MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
55 (Tamat)


__ADS_3

...-Selamat Membaca-...


...*...


...*...


Entah mengapa, hari ini terasa penuh teka-teki, aku tidak tahu hal apa yang menantiku kedepannya, tapi jelas kalau kedatangan Louis mengembalikan sesuatu yang hilang dariku.


Dia terlihat sedih, harusnya dulu aku tidak melarang dia bertemu anaknya, sakit sekali rasanya, melihat dia hanya bisa mencintai putrinya dalam khayalan.


Louis menatapku, senyumnya benar-benar meluluhkanku.


"Kenapa kau terus tersenyum?" tanyaku.


Dia menunduk pelan, aku tidak mengerti alasan dia seperti itu.


Tepat disampingnya ada makam Aron, dia membalikkan tubuhnya dan membelakangi ku.


Aneh!


"Aron, aku kembali lagi, kali ini, aku menarik janjiku enam tahun lalu, sekarang kamu meninggalkan wanita yang kucintai sendirian, jadi hari ini, izinkan aku mengambilnya, biar aku yang melanjutkan tugasmu, rasa cintaku akan lebih besar darimu, sayang dan kasihku juga takkan bisa kau kalahi, aku bersedia membahagiakan dia sampai akhir hidupnya, dan kupastikan, aku tidak akan meninggalkannya sebelum dia yang lebih dulu pergi dari hidupku"


Kalimat itu seperti untaian harapan yang terhubung masuk mengetuk relung hatiku, begitu tenang dan menenangkan, aku terharu, dia benar-benar pria yang baik.


Indah sekali.


Kau berhasil membuatku kembali mencintaimu Louis.


"Louis" seru ku.


Pria itu menoleh, menatap hangat diriku, dia benar-benar membuat jantungku berdebar.


"Enne" sahutnya, dia berjalan mendekatiku sambil satu tangannya merogoh saku jasnya.


Dia mengeluarkan kotak kecil dari sana, tiba-tiba jantungku bertalu tak berirama, berdetak lebih cepat dari biasanya.


Benakku bertanya dengan gilanya, apa dia akan melamarku disini? Aku benar-benar tidak bisa menahan ekspresi ku yang tiba-tiba berharap itu benar sebuah lamaran.


Louis tampak serius dan wajahnya tak lagi terhias senyuman.


Dia berlutut didepanku dan berkata "Adrienne, ibu dari putri tercintaku, wanita yang selalu kucintai sampai akhir hidupku, hari ini, aku meminta kemurahan hatimu, kumohon menikahlah denganku" ucapnya.


Hatiku bergetar, kata-katanya penuh dengan ketulusan dan harapan yang besar, kalau sudah seperti itu, bagaimana bisa aku menolaknya.


Aku terharu, meski begitu aku menangis bukan karena aku cengeng, tapi karena pengakuan Louis benar-benar membangkitkan diriku agar mau hidup bahagia tanpa harus menyakiti diriku lagi.


"Baik, mari kita menikah" sahutku senang.


Aku melihat wajahnya yang sangat senang tapi Louis memelukku, dia menangis dipundakku, sepertinya dia sudah melepaskan bebannya.


"Terimakasih, terimakasih karena sudah memberiku kepercayaan mu Enne, tadinya kupikir kau akan menolak ku lagi" ungkapnya.


Aku balas memeluk Louis, menyalurkan semua kenangan lama yang pernah kita alami tanpa harus mengucapkannya.


Aku suka, sudah sejak lama aku sangat menyukaimu Louis, terimakasih sudah menepati janjimu sebelas tahun silam.


...*...


...*...


Hari ini, adalah hari bersejarah dan hari yang sangat penting bagi Enne maupun Louis, mereka akan menikah setelah melalui begitu banyak pedihnya hidup.

__ADS_1


Adrienne berjalan menuju Louis yang menantinya di altar pernikahan, gaunnya berwarna putih dengan corak bunga yang tampak nyata disetiap sudut gaunnya, dia terlihat sangat cantik, wajahnya berseri dan aura yang mengelilinginya membuat orang disekelilingnya terpana.


Louis tersenyum, menatap bangga wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.


Hingga sampailah dia diujung penantian, Louis mengulurkan tangannya dan Enne menyambut hangat calon suaminya.


Mata mereka beradu, seolah saling memahami getaran rasa yang dengan dahsyatnya mengguncang perasaan mereka.


"Aku gugup" ungkap Louis.


Enne terkekeh mendengarnya.


"Aku juga" sahutnya, lalu mereka saling menyahut tawa dalam keheningan.


"Alaxander Louis, apakah kamu bersedia menyayangi dan mencintai segala kelebihan dan kekurangan mempelai wanita, sampai akhir hidupmu?"


"Ya, saya bersedia"


"Adrienne Brian, apakah kamu bersedia menyayangi dan mencintai segala kelebihan dan kekurangan mempelai pria, sampai akhir hidupmu?"


"Ya, saya bersedia"


"Dengan ini, aku bersaksi bahwa kalian berdua sudah menjadi pasangan suami istri yang sah"


Begitulah pernikahan Adrienne berjalan dengan khidmat dan tanpa halangan apapun.


Sampai tibalah waktu, malam pertama untuk pengantin baru itu.


Enne sudah membersihkan diri dan bersiap menunggu suaminya keluar dari kamar mandi, butuh waktu lama menanti Louis keluar.


Tanpa basa-basi, Louis naik ke kasur, mereka berdua saling menatap dalam hening yang tercipta karena kecanggungan.


