MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
8


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Enne menatap mata sahabatnya, Edric terlihat meremehkan ucapannya.


"Apa aku seperti pembohong?" Enne balik bertanya.


Edric terdiam, dia berpikir sahabatnya sedang berhalusinasi karna sangat sedih.


"Ini tidak baik, ayo kerumah sakit, aku takut kamu kenapa-napa" Edric kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Tidak, aku tidak bohong, lihat mataku Edric, Louis memang ayah dari bayiku ini" Enne putus asa, dia berteriak kencang agar sahabatnya percaya omongannya.


Mesin kembali dimatikan, untuk beberapa menit Edric masih diam, sudah cukup dia sedih karna kematian Salma dan tidak ada angin tidak ada hujan Enne malah membuka kartu dan memberi tahu ayah dari anaknya.


Gilanya lagi, laki-laki itu adalah suami dari sahabat istrinya, Louis Vit, aktor yang digilai semua wanita, bagaimana Edric akan mempercayai hal itu.


"Percayalah denganku, aku tidak bohong"


Enne putus asa, entah bagaimana lagi caranya agar sahabat satu-satunya itu percaya.


"Kenapa kau bersikeras mengatakan Louis adalah ayahnya? Aku tahu kamu penggemarnya tapi berbohong seperti ini bukan hal yang bagus Enne! Lagipula dia sudah punya istri" Edric mencoba menyadarkan sahabatnya.


"Bohong? Lalu kau pikir siapa ayahnya Edric? Kau mau tes DNA? aku bisa membuktikan ucapanku tapi kenapa kau tidak mempercayai ku?" Enne kecewa.


"Dengar Adrienne! Bagaimanapun aku memikirkannya, tidak mungkin dia melakukan hal itu padamu, lagipula kalau kejadiannya setengah tahun yang lalu, itu mustahil Enne!"


"Apanya yang mustahil? Kau tidak lihat perutku ini?"


"Masalahnya bagaimana cara kalian bertemu? Dia artis besar, bagaimana mungkin itu terjadi? Dia tinggal di asrama yang penjagaannya sangat ketat, aku ingin percaya tapi semua terdengar tidak masuk akal Enne" jelas Edric, diapun sulit mempercayainya.


"Sekarang dengarkan aku, akan kujelaskan detail kejadiannya" Enne menatap tegas sahabatnya.


-Sejam kemudian-


"Apa sekarang kau percaya?"


Enne menatap pria disampingnya, mencari-cari maksud dari diamnya.


"Aku percaya padamu, kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri, tapi ayah dalam kandunganmu itu sudah tidak bisa lagi kau miliki! Aku marah padamu karna membiarkan janin itu tumbuh dan dia akan lahir tanpa ayah!" Edric terlihat marah.

__ADS_1


"Jadi maksudmu harusnya aku mengugurkannya? Tega sekali, kalau kau memang menganggapku sebagai adik, tidak seharusnya kau mengatakan itu Edric"


"Kenapa kau belum juga mengerti Enne? Apa kau lupa bagaiamana rasanya hidup tanpa orang tua? Aku takut suatu saat kau marah dan membuang anakmu"


Rasanya kepala Edric mau pecah memikirkan berbagai masalah yang datang bertubi-tubi dan sikap Enne yang terlalu santai.


"Aku tidak akan lupa! Aku akan merawat anakku dan tidak akan membiarkan satu kasih sayangpun hilang darinya, kenyataan bahwa ayahnya lupa telah berjanji padaku sudah sangat memukulku, terlebih ibu juga sudah pergi jadi jangan menambah beban yang kupikul Edric, cukup percaya dan dukung aku, aku hanya ingin memberitahu rahasia ini padamu, karna kau adalah sahabatku"


Air mata Enne mengalir lembut disela perbincangan yang tiba-tiba menghangat, Edric merasa bersalah terlalu keras dengan sahabatnya, dia memeluk dan menenangkan Enne sambil sesekali mengucapkan kata maaf.


-


Setelah sampai Edric langsung pergi karna ada urusan dan Enne berjalan masuk ke apartemennya.


"Apa tadi aku keterlaluan memarahi Edric? Apa kata-kataku berlebihan? Entahlah, mengapa hal-hal seperti ini terjadi terus menerus sih? Aku tidak ingin menyesal dengan keputusanku,aku akan merawat dan mencintai anakku, kita akan selalu bersama anakku sayang" gumamnya sedih.


