
...-Selamat Membaca-...
...*...
...*...
Sebenarnya Louis ingin menyerah, dia juga tidak ingin membuat Adrienne terjebak dalam satu hubungan yang menyulitkannya.
Tapi dia, ingin sekali memeluk dan mendekap tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu. Dengan hati lapang, Louis berlutut didepan Enne, memohon agar dia bisa diterima lagi.
Adrienne terkejut.
Wanita itupun tidak tahu harus menjawab apa, bukan maksudnya menyakiti perasaan Louis, apalagi pria ini baru mendapatkan ingatannya, tapi apa jadinya kalau Eliza melihat semua ini? Pasti lebih banyak masalah yang timbul dan mungkin saja, suatu saat Valarie akan ikut terseret dalam masalahnya.
"Kenapa kau mempersulit ku Louis? Memang apa salahku? Kenapa kau sampai berlutut seperti ini? Apa kau lupa, kau ini aktor terkenal? Media selalu mengincarmu, bagaimana aku dan Valarie akan hidup kalau tingkahmu membuat orang salah paham begini?" ungkap Enne, suaranya tidak terdengar marah tapi lebih mengarah ke meminta pengertian si Louis.
Suami Eliza tidak mengindahkan pertanyaan Adrienne, dia masih berlutut dengan wajah menunduk, keinginannya masih sama, memeluk dan meminta rasa yang dulu Enne punya untuk Louis kembali.
"Aku tidak akan pergi, sebelum kamu jelaskan, alasan kenapa lima tahun lalu kamu tidak mengatakan saja yang sebenarnya, saat aku mengantarmu pulang dari pesta pernikahan Edric?" tanya Louis, dia bersikukuh.
Seketika terlintas pula ingatan saat Louis memaksa mengantarnya ke villa.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau kuberitahu sedang mengandung anakmu? Apa kau akan percaya dan menjadi senang karenanya?" ucap Enne tak habis pikir dengan pria didepannya ini.
"Jadi kamu benar-benar ingin aku melupakan semua yang terjadi hari itu? Termasuk janji kita untuk menikah?" tanya Louis, dia sudah hilang harapan.
Adrienne menelan salivanya. Dengan berat hati dia menjawab pertanyaan itu.
"Iya, lupakan saja, toh semua sudah lewat" Enne langsung menjawabnya, membuat Louis tak mampu berkata-kata lagi.
Dia bangkit dan berdiri didepan pintu rumah wanita yang sangat dicintainya, menatap sedih keacuhan yang nampak jelas diwajah Adrienne, perih terasa dihatinya tapi jika memang harus melupakan semua, Louis ingin melakukan satu hal.
Dia begitu cepat melekatkan dirinya dengan Adrienne, erat sekali pelukannya sampai-sampai ibu Valarie merasa sesak dan terpaksa mendorong tubuh lemah Louis.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Enne tak habis pikir.
'Sudah susah payah aku melupakanmu, jangan buat aku kembali mengharapkan dirimu Louis' batinnya sedih.
Louis tak berani menatap mata Enne, dia memang tidak sadar memeluknya, tanpa mengatakan apapun lagi, Louis berbalik dan meninggalkan Adrienne, dia sangat malu.
Sedangkan Enne hanya mematung karena tidak menemukan jawaban atas pelukan yang dilakukan Louis.
...*...
...*...
__ADS_1
Esok hari yang dinanti Adrienne bukanlah sesuatu yang luar biasa, dia hanya ingin menjalani hidup sederhana bersama putrinya.
Tapi sepertinya keinginan itu harus dipendamnya karena tiba-tiba saja berita tentangnya dan Louis menyebar luas, begitupula dengan Eliza yang ditampar dan disiram minuman didepan banyak orang.
Tiba-tiba saja, dalam waktu satu malam kehidupan tenang itu raib diambil waktu.
Para wartawan berkumpul didepan pagar rumah Adrienne, Valarie yang belum sadar dengan kejadian itu masih asik menonton dan menikmati hari liburnya.
Kekhawatiran Enne memuncak saat memikirkan tentang masa lalunya.
'Bagaimana jika mereka memperkeruh suasana dan mengatakan hal yang tidak terjadi? Aku harus bagaimana?' batin Enne gelisah.
Dengan cepat dia menelfon Tiara, berita-berita itu mungkin bisa dihilangkan dengan kekuatan Edric.
Drrt
"Halo Enne, aku baru lihat beritanya, kamu ada hubungan dengan Louis?" tanya Tiara menggebu-gebu.
Adrienne menggeleng.
"Tidak Tiara, aku juga tidak tahu kenapa masalahnya jadi serunyam ini, aku benar-benar tidak punya hubungan apapun dengannya" jelas Enne, ya jawabannya tidak salah sih.
