MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
11


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Deon menunggu disamping kasur pasien yang sedang ditiduri Adrienne, pria itu kesal, sepertinya penyebab Enne sakit itu karna kemarin dia sudah mengajaknya keluar dan tidak membiarkannya istirahat.


"Aku salah, aku salah Adrien, tolong bangunlah, aku berjanji tidak menggangu dan menjahilimu lagi, aku juga akan lebih mengerti dan tidak akan merepotkan mu, kumohon" Deon berkata dengan sedih.


Sudah 4 jam berlalu dan Enne baru membuka matanya, dia melihat Deon yang masih setia disampingnya, yah tapi dia ketiduran sih.


"Deon" Enne mencoba membangunkan pria bersurai hitam itu, tidurnya nyenyak sekali.


Deon belum bangun padahal Enne sudah mengganti pakaiannya karna tadi dokter datang dan bilang kalau dia sudah baikan dan boleh pulang.


Kali ini Enne mencoba membangunkannya lagi tapi untung saja Deon sadar sebelum itu terjadi.


"Enne, kamu sudah bangun? Bagaimana keadaan mu? Aku sangat khawatir, kenapa kamu berganti pakaian, kamu mau pulang?" segera Deon menyerbu Enne dengan pertanyaannya.


Adrienne dia tertawa lepas, baru kali ini seseorang mengkhawatirkannya, rasanya menyenangkan sekali, ingin rasanya dia berterimakasih karna diberi kesempatan merasakan kasih sayang dari seseorang.


"Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?" Tanyanya lagi, Deon tak mengerti, kenapa seorang pasien yang masih sakit berdiri didepannya dan malah tertawa begitu.


"Hahaha, tidak, kamu hanya sedikit lucu, aku sudah boleh pulang kok, tadi dokter datang tapi kamu tidur jadi tidak tahu, ayo kita pulang, aku rindu kamarku" Enne menjelaskan dengan santai, sedikit demi sedikit dia mulai membuka hati untuk Deon, bahkan sikapnya juga sudah agak berubah.


"Lucu? Ah ya sudah ayo kita pulang, apa kamu lapar? Ayo kita ke restoran, setidaknya kamu harus isi perut dulu sebelum pulang, si bayi juga pasti lapar" Deon bangkit dari kursinya dan langsung menawarkan lengannya.


Enne tersenyum lagi, dia meraih lengan itu dan memegangnya dengan erat, tidak bisa dipungkiri kalau sikap Deon memang sangat imut, sulit untuk menolak kebaikan dari pria menggemaskan ini.


...*...


...*...


Tiara baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dan Edric juga mengekor di belakangnya, wajah Tiara sangat tidak bersahabat pantas saja Edric menciut dibelakang.


"Kan sudah kubilang belum" ocehnya tak tahan.


Edric hanya diam, dia tahu kalau mulutnya terbuka, istrinya pasti akan lebih marah lagi.


"Lagian aku bilang belum bisa hamil kalau buatnya bukan dimasa subur, kecil kemungkinan terjadinya tapi kamu malah memaksa aku periksa hanya karna telat sehari, kita sudah jauh-jauh kesini tapi hasilnya nihil" lanjutnya masih asik mengomeli Edric.


"Iya maaf, gara-gara liat Enne aku jadi buru-buru ingin punya anak" Edric menyesal dan Tiara hanya bisa menghela nafas karna alasan suaminya yang sangat kekanakan.


"Ya sudah sekalian saja kita mampir ke apartemen Enne, dia tinggal disekitar sini kan?" tanya Tiara, lebih baik dia pertemukan saja dua sahabat itu, kalau tidak suaminya pasti akan terus cemberut dan kecewa.


"Benar juga, ya sudah ayo kita kesana" Jawab Edric senang.


'Lihat mukanya, giliran sebut Enne senyumnya langsung mengembang, hah aku seperti diselingkuhi' batin Tiara.

__ADS_1


...*...


...*...


Edric dan Tiara sudah sampai di apartemen Enne, meski sempat bersitegang akhirnya mereka sampai juga ditempat tujuan.


Tanpa beban, Edric mengambil kunci dari saku jaketnya, istrinya menatap curiga dan mengajukan pertanyaan lagi.


"Loh kok kamu punya kunci apartemen Adrienne?" tanyanya curiga.


"Ssst, aku sengaja, kita harus memberi kejutan, dia pasti senang kalau kita berkunjung" bisik Edric, dia terlihat seperti maling.


Tidak ada keraguan saat Edric memaksa kunci yang dipegangnya untuk masuk dilubang pintu apartemen Enne, dia terus memaksa sampai besi itu hampir patah karna ulahnya.


Tiara menghela nafas lagi, sejak pagi suaminya terus membuatnya kesal. Dia tak tahan dan langsung mengetuk saja pintu apartemen Enne.


Jangan tanya kondisi Edric, dia hanya bisa menunduk patuh, kalau dia memaksa membuka pintu lagi mungkin Tiara akan mengamuk.


Cklek


Pintu terbuka dan ada Deon dibaliknya, dia pasti memaksa Enne beristirahat dan menawarkan diri untuk membukakan pintu, sudah diduga akan begitu.


"Siapa?" tanya Edric, dia menatap sinis pria didepannya begitu juga dengan Deon,


'Siapa lagi pria yang datang ini' batin Deon.


