MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
23


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


"TIDAK, TIDAKKKKK, TIDAKKKK AKU BUKAN PELACUR, TIDAKKK"


Adrienne terus mengulang teriakannya,Edric menahan kedua tangan sahabatnya agar tidak melukai dirinya sendiri.


Tiara selesai menelfon rumah sakit, keadaan Enne benar-benar gawat, trauma yang sudah lama disembunyikannya justru muncul kembali.


Edric merutuk dirinya, dia marah karna tidak bisa melakukan apapun untuk sahabatnya.


"Mama~" tangis Valarie kembali pecah, dia menatap Enne yang kehilangan kendali, Valarie takut, dia tidak mau ibunya kembali sedih tapi nyatanya dia semakin membuat Adrienne menderita.


"Ssst, sudah sayang, Valarie tidur yah, ayo ikut tante" ucap Tiara mencoba menenangkan keponakannya, Lian juga ikut bersamanya.


Butuh waktu lama menidurkan Valarie, Lian juga ikut tidur didekatnya, Tiara bergegas ke ruang tamu, dokter pasti sudah datang dari tadi apalagi Enne tidak berteriak lagi.


Adrienne terlelap diatas sofa dan dokter juga baru selesai memeriksanya.


Tiara ikut duduk disamping suaminya dan dokter mulai menjelaskan keadaan Enne.


"Keadaan pasien sangat buruk, apa pasien sering mengalami kondisi ini?" tanya dokter itu.


Edric menggeleng "Ini pertama kalinya dokter" sahutnya cemas.


"Melihat kondisi pasien, sepertinya ini bukan terjadi sekali dua kali pak, pasien mengalami PTSD atau mudahnya disebut gangguan stress pasca trauma, melihat dari respon pasien, trauma yang didapat sepertinya sangat besar, apa pasien pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan?" tanya dokternya lagi.


Edric menggeleng, dia tidak tahu apapun, dia kesal karna tidak tahu keadaan sahabatnya.


"Begini pak Edric, PTSD hanya bisa dialami oleh pasien yang mengalami trauma dengan jangka waktu yang sangat lama, mereka secara langsung mengalami kejadian seperti misalnya kecelakaan, pelecehan atau hal-hal yang sangat mengguncang perasaan mereka, dan saya rasa pasien ini mengalami trauma dalam jangka waktu yang sangat lama dilihat dari reaksinya yang sangat marah dan hilang kendali" jelas si dokter.


Edric dan Tiara hanya bisa terpaku menatap wajah lesu Enne yang terlelap karna obat penenang.


"Lalu bagaimana cara mengobatinya dokter?" tanya Tiara sedih.


"Jika pasien juga mengalami depresi maka saya sarankan harus dibawa ke psikiater dan saya akan menulis obat yang harus diminum pasien untuk menenangkannya" Dokter mengambil kertas dan menulis obat yang diperlukan.

__ADS_1


Tiara dan Edric masih diam, mereka bingung, kenapa sampai ada masalah besar yang tidak diketahuinya, rasa bersalah dan khawatir menghantui suami istri itu.


'Sebenarnya kenapa Adrienne tiba-tiba sangat ketakutan?' Pikir Tiara.


Setelah dokter pergi Tiara dan Edric mulai membahas langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.


"Sayang, sepertinya penyebab Enne takut karna kata-kata Risa, setelah mendengar penjelasan Lian dia terlihat sangat takut" ungkap Tiara.


Edric mengangguk "Kita harus cari tahu orang yang menyuruh Risa mengatakan itu, aku tidak akan membiarkan dia lolos, siapapun dia" sahut Edric sangat kesal.


"Tapi sayang, bukannya kamu bersahabat sejak kecil dengannya? Kenapa kamu bisa tidak tahu ada kejadian traumatis yang menimpa Enne?" tanya Tiara heran.


"Sebenarnya saat aku berumur 14 tahun aku diadopsi dan sejak saat itu kami berpisah, aku hanya menemui Enne saat libur sekolah tapi aku pernah meninggalkan Adrienne selama 3 tahun, sepertinya kejadian traumatis itu terjadi sekitar 5 atau 6 tahun lalu saat aku tidak bersamanya" jelas Edric, Tiara mengangguk mengerti, sepertinya akan sulit menemukan pelaku yang membuat Valarie dan Adrienne menderita.


Tapi Tiara dan Edric tidak akan melepaskan orang yang membuat orang tersayangnya tersiksa seperti sekarang.


...*...


...*...


Louis melamun dibalkon rumahnya, bayang-bayang Adrienne masih terngiang diotaknya.


'Kenapa Valarie menangis? Aku ingin sekali memeluk dan menenangkannya' batin Louis.


Banyak pertanyaan muncul dibenaknya, tentang mengapa dia bisa menikahi Eliza, mengapa Adrienne menghindarinya dan kenapa ingatannya buram.


