
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Adrienne melirik putrinya yang terlelap nyenyak dalam mimpinya, seketika ada rasa lega di dadanya karena melihat Valarie yang tertidur pulas.
Keberadaan Aron cukup membuatnya tak nyaman karena terus dijejali pertanyaan mengenai tujuan Enne ke rumah Laura.
Meski ragu, akhirnya Adrienne memilih menjawab saja pertanyaan pria tampan pemilik lesung pipi itu.
"Seperti yang kau tahu, aku sedang tersangkut skandal dan aku ingin pergi dari lingkungan ini karena beritanya tidak baik untuk mental putriku, apalagi itu semua hanya berita bohong, aku yakin suatu saat beritanya akan hilang jadi lebih baik aku membawa Valarie ke tempat yang lebih tenang" jelasnya tegang.
Aron menatap Adrienne, baginya ketegaran dan kecerdasan Enne sangat membuatnya kagum, dia terus tertarik dengan pesona wanita cantik didepannya.
"Bagaimana dengan rumahku? Disana juga cukup tenang" ajak Aron tiba-tiba.
Dia tak sadar mengatakan kalimat itu, Enne jelas kaget mendengarnya, apalagi mereka berdua tidak cukup akrab untuk saling mengajak tinggal seatap.
"Kurasa kita tidak cukup akrab untuk bisa dengan nyaman tinggal serumah" sahut Enne mencoba memperjelas pikirannya tapi Aron tidak peduli dan masih melanjutkan kekagumannya.
"Kalau begitu, ayo kita akrab, apa yang harus kulakukan agar bisa dekat denganmu?" tanyanya masih tak sadar.
Adrienne lagi-lagi tak bisa mengikuti alur percakapannya dengan Aron yang sangat tidak terduga.
"Apa kau serius mengatakan itu?" tanyanya ragu.
"Tentu saja" sahutnya cepat, pandangannya tidak teralih dan hanya menatapi Enne yang mulai merona karena mendengar pernyataan manis Aron.
Wanita mana yang tidak tergoda melihat wajah tampan berlesung pipi dengan senyum manis tercetak jelas di mukanya? Seorang Adrienne pun pasti punya hati dan perasaan untuk sekedar jatuh hati.
"Kau playboy ya? Mana ada pria yang terang-terangan mengajak akrab sepertimu" ungkap Enne gugup, dia tidak tahu harus mengatakan apa dan menjawab asal pernyataan Aron
Aron terkekeh.
"Maaf! Sepertinya aku terlalu bersemangat, lain kali aku akan mengajakmu akrab lagi, semoga saat itu kau tidak memasang wajah judes seperti ini" Jawab Aron, dia menekan dahi Enne yang mengerut.
"Tapi Enne, kalau aku ada rasa denganmu, apa aku punya kesempatan untuk bisa sehidup semati bersamamu?" lanjutnya masih penasaran, kalau bukan sekarang mungkin Aron tidak akan punya keberanian lagi menanyakan hal itu.
Adrienne menatap Aron dengan serius.
'Kenapa pertanyaannya sangat mirip dengan pertanyaan ku?' batin Enne heran.
"Bisa saja" jawabnya singkat, Aron langsung mengembangkan senyumnya setelah mendengar kemungkinan itu, dia merasa bahagia karena memiliki kesempatan.
__ADS_1
"Hehe, tapi aku penasaran dengan Louis, kenapa dia mendatangimu, apa kau akrab dengannya?" tanya Aron penasaran, kebetulan dia ingat ayah kandung Valarie sempat datang tadi.
"Tidak usah bahas pria itu, aku benci mendengarnya" hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Adrienne.
Aron paham dan segera mengalihkan pembicaraan.
"Jadi kau ingin kerumah Deon? Apa kau ingin aku mengantarmu? Sepertinya kau belum sadar sepenuhnya, lebih baik biar aku saja yang mengantarmu kesana" usulnya khawatir.
Adrienne mengangguk dan mengiyakan saja permintaan Aron.
"Lakukan saja semaumu, aku percaya denganmu" sahut Enne.
"Baiklah, kau beberes dan aku akan menunggumu di mobil, biar aku yang gendong Valarie ke mobil, panggil aku kalau kamu butuh bantuan" jawab Aron lagi.
Dengan pelan dia mengangkat si putri kecil agar tidak terbangun dari tidurnya, setelah berhasil Aron langsung membawa Valarie kedalam mobil, untung saja dia tidak membangunkan anak Enne.
...*...
...*...
Louis kembali lagi ke kediamannya dan mendapati istrinya yang sudah mengemasi barang-barang dan berencana pergi dari rumahnya.
Tanpa berkata apapun, Eliza berniat keluar tapi suara Louis yang mencekam menghentikan Langkahnya.
"Sudah kubilang tarik orangmu, tapi kau berani membiarkan dia berada di rumah Adrienne? Apa kau tidak punya otak? Kau benar-benar ingin karirmu hancur?" tanyanya kesal, suaranya yang rendah dan berat secara bersamaan, membuat bulu kuduk Eliza merinding.