"Harusnya saya yang tanya, kalian siapa?" jawab Deon, dia sangat jelas memperlihatkan ketidaksukaannya.


"Tidak kok, ini benar nomor kamar Enne" Edric meyakinkan istrinya.


"Enne? Kalian kenal dia? Memang kali-


"Edric? Tiara? Kalian kesini, astaga ayo masuk" potong Enne, dia keluar karna curiga Deon terlalu lama.


"Tuh kubilang juga apa, ini kamar Enne ayo masuk" Edric langsung menyenggol Deon yang menghalangi jalannya.


"Hei hati-hati dong" Deon masih menatap tajam sahabat pacarnya.


"Maaf, aku tidak sengaja" ujar Edric diselingi seringai penuh kemenangan, andai saja tidak ada Adrien pasti Deon sudah menghabisi pria didepannya ini.


...*...


...*...


Waktu berlalu dan suami istri yang menggangu kedamaian Deon akhirnya akan pulang.


Tadi dia sudah dimarahi Enne karna terus bertengkar dengan Edric, apalagi pas Edric tahu kalau mereka pacaran tingkah sahabat Enne semakin tidak bersahabat sehingga pertengkaran terus terjadi.


Enne dan Tiara sangat kerepotan karna harus memisahkan dua pria dewasa berjiwa anak kecil itu.

__ADS_1


"Sayang sekali kami harus pulang, selamat yah Enne, undang kami kalau kalian menikah" ucap Tiara basa-basi.


"Menikah apanya, mereka tidak serasi" celetuk Edric, membuat Deon terpancing lagi.


"Huh, bilang saja kau iri" Deon menjawab benci.


"Iri? Aku tidak iri tuh, Adikku ini sangat cantik, kau pasti mendekatinya karna itu kan? Hm, jangan harap aku akan merestuimu" Lagi-lagi Edric menunjukkan penolakan hubungan sahabatnya.


"Sudah cukup! Kalian ini sudah umur berapa sih? Seperti anak kecil, lalu kamu Edric, jangan begitu, aku tahu Deon tulus denganku" Enne membela karna tidak senang dengan perkataan sahabatnya.


Deon tersenyum merasakan kemenangan dari pertengkarannya dan Edric tentu kecewa tapi Tiara yang tak tahan dengan sikap suaminya langsung pergi membuat mereka bertiga terkejut.


"Tiara-


"Apa yang kau lakukan, cepat kejar istrimu, kau memang sudah kelewatan Edric"


Enne tahu sikap sahabatnya sudah berlebihan, kalau orang tidak kenal mereka berdua, pasti akan mengiranya sepasang kekasih karna sangat akrab tapi sebenarnya tidak akan ada perasaan seperti itu antara Edric dan Adrienne karna mereka sudah besar bersama sebagai saudara dengan Salma sebagai ibu yang menjaganya.


Sebenarnya sudah lama Enne merasa kalau Tiara ada sedikit rasa iri dan curiga padanya dan sekarang dia sudah memperlihatkannya.


'Semoga saja Edric menjelaskannya dengan baik, aku tidak ingin hubunganku dengan Tiara jadi buruk' batin Enne.


Dilain sisi Deon merasa takut dan mengira semua itu adalah salahnya.


"Maaf, sepertinya mereka bertengkar karna sikapku yang kurang sopan" Deon menundukkan kepalanya, dia menyesal dan tidak enak.


"Tidak, aku berani jamin mereka bertengkar bukan karna kamu, sekarang lebih baik kita masuk, disini dingin sekali" Enne menutup pintu dan menarik lengan Deon agar mengikutinya.


...*...


...*...


Malam menyapa dan perbincangan mereka semakin berat, pelan namun pasti Enne menceritakan betapa kejam dan berat masa lalunya, dia juga memberitahu alasan mengapa Edric sangat menyayanginya.


Deon terdiam, dia tidak bisa membayangkan jika menjadi Adrienne, dia sungguh wanita yang hebat, rasanya Deon akan menangis, dia memeluk wanita didepannya dan berbisik pelan.


"Menangislah, aku tahu kamu sudah menahannya selama ini" seiring dengan perkataan itu air mata Deon jatuh membasahi pipinya.


Hati Enne terketuk, luka lamanya terbuka lagi dan dia tersentuh, tanpa sadar dia menangis tersedu-sedu, rasanya lega saat perlahan dadanya yang tertekan menjadi lebih ringan.


Deon terus mengelus lembut punggung Enne, membuat wanita itu nyaman dipelukannya, kenangan lama yang menyakitinya seolah perlahan menghilang dipikirannya.


"Kenapa kamu sebaik ini padaku" tanyanya masih menangis.


Deon menggigit bibir bawahnya tak sanggup melihat air mata Enne, seketika dia ragu, apakah benar keputusan yang diambilnya, apakah mendekati Adrienne akan membuatnya lebih baik?


"Aku bukan pria yang baik Enne, tapi kalau kau menganggap ku seperti itu, artinya kamu memang pantas mendapatkannya, kamu berhak bahagia Adrienne" jawab Deon jujur.


Dan hari mereka berakhir dengan perasaan yang lega kecuali Deon yang sepertinya membawa beban berat dipundaknya, sepulangnya dari apartemen Enne dia menjadi bimbang akan keputusannya.

__ADS_1


...*...


...*...


__ADS_2