Louis kesal setengah mati, sangat banyak teka-teki yang harus diselesaikannya.


'Akhir seperti apa yang menantiku didepan, aku penasaran, bagaimana jika benar aku meniduri Enne dan Valarie ternyata putriku? Apa aku harus menceraikan Eliza? Tapi aku sudah janji untuk menikahinya tapi kenapa aku bisa berjanji menikahi Eliza? Aku bingung, kumohon ingatanku kembalilah' batin Louis lagi.


Eliza datang dan tiba-tiba memeluk Louis dari belakang, dia tersenyum bahagia sedang Louis tidak memberi ekspresi apapun.


"Bukankah kamu sakit? Harusnya kamu tidur saja sayang" ungkit Louis tak nyaman.


Eliza menggeleng "Sekarang sudah tidak sakit, aku sangat senang sayang" jawabnya masih mengulum senyumnya.


"Senang? Karna apa?" Louis kebingungan, aneh sekali memang, ,sejak tadi istrinya mengeluh sakit lalu tiba-tiba merasa senang, sebenarnya dia kenapa.


"Hm tidak kok, aku senang saja" sahut Eliza lagi, dia pamit dan memilih masuk meninggalkan Louis yang masih tidak mengerti sikap yang ditunjukkan istrinya.

__ADS_1


...*...


...*...


Seorang pria bertubuh kurus dan tinggi diam-diam masuk ke kamar Adrienne, dia menyeringai licik.


Pelan-pelan dia mengikat kaki Adrienne yang terlelap tapi belum sempat kedua tangannya ikut diikat, Enne terbangun, dia terkejut bukan main tapi pria itu dengan sigap menutup mulutnya agar Enne tidak berteriak.


"Reza, sialan apa yang kau lakukan, lepaskan aku" Enne berteriak sekuat tenaga tapi tidak begitu terdengar karna pria bernama Reza itu masih menutup mulutnya.


"Hahahaha kau pikir siapa yang akan mendengar teriakanmu itu? Jujur saja, kau ini tidak sepintar seperti rumornya Adrienne, kau bahkan tidak mengunci pintumu dengan benar, jangan salahkan kalau aku masuk" celoteh pria itu, dia begitu bernafsu melihat kondisi Adrienne yang hanya memakai dress piyama.


Reza mengangkat dress Enne, gadis itu berontak, dia memukul-mukul tubuh kurus pria itu tapi yang didapatinya hanya kekehan tanpa rasa kasihan.


"Kau ini jangan sok jual mahal, kalau sudah begini harusnya kau nikmati saja" bisik Reza.


Adrienne menangis sejadi-jadinya, rasa jijik dan mual menghampiri akalnya, dia tidak mau, bagaimanapun caranya dia harus selamat dari pria yang sedang menindihnya ini.


Tangisan Enne menjadi-jadi, otaknya berpikir keras, bagaimana dia akan selamat dari penghinaan dan pelecehan yang dialaminya ini.


Reza masih terkekeh " Tenang saja Adrienne, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan dunia, ngomong-ngomong kau masih perawan kan? Ah tidak yah? Pelacur sepertimu mana mungkin perawan hahahhaha" ejek pria itu.


Dia mengelus paha Enne, rasa jijik dan takut bercampur dibenaknya, dia memejamkan matanya, dia sangat ingin selamat, dia tidak mau, apapun yang terjadi Enne tidak mau ditiduri pria gila itu.


"TIDAKKK, aku tidak mau" teriakan putus asa Enne semakin memancing birahi Reza, dengan tangkas dia menyentuh dalaman Adrienne dan menariknya dengan pelan.


"Pelacur sepertimu harusnya tidak usah jual mahal" komentar Reza diselingi seringai jahatnya.


"TIDAKKKKKKK, TIDAKKKKKKKK!!! JANGAN SENTUH AKUUUU, TIDAKKKKKKKKKK-


"Enne, tenanglah, aku disini, tenanglah semua baik-baik saja, sst, sst" Edric memeluk Enne yang tersadar dari tidurnya.


Dia menatap pria disamping, dia menghela nafas 'Kenapa ingatan itu kembali lagi' batin Enne.


"Edric, aku takut" Ungkapnya gemetar, Enne langsung memeluk sahabatnya, dia menangis sejadi-jadinya, rasa takut kembali menghantuinya, dia benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya.


Setelah cukup tenang, Tiara membantu Enne makan dan meminumkannya obat, lalu karna mentalnya kelelahan dan juga pengaruh obat membuat Adrienne tertidur lagi dan Valarie hanya bisa melihat ibunya dari jauh karna Tiara melarangnya berdekatan, dia cemas, ibunya terlihat sangat kesakitan.


"Mama, cepat sembuh" gumam Valarie.

__ADS_1


...*...


...*...


__ADS_2