
...-Selamat Membaca-...
...*...
...*...
"Jadi Enne belum cerita?" tanyanya masih setengah kaget, dia pikir Adrienne akan mengatakan semuanya pada calon suaminya.
'Ternyata kau tidak seterbuka yang aku pikirkan Enne' batin Louis.
"Belum! Tapi seperti yang kau inginkan, aku akan menjaga Valarie seperti darah dagingku sendiri, bahkan aku memang berpikir kalau dia anak kandungku, jadi kau tidak perlu khawatir, dia akan aman dan bahagia bersamaku, jadi kau boleh pergi dan tolong jangan temui Enne dan jangan bertingkah melewati batas" jelas Aron, dia tetap bisa menjaga perasaannya agar tidak membabi buta mengeluarkan amarahnya.
Louis masih menunduk, jawaban Aron semakin membuatnya lemas tapi disatu sisi dia bahagia karena Enne menemukan lelaki yang pantas untuknya.
"Baiklah, aku pamit, maaf sudah menggangu hari kalian" sesalnya, dia meninggalkan Aron yang masih memegangi payungnya, tubuhnya basah kuyup dan dia terus berlari mencoba menenangkan hati dan perasaannya yang semakin menggila.
'Padahal aku sudah ikhlas, tapi kenapa rasanya ada yang ganjal? Kenapa aku malah semakin merindukan dan menginginkan Enne bersamaku? Arghh aku bisa gila karena mu Enne' batin Louis lagi.
Aron menatap punggung Louis yang semakin menjauh hingga akhirnya dia menghilang di ujung lorong, tangannya mengepal dan dia menggigit keras bibirnya hingga darah terlihat menggumpal disana.
Jelas sekali, dia kesal!
Dia tahu akan ada sesuatu yang berubah, Aron berpikir untuk menguatkan hatinya.
'Sepertinya, aku harus berjuang lebih kuat lagi' batinnya tak pantang menyerah.
Disisi lain Valarie terus memandangi ibunya yang melamun.
"Mama, kenapa om Louis ada disini? Kenapa mama dan om Louis berpelukan dan hujan-hujanan?" tanyanya tak mengerti.
Adrienne menatap sedih putrinya.
'Aku harus bagaimana sayang? Aku malu bertemu Aron tapi disatu sisi aku menginginkan kita menjadi satu keluarga yang utuh tapi sekarang aku malah berbuat kesalahan' Enne membatin.
Penyesalan Enne semakin menggunung setelah melihat jepitan rambut yang Aron belikan untuk putri kesayangannya.
'Aku pasti sudah gila' batinnya semakin kesal.
"Mama" panggil Valarie pada ibunya yang masih termenung ditempat duduknya.
Lamunan Enne menghilang seiring tarikan pelan yang dirasakan ditangan kanannya, dia mendapati Valari masih menatapnya penasaran.
"Ada apa sayang?" tanyanya mencoba fokus.
__ADS_1
"Mama belum menjawabku, kenapa mama dan om Louis berpelukan?" sahut Valarie penasaran.
Adrienne menelan salivanya yang terasa pahit, pertanyaan Valarie membuatnya mati kutu, bagaimana dia akan menjelaskan situasi itu pada putrinya.
"I-itu-
"Halo putri kecilku, es krimnya sudah dimakan?" tanya Aron yang baru saja tiba, dia melihat wajah Enne yang kebingungan dan memilih membantu calon istrinya mengalihkan perhatian putrinya.
Valarie menoleh ke sampingnya dan menyambut Aron dengan senyum bahagianya.
"Papa, kenapa lama sekali? Es krim ku sudah hilang, aku belum sempat memakannya" jelasnya sedih, bibirnya mengerucut manja membuat Aron tertawa gemas.
"Baiklah tuan putri, aku akan membeli yang baru, jadi tunggu disini yah" ucapnya menenangkan Valarie.
Aron melepas jaketnya dan memberikannya pada Enne.
"Pakailah, kau pasti kedinginan, aku tidak mau kau sakit" katanya dengan lembut, mendengar itu Adrienne merasa sangat malu, dia menangis dalam diamnya sedang Aron tak sempat melihat wajah calon istrinya karena segera pergi membelikan Valarie Es krim.
'Aku benar-benar murahan' batin Enne yang merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Mama kenapa menangis?" tanya Valarie, dia mendapati ibunya menitihkan air matanya.
Adrienne menggeleng dan segera menyeka air matanya.
