MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
28


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Adrienne dan Valarie sudah pulang ke kediamannya, akhirnya setelah sekian lama mereka kembali.


Valarie berlari kedepan foto ayahnya " Ayah, apa kabar? Aku rindu" Ujarnya tulus.


Tersemat senyum diwajah Enne, melihat putrinya kini ceria seperti sedia kala.


"Valarie, apa kau mau ke rumah nenek?" ajak Enne senang.


Putrinya mengangguk saja, dia masih asik memandangi potret ayahnya, sejak Adrienne menyampaikan salam Deon, Valarie semakin sayang dengannya.


Begitulah aktivitas mereka berjalan dengan tenang.


Disisi lain Louis semakin acuh dengan istrinya, tidak ada lagi rutinitas pagi atau sekedar bertegur sapa pada Eliza.


Dia ingin bertemu Adrienne dan juga Valarie yang dia yakini adalah benar putrinya.


Eliza tak habis pikir dengan kelakuan Louis, amarahnya semakin lama menumpuk, rasanya dia ingin berteriak tapi dengan sabar dia menenangkan hatinya yang panas.


"Apa aku ada salah denganmu?" tanya Eliza kesal.


Louis menoleh kearah istrinya, mencoba mencari-cari maksud dari pertanyaan itu.


"Tidak, kamu tidak salah apapun" jawabnya jujur.


"Lalu kenapa kau berubah?" tanya Eliza lagi.


"Aku hanya kecewa dengan diriku, bisa-bisanya aku menikahi orang yang tidak kucintai" sahutnya tanpa basa-basi.


Eliza menggeleng, dia menyeringai, wajahnya merah karena marah.


"Ah apa kau mencintai wanita lain?" Kembali Eliza menanyakan penyebabnya.


"Iya, aku mencintai orang lain, sudah sejak lama, mungkin karena aku amnesia jadi aku mengira orang yang kusukai adalah kamu" jelas Louis dengan wajah datarnya.


Perasaan sakit dan dihianati tertancap keras di hati Eliza, pria yang sudah dicintainya sejak lama tiba-tiba menyatakan ketidaksukaan dengan dirinya.


"Apa maksudmu? Jangan bercanda seperti itu Louis, apa kau pikir aku percaya dengan omong kosong itu?" ungkap Eliz tak terima.


Louis bangkit dari tidurnya, dia berjalan mendekati istrinya yang kedua matanya sudah merah dan berkaca-kaca, tanpa berkata apapun, dia memeluk Eliza.


Tangis istrinya tumpah, sakit hatinya tak terbayangkan.


"Maaf" Ucap Louis.


Eliza menggeleng tak terima.

__ADS_1


"Tidak, jangan begini Louis, aku tetap wanita yang kamu cintai, apapun yang terjadi dan apapun yang kau putuskan, aku tidak akan melepaskanmu" susah payah Eliza menjelaskan perasaannya tapi Louis benar-benar mati rasa, bayangan Enne dan Valarie memenuhi pikirannya.


"Aku ingin kita cerai" ungkap Louis, dia menatap Eliza yang sudah tidak tahan.


Istrinya menyunggingkan senyumnya, tatapannya tajam menusuk pandangan suaminya.


"Heh, kau pikir aku mau? Gila, otak mu sudah kosong? Siapa juga yang cinta sama kamu? Kalau aku cerai, karierku akan turun dan kau pikir aku mau jatuh miskin? Jangan harap kau bisa bahagia dengan wanita yang kau cintai, aku bisa melenyapkan dia kapanpun aku mau, jadi jangan banyak bertingkah kalau tidak mau orang yang kau cintai hilang didunia ini" Ungkap Eliza diakhiri senyum liciknya.


Otak Louis serasa berhenti bekerja, kemana istri lemah lembut dan baik hati yang selama ini ditunjukkannya?


"Kau, benar Eliza?" tanya Louis memastikan.


Wanita itu menatap sinis dirinya.


"Ya ini Eliza yang sebenarnya, kau ini benar-benar polos yah? Bahkan kau tidak tahu kalau semuanya hanya akting, menyedihkan" jawab Eliza congkak.


Amarah Louis memuncak, ingin sekali dia memukul mulut Eliza, andai dia seorang pria mungkin nyawanya sudah melayang.


"Dasar gila" umpat Louis tak tahan, dia melangkah pergi meninggalkan Eliza yang terkekeh gemas, akhirnya dia tidak akan susah-susah memakai topeng didepan suaminya.


...*...


...*...


