MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
26


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Louis pulang.


Pikirannya sudah jauh menerawang ke waktu dimana dia melamar Eliza, pertanyaan tentang keanehan yang dirasakannya mulai menghantuinya.


'Sebenarnya sejak kapan semua ini berawal? kenapa aku bisa menikahi Eliza? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan ingatanku, aku butuh, aku ingin tahu semuanya' batinnya resah.


Eliza melirik suaminya, sudah beberapa hari ini dia bertingkah aneh.


"Sayang, ada apa denganmu, kenapa wajahmu murung begitu?" Tanyanya lembut, tangannya pelan-pelan melingkari pinggang suaminya.


Louis merasa kurang nyaman, dia menggeser tubuhnya dari pelukan Eliza, istrinya menjadi curiga, wajahnya menggelap karena marah.


"Louis, ada apa denganmu? Kenapa kau menjauhiku?" Tanyanya lagi, kali ini Eliza terpancing emosi.


Dia menatap istrinya, entah mengapa Louis tidak menemukan kedamaian apapun dari wajah Eliza, dia semakin bingung, pertanyaan dibenaknya semakin banyak.


'Sebenarnya kenapa aku bisa menikahi Eliza?' Louis Membatin.


"Eliza, kenapa kita menikah?" Tanyanya sangat penasaran.


Ingatannya samar, saat itu dia hanya ingin segera menikahi Eliza tapi dia tidak ingat kenangan apapun sebelum mereka menikah, seperti ada potongan puzzle yang hilang.


Istri Louis terlihat kesal, tangannya mencengkram tepi kasur sampai buku-bukunya memutih sangking kuatnya dia menahan amarah.


"Apa yang kau tanyakan sayang? Bukankah kamu yang memaksaku menikahimu? Kamu lupa?" Jawab Eliza menahan kekesalannya.


Louis menggeleng.


"Aku tidak lupa, aku hanya ingin tahu apa dulu sebelum kita menikah, aku jatuh cinta denganmu?" Tanyanya semakin penasaran, Louis tidak puas dengan jawaban Eliza.


Tapi kini istrinya tidak mampu lagi menahannya, rasanya semua unek-unek yang ditimbunnya akan dia keluarkan saat ini juga.


"Ooh, jadi sekarang, kamu meragukan cinta kita? Apa perlu aku menjawab omong kosong itu? Sebenarnya kenapa kamu sangat ingin tahu masa lalu kita? Lagipula apa yang kau dapatkan jika mengingatnya?" Eliza menyerbu Louis dengan banyak pertanyaan.


Sekejap Louis menangkap raut wajah menakutkan Eliz, dia terdiam, lagi-lagi rasa sesal menghantam akal sehatnya.


'Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku memang menghianati Adrienne? Kenapa dia mengataiku pembohong? Aku bingung' Batin Louis lagi.


Dia tidak menghiraukan istrinya dan memilih berbaring dan menutup matanya agar bisa tidur, Louis tidak begitu memedulikan Eliza yang semakin marah karena tindakannya.

__ADS_1


"Brengsek" Umpat Eliza, dia berlalu pergi meninggalkan Louis yang juga bingung dengan dirinya sendiri.


Dia tahu tidak semestinya memperlakukan istrinya sedingin itu tapi entah mengapa sejak ingatannya kembali, Eliza seperti orang asing baginya.


Louis merasa 5 tahun bersama Eliza adalah kesia-siaan.


...*...


...*...


Hari ini Edric dan Tiara gagal lagi mencari pelaku yang membuat Valarie dan Adrienne menderita.


Mereka masih berunding, jika saja Enne tidak ikut mungkin penjahatnya sudah ketahuan.


"Apa kita cari tahu saja kejadian yang menimpa Enne? Sepertinya ini bukan masalah kecil" Tawar Edric, dia sudah tidak sabar ingin menghabisi orang yang membuat sahabatnya menderita.


"Benar juga, bagaimana kalau kita tanya teman sekolah Enne, mungkin saja mereka tahu sesuatu" Usul Tiara, Edric langsung mengiyakan dan mencaritahu nomor kontak siswa seangkatan Adrienne.


Tidak butuh waktu lama bagi keluarga Walden untuk membeli informasi dari sekolah yang gampang terlena dengan uang.


Edric dan Tiara mulai menelfon nomor-nomor yang ada, banyak nomor tidak aktif lagi dan ada juga yang menolak menjelaskan karena alasan sibuk.


