MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
51


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Laura tak lagi memandangi adik iparnya.


"Lihat wanita ini, tidakkah kau kasihan dengannya?" tanyanya sangat sedih.


"Dia tidak punya keluarga, dihamili orang, Deon kekasihnya mati, Valarie anak yang sangat dia sayangi pun mati dan Aron juga pergi meninggalkan dia, tidakkah kau merasa iba dengannya? Aku bahkan tidak berani mengukur seberapa besar hatinya terluka, kalau kau diposisi Enne, bisakah kau bertahan?"


Maya tahu, dia sudah melakukan kesalahan, penyesalan demi penyesalan datang menyerbu pikirannya, dia sangat merasa bersalah dengan perlakuannya.


"Aku tidak akan bisa sekuat dia" jawabnya malu.


Ibu Deon menyeringai ditempatnya "Baguslah, setidaknya kau tahu kalau dirimu sangat kejam, sekarang pergilah, Enne dan kau sudah tidak memiliki ikatan" usir Laura.


Kedua mata Maya membulat sempurna, dia tidak menyangka ucapan Laura waktu itu benar-benar serius.


"Kakak, aku ingin melihat menan-.


"DIA BUKAN LAGI MENANTUMU, PERGILAH, KAU MENGGANGGU ISTIRAHATNYA" Laura menyela ucapan adik iparnya, sepertinya tidak mudah baginya menerima perlakuan Maya pada Valarie dan Enne waktu itu.


Maya mengalah, air matanya mengalir seiring rasa bersalahnya yang semakin bertambah besar, dia begitu menyayangi menantu dan cucunya tapi kematian Aron benar-benar menampar akal sehatnya, saat itu dia kehilangan kendali dan shock lalu keluarlah kata-kata kejam itu.


"Sampaikan kata maaf ku padanya kak" pamitnya, dia berjalan meninggalkan dua orang itu.


...*...


...*...


Waktu berlalu dengan lambat, kelopak mata yang indah itu terbuka dengan pelan, matanya melirik segala penjuru ruangan, perlahan-lahan ingatannya kembali menyerbu pikirannya.


Air matanya menetes.


Lalu dia terisak bersamaan dengan ingatan yang muncul dipikirannya.


"Valarie" ucapnya sedih.


Tangisan Enne membangunkan Laura dari tidur nyenyaknya, betapa terkejutnya dia melihat pemandangan yang sangat menyayat hatinya.


"Enne, ssst tenanglah sayang, ada mama disini" ucapnya menenangkan.


Tapi Adrienne tak mampu menghentikan air matanya, dia merintih kesakitan dan memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Mama, anakku ma, cucu mama, dia baik-baik saja kan?" tanyanya penuh harap.


Laura ikut menangis, tak bisa dia bayangkan seberapa banyak Adrienne terluka dengan kepergian orang-orang yang dia sayangi.


"Mama, jawab Enne" tanyanya lagi, air matanya semakin mengucur deras.


"Mama sudah menidurkan dia didekat ayahnya sayang, dia sudah tenang di alam sana , Valarie pasti sudah bertemu Deon" dengan tegar Laura mencoba menjelaskan pada Enne situasi yang dialaminya.


Seketika Enne terdiam dan hanya melanjutkan tangisannya, tak lama dia tersenyum dan mengangguk pelan.


"Valarie pasti senang sekali bertemu ayahnya, sekarang aku tidak perlu khawatir, karena putriku sudah dijaga dua orang pria yang sangat baik dan menyayanginya dengan tulus" sahut Enne mencoba menenangkan perasaannya.


Namun air matanya semakin deras, dia menangis dengan keras sampai-sampai matanya merah dan bengkak, Laura yang melihatnya juga larut dalam kesedihan yang dirasakan Enne.


"Anakku sayang, mama rindu kamu tapi sepertinya ayah Deon lebih merindukanmu, buktinya dia memanggil kamu sangat cepat, dia pasti tak sabar ingin melihat putrinya yang tumbuh besar, iyakan ma?" kata Enne, dia masih mencoba menghibur dirinya yang sangat kehilangan sosok putrinya.


"Em, Deon pasti senang sudah bertemu Valarie" sahut Laura, dia sangat sedih melihat Enne, dia ingin menghiburnya tapi tidak ada satu katapun yang bisa membantunya.


-Lima hari yang lalu-


Aron sedang memanggang daging sapi bersama Edric, sedangkan Enne dan Tiara mengatur meja untuk mereka bisa menikmati makanan dengan nyaman dan bebas.


