
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Langit terlihat gelap dengan banyak bintang yang menghiasinya, Adrienne masih menepuk pundak Valarie agar putrinya terlelap damai dalam tidurnya.
Dia melirik jendela besar yang dulunya merupakan tempat kesukaannya bersama Deon, lagi-lagi bibirnya tersenyum mengingat kenangan-kenangan manis yang selalu dilakukan mantan pacarnya.
'Aku hampir saja menyakiti hatimu' batin Enne.
Waktu berlalu begitu saja, kedua wanita yang tidur diatas kasur empuk itu menggeliat tanpa sadar.
Valarie membuka matanya, dia masih belum sepenuhnya sadar, bibirnya manyun dan satu tangannya mengusap pelan matanya yang tidak begitu gatal.
"Mama, ayo bangun" panggil Valarie, suaranya serak, dia merasa haus dan memutuskan meninggalkan ibunya yang tak kunjung meresponnya.
Dengan hati-hati dia keluar dan pelan-pelan menuruni anak tangga sambil tangan kanannya memegang tiang-tiangnya.
Aron agak terkejut melihat Valarie datang dan berjalan mendekatinya, dia masih asik meminum kopi hangatnya.
"Om Aron, aku haus, tolong ambilkan aku minum" kata Valarie masih setengah sadar.
Siapa yang tidak gemas melihat gadis kecil seperti Valarie, Aron meleleh, dia mengangkat dan mendudukkan putri Enne keatas kursi, lalu segera mengambilkannya segelas air putih.
"Ini" ucap Aron masih tersenyum.
Valarie ikut senyum dan berterimakasih atas kebaikan yang dilakukan Aron.
"Boleh om rapikan rambutmu? Kamu sangat berantakan" tawarnya hati-hati.
Valarie mengangguk saja dan Aron kembali tersenyum gemas karena tingkah gadis kecil disampingnya ini.
"Om juga punya anak?" tanya Valarie, lagi-lagi dia menanyakan hal random.
Aron terkekeh mendengar pertanyaan itu.
"Belum, kenapa? Kamu mau jadi anakku?" goda Aron.
Valarie terdiam, dia menoleh kebelakang dan mengamati Aron dari ujung kaki sampai kepala, tak lupa anggukan demi anggukan dilakukannya, seolah sedang menyeleksi pria didepannya itu.
"Boleh saja" sahutnya setelah beberapa detik berpikir, Aron terkekeh lagi, Valarie membuatnya benar-benar luluh.
Laura juga baru saja datang, dia melihat Aron dan Valarie saling tertawa diruang makan, hatinya melemah, ada rasa senang melihat keponakannya akrab dengan cucu cantiknya.
"Lagi cerita apa sampai tertawa begitu?" Tanya Laura turut bergabung.
Valarie langsung menjawab dengan nada imutnya.
"Om ini mau menikah dengan mama, aku mengizinkannya" katanya antusias.
Aron masih terkekeh, rasa gemasnya belum pudar juga, dengan telaten dia merapikan rambut Valarie yang berantakan.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Laura penasaran, matanya melirik kearah Aron yang acuh dan hanya fokus menikmati waktunya merapikan anak rambut Valarie.
"Pagi ma, pagi putriku cantik" sapa Enne yang baru saja turun.
"Pagi Ma"
"Pagi Enne"
Sahut dua orang itu, Aron melirik dan mengikuti langkah Enne menuju tempat minum, dia berharap ibu Valarie juga menyapanya.
"Aku?" tanya Aron tak sabar.
Semua orang menatapnya, apa-apaan suara menggemaskan yang keluar dari mulut Aron itu, Enne, Laura dan Valarie tercengang melihatnya.
"Hah?" begitulah respon Enne.
Aron tak mau tahu, dia juga ingin disapa.
"Aku tidak disapa" jelasnya cemberut, Valarie geli melihat tingkah Aron sedang Enne hanya bisa menganga dengan tingkah sepupu Deon.
'Kupikir dia pria pendiam, ternyata diam-diam menggoda yah' batin Enne.
"Ooh pagi Aron" sahut Enne canggung.
Laura terkekeh, dia tidak begitu mengerti apa yang terjadi tapi dia paham nampaknya Aron tertarik dengan Adrienne.
"Haha, dasar, kukira kau kenapa" celetuk Laura tak habis pikir dan Aron menyambut ramah tawa tantenya.
Benar-benar pemandangan indah dan memanjakan mata. Adrienne merasa nyaman, ada kalanya dia mengira Aron adalah Deon, saat-saat itulah jantungnya berdegup tak beraturan.
Tak terasa bibi sudah menyelesaikan masakannya dan segera memanggil tuan rumah dan tamunya.