"Enne"


"Izinkan aku memperbaiki sikapku dulu, aku sudah kasar denganmu, sekarang aku akan melakukannya dengan sangat lembut, boleh?" tanya Louis, dia menatap wajah Enne yang merona karena ucapannya.


"La-lakukan saja semaumu" balasnya malu-malu.


Louis mengecup kening istrinya dan mencium bibir ranum Enne, mereka terbawa dalam suasana yang sepi, menyisakan dua insan yang tenggelam dalam cinta yang mendebarkan.


...*...


...*...


-Setahun kemudian-


Louis membawa Enne kerumah sakit, waktu menunjuk pukul lima subuh, wajahnya pucat dan panik sedangkan istrinya hanya bisa menahan sakit luar biasa di


sekujur tubuhnya.


"SUSTER, TOLONG ISTRI SAYA SUSTER" teriak Louis.


Keadaannya cukup kacau, Enne segera ditangani oleh dokter sehingga Louis bisa bernafas lega.


Rambut Louis acak-acakan, lingkaran hitam dimatanya sangat terlihat, satu tangannya menenteng tas besar berisikan persiapannya istrinya setelah melahirkan.


Orang-orang menatap aneh dirinya, dia bingung dan memeriksa apa ada yang salah dengannya.


Saat itu, dia baru sadar, kalau dia hanya memakai celana pendek dan kaos oblong serta sendal rumah berwarna pink muda, seketika Louis menunduk malu dan berjalan menuju kamar persalinan istrinya, dalam hati dia hanya bisa menerimanya dengan lapang dada.


"Hal seperti ini pasti sudah dialami oleh semua suami, aku tidak perlu malu karena hal kecil seperti ini" belanya.

__ADS_1


Louis menelfon Laura, hubungan mereka sangat akrab semenjak ibu Deon itu mengadopsi Enne dan mengangkatnya jadi anak dari keluarga Brian.


Kejadiannya setahun yang lalu saat Enne sedang mencari wali untuk pernikahannya, untung saja Laura dan suaminya dengan suka rela menerima dan mengangkat Enne menjadi putrinya.


Drrt~


"Halo"


"Halo ma, Enne mau melahirkan, aku ada di RS bersalin Sukawati, cepat kesini ma, kamarnya nomor 108, cepat ya ma" ajak Louis buru-buru.


"Benarkah? Oke, mama akan kesana secepatnya, tunggu ya" sahut Laura dari seberang telfon.


"Iya ma, hati-hati dijalan"


Louis mematikan panggilannya dan kembali cemas, dia sangat gugup membuat perutnya terasa mulas, apalagi sekarang dia mengantuk karena begadang menemani Enne.


Dia melahirkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, itu sebabnya Louis tidak menyangka kalau hari ini istrinya akan melahirkan.


Tak butuh waktu lama, Laura datang dengan wajah yang juga cemas namun perasaan itu hilang seketika, saat mendapati penampilan menantunya yang sangat lucu.


"Hahahahaha" tawanya tak tahan.


Louis menelan salivanya yang pahit "Iya, Iya aku tahu aku terlihat sangat berantakan kan?" ungkap Louis pasrah.


Laura menggeleng "Tidak, aku tertawa karena mengingat anakku, orang yang menemani Enne melahirkan Valarie, waktu itu dia juga terlihat sama persis sepertimu, Deon bahkan hanya membawa dompet dan melupakan segalanya, itu sebabnya aku tertawa melihat tingkahmu yang sama persis dengannya" jelas Laura.


"Benarkah? Aku tidak tahu ada cerita seperti itu, tapi aku berterima kasih pada Deon yang sudah menjaga dan mencintai anak, istriku dengan sepenuh hati" ucap Louis penuh syukur.


Dia merasa bahagia karena selama dia lupa ingatan, ada orang baik yang ingin menemani dan mencintai istrinya dengan sungguh-sungguh.


Laura juga merasa bersyukur karena anaknya bertemu dengan pria baik hati seperti Louis.


-


Rasanya tubuhku remuk secara bersamaan, bayiku sudah lahir, aku sangat senang, Louis juga pasti sangat bahagia bisa mendapatkan seorang putri lagi.


Anggap saja, ini hadiah dariku karena telah jahat membuatmu merasakan penderitaan karena tidak memiliki banyak waktu dengan Valarie.


Padahal aku tahu kau sangat menyayanginya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" itu Louis, aku mendengar suaranya, sepertinya dia menangis.


Sayangnya, tubuhku lemah, aku tidak sanggup membuka kelopak mataku "Louis, aku mengantuk" jawabku pelan sekali.


Louis menangis lagi, membuatku sedih karenanya.


"Jangan tinggalkan aku sayang, kumohon"


Aku merasakannya, dia mengecup pipiku, padahal aku sangat lelah, padahal tadinya aku ingin berisitirahat dengan tenang, setidaknya aku memberinya satu malaikat kecil yang akan menemaninya.


Tapi isakan Louis menahanku, dengan segala tenaga, aku tak membiarkan diriku terlelap, sengaja kugerakkan jariku agar Louis tak bersedih.


"Tenanglah, aku akan selalu bersamamu" hiburku, hanya itu yang bisa kukatakan, aku sudah berusaha sebisa mungkin tapi akhirnya kesadaranku menghilang tanpa aku pun bisa memungkirinya.


...-Tamat-...


...*...


...*...


...🎊Nantikan satu chapter spesial 🎊...

__ADS_1


💐Gaun Adrienne💐



__ADS_2