Pernyataan Eliza membuat Louis bingung, lalu siapa pria yang ada didalam rumah Enne dan kenapa dia tidak terlihat seperti orang jahat? Louis jadi kesal memikirkannya.
'Apa benar, dia calon suami Enne?' batin Louis penasaran.
"Tck, mengganggu saja! Cepat pergi dari rumah ini, dan satu lagi, kau harus datang dipersidangan, kalau tidak, aku akan benar-benar merusak karirmu, kau tahu ini bukan ancaman belaka kan?" kecam Louis tak tahan melihat wajah Eliza.
"Iya aku akan datang" sahut Eliza, kakinya gemetar, hilang sudah semua keberanian yang selalu diperlihatkannya, dengan cepat dia berlalu meninggalkan pria tampan itu.
Malam ini, berakhir juga kisah cinta Eliza dan Louis, tidak ada satupun yang tersisa, bahkan kenangan-kenangan mereka menghilang secepat angin berhembus.
Bagi Louis, dia bisa bernafas lega melepaskan wanita yang sudah salah dinikahinya tapi bagi Eliza, perasaannya campur aduk, padahal banyak kesempatan yang bisa merubahnya jadi lebih baik tapi karena hati Louis yang lemah dan mudah goyah, membuatnya kembali ke sifat lamanya.
'Padahal aku benar-benar mencintaimu, aku bahkan rela di tiduri mantan pacarku hanya demi memisahkan kalian berdua, tapi sepertinya usahaku tidak ternilai apapun untukmu' batin Eliza sedih.
Dia terus berjalan, meninggalkan rumah yang sudah lima tahun bersamanya, berat rasanya pergi tapi Eliza tahu, Louis tidak akan pernah menerimanya lagi.
"Aku hanya memilih jalan yang berbeda dengannya, tapi kenapa rasanya sakit sekali bersimpang jalan denganmu Louis?" ucap Eliza, air matanya mengucur pelan disela-sela matanya, betapa sedih dia dengan perpisahan ini, banyak penyesalan menghampirinya, dia masih ingin memadu kasih dan berbagi cinta dengan suaminya tapi sayang takdir berkata lain.
Disisi lain, Aron dan Enne sudah diperjalanan menuju rumah Deon yang terletak dipinggiran jalan, sejak tadi pria berlesung pipi itu terus mengajak Adrienne bercanda, dia benar-benar menunjukkan ketertarikannya.
__ADS_1
"Hentikan candaanmu Aron, sama sekali tidak lucu" komentar Enne sambil tertawa kecil.
Aron ikut tersenyum.
"Kalau tidak lucu, kenapa kau tertawa? Kamu bohong!" sahut Aron lagi.
Akhirnya mereka berdua justru larut dalam candaan yang dilakukan Aron.
"Aku tidak menyangka kalau kau suka lelucon orang tua" ungkap Enne.
"Aku belajar dari ayahku, dia bahkan lebih parah dariku, apa kau ingin dengar salah satu leluconnya?" tawar Aron tidak mau salah.
Adrienne menatap Aron yang fokus menyetir, dari matanya terlihat jelas ada perasaan yang tumbuh diantara mereka berdua.
"Baiklah, coba sebutkan, aku akan menilai siapa yang leluconnya paling receh" tantang Enne.
"Oke dengarkan baik-baik Enne, aku hanya akan mengatakannya satu kali, Apa kamu tahu burung apa yang paling mahal di dunia?" tanya Aron sudah menahan tawanya.
Adrienne berfikir sejenak.
"Burung merak" jawab Enne tapi Aron menggeleng karena jawabannya salah.
"Salah" katanya.
"Lalu burung apa?" tanya Enne lagi.
"Burung hantu" ungkap Aron.
Adrienne mengernyit karena tak mengerti kenapa burung hantu bisa jadi burung yang paling mahal.
"Kok bisa?"
"Iya burung hantu tapi sekalian beli dengan hantu-hantunya HAHAHAHAHA" tawa Aron meledak, sedang Enne hanya menatapnya heran, entah dibagian mana yang membuat Aron tertawa seperti itu.
"Kamu benar! Lelucon ayahmu lebih parah dibanding leluconmu, setidaknya aku masih bisa tertawa saat kau bermain tebak-tebakan tadi" jelas Enne, dia paham kenapa Aron bisa sereceh itu, ternyata menurun dari ayahnya.
"Hahahaha, kau mirip sekali dengan ibuku, dia juga sangat benci candaan ayah, sepertinya kita bisa jadi keluarga" ucap Aron tiba-tiba.
Adrienne melirik Aron yang masih terkekeh.
"Kau bisa saja" sahut Enne tak begitu serius menanggapi kalimat Aron.
Malam ini, Adrienne menyadari, dia sudah mulai menerima keberadaan Aron dan bahkan merasa akrab dengannya, seperti ada satu pembatas yang menghilang diantara mereka.
...*...
__ADS_1
...*...