MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
46


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Mata kami beradu dalam pertemuan yang terasa begitu asing, sekarang seseorang sudah berada dihatiku dan mungkin Louis juga memiliki kisahnya sendiri.


Kini kami berhadapan dan menatap canggung keadaan, sudah sangat lama sejak terakhir kita bertemu dengan ingatan yang sama.


Tapi kenapa dia menemuiku? Apa aku melakukan kesalahan padanya? Kurasa tidak, selama ini aku tidak pernah berusaha untuk memeras atau mempertanyakan hak Valarie padanya.


"Hai" sapanya.


Entah mengapa, dadaku sakit, melihatnya yang tersenyum kaku denganku, tubuhnya kurus dan wajahnya terlihat sangat tirus sampai-sampai kedua matanya menjadi sangat bulat.


Kenapa dia terlihat sangat menyedihkan?


"Kenapa kau ada disini?" tanyaku tak membalas sapaannya, dia tidak boleh merebut hatiku lagi, Aron sudah sempurna untukku, lagipula tidak ada gunanya aku membahas masa lalu sekarang.


Louis membalasku dengan senyumannya.


"Apa kau sebenci itu denganku?" tanyanya.


Hatiku lemah mendengar suaranya yang parau, tatapannya redup tak berdaya, aku bisa gila melihatnya.


"Tidak" jawabku, sengaja aku membalas singkat pertanyaannya agar dia tidak berharap banyak padaku bila misal dia masih ingin membahas masa lalu itu.


"Adrienne, aku tidak berniat mengganggu mu, aku hanya ingin menemuimu sekali saja sebelum kau menikah dengan pria pilihanmu, tolong jangan membenciku karena mengingatmu setelah waktu yang cukup lama, ingatlah aku akan selalu mencintaimu dan mencintai putriku, sebelum aku pergi tolong jawab satu pertanyaan ku"


Pintar sekali Louis menusuk-nusuk perasaanku, dia tidak tahu kalau aku sangat sedih mendengar permintaannya itu, dasar pria jahat, kau memang selamanya hanya akan menyakitiku, aku benci kamu Louis.


"Apa itu?" tanyaku tak tahan.


"Jika aku tidak lupa ingatan dan melamarmu waktu itu, apa kau akan menerimanya?" tanyanya, dia tersenyum tapi anehnya aku tidak melihat kebahagiaan dari raut wajahnya.


Pertanyaannya sangat bodoh, tentu saja aku akan menerimanya, saat itu aku masih sangat mencintai dan mengharapkanmu, aku bahkan masih ingin bersamamu meski tahu kau menikahi yang lain, kenapa dia mempertanyakan hal yang pasti.


"Tentu saja" jawabku.

__ADS_1


Lagi-lagi dia tersenyum, kenapa dia suka sekali tersenyum seperti itu? Apa dia berniat memperlihatkan betapa senangnya dia mendengar jawaban yang susah payah kujawab.


"Enne, tolong simpan aku dalam hatimu, juga jadikan kenangan ku sebagai yang paling berharga dihidupmu, jika Valarie remaja tolong beritahu kalau aku adalah ayahnya, kumohon, aku tahu aku egois memintanya tapi sekali saja tolong kabulkan permintaanku" pintanya sedih.


Andai saja kau tahu permintaan mu itu sudah menjadi kenyataan, aku sudah menyimpan mu didalam kenangan ku, haruskah aku jujur kalau juga selalu menyukai dan mengagumimu? Tidak, sekarang ada Aron, mana mungkin aku memikirkan hal ini lagi.


Aku memilih Aron, dia pria yang sempurna untukku, benar, tidak ada gunanya memikirkan Louis lagi.


"Baiklah, toh aku tidak berniat menyembunyikan fakta kalau kau adalah ayahnya, kalau cuma itu aku pamit, Valarie dan Aron pasti mencariku"


Selamat tinggal Louis, pria yang akan selalu ada dihatiku, aku mencintaimu.


Baru sedetik yang lalu aku merasa sangat sedih atas keputusan yang kupilih tapi tiba-tiba Louis menarik lenganku dan menciumku, jelas aku terkejut dengan perlakuannya.


Entahlah, aku tidak berniat menyudahi ciuman itu, tanpa sadar aku menikmati perpisahan yang kami lakukan, sepertinya hatiku memang hanya menginginkan Louis.