Langkahnya yang mungil karna perut yang semakin besar memperlambat jalannya, pelan-pelan namun pasti Enne menaiki tangga menuju lantai dua tempat apartemennya berada.


Akhirnya sampai juga dia diujung anak tangga, matanya tepat mengarah ke depan ruangannya dan disana ada seseorang yang berdiri seperti menunggu seseorang.


"Siapa?" tanya Enne.


Pria itu menoleh "Tck, kamu dari mana saja?" dia terlihat khawatir.


"Kan tadi sudah janji bertemu jam 9! Yah walaupun sekarang sudah jam 5 sore, bibi juga memarahiku tapi janji ya tetap janji" jawab Deon santai.


"Kau menungguku? Kenapa?" tanya Enne lagi, dia bertanya-tanya alasan Deon bersikukuh menepati janjinya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kau ganti baju dulu, sepertinya pakaian itu agak menakutkan" lagi-lagi lidah tajam Deon beraksi.


"Bilang saja disini" tegas Enne.


"Tidak, aku ingin bicara di tempat lain"


"Hah lagi-lagi dia selalu mengatakan sesuatu semaunya saja" gumam wanita itu, dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Deon.


"Apa?"


"Ah tidak-tidak, hmph, baiklah, tunggu aku ganti baju dulu"


15 MENIT KEMUDIAN


Adrienne keluar setelah berganti pakaian, dia terlihat agak kelelahan dan Deon sebenarnya agak bersalah melihat itu.

__ADS_1


"Aku lama ya?" tanyanya.


"Tidak, ayo" sangkal Deon, dengan gentle dia menawarkan lengannya agar Enne bisa memegangi dan bergantung padanya.


Sayangnya Enne menggeleng menolaknya dan berkata "Aku bisa jalan sendiri" tapi Deon lagi-lagi membuatnya malu karna langsung menjawab dengan santainya.


"Aku menawarkan lenganku bukan untuk mu, tapi untuk bayi dalam perutmu, sebagai ibu yang sedang hamil, kau harus selalu waspada, lagipula kita akan turun tangga, aku tidak mau jadi tersangka kalau-kalau kau tersandung dan ja-


"Ishh, iya iya aku pegang, cerewet sekali"


Enne tidak mau berdebat lagi dia capek, entah mengapa kepribadian Adrienne berubah drastis kalau berada disamping Deon, berbeda jika dia bersama Edric dia akan habis-habisan mempertahankan pendapatnya.


Tapi kalau berbincang dengan Deon rasanya tenaganya melemah karna pria itu sangat tahu cara mematahkan semangatnya.


Dengan pelan dan penuh perhatian ponakan bibi Tang menuntun Enne masuk ke mobil dan membawanya ke salah satu cafe yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.


Adrienne diam saja dan lebih memilih mengikuti kemauan Deon karna dia tahu kalau mulutnya terbuka pria itu akan menjawabnya dengan cepat.


Kopi dan jus sudah ada diatas meja mereka berdua.


Senja menyapa dan suasana begitu romantis bagi beberapa orang yang ada didalam cafe yang sama dengan Enne.


Seketika Deon juga hanyut dalam perasaan senang itu, senja memang sangat menyenangkan.


"Jadi kau mau bilang apa?" tiba-tiba saja, pertanyaan itu membuyarkan lamunan Deon, dia menatap wajah penasaran Enne.


'Imut sekali' batin Deon.


Tanpa sadar bibirnya tertarik, dia tersenyum membuat Enne terkejut bukan main, senyumnya manis sekali, benar-benar menarik mata untuk terus memperhatikannya.


"Lagi" ujar Enne tanpa sadar, dia candu dengan senyuman pria didepannya.


Deon menatap aneh "Apanya?"


'Astaga aku keceplosan' Batin Enne.


"Ti-Tidak, ja-jadi aku mau tahu maksud kamu mengajakku kesini, apa alasannya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Butuh waktu beberapa detik sampai Deon menjawab singkat pertanyaannya dan tanpa bertele-tele.


Deon menatap lekat lawan bicaranya "Aku tidak akan basa basi, Adrienne jadilah istriku" jawabnya tegas dan tanpa keraguan.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2