MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
7


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


"Edric kau tidak mengerti, tolong pulangkan aku" Enne mulai menangis.


"Kita sudah sampai, ayo turun" ajak Edric, suaranya lemah tak berdaya.


"Tidak, aku tidak mau, kalau ibu melihat perutku, aku harus bilang apa? Aku malu Edric" teriak Enne, dia menolak membuka matanya dan memilih bersembunyi didalam mobil.


"Katakan saja semuanya! Turunlah" Edric memaksa Enne.


"Tidak, aku tidak mau, pokoknya aku tidak mau" Kali ini Enne menolak dengan halus, dia benar-benar tidak mau mengecewakan ibu pantinya.


Edric menghela nafasnya, dia juga berat membawanya tapi kalau Enne sampai tidak tahu dia pasti akan lebih sedih.


"Enne buka matamu, lihat lah alasan kenapa aku membawamu kesini" suami Tiara tak tahan lagi, dia sudah menangis.


Meski butuh beberapa detik akhirnya Enne memberanikan diri, dia membuka mata dan melihat tepat didepan panti terpasang tenda dan bendera putih yang tertancap disana.


"Sekarang kamu mengerti kan? Jadi ayo turun karna sebentar lagi ibu akan dimakamkan"


Adrienne membeku ditempatnya, matanya membulat sempurna, sebenarnya kenapa hari ini dia terus mendengarkan hal aneh.


"Kau bilang apa? Ibu dimakamkan? Haha Edric kau mabuk yah? Ibu panti tidak mati, pasti kau salah dengar, jangan berbohong" dengan segala tenaganya, Adrienne menolak kenyataan, dia tidak akan pernah percaya kata-kata Edric.


Edric semakin sedih, dia sangat tahu kalau sahabatnya ini sangat menyayangi ibu panti, itu sebabnya dia hanya bisa diam dimobil karna kalau sampai Enne tahu, pasti wanita itu akan kacau.


"Enne maafkan aku, ibu benar-benar sudah pergi, kumohon masuklah dan temui dia sebelum jasadnya tidak bisa kau lihat lagi, aku tahu kau lebih kuat Enn tolong masuklah"


Air mata Edric tak terbendung, hatinya remuk, dia amat sangat tahu Adrienne sedang tidak baik-baik saja.


Sejak kecil Enne tak pernah berhenti mengatakan kalau dia sangat menyayangi ibu panti, telinga Edric sampai panas mendengarkan curhatan sahabatnya.


Setiap hari dia akan berlari kesana kemari sambil menceritakan betapa baik dan ramahnya ibu Salma, dia juga tak tahan kalau tidak membanggakannya, saat bertemu Edric, Enne akan berceloteh tentang hadiah-hadiah yang diberikan atau perlakukan lembut ibu panti.

__ADS_1


Kenangan lama itu sudah cukup memberitahu setidak rela apa Enne sekarang, baginya pasti sulit menerima kenyataannya.


Tapi Edric harus membujuknya, jika Enne tidak melihat ibu Salma untuk yang terakhir kalinya, dia yakin sahabatnya ini akan sangat menyesal.


"Enne, ayo" ajak Edric lembut.


Adrienne menggigit bibirnya, dia harus kembali sadar, kalau sampai dia melewatkan dan tidak melihat ibu pantinya, itu akan jadi penyesalan terbesar Enne.


"Pegang aku Edric, kakiku lemas, semoga aku sanggup melangkah ke tempat ibu" pintanya mencoba tegar.


Mata Enne berkaca-kaca, pahit sekali rasanya, niat hati akan bertemu saat sukses nanti ternyata orang yang sangat dia sayangi berpulang tanpa tahu sebesar apa anak yang disayanginya mengecewakan dirinya.


'Ibu, tolong jangan marah, aku pulang membawa aib, maafkan aku ibu' batin Enne.


Langkah demi Langkah mengikis jarak antara Adrienne dan ibu kesayangannya, sayang sekali , dia terlambat, Salma sudah dimakamkan, yang tertinggal hanya kuburan penuh bunga tanpa sempat Enne melihat wajah ibu pantinya.