Diluar ada Valarie dan Aron, mereka asik memainkan boneka yang dibelikan Laura sedangkan Adrienne dan Laura sedang dibelakang rumah, mereka mengobrol sambil menikmati keindahan taman bunga yang baru-baru ini dibuat ibu Deon.
"Cantik sekali" puji Enne.
Laura tersenyum bangga mendengarnya.
"Aku senang kalau kau bilang begitu, selama ini aku kesepian, hanya ini yang bisa kulakukan untuk menemani hari-hari sepiku" jelas Laura, nampak jelas dimatanya, kesepian yang Enne pun tidak bisa memahaminya.
Kehilangan seorang anak adalah hal yang tidak akan pernah mau dibayangkan Adrienne, mungkin dia akan mati jika kehilangan putrinya.
"Apa mama, tidak mendesain lagi?" tanya Enne merasa simpati.
Laura menggeleng.
"Tidak, aku sudah berhenti, itu adalah pekerjaan yang sangat kubenci, banyak waktuku yang hilang bersama Deon karena sibuk, aku masih menyesali waktu yang terbuang" jawab Laura sedih.
Adrienne memegang tangan Laura, mencoba menyalurkan kenyamanan, bahwa dia tidak sendiri, ada Enne yang juga selalu menyesali kebodohannya dimasa lalu.
Laura menyeka air matanya, tidak sepantasnya dia mengeluarkan isi hatinya pada orang yang lebih patah hati dibanding dirinya.
"Aku harap kamu bahagia Adrienne, lupakanlah Deon, jangan mengekang dirimu, baik kamu maupun Valarie berhak bahagia, kalau sudah ada yang menurutmu bisa mengobati hatimu, terima saja dia, aku mewakili anakku menyampaikan ini, kamu berhak bahagia" pinta Laura bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Enne hanya bisa diam, diapun tidak tahu harus menjawab apa, disatu sisi Deon masih terbayang dibenaknya dan disisi lain hatinya membutuhkan obat untuk sembuh, karena dia tahu, lukanya hanya akan menyakiti putri semata wayangnya.
Berbeda dengan Laura dan Adrienne, Valarie masih asik bermain bersama Aron.
"Om Aron, om harus membuat dia minum, bonekanya pasti haus" perintah Valarie senag.
Aron mendengar patuh dan langsung memberikan gelas mainan yang ada diatas meja agar bonekanya bisa minum.
"Sepertinya dia sudah tidak haus lagi" sahut Aron masih mengikuti permainan putri Adrienne.
"Oh kalau begitu, om Aron lanj-
Drrrrt
"Ada telpon, tunggu sebentar yah, om angkat dulu" izin Aron, Valarie mengangguk saja meski mood-nya terlihat buruk setelah Aron meninggalkannya sendirian.
Tak butuh waktu lama, pria bertubuh tinggi itu datang dengan wajah kecewa.
"Valarie maaf yah, om harus pergi, tolong beritahu nenek dan juga mama kamu kalau aku ada urusan penting jadi aku tidak bisa ikut makan bersama, oh ya lebih baik kamu masuk, biasanya jam segini banyak pencuri, nanti kamu dicuri loh" jelas Aron agak kecewa, padahal dia masih ingin bermain dengan Valarie.
Raut muka Valarie sudah tidak karuan, bibirnya dia manyunkan dan keningnya mengerut karena marah, sepertinya kepergian Aron membuatnya kehilangan selera makan.
Laura dan Enne hanya bisa melihat Valarie yang tidak menyentuh makanannya.
"Valarie, ada apa sayang? Apa makanannya tidak sesuai sama yang kamu mau?" tanya Laura.
"Mana mungkin ma, Valarie justru sangat suka ayam goreng, biar aku yang suap dia ma" sahut Enne tidak enak dengan Laura.
"Valarie sayang, ayo dimakan, nanti ayamnya dingin loh, kasian kalau tidak dimakan nak" ajak Enne tapi putrinya sama sekali tidak mau membuka mulutnya.
"Aku tidak mau makan kalau tidak ada om Aron" jelasnya masih marah.
Laura langsung tertawa mendengar jawaban cucunya, dia tidak menyangka Valarie akan secepat itu akrab dengan ponakannya.
"Hahaha, Adrienne ini gawat, cucuku sepertinya sudah jatuh hati dengan Aron" ledeknya senang.
"Hahaha mama ada-ada saja, Valarie kan cuma suka ayah Deon, iya kan sayang?" tanya Enne, dia tidak percaya ucapan yang baru saja dikatakan Laura.
"Aku suka ayah Deon tapi om Aron juga baik, om juga bilang akan menjadikan aku anaknya" jawab Valarie lagi.
Laura semakin terbahak-bahak sedangkan Adrienne tercengang mendengar jawaban putrinya.
...*...
...*...
-Bonus-
✨ Adrienne ✨
✨Valarie✨
__ADS_1
Mirip bapaknya emang, tapi cantik kannnnnn🤧