Adrienne dan Valarie baru saja sampai dirumah mantan calon suaminya, dia tidak tahu apa ibu Deon ada didalam sana, karena beliau orang yang sibuk, harapannya kecil untuk bertemu tapi tetap saja dia melangkahkan kakinya menuju kediaman penuh kenangan bersama Deon.


"Mama, ini rumah ayah Deon?" tanya Valarie yang berada digendongan Enne.


"Iyah sayang" jawabnya tersenyum gemas, tingkah Valarie memang sangat imut.


Dia tersenyum.


"Semuanya besar sayang, Valarie ayo turun, kita temui nenekmu" titah Enne, Valarie mengangguk, dia turun dengan senang dan segera menggenggam erat tangan ibunya.


"Apa nenek cantik?" tanyanya penasaran.


Adrienne terkekeh, dia penasaran dari mana turunnya rasa penasaran Valarie, padahal Enne adalah anak pendiam semasa mudanya.


"Iyah sayang, nenek sangat cantik" sahutnya gemas.


"Ooh, apa nenek lebih cantik dibanding mama?" tanya Valarie lagi.


"Iy-


"Adrienne" potong seseorang.


Enne menoleh kearah suara yang menyebut namanya dengan lembut, rasanya dia akan menangis mendengar suara menenangkan dari mantan calon mertuanya itu.


"Mama" sahut Enne rindu.


Laura menyambut Enne, dia memeluk erat wanita yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.

__ADS_1


"Kenapa baru datang sekarang? Mama kangen sekali, ini Valarie?" tanya Laura, matanya berkaca-kaca.


"Halo nenek cantik" sapa Valarie diselingi senyum manis dan mempesona.


Laura terharu, segera dia menggendong cucunya, air matanya mengucur deras, sosok Valarie mengingatkan dia dengan putranya.


"Kamu juga sangat cantik" puji Laura pada cucunya.


Valarie kegirangan, dia sangat suka dipuji rupanya.


"Kenapa tidak mengabariku? Harusnya aku bisa menyiapkan makanan kesukaanmu" ucap Laura sedikit marah.


Adrienne menggeleng "Tidak ma, ini mendadak, tiba-tiba saja aku rindu kerumah ini, jadi aku lupa memberitahu mama" jawab Enne ikut terharu.


"Ya sudah ayo masuk, aku mau keluar dulu, hanya sebentar kok, kamu nginap yah" pinta Laura sangat senang.


Adrienne mengangguk saja, sebenarnya dia tidak berencana untuk menginap tapi entah mengapa melihat Laura, dia jadi tidak bisa menolak.


"Nenek mau kemana?" tanya Valarie tiba-tiba.


Laura mengelus pucuk kepala cucunya, dia tersenyum hangat sekali.


"Nenek akan belikan makanan dan hadiah yang banyak untuk Valarie yang cantik ini" jawab Laura lagi.


Valarie semakin senang, dia memeluk neneknya lagi.


"Nenek memang yang terbaik, tapi kukira nenek itu berambut putih dan susah berjalan, kenapa nenek berbeda? Nenek terlihat sangaaaat cantik" ungkap Valarie terkagum-kagum.


Laura terkekeh, cucunya sangat pintar menggombal ternyata.


"Cucu nenek bisa saja, ya sudah kalian masuk, aku pergi dulu yah" pamit Laura, dia segera pergi tanpa menoleh lagi, perasaannya agak aneh, sepertinya ada sesuatu yang lupa dia beritahu tapi tidak terlalu menggangu sih.


Adrienne masuk, dia melepas sendalnya seperti dulu, saat-saat dia masih ada dirumah ini, kebiasaannya masih belum berubah.


Valarie ikut masuk, dia berlari meninggalkan ibunya yang baru saja merapikan sepatu mungilnya.


"MAMA!" teriak Valarie sesaat setelah masuk kedalam.


Adrienne terkejut, dia segera berlari menuju tempat anaknya berada.


"Ada apa sayang?" tanya Enne panik.


Valarie menunjuk kearah sofa "Siapa om itu?" tanyanya penasaran.


Adrienne baru memastikan dan melihat seorang pria tertidur diatas sofa, seluruh pakaiannya formal, Enne tak mau pusing dan menjawab santai pertanyaan anaknya.


"Sepertinya itu assisten nenek sayang, ayo sini jangan ganggu om-nya, pasti dia lelah sampai ketiduran begitu" ajak Enne, tangannya melambai memanggil anaknya.


"Baik ma" jawab Valarie patuh.


Mereka berdua lalu berjalan menaiki tangga yang ada disudut ruangan, sepertinya Adrienne berniat memperlihatkan ruangan yang dulu ditempatinya saat dia hamil dan merawat putrinya waktu kecil.

__ADS_1


...*...


...*...


__ADS_2