Orang-orang berlalu pergi sedang Edric dan Enne tetap disamping makam ibunya, tak terbayangkan betapa patah hati Enne, dia hanya diam dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


'Apa kabar ibu? Maaf aku datang terlambat, katanya ibu pergi dengan senyuman? Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya tapi baguslah, itu bisa mengurangi kesedihan ku, setidaknya aku tahu ibu sudah sampai di tempat yang lebih baik'


Enne masih menangis.


Lama waktu berlalu dan sore menggantikan siang yang sempat bersinar terik dan menyengat masuk kedalam kulit Enne tapi dia tidak peduli, baginya luka batin yang dialaminya lebih dahsyat dibanding hal kecil itu, dia hanya merasakan sedih yang diapun tidak bisa menawarnya agar berhenti.


"Ayo kita pulang" ajak Edric, dia tidak bisa membuat Enne berada lebih lama disini karna keadaannya pasti sangat lemah.


Tentu saja Enne menggeleng "Tidak! Aku ingin bersama ibu lebih lama lagi" dia memeluk makam Salma, sesayang itu dia dengan ibu pantinya.


Edric menghembus nafas berat, dia juga ingin membiarkan Enne tapi keadaannya yang tengah berbadan dua membuat Edric tidak bisa melihatnya begitu saja.


"Enne, aku tahu kamu lelah, ayo kita pulang, kumohon pikirkan bayi yang ada didalam perutmu" saran Edric, kali ini Enne melihat perutnya dan berhasil dibujuk.


"Baiklah, ibu, aku akan datang lagi nanti, tunggu aku yah" ujarnya berusaha tegar.


Edric kembali memapah sahabatnya dan mereka kembali dengan tenang dimobil.


Edric menyetir dengan santai, sedang Enne masih melamunkan tentang bagaimana harinya berlalu tanpa ada ibu Salma, akankah dia tidak merindukan ibunya itu.

__ADS_1


'Apa aku beritahu saja tentang ayah bayiku ini' pikir Enne.


Mungkin karena terkena dampak dari kesedihannya, Enne mulai menggumam asal dan sesekali menggigit bibirnya sampai puas.


Edric tidak begitu fokus memperhatikan sahabatnya karna dia juga larut dalam kesedihannya, ibu Salma juga adalah orang yang sangat disayanginya, dia tahu ibu pantinya sakit maka dari itu tidak bisa datang ke pernikahannya.


Dia marah karna tidak begitu memedulikan ibu panti dan sibuk dengan dunia barunya, padahal Salma adalah orang yang merekomendasikan Edric untuk di adopsi dikeluarga Walden.


Belum sempat dirinya berterimakasih atas semua kebaikan dan keberuntungan yang diterimanya, Salma malah lebih dulu meninggalkannya, tentu saja penyesalan sangat besar dihati Edric.


Didalam mobil yang hening tiba-tiba Adrienne menyuruh sahabatnya untuk mengehentikan mobil.


"Tolong berhenti sebentar"pintanya.


Edric mendengarkan dan patuh dengan permintaan Enne, dia bertanya-tanya kenapa sahabatnya menyuruh berhenti ditempat sepi seperti ini.


"Ada apa Enne?" tanyanya.


"Aku ingin menjawab pertanyaanmu" sahutnya pelan, tatapannya kosong, seolah bibirnya bergerak tanpa dia sadari.


"Pertanyaan? Seingatku, aku tidak menanyakan apapun" jawab Edric masih tidak mengerti dengan sikap Enne.


"Bukankah kau pernah bertanya tentang ayah dari bayiku ini?"


Edric terkejut, kenapa tiba-tiba sahabatnya mengungkit hal yang selama ini mati-matian dia sembunyikan sendiri.


"Enne, kau yakin? Seingatku kau bahkan sampai mengusirku karna-


"Ayahnya adalah Louis Vit" tanpa basa-basi Enne memotong kalimat Edric dan meneruskan ucapannya.


Edric meragukan pendengarannya, nama yang disebutkan Enne bukanlah sembarang nama, seketika terlintas dipikiran Edric, apakah sahabatnya menjadi gila karna kematian ibu panti.


"Apa kau sesedih itu?" Edric semakin simpati.


...*...


...*...

__ADS_1


...Ini udah direvisi kalo masih aneh,di komen deng! Mengoreksi lebih baik daripada membiarkan hehe, thank you for your support deng, baiiii💜...


__ADS_2