
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
"Kau benar, didunia ini, mana ada ibu yang ingin anaknya hidup bersama orang sepertimu" sahut Aron serius.
Adrienne sepertinya terhantam batu sampai membuat otaknya membeku untuk beberapa saat, kalimat yang Aron katakan cukup menyayat hati dan perasaannya.
"Ja-
"Kau pikir, aku akan mengatakan hal seperti itu? Apa kau tidak memiliki sedikitpun rasa percaya diri dengan hidupmu Enne? Kenapa kau terlihat sangat putus asa dan selalu merendah?" Aron menyela ucapan Enne, dia cukup marah dengan wanita yang akan dinikahinya itu.
Adrienne tidak mampu menjawab pertanyaan Aron, karena diapun bingung dengan pola pikirnya, dia tidak pernah menilai dirinya berharga, itu sebabnya dia bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan pria disampingnya itu.
"Lihatlah dirimu, lelaki mana yang tidak bahagia hidup bersama wanita yang hebat sepertimu? Kau menghidupi dan merawat putrimu sehingga menjadi anak yang pintar dan baik hati, kau masih sanggup bangun meski orang yang kau cintai pergi meninggalkan mu, kau pandai melakukan apapun, lalu kenapa tidak ada rasa bangga dengan dirimu sendiri? Padahal kau sudah sekuat itu bertahan dari dunia ini" ucap Aron lagi.
Dia begitu menggebu, besar rasa percayanya untuk memberitahu wanita disampingnya, betapa bersyukurnya dia bisa hidup dan berbagi kasih dengannya.
"Apa aku, bisa diterima dikeluargamu?" tanya Enne.
"Sebenarnya apa yang kau takutkan?" Aron balik bertanya, dia ingin tahu isi pikiran Enne.
"Aku takut ibu dan ayahmu tidak menyukaiku" jawab Enne, dia menunduk dan merasa tidak berdaya.
Aron menghela nafasnya.
"Kau terlalu memikirkannya, mereka tidak seperti yang kau bayangkan! Jadi, kau tidak usah memikirkan itu, bagaimana kalau kita membahas yang lain?" tanyanya mencoba mengalihkan pikiran Enne.
"Bahas apa?" sahut Enne penasaran.
"Bahas tentang kamu, aku tidak tahu kapan kamu lahir dan tanggal berapa, warna dan makanan kesukaan mu, hobi yang kau gemari dan masih banyak lagi" jelas Aron, dia mulai bersemangat.
Adrienne tersenyum, diapun menjelaskan satu persatu tentang hal-hal yang disukainya dan yang tidak dia sukai.
Waktu berlalu saat Enne menjelaskan tentangnya dan Aron masih memandangi Enne yang asik bercerita.
"Cantik sekali" puji Aron tiba-tiba.
Adrienne melirik pria disampingnya.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanyanya memastikan, meski samar dia mendengar Aron menyebutkan sesuatu.
Aron menggeleng.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun, oh ya, apa besok kau ada waktu?" tanyanya mengalihkan lagi pembicaraan.
__ADS_1
"Besok? Hm, sebenarnya aku selalu ada waktu hehe, justru aku cukup bosan disini" jelas Enne.
Aron tersenyum.
"Syukurlah, kalau begitu besok ayo ikut aku ke suatu tempat" ajak pria berlesung pipi itu.
"Kemana? Valarie ikut?" tanya Enne memastikan.
"Rahasia! Tentu saja putri cantikku ikut, kalau tidak, aku akan merasa sedih" jawab Aron, tingkahnya sangat menggemaskan sampai-sampai Enne tertawa dan tidak sengaja menepuk lengan pria disampingnya.
"Maaf, aku tidak sengaja" sontak Enne meminta maaf.
Aron terkekeh.
"Imutnya" pujinya tak tahan, dia sangat menyukai wajah khawatir Enne.
Kedua pipi Enne merona, (imut) satu kata yang membuat dadanya berbunga-bunga, rasanya ada kupu-kupu yang terbang keluar dari perutnya sehingga menimbulkan efek geli tapi juga menyenangkan.
"Pujian itu, aku menyukainya" jawab Enne jujur.
Aron ikut tersipu mendengar Adrienne yang menyukai pujiannya.
"Sebenarnya, kau juga sangat cantik" lagi-lagi Aron memuji Enne.
Kali ini Adrienne sangat merasa geli, sepertinya pujian itu tidak cukup nyaman masuk ditelinganya.
"Hentikan, jangan mengatakannya, kali ini kau berlebihan Aron" jelas Enne diakhiri kekehan mengejek.
Adrienne mengernyit.
