
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Adrienne menuntun putrinya, menaiki satu persatu anak tangga yang dulu sering dia turuni bersama Deon.
Kenangan lama mengusik relung jiwanya, kala itu, tawa dan canda memenuhi tempat ini, seperti mimpi indah yang memabukkan hati.
Sebuah ruangan besar berada tepat beberapa langkah dari ujung tangga, didepan pintu tergantung papan nama dengan ukiran warna warni bertuliskan 'Enne & Valarie'.
Lagi-lagi senyum haru ditampakkan Adrienne, masih segar diingatannya bagaimana Deon bersusah payah membuat papan nama itu, sampai tangannya memiliki bekas luka karena terlalu bersemangat.
Valarie menatap gantungan itu dan refleks menunjuknya "Itu apa ma?" tanyanya.
Enne tersadar dari nostalgianya.
"Oh ini papan nama yang dibuat ayah Deon, bacanya Enne dan Valarie, bagaimana bagus kan?" jawabnya senang.
Valarie kembali kagum dengan sosok Deon, dia melompat kegirangan.
"Cantik sekali, ayah Deon bisa melakukannya apa saja, aku suka sekali ayah Deon" ucapnya terkagum-kagum.
"Haha, ayo kita masuk sayang" ajak Enne, pelan-pelan ia membuka pintunya, betapa terkejutnya Adrienne melihat tiada satupun barang yang berubah, seolah kamar itu tidak pernah ditinggalkan pemiliknya.
'Pasti mama merawatnya' batin Enne.
"Wahhh luas sekali" puji Valarie, dia berlarian kesana kemari sedangkan ibunya masih terpaku karena kembali teringat masa lalunya.
'Padahal dulu kamu sudah menunjukkan sepenuh hati kasih dan sayangmu, tapi aku tidak pernah sepenuh hati mencintaimu karena ada orang lain, Deon, sekarang aku tidak memiliki siapapun, aku bisa mencintaimu sepuasnya tapi kamu sudah lebih dulu meninggalkanku, aku sedih Deon' Enne membatin lagi.
"Siapa kalian?" tanya seseorang.
Adrienne segera berbalik karena terkejut dan Valarie terdiam setelah tadi asik melompat kegirangan diatas kasur empuk itu.
Pria itu nampak berfikir, dia masih terpaku melihat wanita didepannya.
'Loh, dia kan yang tidur di sofa tadi' batinnya heran.
"Saya Adrienne" jawabnya ragu-ragu.
Tanpa sadar pria itu mendekati Enne, dia masih menatap dengan jelas wajah ibu Valarie, terlihat jelas kalau dia kagum.
"Wah, dunia ini benar-benar sempit yah, bahkan kita bisa bertemu disini" komentar pria itu tak habis pikir.
Kening Enne mengerut, sebenarnya apa yang dibicarakan orang didepannya ini.
"Ya?" tanya Enne tak mengerti.
__ADS_1
Pria itu terkekeh "Ini aku, orang yang kamu acuhkan di pesta ulang tahun putra Tiara, aku temannya Tiara, kamu ingat?" ungkapnya senang.
Adrienne mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu, dan yah, dia baru ingat kalau ada pria yang pernah mencoba dekat dengannya.
"Ooh anda teman Tiara yah, baiklah, tapi kenapa anda bisa disini?" tanya Adrienne tidak paham.
"Loh justru aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu bisa disini?" pria itu balik bertanya pada Enne.
"Aku? Apa anda tidak baca didepan pintu itu? Saya adalah pemilik kamar ini sebelumnya, saya datang berkunjung" jelas Adrienne sedang pria tampan bertubuh tinggi itu tersenyum mengerti.
"Oh jadi kamu wanita yang hampir dinikahi Deon? Pantas saja dia sangat senang, aku mengerti mengapa dia memilihmu" jawab pria itu lagi.
"Oh iya namaku Aron Brian, aku sepupu Deon, kami seumuran, maaf baru memperkenalkan diri" lanjutnya.
Adrienne masih mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari mulut pria bernama Aron itu.
"Mama, siapa om tampan itu?" tanya Valarie tak sabar.
"Hai, aku Aron sepupu Deon, namamu siapa?" tanya Aron mencoba akrab.
Valarie melirik ibunya yang terdiam karena belum bisa beradaptasi, dia bingung dan akhirnya malah meladeni Aron.
