
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Drrrrt~
Drrrrt~
Suara handphone menyadarkan Enne dari kegilaannya, dia masih membayangkan kejadian tadi, segera dia mengangkat telfon itu.
"Halo"
"Cepat kerumahku, sekarang Adrienne" tiba-tiba saja suara dari seberang menginterupsi Enne, dia tegang hanya karna satu kalimat, perasaannya tidak enak, Edric tidak pernah terdengar semengerikan itu.
Tiiiiiiiiit
"Ha-Halo? Halo, kenapa? Ada apa? hei"
'Sebenarnya ada apa sampai Edric menyuruhku kerumahnya? Apa dia bertengkar dengan Tiara? Tapi dia bukan pria yang kasar kok, sebaliknya dia penuh kasih sayang, ah apa Tiara bosan dengan Edric dan hubungannya jadi renggang? Tck, dia memang rada membosankan sih' batin Enne.
-
Hampir sejam Enne mendandani dirinya, apalagi sekarang sangat sulit menemukan baju yang cocok karna perutnya yang semakin besar .
Uangnya hanya digunakan untuk beli makan dan ditabung untuk perlengkapan bayinya, kalau mau beli bajupun, dia hanya akan membeli dua atau paling banyak tiga baju hamil karna harganya yang sangat mahal.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan Enne bersiap pergi, dia terus merasa melupakan sesuatu sehingga menghambatnya untuk berangkat.
"Aku kenapa yah? Rasanya seperti lupa sesuatu, ah sudahlah Edric pasti mengomel kalau aku datang lebih lama lagi, sepertinya itu bukan hal yang penting, nanti aku pinjam di Tiara kalau benar aku lupa bawa sesuatu" Monolognya menenangkan diri.
Enne pergi dari apartemen, dengan pelan dia menuruni tangga, tentu dia tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya, sekejap dia lega karna posisi kamarnya yang berada dilantai dua.
Dia tidak bisa membayangkan betapa kesulitannya dia kalau kamarnya berada dilantai yang lebih tinggi.
"Ish harusnya Edric mengirim sopirnya, masa aku harus naik taksi hiks, terpaksa uang untuk beli susu berkurang" gerutu Enne agak kesal, dia menyayangkan uang yang akan digunakan untuk membayar taksi, dia tau tarifnya pasti tidak akan murah, apalagi jarak rumah Edric sangat jauh dari apartemennya.
"Padahal yang butuh dia tapi kenapa jadi aku yang tersiksa begini, harusnya jemput aku saja Edric Walden" lanjutnya masih tak terima.
Setelah mengeluarkan uneg-unegnya barulah Enne naik taksi dan melanjutkan perjalanannya ke kediaman Walden.
__ADS_1
Enne turun dari taksi, dia menganga karna takjub, padahal dia sudah pernah berkunjung tapi tetap saja dia takjub dengan rumah sahabatnya.
"Gila, mau dilihat bagaimanapun, rumahnya memang seperti istana" celetuk Enne tanpa sadar.
Dengan langkah pelan dia mendekati gerbang dan mulai memencet tombol untuk belnya.
Terakhir kali Enne datang, dia hampir pingsan karna mengira ada hantu digerbang rumah Edric, padahal itu hanya gerbang otomatis yang terbuka sendiri jika si pemilik menekan tombol yang ada didalam rumahnya.
Waktu itu dia benar-benar seperti orang yang baru keluar dari goa, ada banyak hal canggih dikediaman Edric, ya tidak heran sih sahabatnya kan pemilik perusahaan IT, tentu saja rumahnya bergaya modern.
Dia masih asik menekan tombol bel.
Ding-dong~
Ding-dong~
Tak lama terdengar suara dari speaker yang ada dibawah bel "Siapa?" tanyanya.
Enne terkekeh "Hehe ini aku Enne" sahutnya.
"Oh Adrienne akhirnya kamu datang, sudah kubuka, masuklah, baru-baru ini Edric mengubah jalan menuju rumah menjadi Lift, kau tinggal memencet tombolnya seperti naik lift biasa" Jelas Tiara sedikit mengintruksi, dia berharap Enne tidak bingung saat gerbang terbuka.
"Oh baiklah" jawab Enne singkat.
tapi posisinya agak membingungkan.
"Waow aku masih merasa ini semua mimpi, Edric menjadi kaya raya rasanya masih tidak masuk akal" Monolognya kagum.
Pintu Lift terbuka dan Enne masuk kedalam, Tidak seperti lift pada umumnya, dikediaman Edric, liftnya berjalan lurus seperti kereta, jangan lupakan kursi yang disediakan didalam dan dindingnya transparan jadi bisa langsung melihat pemandangan diluar.
