Ha-Hai, apa kau ingin memesan baju?" tanya Enne mencoba menyingkirkan pikiran anehnya.


'Aku tidak boleh merasa percaya diri begini, mana mungkin Louis kesini karena mencariku, lagipula pertemuan terakhir kali sangat buruk, aku tidak yakin dia dengan sengaja datang ke butikku' batin Enne pesimis.


Louis menggeleng "Tidak, aku datang menjemput mu, apa boleh aku mengambil waktumu hari ini?" izinnya sangat sopan.


Enne tampak berpikir tapi dia benar-benar tidak enak kalau menolak lagi kehadiran pria didepannya itu.


"Oke, aku ikut saja dulu tapi aku tidak bisa jamin seharian ini aku bisa terus bersamamu karena aku sangat sibuk" jelasnya pada Louis.


"Baiklah, ayo" Louis mengulurkan tangannya menunggu Enne menyambut ajakannya.

__ADS_1


Meski ragu, Enne memegang tangan Louis, dia tidak mengharapkan apapun dan hanya mengikuti pria itu dengan tenang.


Louis menuntun wanita yah ada digenggamnya menuju mobil mewah yang terparkir didepan tokonya.


"Kau berniat pamer ya?" celetuk Enne tiba-tiba.


Refleks membuat Louis menoleh kearah wanita itu berada, dia menatap aneh Enne sambil sesekali memiringkan kepalanya.


Enne menangkap ekspresi itu.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya lagi.


"Tidak, hanya saja sekarang kau lebih berani berpendapat, seingatku dulu kau itu wanita pemalu dan polos" jelasnya, Louis memang sangat heran dengan perubahan karakter Enne.


"Benar! Tapi itu dulu, sekarang aku sudah tua, aku tidak sepolos itu lagi Louis" ungkap Enne blak-blakan.


Louis terkekeh "Hahaha, kau benar-benar imut" pujinya.


Enne mengernyit tak mengerti "Imut? Dari mananya?" tanyanya tak terima.


"Tentu saja kau imut! Jangan lupa kalau aku pernah bertemu dirimu saat masih sangat muda, wajar kalau aku bilang begitu karena aku merasakan perbedaan sikapmu yang dulu dengan sekarang" jelas Louis lagi.


"Dulu ya! Waktu itu aku masih sangat muda dan bodoh" ungkapnya agak kesal.


"Bodoh apanya, menurutku dulu kau sangat pemberani, dan itulah yang membuat ku menyukaimu" Louis menyangkal pernyataan wanita disampingnya.


Adrienne tersipu mendengarnya "Kita jadi berangkat atau tidak? Kalau tidak, aku masuk sa-


"Ee- Jadi, ayo masuk, maaf, melihatmu membuatku lupa waktu" buru-buru Louis membukakan pintu mobil untuk Enne bisa masuk dengan mudah.


Suasana hening, Enne dan Louis merasa canggung setelah percakapan yang cukup berani tadi, sekitar satu jam perjalanan Enne tertidur dan Louis terus melajukan mobilnya menuju tempat yang ingin dia datangi.


Setelah sampai, Louis membangunkan Enne, saat sadar dari mimpi, dadanya sesak, dia lupa kalau hari ini adalah peringatan kematian keluarga dan sahabatnya.


"Ayo turun" ajak Louis.


Kaki Enne bergetar, dia baru ingat, kalau dirinya sudah melalui hari yang sangat berat, untung saja ada Acha yang menemani kesendiriannya sehingga dia bisa berhasil melewati hari-hari tanpa putri kesayangan.


Louis mengulurkan tangannya lagi, menuntun Enne menuju makam putri dan mantan suaminya.


"Aku benar-benar lupa akan hari ini, terimakasih sudah membawaku kesini" ungkap Enne.


"Aku sangat ingin menemui putriku dan Aron jadi tidak usah berterima kasih padaku" balas Louis.


Enne menaburkan bunga dan air dimakam anak dan mantan suaminya, hampir saja dia larut dalam kesedihannya, untung saja Louis bisa menenangkan suasana yang meliputi kehampaan hatinya.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2