Mereka berdua sudah hampir putus asa sampai akhirnya ada seseorang yang menjawab telepon Edric.


"Halo apa benar ini dengan Mary celeste?" tanya Edric.


"Ooh bukan saya adiknya, ini siapa yah?" Suara diseberang balik menanyakan identitas dua orang ini.


"Saya teman kakakmu, bisa kamu berikan padanya? Sebentar saja" Pinta Edric, Tiara masih memperhatikan.


"Aduh kakak saya sedang diluar, kalau mau bilang sesuatu ke kakak beritahu saya saja, nanti saya sampaikan" Jawab adik itu.


"Ooh begitu yah! Mm, sebenarnya saya mau tanya apa Mary kenal dengan Adrienne? Saya penasaran" Jelas Edric, dia menyayangkan karena Mary tidak ada.


"Adrienne? Maksud kakak si pelacur itu? Wah kakak siapa? Kenapa cari tahu tentang dia?"


Seketika emosi Edric memuncak, kenapa panggilan pelacur begitu mudah keluar dari mulut adik itu.


"Pelacur? Maksudnya?" tanya Edric lagi.


"Loh, seluruh sekolah tahu kalau kak Adrienne pernah tidur dengan kak Reza pacar si kak Venya, dulu mereka terkenal sekali loh, bahkan sampai ke telinga kami para juniornya, aku juga dulu sempat melihat kak Adrienne di bully kalau ada yang membantu langsung dikucilkan jadi yah itu wajar sih untuk seorang pelacu-


"Tutup mulutmu kalau kau tidak ingin keluargamu hancur sekarang juga, aku bisa merobek-robek mulutmu dan membuatmu menyesal sudah mengatai Adrienne seperti itu" ancam Edric tak tahan lagi.


Dan sambungan telepon mati karena adik Mary ketakutan, Tiara memegang tangan suaminya, dia mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Ada apa suamiku? Apa kamu mendapat sesuatu?" tanyanya penasaran.


Edric menghela nafasnya, dia dapat menyimpulkan kalau trauma yang didapat sahabatnya memang sangat besar.


"Dulu Enne dibully dan di cap sebagai pelacur bahkan tidak ada yang menolongnya, semua orang mengejek dan menyiksanya Tiara, hatiku sakit, aku gagal menjadi pelindungnya" Jelasnya tak tahan.


Hatinya sakit, pantas saja Adrienne sangat marah saat pertemuan pertama mereka empat tahun lalu, ternyata dia sudah mengalami banyak hal menyakitkan.


"Aku malu Tiara, aku malu melihat muka Enne, aku tidak berhasil menjaga janjiku" sesal Edric, Tiara memeluk suaminya, diapun ikut merasakan kesedihan yang dirasa Edric.


...*...


...*...


Hari-hari berlalu.


Louis merasa harus bertemu Adrienne, dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi Edric terus menolak permintaannya, membuat dia frustasi.


Darren melirik Louis, sejak kemarin dia tidak fokus latihan dan hanya melamun menatap kosong lantai ruangan.


"Kak, ada apa?" tanyanya memberanikan diri.


Louis menoleh dan melihat juniornya khawatir.


"Aku tidak apa-apa, tapi sudah beberapa hari ini aku pusing memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengingat kejadian beberapa tahun lalu" jawab Louis.


Darren mendengarkan dengan hati-hati penrkataan Louis, terlintas dibenaknya seorang dokter yang bisa melakukan terapi ingatan atau hipnotis, tanpa basa-basi Darren menawarkan Louis untuk mencobanya.


"Kakak bisa mencoba terapi ingatan, aku punya sepupu yang juga pernah lupa ingatan, dia melakukan hipnotis agar bisa mengembalikan memori ingatannya" tawar Darren.


Louis memikirkan tawaran itu, dia tersenyum syukur.


"Terima kasih Darren, kau memang yang terbaik, aku akan mengikuti saranmu, tolong bantu aku bertemu dokter itu" Pinta Louis girang.


"Baik kak, besok kita ke sana" ajak Darren ikut senang.


Louis berdebar, akhirnya dia bisa menemukan jalan keluar dari masalahnya.


Disisi lain, Valarie mendekati ibunya yang terbaring lemah, dia menangis lagi, Enne membuat anaknya menangis karena dia belum sadarkan diri.


"Aku salah ma, tolong kembali jadi mama Enne yang ceria seperti ditaman, tolong kembalilah ma" Valarie berdoa, tulus sekali.


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2