
...-Selamat Membaca-...
...*...
...*...
Satu bulan berlalu dengan cepat.
Adrienne memakai gaun putih untuk pernikahannya yang akan dilangsungkan sebentar lagi.
Valarie dititipkan pada neneknya, untung saja orangtua Aron memiliki watak yang sama persis dengannya, sepertinya keluarga Brian memang terlahir menjadi orang baik, Adrienne sangat bersyukur akan fakta itu.
Sudah seminggu sejak Aron dan Adrienne tidak bertemu dikarenakan tradisi yang mereka miliki, cukup berbeda dengan kasus Deon, karena mantan pacarnya itu cukup keras kepala, dia tidak mengikuti adat dan tradisi yang turun temurun dilakukan dalam keluarganya, ya itulah Deon dengan segala kesan-kesannya.
Adrienne terlihat gugup dan takut, jelas ada trauma yang menghantuinya, hatinya cukup sedih mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat Deon meninggalkannya tanpa menjelaskan apapun, saat itu adalah hari-hari terburuknya.
Enne tidak lagi memikirkan Louis, setelah berbagai rintangan dia benar-benar memilih Aron menjadi suaminya, tida peduli begitu banyak hari yang terlewati, dia tidak akan lagi mengingat pria itu dan tidak akan menepati janjinya, kali ini Aron adalah satu-satunya pria yang bertahta dihatinya.
Meski begitu, dia tidak akan melupakan kedua pria yang pernah memberinya kenangan indah.
Laura masuk menjemput Adrienne diruangannya. Dia menatap sayu wanita yang hampir menjadi menantunya itu, seketika teringat masa-masa saat dia juga sangat sibuk mengurus pernikahan putranya.
Ibu Deon terenyuh, sedih sekali rasanya tapi semuanya terbayarkan karena Enne tetap menjadi keluarga dari Brian dan tentu saja dia akan memperlakukannya seperti menantu.
"Aku sangat bahagia Enne, pasti Deon juga senang melihatmu yang cantik seperti ini, kali ini aku membuat bajumu sesuai keinginan ku, kamu terlihat sangat cantik" pujinya, tak sadar air mata Laura menetes, kebahagiaan dan kesedihannya bercampur menjadi satu.
Adrienne juga hampir menangis, dia tahu betul perasaan Laura sekarang.
"Mama jangan sedih, aku akan tetap menjadi anak mama meskipun Deon bukan lagi pasangan ku, aku tetap akan menganggap mama sebagai ibuku" ucap Enne menenangkan Laura.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga, Edric menjadi wali Enne, dia menggandeng sahabatnya menuju Aron yang menanti diujung karpet merah penuh bunga itu.
"Aku senang sekali sampai rasanya air mataku akan keluar sekarang" ungkap Edric tiba-tiba.
Adrienne ikut terharu mendengar ucapan sahabatnya.
"Terimakasih karena selalu mendukungku, kau adalah sahabat terbaik yang pernah ada sama seperti Tiara istrimu, dia juga adalah wanita terbaik untukmu dan sahabat terbaik untukku, kalian sangat sempurna, aku mendoakan yang terbaik untuk kalian" harap Enne untuk sahabatnya.
Mereka sampai di Altar pernikahan, Aron menyambut tangan Enne dan mereka melakukan sumpah pernikahan, begitu banyak orang yang datang termasuk Louis yang diam-diam masuk dan ikut mendoakan kebahagiaan mereka.
Louis bisa melihat senyum Enne yang mengartikan perasaannya, dia pasti sangat bahagia.
'Apa sekarang, aku bisa pergi dengan tenang? Sepertinya aku hanya akan menjadi pengganggu untuk kalian, selamat tinggal Enne wanita ku dan Valarie putriku, meskipun aku tidak bisa memelukmu sebagai ayah, tapi aku akan berdoa agar suatu saat nanti saat kau mengetahui segalanya, sesekali kau menjengukku dan memanggilku ayah, ingatlah tidak akan ada yang menggantikan kalian dihatiku' batin Louis sedih, dia berdiri meninggalkan pesta pernikahan.
__ADS_1
Selesai sudah kisah yang dia harapkan, Louis memutuskan menghentikan karirnya dan memilih pergi keluar negeri menikmati masa hidupnya sendiri dan berharap bisa melupakan sedikit saja perasaannya agar tidak terlalu tersakiti dengan harapan.
Disisi lain Adrienne memeluk Aron dengan bahagia, akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih dan suami istri tentunya.
Valarie sangat senang, akhirnya dia memiliki ayah dan bisa dilindungi dengan kekuatan ayah, begitulah isi pikirannya.
...*...
...*...