"Hm?" gumamnya, dia mempertanyakan ucapan Aron.
"Panggil aku sayang, jangan Aron" jelasnya, dia cukup serius mengatakannya.
Mereka saling memandang, terjadi keheningan yang cukup lama, seolah mereka berdua saling menyahut hati tanpa harus lama-lama menjelaskan lagi.
Sampai akhirnya erangan kecil Valarie mengejutkan keduanya, pandangan mereka terhenti dan akhirnya memutuskan membawa si mungil kedalam kamar lalu kembali menidurkannya.
"Enne" panggil Aron, suaranya kecil karena takut membangunkan Valarie.
"Iya?" sahut Enne, sorot matanya dipenuhi tanda tanya, jarang sekali pria yang kini duduk didepannya itu menatapnya dengan serius.
"Apa kau senang bersamaku?" tanyanya penuh harap.
Adrienne cukup terkejut mendengar pertanyaan Aron yang tiba-tiba.
"Daripada senang, aku lebih bersyukur karena kau memilihku, tentu saja aku bahagia karena kau memberiku kesempatan untuk menyukai dan memulai hidup baru denganmu" jelas Enne, dia sangat berusaha memperindah kalimatnya agar tidak menimbulkan salah paham Aron.
__ADS_1
Aron tersenyum.
"Terimakasih, aku sangat menghargai pujian mu, tapi ingatlah, aku lebih merasa bersyukur karena kau memilihku" jelasnya senang.
"Terimakasih juga Aron, karena sudah memilihku" timpal Enne tak mau kalah.
Mereka larut dalam kekaguman yang timbul dari masing-masing jawaban, malam ini, keduanya merasakan kebahagiaan karena kalimat yang muncul sangat melegakan hati mereka berdua.
...*...
...*...
Lagi-lagi Louis mendatangi rumah Adrienne, dia duduk didepan pintu sambil mengharap wanita itu pulang membawa Valarie digenggamannya.
Sepertinya tidurnya tidak cukup, terbukti lingkaran matanya yang menghitam dan nampak begitu jelas sejauh apapun memandangnya.
Dia terlihat sangat menyedihkan.
"Aku salah, aku memang salah" Ucapnya.
Louis terus menggumamkan penyesalannya karena mengalami amnesia. Dia sangat ingin memutar waktu kembali dimana dia akan menikahi Enne bukannya Eliza.
"Kalian kemana? Aku sangat merindukan kalian" ucapnya, rasa sedih dan tertekan begitu dirasakan Louis, setiap Enne muncul dikhayalannya, saat itu pula rasa sakit menggerogoti tubuhnya.
"Kapan aku bisa bertemu kalian?" tanyanya lagi.
Hati Louis terasa berat, perutnya yang sudah dua hari tidak terisi membuat badannya terasa pegal, begitu pula sakit kepala yang menghantuinya.
Penglihatannya buram, sakit kepalanya semakin menjadi dan akhirnya dia tidak sadarkan diri, Louis pingsan tepat didepan pintu Enne.
Langit yang tadinya cerah tiba-tiba menggelap, awan mengabu dengan cepat dan rintik hujan mulai berjatuhan, Louis yang tak sadarkan diri terkena hujan dan tubuhnya basah.
Bibirnya pucat, dia benar-benar sangat menyedihkan, apalagi tubuhnya yang kurus pasti semakin menyayat hati siapapun yang melihatnya.
Dua jam berlalu dan hujan masih belum reda, Louis masih dalam posisi yang sama, dia terbangun dan mendapati dirinya yang basah kuyup.
Dalam kesadaran yang belum terkumpul, dia berdiri menuju mobil yang dia parkir didepan gerbang rumah Enne.
"Aku tidak boleh mati, aku harus bertemu Enne dulu" gumamnya.
Dia terus mengulang kalimat itu, agar kesadarannya tidak hilang dan agar dia bisa menahan rasa sakit luar biasa diperut dan dadanya setelah menahan lapar selama dua hari berturut-turut.
Pelan-pelan dia melangkah, tangannya yang gemetaran mengambil kunci yang ada di sakunya, dia terus diguyur hujan tapi entah mengapa Louis tidak menjadikan itu masalah yang bisa menghalanginya.
"Aku belum bertemu Edric, hari ini aku harus membujuknya agar memberitahuku dimana Enne sekarang" ucapnya kembali semangat.
Dadanya terasa sesak, rindunya sudah sangat menggebu, Louis sangat menginginkan pertemuan dengan Adrienne dan Valarie, besar harapannya untuk membujuk Edric agar mau membuka mulut tentang keberadaan mereka berdua.
__ADS_1
...*...
...*...