
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Kemarin aku bermimpi.
Deon datang menanyakan kabarku, tak lupa juga menanyakan putri kesayangannya, aku melihatnya sangat berbeda dari yang dulu.
Wajahnya bersinar, senyumnya tak bosan dia perlihatkan, aku sampai berpikir apa dia sebahagia itu meninggalkan ku.
Anehnya dia tak lagi terlihat muram, seolah sudah begitu banyak beban yang pergi meninggalkannya, lagi-lagi saat itu aku bertanya dengan perasaan campur aduk.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanyaku.
Deon terlihat geli mendengar pertanyaanku.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu ragu, tapi aku selalu mencintaimu Adrien, selamanya dan tidak akan tergantikan, tapi kau berhak bahagia, jangan bergantung padaku, aku hanya masa lalumu sayang" katanya padaku.
Seketika perasaan ku dihampiri rasa bingung, bingung menanggapi jawaban Deon yang dengan entengnya menyuruhku bahagia, padahal selama ini aku terjebak dalam nostalgia cintanya.
Kenapa aku bermimpi seperti itu?
Apa benar, mimpi ini pertanda kalau Deon merelakanku kembali menjalin hubungan dengan orang lain?
Aku bingung, Aron juga tiba-tiba ingin dekat denganku, dia bukan pria yang buruk, apalagi Valarie sangat menyukainya, aku juga cukup tertarik dengannya tapi aku tidak tahu apa perasaanku ini cinta atau hanya sekedar kagum saja.
...*...
...*...
Sudah empat hari berlalu sejak terakhir Aron datang membawa beberapa buah-buahan dan baju baru untuk Valarie.
Dan sudah seminggu Adrienna beserta putrinya tinggal di rumah Laura, dia belum pulang karena banyaknya kerjaan yang harus dikerjakannya, suaminya sakit dan terpaksa untuk sementara menggantikannya.
Padahal Laura sangat ingin menemui cucu satu-satunya.
Valarie sedang asik memakan serealnya sedangkan Enne ditaman belakang merawat bunga-bunga Laura, tidak bisa dipungkiri kalau dulu Adrienne sangat menyukai bunga, itu sebabnya dia memilih membantu Laura menyiram tanamannya.
"Berapa kalipun aku melihatnya, mereka sangat cantik" pujinya pada bunga-bunga yang tengah bermekaran.
'Aron lagi apa ya?' batin Enne.
"Rajin sekali" komentar seseorang.
__ADS_1
Adrienne tersentak ditempatnya, tanpa sadar langsung menoleh melihat siapa yang sudah menggangu kenikmatan dunianya.
Lagi-lagi Aron datang, dia terus tersenyum, sorot matanya yang dalam tampak tulus menyapa dengan bahagia wanita yang menatap aneh dirinya.
"Kau lagi" ketus Enne.
"Kenapa? Kau tidak suka aku kesini?" tanya Aron. Senyumnya masih melekat dan kakinya melangkah mengikis jarak diantara mereka.
"Tentu saja, kau itu merepotkan" ejek Enne pura-pura, Aron sudah berdiri tepat didepannya.
"Kau ini tidak pernah tulus mengatakan sesuatu, kenapa kau menghindariku Enne?" tanyanya pada Enne yang terlihat gelagapan, dia gugup dengan posisi wajah Aron yang terlalu dekat.
"Kau terlalu dekat" jawabnya singkat.
Adrienne tidak bermaksud menghindari pria yang berdiri didepannya ini, tapi hubungan mereka saja tidak jelas, Enne bingung harus bersikap sebagai seorang teman atau bersikap layaknya wanita yang sedang jatuh hati, dia hanya takut salah melangkah.
Aron mundur, dia melihat dengan jelas seberapa gugup Enne didekatnya.
"Jika kau bersikap begini, kapan aku bisa dekat denganmu?" tanyanya bingung.
Enne melirik Aron yang terlihat bingung dengan sikapnya, dia juga tidak tahu harus apa.
"Jadi kamu mau aku seperti apa? Aku juga bingung dengan sikapku, tapi aku lebih bingung bagaimana harus menanggapimu" jelas Enne, Aron yang mendengarnya baru tersenyum karena sudah mengerti kemauan wanita cantik didepannya ini.
"Maaf karena aku tidak peka! Baiklah, kita sudah dewasa, aku akan memperjelas semuanya agar kamu tidak bingung lagi padaku" ucap Aron tak ingin basa-basi, nampak jelas keseriusan dimatanya, Enne menelan salivanya karena gugup, entah apa kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
"Aku menyukaimu, menikahlah denganku" ucapan yang luar biasa manis dan mendebarkan keluar dari mulut Aron, dia menjadi lebih gugup karena tidak tahu respon apa yang akan diberikan Enne padanya.