Sepertinya lift digerbang kedua ini disediakan untuk orang tua atau ibu hamil seperti Enne, untung saja tadi dia tidak lewat gerbang satu karna kebetulan juga lokasinya cukup jauh dibanding pintu yang ini. Yah kalau ada yang mudah kenapa pilih yang susah.
"Canggih sekali" komentar Enne masih terkagum-kagum, setelah sampai dia langsung berjalan masuk keruang tamu yang ternyata sudah ada Tiara dan seseorang yang membuat perasaan Enne jadi tidak enak.
"Oh Adrienne, sebenarnya aku mau kamu bergabung denganku tapi Edric sudah menunggumu, dia keliatan aneh, coba kamu cek ada apa dengannya" tanyanya setengah berbisik.
"Aneh? Hm, baiklah, dimana dia sekarang?"
"Dia ada di gerbang depan, sudah hampir dua jam dia dimobil, oh iya Edric juga berpesan sebelum kamu menemuinya ganti baju dulu, pakaiannya sudah disiapkan, ayo ikut aku" Jelas Tiara sementara menuntun Enne kekamar untuk ganti pakaian.
'Aneh sekali, sejak terakhir kali aku bertemu, istri Louis selalu saja menatap kesal padaku, apa aku ada salah dengannya?' Enne membatin.
__ADS_1
"Kamu sangat akrab dengan Eliza?" tanya Enne hanya basa-basi.
"Ah, ya lumayan tapi tidak seakrab itu kok, hari ini dia datang karna katanya ada yang mau dibicarakan, kenapa? Kamu ingin bicara dengannya?"
"Tidak tidak, aku hanya penasaran saja"
"Ooh, masuklah, selesai ganti baju langsung ke tempat Edric yah, kalau begitu aku pergi dulu"
Tiara langsung pergi meninggalkan Enne yang baru saja masuk ke ruangan, diatas meja ada sepasang baju berwarna hitam yang dia yakini adalah baju duka.
Seketika perasaan Enne tak enak, mati-matian dia berpikir kalau bisa saja itu hanya baju biasa, setelah memakainya Enne langsung pergi menemui Edric.
Pelan-pelan Enne mendekati mobil sahabatnya, didalam ada Edric, seperti yang dibilang istrinya, dia terlihat aneh, setau Enne, Edric bukan orang yang suka melamun.
Tok~
Tok~
Ketukan Adrienne menyadarkan Edric dari lamunannya, meski begitu dia langsung membuka kunci mobil dan menyuruh sahabatnya masuk.
"Masuklah kita sangat terlambat" suara Edric serak, Enne semakin curiga sesuatu yang buruk mungkin sedang menantinya.
"Kita mau kemana dengan pakaian seperti ini?" tanyanya memastikan.
Edric diam, dia hanya fokus menyetir tanpa sepatah katapun meladeni berbagai pertanyaan dan ajakan Adrienne untuk mengobrol.
'Kenapa Edric dingin sekali? Apa aku ada salah? Tidak biasanya dia seperti itu, seingatku hanya sekali dia pernah menunjukkan ekspresi itu dan itupun saat teman sepanti kita meningg—, tu—tunggu! Apa ada anak panti yang meninggal?'
'Ah apa itu sebabnya dia menyuruhku berpakaian serba hitam? Astaga siapa yang meninggal? Jangan bilang Lili, atau Dita? Tidak, aku harus tenang, mungkin saja ini hanya kekhawatiran yang berlebihan' batin Enne.
"Apa kau akan tetap diam?" lagi-lagi Enne bertanya tapi percuma, Edric tak akan mau membuka mulutnya sebelum dia sampai ditujuan.
Mobilnya melaju cepat, terkesan terburu-buru seperti dikejar waktu, Enne menarik kesimpulan, dia paham kalau Edric akan membawanya ke panti tapi entah apa alasannya sampai dia masih tidak ingin menjawab.
Seketika muncul dipikiran Enne, sesuatu yang selama ini dia sembunyikan, benar perutnya, kalau ibu panti yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri melihat perutnya, dia akan ketahuan hamil dan membuatya kecewa.
Adrienne tidak siap, dia malu kalau perutnya kelihatan, dirinya tidak sanggup kalau harus melihat kekecewaan diwajah ibu pantinya, Enne benar-benar tidak ingin kesana.
"Jangan bilang kita akan ke panti" Enne gemetar, dia tidak mau.
Edric tetap bungkam.
__ADS_1
"Bawa aku pulang, aku tidak mau kesana Edric, aku mau pulang, aku tidak mau bertemu ibu panti" teriak Enne gelisah, jelas sekali dia tidak ingin berjumpa.
...Ini udah direvisi kalo masih aneh,di komen deng! Mengoreksi lebih baik daripada membiarkan hehe, thank you for your support deng, baiiii💜...