"Aron jangan biarkan Edric memanggang daging itu" celetuk Tiara tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya suami Enne.


"Dia juga sangat kaku, apapun yang disentuhnya pasti rusak" timpal Enne yang sangat tahu kelakuan sahabatnya itu.


"Benar, aku sudah tiga kali beli kacamata gara-gara dia mematahkan kacamataku" adunya kesal.


Lian yang mendengar itu langsung mengomentari Edric "Ayah payah sekali" ucapnya.


Lagi-lagi semua menertawai Edric karena tingkah anaknya.


"Tertawalah sepuasnya" sahut Edric senang, dia sangat menyukai liburan kali ini, apalagi anak-anaknya juga sudah bertumbuh besar.


Setelah mereka makan bersama, mereka juga jalan-jalan ke tempat wisata, pokoknya tidak ada satupun tempat yang tidak mereka singgahi.


Keakraban mereka layak memancing rasa iri, kedua keluarga yang terlihat sangat harmonis dan sempurna.


Adrienne bersama suami dan putrinya baru saja masuk kedalam kamar hotelnya, mereka terlihat lelah, Valarie yang sedari tadi digendongan ayahnya pun tertidur sangat lelap.


"Valarie pasti sangat menyukaiku, buktinya dia selalu tertidur saat kugendong" Aron berkata dengan percaya diri.


Enne yang mendengar itu terkekeh geli "Mana mungkin, putriku itu pasti lebih menyayangi ku" sahutnya tak mau kalah.

__ADS_1


"Baiklah, besok saat Valarie bangun, kita tanya siapa yang lebih dia sukai, aku atau kamu" usul Aron.


Enne menggangguk saja "Baik tuan Aron yang sangat percaya diri, saya akan menerima usulan itu" jawabnya lagi.


Aron gemas melihat istrinya, dia menurunkan putrinya diatas kasur dan segera menggendong Enne.


"Aron apa yang kau lakukan?" tanyanya.


Enne sangat terkejut.


"Hm, ayo, bibir yang cerewet ini mau bilang apa lagi? Cepat katakan, khusus malam ini, aku akan mendengarkan semua curhatan istri cantikku" goda Aron.


Tak henti-hentinya senyum Enne menghias wajah cantiknya, Aron memang paling bisa membuatnya berbunga-bunga.


"Baiklah, kalau begitu, kau harus mendengarkan keluhanku malam ini" ucap Enne serius.


Aron mendudukkan istrinya di sofa dan membiarkan dia mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Aku akan mendengarkannya, apapun itu" ucapnya tulus.


Enne menatap wajah suaminya.


"Kamu kenapa sangat baik padaku? Aku jadi tidak tahu harus komplain apa, you treat me like a queen dan itu buat aku sangat bahagia karena bisa ketemu sama kamu sayang" ungkap Enne tak tahan lagi.


Aron tersenyum, dia menatap hangat istrinya, dan mengecup punggung tangan Enne.


"Kau pasti tidak tahu seberapa besar aku berterimakasih pada Tuhan karena memberikan aku istri dan anak yang cantik, baik hati pula" pujinya senang.


"Aron, kau berlebihan, aku tidak sebaik yang-


"Itu hanya pikiranmu saja, buktinya aku malah semakin jatuh cinta denganmu, kamu itu ratuku, kamu bungaku, kamu belahan jiwaku, kamu segala-galanya Enne, aku tidak pernah menyesal menikahimu" ucap Aron posesif.


Adrienne merasa sangat terharu, dia tidak tahu harus menjawab apa pernyataan suaminya.


"Aku sangat mencintaimu Aron" ungkap Enne tiba-tiba.


"Kalau kau sangat mencintai ku, aku mau kau menjaga dirimu, selalu bahagia dan tidak boleh merasa sedih atau banyak pikiran, apapun yang terjadi kamu harus selalu senang, karena aku tidak akan terima kalau istriku ini menjadi sakit, untuk masalah anak kamu tidak usah khawatir, aku tidak terlalu memikirkan itu, kita bertiga saja bagiku sudah cukup, jadi bahagia ya sayang jangan stress, love you Enne" ucap Aron, dia mengecup kening istrinya dan memeluknya.


"Love you too sayang" balas Enne.


Mereka berdua menghabiskan malam sambil menceritakan lagi masa-masa pernikahannya, canda tawa tak hentinya terdengar dari kamar mereka, anehnya Valarie bahkan tidak terbangun mendengar orangtuanya bercerita.


Begitulah malam yang bahagia itu berlalu.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2