Aron tidak menyadari sebesar apa dampak yang dia berikan pada ibu Valarie, wanita itu membeku ditempatnya, menikmati setiap sensasi yang datang merasukinya.
'Luar biasa, apa keluarga Brian selalu memberi kejutan seperti ini? Aku jadi ingat Deon, dia juga tiba-tiba melamarku waktu itu' batin Enne ketika mendapati perasaan yang sama berhasil diberikan Aron padanya.
"Apa kau hanya menyukaiku?" tanya Enne masih menguji Aron.
Aron mengernyit, dia berpikir apa masih ada yang harus dikatakannya.
"Tentu saja aku menyukaimu dan Valarie akan menjadi anakku juga, kau tenang saja, aku sangat menyukainya, lebih dari pada kamu" kata Aron, dia mencoba menjelaskan perasaannya dengan hati-hati dan pelan agar Enne tidak merasa salah paham.
"Jadi, kamu lebih sayang Valarie daripada aku?" tanya Enne pada Aron.
"Baiklah, jangan marah, aku lebih menyukaimu tapi tetap saja Valarie akan jadi putri yang sangat kusayang, ya itu kalau kau menerima lamaranku" ucap Aron lagi.
Perut Enne serasa digelitik, dia tertawa melihat telinga dan pipi Aron yang memerah, padahal dia setegas itu menjawab pertanyaan yang diberikan Adrienne tapi tubuhnya tidak bisa menahan reaksi lain.
Dia sudah bekerja keras untuk menarik perhatian ibu Valarie agar mau menerima lamarannya.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Enne tiba-tiba.
Aron mengernyit, apa maksud Adrienne, apanya yang sudah?
"Apanya?" Aron balik bertanya.
Enne terkekeh.
"Cincinnya mana?" ledek Enne, sepertinya dia usil menanyai Aron, dia tahu kalau laki-laki ini tidak ada rencana melamarnya hari ini.
"Oh, ah itu, aku akan membawanya nanti" jawab Aron, dia gelagapan.
"Hahahaha, kalau begitu lain kali saja aku menerima lamarannya! Tunggu cincinnya datang" candanya.
Aron ikut tertawa, suasananya sangat pas untuk mencairkan kecanggungan yang terjadi.
"Tapi kau akan menerima lamaranku lagi kan?" tanya Aron memastikan.
"Iya, kalau kau bawa cincin, aku akan menerimanya dengan senang hati" Sahutnya tanpa beban, Enne lalu menyirami lagi bunga-bunga didepannya dan membiarkan Aron bebas dari perbincangan sesak tadi.
"MAMA" teriak Valarie.
Dia berlari mendekati ibunya, wajahnya terlihat cukup bersahabat, sepertinya suasana hatinya sedang baik.
"Iya, ada apa sayang? Kamu sudah menghabiskan makanan mu?" tanya Enne, sekilas dia melirik Aron yang memilih duduk didekat bunga-bunga yang berada di samping pintu.
"Iya ma, tapi kenapa om Aron kesini? Apa om Aron ingin bermain denganku?" tanya Valarie, sesekali dia curi-curi pandang dengan pria yang dibicarakannya.
Lagi-lagi Enne tertawa melihat tingkah putri cantiknya.
"Entah! Coba Valarie tanya sendiri sama orangnya" tawar Enne pada putrinya, Valarie melirik lagi posisi Aron, setelah memantapkan hati, diapun mendekat, cara berjalannya yang unik mengundang tawa Aron, dia berjalan menyamping menuju pria itu duduk.
Aron sudah menahan tawanya sejak tadi. Valarie sangat menggemaskan.
"Halo tuan putri, apa anda membutuhkan sesuatu?" ucap Aron yang tiba-tiba berpura-pura menjadi pelayan.
Senyum Valarie mengembang, dia tentu senang diperlukan seperti putri yang berharga.
"Em, halo, aku ingin bermain dengan om Aron, bolehkah?" tanya Valarie hati-hati.
Aron mengelus lembut pucuk kepala putri Enne, betapa imut dan menggemaskan tingkahnya.
"Sangat boleh! Ayo, mari kita ke tempat bermain putri" ajak Aron, dia mengulurkan tangannya dan Valarie menyambut sangat ceria.
Adrienne mengulum senyumnya, betapa indah pemandangan yang dia lihat, sosok yang diinginkan Valarie, seorang ayah yang akan menemaninya, apakah Aron akan mengisi kekosongan itu? Entahlah, hanya takdir yang tahu, siapa yang akan berlabuh di pelaminan cinta Enne.
__ADS_1
...*...
...*...