"Aku Valarie anaknya ayah Deon, apa om juga tinggal disini?" tanya Valarie lagi.
Aron terkekeh melihat cara bicara Valarie yang menggemaskan, tentu dia juga tidak bisa memungkiri kalau wajah anak Enne sangatlah cantik seperti ibunya.
Valarie mengangguk "Oh, apa om Aron juga bisa membuat papan nama?" tanyanya penasaran.
Aron terkejut, pertanyaan Valarie sepertinya sangat random.
"Hahaha mungkin aku bisa jika sudah belajar, kenapa? Apa kamu mau dibuatkan?" tanya Aron yang tanpa sadar sudah akrab dengan Valarie.
Adrienne masih memperhatikan Aron, entah mengapa ada yang aneh saat melihatnya lagi, rasanya seperti melihat sosok Deon di raga yang berbeda.
"Sayang jangan ganggu om ini" tegur Enne tak nyaman.
Dia langsung menarik lengan putrinya agar mengikuti langkahnya.
"Ayo kita turun, mungkin nenek sudah pulang" ajaknya tak tenang.
'Tidak, apa yang sudah kupikirkan? Deon sudah pergi, aku juga sudah merelakannya, aku harus mengatur perasaanku, Deon adalah satu-satunya, tidak ada yang bisa menggantikan dia dihatiku' batin Enne panik.
Padahal Adrienne masih ingin berada di atas sana tapi susah payah dia menenangkan hatinya yang goyah, bahkan ini baru pertemuan pertama tapi jantungnya malah berdetak tak karuan, Enne tidak akan mau mengakuinya.
Laura baru saja datang, pengawal dibelakangnya menenteng banyak sekali tas belanja dan beberapa makanan.
Valarie langsung saja berlari dengan senyum gembiranya, siapa sih anak kecil yang tidak ceria melihat makanan dan hadiah? Pasti semua anak menyukainya.
"Neneeeeek" teriak Valarie segera memeluk Laura.
__ADS_1
"Wah Valarie tau yah cara membuat hati nenek senang" puji Laura yang langsung menyambut pelukan cucunya.
"Apa semua itu untukku?" tanya Valarie senang.
Laura mengangguk mengiyakan, dia begitu bahagia melihat cucunya yang senang, hatinya terasa damai melihat Valarie tumbuh besar menjadi putri cantik dan pintar.
"Horeeeee" Valarie menyambut hadiah-hadiahnya, Enne tidak bisa menghentikan kebahagiaan putrinya, sudah lama dia tidak melihat Valarie seceria itu.
"Oh iya, aku lupa bilang, keponakan suamiku tadi datang untuk istirahat, apa kalian bertemu?" tanya Laura penasaran.
"Iya kami sudah bertemu ma" jawab Enne canggung.
"Ooh lalu dimana dia?" tanya Laura lagi.
"Aku disini tante?" sahut Aron yang baru saja turun.
Laura tersenyum, dia menatap hangat ponakannya, sama seperti saat dia melihat putranya.
"Aku belikan kamu makanan karena pasti kamu kelaparan, kebetulan Adrienne dan cucuku datang, ayo kita makan bersama" ajak Laura terlihat sangat senang.
Aron menyambut ajakan Laura dengan senyuman dibibirnya.
"Tentu saja, kalau itu yang membuat tante senang" sahutnya.
Semua makanan sudah ditata rapi oleh bibi yang beberapa tahun ini dipekerjakan Laura, keempat orang sudah duduk ditempatnya masing-masing.
Wajah manis dan tampan Aron benar-benar membuat Adrienne tak bisa fokus menikmati makanannya, entah mengapa sejak tadi dadanya terasa aneh.
'Apa aku gila? Aku tidak mungkin menyukai dia, aku pasti hanya terpesona, itu saja, ini wajar, wanita manapun pasti terpesona melihat wajah Aron, tapi kenapa dulu aku tidak merasa begitu yah? Apa karena saat itu aku tidak terlalu memperhatikannya? Ah sudahlah sebenarnya apa yang sedang kupikirkan, ayo makan, lupakan pikiran tentang dia' batin Enne.
...*...
...*...
-Bonus-
✨ Aron ✨
❤️ Deon ❤️
🌟 Louis 🌟
Mwueeehhehhehehehehhehee oleng kan???😌
__ADS_1