Edric dan Tiara pulang setelah menemani Enne dan Aron yang menjamu para tamu, sedangkan Valarie ketiduran dan digendong Laura untuk tidak menggangu malam pertama orangtuanya.
Seperti malam-malam yang dirasakan pengantin biasanya, rasa canggung menghampiri keduanya sampai-sampai mereka saling membelakangi karena tidak tahu harus membahas apa agar suasananya menjadi cair.
Tak disangka Aron mulai menyentuh pundak istrinya, membuat wanita itu tersentak ditempatnya.
"Aron, apa kau akan melakukannya?" tanya Enne gemetar.
Aron terkekeh.
"Kenapa kau setakut itu? Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan melakukannya" ucap Aron cepat-cepat agar suasana tidak kembali hening.
Enne membalik badannya, mereka saling bertatapan, tiba-tiba ibu Valarie menanyakan sesuatu yang membuat Aron cukup terkejut.
Aron mengernyit, dia tidak betul-betul tahu arah pembicaraan istrinya.
"Aku tidak akan pernah membohongi mu Enne'" sahutnya, dia mengelus pundak istrinya.
"Serius? Kamu tidak punya penyakit mematikan kan? Jangan membohongi ku, aku tidak mau lagi ditinggalkan orang yang kucintai" ungkap Enne khawatir.
Aron segera memeluk wanitanya, dia tau kekhawatiran Enne bukan tanpa Alasan, pasti karena dia trauma dengan masa lalunya.
"Aku serius, aku janji tidak akan pernah membohongi mu, aku sayang kamu Enne" janji Aron.
"Aku juga sayang kamu Aron" balas Enne senang, dia juga memeluk prianya dan mereka terlelap tanpa melakukan malam pertama.
-Lima tahun kemudian-
Valarie sudah tumbuh besar begitupula Lian, semakin hari mereka semakin akrab, mengikut putri cantik Tiara yang juga sudah tumbuh sehat dan kuat.
Dua keluarga itu baru saja pulang dari liburan mereka di Singapura, karena sudah lima tahun penantian, Adrienne belum juga hamil, meski keluarga Brian tidak mempermasalahkan itu tapi Enne sangat kepikiran.
Itu sebabnya Aron mengajak istrinya liburan agar dia tidak terlalu memikirkan hal yang tidak penting.
__ADS_1
Tiara dan Enne beserta anak-anaknya jalan duluan dan mengikut Edric dibelakang mereka yang terus mengawasi putra putrinya.
"Sayang sekali Aron masih ada urusan disana" keluh Enne, sepertinya dia tidak semangat dengan perbedaan jadwalnya bersama suaminya.
Tiara terkekeh, sepertinya sahabatnya itu sedang di mabuk cinta.
"Padahal pernikahan kalian sudah cukup lama tapi kau masih saja khawatir berlebihan, apa sebegitu sukanya kau dengan Aron?" ledek Tiara.
Adrienne mengembangkan senyumnya dan menatap yakin sahabatnya.
"Iya, aku saaaangaaaaaaat mencintainya" sahutnya ikut meledek ibu Lian.
"Dasar bucin" timpal Tiara.
Adrienne menggeleng dan balas mengatai sahabatnya sebagai orang yang lebih bucin darinya.
Lalu keduanya pun larut dalam tawa.
Waktu berlalu cepat, tak terasa malam sudah menyambut Adrienne dan putrinya, dia sudah berada di kediamannya. Mereka berpisah dengan Edric dan Tiara begitupula Lian dan adiknya Aurora.
"Ma, aku mau nonton tv, boleh?" tanya Valarie, sejak Aron mengajarinya, dia menjadi anak yang memiliki rasa hormat yang tinggi dengan siapapun.
Apalagi menanyakan perasaan orang tua saat didalam rumah sangatlah penting.
Enne mengangguk sambil memperlihatkan senyumnya.
"Boleh sayang, volumenya jangan terlalu besar yah, mama mau telfon papa kamu dulu" ucap Enne mengingatkan.
Valarie mengangguk "Baik ma"
Adrienne menelfon suaminya, ada sedikit rasa cemas karena Aron belum juga datang, harusnya pria itu sudah pulang sejak dua jam yang lalu.
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF, MO-
"Kenapa dia tidak aktif sih, sebenarnya ada dimana kamu sayang?" gumam Enne khawatir.
"Mama, ada kecelakaan pesawat" teriak Valarie, jantung Enne seperti mau copot mendengar teriakan putrinya.
Enne berlari mendekat dan memastikan berita yang sedang disiarkan, hati Enne terus berdoa, semoga saja pesawat itu bukanlah pesawat yang ditumpangi suaminya.
'Dimanapun kamu berada, aku mendoakan keselamatanmu Aron, tetaplah sehat, kumohon' batin Enne khawatir.
...*...
__ADS_1
...*...