
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Keberadaan kematian yang tak terlihat, tak dapat diprediksi dan tak pandang bulu, merenggut apapun yang sudah saatnya untuk kembali, benar-benar mampu menyakiti hati siapapun yang tak menerimanya.
Kesedihan mendalam yang dirasakan Adrienne mampu membuatnya jatuh berkali-kali dan juga terpaksa bangkit berkali-kali.
Enne menggendong Valarie, didepannya makam Deon dipenuhi bunga, kini prianya sudah pergi meninggalkannya.
Laura terus mengelus pundak wanita yang sudah dianggap menantunya, meski pesta tidak jadi digelar tapi bagi keluarga Deon, Adrienne adalah bagian dari keluarga Brian.
Tiara dan Edric terpaku menatap nisan Deon Brian yang terpampang jelas disana, belum sempat Edric memberitahu rasa terimakasihnya dan pria itu justru lebih dulu pergi meninggalkan sahabatnya.
Meski Enne tidak menangis, Edric tahu sehancur apa perasaan sahabatnya.
'Deon, kamu sudah sangat berjasa dalam hidup Enne, meski kamu pergi lebih dulu, aku tetap berterima kasih, aku berjanji akan menjaga Valarie dan Adrienne menggantikan mu" batin Edric.
Waktu berlalu dan orang-orang mulai pergi, Laura dan suaminya juga sudah pergi tapi Enne dia masih ingin menemani Deon, dia tahu pacarnya pasti sangat kesepian disana.
"Haruskah aku ikut?" ujarnya putus asa.
Tiara memegang pundak Enne "Jangan berkata seperti itu, apa kau ingin membuat Valarie sedih dengan kepergianmu juga?" ujar Tiara mengingatkan sahabatnya.
Adrienne terdiam lagi, dia sangat ingin bertemu Deon, dia ingin bersenda gurau dan saling menunjukkan kasih sayang lagi, dia ingin Valarie melihat ayahnya juga.
Begitulah hari-hari penuh penyesalan menghantui hidup Enne.
Selama bertahun-tahun, dia menyesali kebodohannya, kini Valarie tumbuh besar tanpa seorang ayah disampingnya, tapi anak itu tidak pernah sekalipun mengeluh, dia kuat dan tegar seperti harapan Deon.
...*...
...*...
Sudah empat tahun sejak terakhir Enne menjenguk prianya, dia masih belum sanggup melupakan pria manis itu, ingatan demi ingatan terus mengalir diotaknya.
Adrienne sama sekali belum membaik, meski kini dia tersenyum tapi hatinya hampa, pikirannya selalu jauh ke atas sana, Deon selalu teringat kemanapun dia pergi.
Padahal pertemuannya singkat, cintanya tentu belum sebesar gunung atau seluas lautan, tapi kalau dipikir-pikir lagi, siapapun memang tidak akan bisa melupakan pria baik hati seperti Deon.
"Enne, Adrienne, ADRIENNE" Edric berteriak tak sabar.
"Astaga, Edric apa kau ingin membuatku tuli? Kau tidak perlu berteriak seperti itu" Jelas Enne dia sangat terkejut mendengar teriakan sahabatnya.
"Aku sudah memanggil mu sejak tadi tapi kau tidak merespon ku" Edric menjelaskan tapi Enne tidak peduli, dia kembali asik menatap langit biru yang sangat disukainya.
'Deon pasti sangat senang disana' Batin Enne.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa mentari menyengat kulit putih milik Enne, dia berpindah ke kursi belakang yang disediakan untuk orang tua murid diluar ruangan.
__ADS_1
"MAMA"
Teriak seorang gadis kecil, dia berlari kearah Adrienne, wajahnya berseri-seri.
Adrienne berlari menyambut anaknya, dia bertanya-tanya mengapa Valarie terlihat begitu senang.
"Enne, Kata Valarie dia ingin ke suatu tempat" Adu Tiara.
"Benarkah? Kamu ingin kemana sayang?" tanya Enne ceria.
Valarie mendekatkan wajahnya ke telinga ibunya, dia berbisik senang "Aku ingin kencan dengan mama" pintanya.
Adrienne terkejut, bisa-bisanya kalimat kencan keluar dari bibir mungil anaknya, dia tahu pasti Tiara yang mengajarinya, Enne terkekeh, ada-ada saja kelakuan putri kecilnya ini.
"Kencan? Kita kencan kemana yah?" tanya Enne.
Valarie menatap tantenya dan Tiara langsung membantu menjawab pertanyaan Enne.
"Oh, iya kemarin aku habis beli tiket tapi karna sibuk jadi tidak terpakai, bagaimana kalau kalian berdua saja yang pergi, pasti seru deh" jelas Tiara dengan akting bodohnya.
Lagi-lagi Enne terkekeh, sangat lucu melihat anaknya dan Tiara bersekongkol, tentu Enne sangat tehibur.
"Hahaha, Tiket? Tiket apa itu?" Tanya Enne pura-pura penasaran.