Tiap detik terasa begitu berharga, ciuman itu terus berlangsung tanpa ada yang ingin menyudahinya, bodohnya aku benar-benar terperangkap didalam rangkulan Louis.


Sudah sangat lama, aku tidak bersentuhan dengan pria, itupun hanya Louis yang pernah mencumbui ku, dan sekarang dia jugalah pria yang kedua kalinya berciuman denganku.


Aku begitu rindu masa-masa itu sampai rasanya sentuhan bibir Louis yang lembut menghanyutkan ku dalam memori tak berkesudahan, terngiang lagi ingatan saat Louis selesai berhubungan badan denganku.


Dia menatap ku rendah, seolah aku hanyalah wanita yang tidak lebih dari sampah, tapi waktu itu wajar jika dia memperlakukanku dingin, karena aku yang menggodanya lebih dulu agar mau melakukannya bersamaku.


Bagiku, Louis akan selalu jadi pria gentleman apalagi setelah tahu kalau dia menikahi Eliza karena ingatannya yang hilang dan mengira aku adalah Eliza, situasi itu sangat disayangkan tapi kami memang sepertinya tidak ditakdirkan bersama.


Mau bagaimanapun, aku dan Louis sudah memilih jalan yang berbeda, tepatnya aku sudah memilih Aron untuk menjalani hidup bersama apalagi Valarie juga sangat menyukainya tidak ada alasan untukku menolak keberadaan pria sebaik Aron.


Entah sudah berapa lama sejak kami berciuman padahal hujan sudah turun membasahi tubuh kami, kukira langit akan cerah ternyata malah turun hujan.


"MAMAAAA"


Suara teriakan Valarie menghentikan kegiatan kami berdua, kulihat Aron dan putriku berdiri di ujung Lorong dengan payung yang tergenggam kuat ditangan calon suamiku.


Habis sudah.


Pasti aku terlihat seperti wanita murahan dimatanya, dia melihatku habis berciuman dengan pria lain, Aron pasti sangat membenciku.


Aku memang sangat gila, kenapa aku mengikuti perasaan ku ini.

__ADS_1


Valarie juga melihatku, aku benar-benar malu.


...*...


...*...


Sesaat Aron membeku ditempatnya, didepan matanya, wanita yang tak lama lagi akan dinikahinya berciuman dengan pria yang tak dikenal.


Dari raut wajahnya nampak jelas kalau dia cemburu dan marah, sampai tiba-tiba suara Valarie membuyarkan konsentrasi Aron.


Dia masih menggendong anak kecil yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri, dengan tegar, Aron mendekati mereka berdua yang basah kuyup.


Saat dia makin mendekat, wajah pria yang bersama Enne makin jelas terlihat, lagi-lagi dia mendapati Louis.


'Kenapa Louis selalu berkaitan dengan Enne? Apa tebakanku benar, kalau Valarie anak dari pria ini? Apalagi wajah mereka sangat mirip' batin Aron yang sempat bingung.


"Aron, aku bisa jelask-


"Ambil ini, kau basah kuyup, bawa Valarie ke tempat tadi, tunggu aku disana" titahnya tanpa ekspresi, dia jelas-jelas memotong ucapan Enne karena tidak ingin mendengar penjelasan apapun.


Saking merasa bersalahnya, Adrienne langsung mengikuti kemauan calon suaminya, dia mengambil Valarie dari pelukan Aron dan memakai payung yang diberikan sepupu Deon itu.


Setelah Valarie dan Adrienne cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang, tatapan lembut Aron menghilang, dia memandang sinis pria didepannya.


"Kita bertemu lagi! bisa jelaskan apa yang sudah kulihat tadi?" tanya Aron tetap menahan kekesalannya.


Louis merasa bersalah.


"Maaf, itu karena kesalahan ku, aku tidak bermaksud-


"Tidak bermaksud? Padahal kau sudah menciuminya seperti itu? Apa benar kau tidak ada maksud?" tanya Aron tak sabar.


Louis menunduk malu.


"Aku memang salah, tapi percayalah, hari ini hari terakhirku menemuinya, aku akan pergi, aku juga tidak akan menghalangi kalian, maaf karena sudah mencium wanitamu, tolong jaga baik-baik putriku" ungkap Louis sedih.


"Oh jadi benar, Valarie putrimu? Pantas saja wajah kalian mirip" sahutnya.


Louis agak terkejut, dia mengira Aron sudah mengetahui kenyataan itu.

__ADS_1


...*...


...*...


__ADS_2