"Lalu kenapa Louis sampai berlutut begitu didepanmu? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" selidik Tiara tak percaya.
"Baiklah, semuanya sudah se-kacau ini jadi lebih baik kukatakan saja! Tiara, sebenarnya Louis itu ayahnya Valarie" ungkap Enne pasrah.
"APAAAAAA?" teriak Tiara dari seberang.
Tentu saja dia terkejut! Sudah sejak lama Tiara mempertanyakan kemiripan Valarie dengan orang yang dia kenal dan bodohnya, dia tidak pernah menyadari kesamaan wajah Louis dan Valarie yang bagaikan pinang dibelah dua.
"Iya, Louis memang ayahnya, kemarin dia datang karena katanya baru ingat semuanya, tapi aku mengusirnya karena aku tidak mau menyakiti perasaan istrinya, aku bahkan sudah menasehatinya Tiara, tapi dia keras kepala sekali" jelas Enne ikut menggebu.
"What? Maksud kamu dia benar-benar ayah kandung Valarie? Gila! Aku tidak percaya mendapatkan kabar ini darimu langsung- ah sudahlah jangan bahas ini dulu, bagaimana keadaanmu disana? Pasti banyak wartawan dirumahmu kan?" tanya Tiara khawatir.
"Itu sebabnya aku menelfonmu, tolong bantu aku meredakan berita ini, aku akan lakukan apapun yang kamu mau, kumohon" pintanya ketakutan.
Tiara semakin khawatir.
"Kamu tenang saja, meskipun Edric sedang di luar negeri, aku tetap bisa menangani berita kecil seperti ini, tapi kamu janji harus jelaskan semua yang terjadi padaku agar aku bisa membuat berita yang bisa membuat namamu tetap baik, sebentar lagi aku akan mengirim sopir dan juga bodyguard kesana, ingat saat keluar usahakan tidak ada satupun yang terlihat, tutup seluruh wajahmu begitupun Valarie dan jangan memakai pakaian yang selama ini sudah pernah kamu gunakan, kamu cukup ikuti arahan bodyguard, apa kau mengerti?" jelas Tiara dari seberang.
Adrienne mengangguk.
"Iya aku mengerti!" Sahutnya.
"Baiklah kalau begitu cepatlah, suruhan ku akan datang 10 menit lagi, aku tutup, berhati-hatilah" titah Tiara.
__ADS_1
Adrienne segera mendekati putrinya, dia mengelus pucuk kepala anaknya, berharap Valarie tidak terlalu peka dengan situasi yang terjadi.
Valarie melirik ibunya.
"Kenapa ma?" tanyanya penasaran.
Adrienne tersenyum.
"Mama punya kejutan untukmu" kata Enne tenang.
"Benarkah? Kejutan apa ma?" tanyanya lagi, senyum Valarie mengembang.
"Mama harus menutup matamu dulu! Valarie juga tidak boleh mendengar apapun jadi harus pakai headphone ini" ucap Enne.
"Baiklah ma" patuh Valarie.
Enne menuntun putrinya, menambahkan jaket, sepatu, topi dan mengikat rambut anaknya lalu digulung masuk kedalam, sampai Valarie benar-benar tidak terlihat gendernya.
Beberapa menit lagi sopir Tiara akan datang, cepat-cepat Enne menutup semua jendela rumahnya dan menguncinya, dia tidak ingin para wartawan nekat dan masuk kedalam rumahnya.
'Kenapa aku harus merasakan semua ini?' batin Enne kesal.
Tiara menelfon Enne lagi dan memberitahu kalau bodyguardnya sudah ada didepan pintu.
Adrienne keluar dari rumahnya, mengunci rapat pintunya dan bersembunyi dibalik empat tubuh besar pria yang melindunginya.
Suara wartawan nyaring terdengar ditelinga Enne, membuat kakinya lemas, padahal dia sudah memakai earphone tapi ternyata tidak begitu mempan menutup telinganya.
Untung saja Valarie memakai earphone dan headphone jadi dia yakin putrinya tidak akan mendengar apapun.
"BISA JELASKAN KEJADIAN KEMARIN?"
"APA ANDA PUNYA HUBUNGAN DENGAN LOUIS?"
"APA PENDAPAT ANDA DENGAN BERITA YANG MUNCUL?"
"BENARKAH ANDA ORANG YANG MENAMPAR ISTRI LOUIS?"
Begitu banyak pertanyaan yang didengar Enne, pikirannya terganggu tapi susah payah dia melawan traumanya agar putrinya tidak melihat kelemahannya.
Akhirnya para bodyguard menuntunnya masuk mobil dan saat itulah Adrienne bisa bernafas lega.
...*...
...*...
__ADS_1