Tak lama, Aron datang membawa eskrim yang sama seperti tadi putri kecilnya inginkan.
"Es krimnya datang, loh, mama kamu mana?" tanya Aron yang baru menyadari ketidakhadiran Adrienne.
Valarie memakan eskrim nya dan menjawab dengan Enteng "Ooh, mama sedang ke toilet, papa Aron makan es krim juga dong, temani Valarie makan" ajaknya.
Aron mencoba menghilangkan kekhawatirannya dan menemani putri kecilnya menyantap eskrim coklat dan beberapa varian rasa yang ada, mereka berdua menikmati waktunya.
Adrienne datang dengan pakaian yang berbeda, untung saja dia sempat membeli baju saat berjalan-jalan tadi, jadi dia menggantinya agar tidak mengalami demam.
Aron melihat pakaian Enne dan memulai pembicaraan dengan santai.
"Kau menyukainya? Untung saja kita membelinya, Valarie, apa kamu juga mau mengganti pakaian yang sama seperti mama? Kita bertiga memakai baju pasangan, kamu mau?" tanya Aron pada putrinya.
Adrienne masih canggung tapi sebisa mungkin mencoba tersenyum dan merespon ucapan calon suaminya.
"Benar, apa putri mama mau memakai baju yang sama?" tanya Enne juga.
Valarie cukup berpikir kalau tawar itu lumayan bagus, dia lalu mengangguk mengiyakannya dan ikut mengganti pakaiannya begitupula Aron.
__ADS_1
Mereka bertiga sempat jadi pusat perhatian karena memakai pakaian yang sama, ada yang menatap gemas dan ada juga yang iri, mereka pasti sangat menginginkan keluarga yang harmonis seperti itu.
Tak terasa malam sudah menyambut mereka dan hujan sudah berhenti sejak tadi, Valarie mengantuk dan tertidur digendong an Aron.
Mereka berjalan-jalan santai ditaman, menikmati pemandangan malam yang terpampang jelas di depannya.
Meski canggung, Adrienne memulai pembicaraannya.
"Aron, maafkan aku" sesalnya.
Aron tersenyum seolah pernyataan itu tidak begitu melukai hatinya.
"Apa yang harus kumaafkan? Kau tidak salah apapun" sahutnya masih menatapi jalan didepannya.
Enne tak tahu harus menjawab apa, disatu sisi dia ingin Aron marah agar dia bisa bersujud dan meminta maaf tapi disisi lain Enne takut Aron akan meninggalkannya dengan senyuman.
"Tidak! Aku salah, harusnya aku menolak saat Louis menarikku pergi apalagi ciuman itu harusnya aku melepaskannya" Enne sangat menyesali kebodohannya.
Aron masih tersenyum, pandangannya yang hangat membuat Enne tak tahu harus bagaimana.
"Sebenarnya aku yang salah" sahut Aron.
Enne mengerutkan keningnya.
"Tidak, kamu tidak-
"Aku salah karena meninggalkanmu sendirian dan membiarkan orang lain mengambilmu tanpa sepengetahuanku, aku lengah, harusnya aku bisa lebih menjagamu" potong Aron, dia tidak akan membiarkan calon istrinya terus merasa bersalah.
Adrienne terharu, dia menangis sejadi-jadinya, rasa bersalahnya menumpuk dan rasa syukurnya juga tak kalah banyaknya.
"Terimakasih sudah menerimaku apa adanya, padahal aku hanya wanita murahan, maaf Aron, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, jadi tolong, sekali lagi beri aku kepercayaan mu" pintanya sedih.
Aron tersenyum, dia meraih tangan Enne dan mengecup lembut punggung tangannya.
"Aku akan selalu mempercayaimu, aku yakin kau melakukan hal tadi karena pria itu lebih dulu menggodamu, Adrienne yang kukenal tidak akan segampang itu mencium pria, aku sudah mengenalmu Enne, aku tahu ciuman tadi hanyalah sebuah perpisahan, aku tahu dan aku yakin kau tidak akan kembali padanya, jadi aku tidak marah, tenanglah" jelas Aron menenangkan calon istrinya.
Tangis Enne semakin menjadi, rasanya dia ingin memukuli dirinya, bagaimana bisa dia sempat berpikir membuka hati lagi pada pria lain sedang pria baik sudah menyambut hangat dirinya.
'Aku benar-benar wanita yang tidak tahu malu' batin Enne.
...*...
...*...
__ADS_1