Valarie antusias, baru kali ini ibunya tertawa senang seperti itu.
Tiara memberi tiketnya.
"Ini"
"Ini kan tiket fansign, dari mana kamu mendapatnya? Tiket ini kan hanya bisa didapatkan kalau kita menang undian" Tanya Enne.
Tiara tersenyum "Hehe aku membelinya dari anak-anak muda yang bersedia menjualnya" jawabnya polos.
"Pasti kau membayar mahal kan?"tanya Adrienne marah.
"Tidak apa-apa, uang segitu tidak menjadi masalah bagiku, lagipula Edric bilang kamu sangat suka grup itu, aku hanya ingin kamu bisa bahagia lagi Adrienne" jelas Tiara, dia benar-benar rela mengeluarkan uang sebanyak apapun asal sahabatnya itu tersenyum seperti dulu.
Enne menghela nafasnya, dia melihat Valarie, mata anaknya berbinar, dia tidak bisa menolak, ada sedikit rasa kesal karna harus bertemu dengan Louis, selama ini dia sudah berhasil menghilangkan pria itu dari hidupnya.
'Kenapa sekarang kita harus bertemu lagi' batin Enne.
"Baiklah, asal Valarie senang aku pasti akan membawanya kemanapun yang dia suka" Enne menghalau pikirannya, saat ini dia hanya ingin melihat tawa anaknya.
...*...
...*...
—Kesokan harinya—
Suasana riuh membuat Valarie dan Adrienne bersemangat, semua tampak antusias dan bahagia karna bisa berada di Auditorium besar yang menjadi tempat dilaksanakannya fansign grup Dream, panggungnya diset ala-ala, sesuai dengan konsep mereka tahun ini—seru sekali.
__ADS_1
"Waah, mama tempat apa ini?" Valarie menarik pelan baju ibunya, tingkahnya menggemaskan, orang-orang disekitarnya berdecak kagum, bahkan sampai ada yang meminta foto dengan mereka berdua.
"Waah, lihat dia imut sekali" ungkap seorang gadis muda disampingnya.
"Kakaknya juga cantik sekali, aah bikin iri" seru yang lain.
"Permisi bisakah kami minta foto?"
"Iya bisakah?"
"Apa anda juga Dreamy? Atau adik anda ?"
"Aah haha saya Dreamy, tapi dia anak saya, bukan adik" jawab Enne.
"ASTAGAAA IBUNYA?! AYAHNYA SEPERTI APA YA? ANAKNYA SAJA VISUAL! AKU IRIIIII" mereka histeris, kalau tau ayahnya siapa, mereka mungkin akan pingsan.
Adrienne dan Valarie memang kerepotan tapi juga senang, mungkin hari ini adalah hari terbising baginya. Setelah mengasingkan diri, dia pasti sadar ada banyak hal yang bisa membuatnya bahagia.
"Mama, aku suka difoto sama mereka" Ucap Valarie senang.
"Valarie, apa kau menyukainya sayang?"
"Iya Ma, tapi kenapa mereka mengambil fotoku?" tanya anak kecil itu.
"Hm, karna anak mama ini, sangat cantik, siapapun yang melihat Valarie pasti sangat senang" jawab Enne percaya diri, dia bangga anaknya sangat pintar dan manis.
"Cantik? Mama, apa cantik itu bagus?" tanyanya lagi, Adrienne tertawa lepas melihat tingkah anaknya.
"Wah, apa anak mama ini benar-benar berumur 4 tahun? Hahaha bicarannya lancar sekali seperti orang dewasa" puji Enne.
"Em, aku Valarie Brian, anak mama dan papa Deon" jawabnya bangga, Valarie lalu menampilkan senyum manisnya, dia mirip sekali ayahnya.
"Hahaha— Eh? Sekarang giliran kita sayang, ayo naik" Enne menuntun Valarie ke atas panggung.
"Halo, nama kamu siapa cantik?" tanya pria itu.
"Va..larie" jawabnya Malu.
"Aah Valarie! Kalau kakak Valarie namanya siapa?" tanyanya lagi.
"Haha saya bukan kakaknya tapi ibunya" celetuk Enne, perutnya terasa geli, hari ini dia terus mendengarkan pujian.
"Ha? Benarkah? Maaf, anda terlihat sangat muda jadi—yah pokoknya terima kasih sudah datang yah" J tertawa canggung, dia harusnya tidak sok tau, untung saja yang lain sudah beralih dan dia bisa mengatasi kecanggungan itu.
Adrienne dan Valarie terus bergeser, satu per satu member Dream menanda tangani album yang dibawa anaknya, hingga sampailah dia dimember kelima, member yang sepertinya telah melirik dan memperhatikan keberadaan mereka berdua sejak tadi.
Slet~
Album bergeser ketangan member yang berada disebelah Roy.
"Halo Adrienne" sapa pria itu, sepertinya dia mengenal Enne.
__ADS_1
...*...
...*...