MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU

MELAHIRKAN ANAK IDOLAKU
44


__ADS_3

...- Selamat Membaca -...


...*...


...*...


Louis sedang menunggu giliran untuk bertemu Edric yang sangat sibuk di kantornya, padahal bajunya masih basah dan tubuhnya menggigil karena AC yang sangat dingin.


Meski dia sudah tahu jawaban yang sama akan diberikan Edric tapi tetap tidak mematahkan semangatnya untuk mencari tahu keadaan wanita yang dicintainya dan putrinya.


Waktu terus berlalu, rasa lapar mengganggu pikirannya, perutnya sakit sekali tapi dia masih tetap bertahan menunggu Edric menyelesaikan meeting-nya.


Louis mendengar suara langkah kaki mendekatinya, dia yakin itu sahabat Enne.


"Semangatmu besar juga ya" Ucap Edric, dia menatap keadaan Louis yang jelas terlihat sengsara dengan hidupnya.


Louis tersenyum menatap sendu si Edric.


"Untunglah kamu menemuiku, bagaimana? Apa kau sudah tahu keberadaan Enne dan Valarie?" tanyanya penuh harap.


Edric menghela nafasnya, diapun manusia biasa, tentu ada rasa sedih dan kasihan bila menempatkan dirinya diposisi Louis.


"Kenapa baru sekarang kau mencari-carinya? Kamu sudah terlambat Louis" ungkap Edric, dia menatap sedih pria kurus dan menyedihkan itu.


Louis mengernyit, dia tidak mengerti maksud ucapan Edric.


"Terlambat? Maksudnya?" suara Louis meninggi, dia cemas, berharap semoga bukan berita buruk yang keluar dari mulut Edric.


"Adrienne akan menikah, bulan depan! Jadi tolong jangan ganggu dia, selama ini Enne sudah sangat menderita karenamu, maaf Louis, hanya itu yang bisa kuberitahu" Edric terlihat sedih menjelaskan keadaan Adrienne sekarang.


Dia shock dan tidak tahu harus merespon apa jawaban Edric, seolah pikirannya kosong dan otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik.


Louis menelan salivanya yang terasa pahit, mau tidak mau dia harus menerima kenyataan kalau Adrienne berhak memilih pria yang disukainya.


Meskipun tiba-tiba ingatan pertemuan pertama mereka muncul dan membuat dadanya seperti ditusuk ribuan jarum, jelas sekali dia menahan kesakitan atas fakta yang disebutkan Edric.

__ADS_1


"Baik, aku tidak akan menggangu mereka tapi tolong, sekali saja, pertemukan aku dengannya, tolong Edric" pintanya masih berharap.


Edric tak bisa lagi menghalangi Louis yang sangat putus asa mengharapkan pertemuannya dengan sahabatnya.


"Ok, aku akan memberitahu Enne, aku akan menghubungi mu, jadi sekarang pulang lah" jawab Edric kasihan.


Akhirnya, untuk pertama kalinya, Louis tersenyum, meski tidak bisa berharap lebih tapi setidaknya dia bisa membayangkan pertemuannya dengan Enne dan putrinya.


"Terimakasih Edric, aku benar-benar berterima kasih padamu, kalau begitu aku pamit"


Begitulah Louis meninggalkan Edric, senyumnya tak memudar dan dia terlihat sangat bahagia.


Bahkan setelah dia sampai dikediamannya, wajahnya masih ceria, tapi itu semua tidak berlangsung lama saat dia mendapati ibunya terduduk diruang tamu dengan wajah marah dan menatapnya tajam.


"Ibu, kenapa ibu kemari?" tanyanya hati-hati.


Ibu Louis menyeringai, tak tahan dengan sikap putranya.


"Tck Tck, lihat dirimu sekarang, kau kurus sekali, inilah sebabnya kalau kau menceraikan Eliza, padahal dia istri yang sempurna untukmu, kenapa kau menceraikannya tanpa memberitahu ibu dulu?" ibu Louis meledak-ledak.


Ibu Louis terpaku ditempatnya, baru kali ini putranya berani menentang kata-katanya, apalagi dia tidak bisa mengelak karena yang dikatakan anaknya adalah kenyataan.


"Ibu, tolong jangan harapkan aku rujuk dengan Eliza, dulu aku hanya salah menikahinya karena aku amnesia, wanita yang benar-benar ingin kunikahi adalah orang lain bu, dia bahkan sudah melahirkan putriku, bagaimana bisa aku hidup setelah tahu kenyataan itu? Dia juga tidak meminta apapun padaku meski aku menghamilinya" Louis menggebu-gebu menjelaskannya.


"Apa? Omong kosong apa lagi ini? Kau sudah punya putri dari wanita lain? Maksudmu, kau selingkuh saat masih berstatus suami orang? Apanya yang baik dari wanita tidak tahu malu seperti dia?-


"TUTUP MULUT IBU! Aku bilang, aku salah menikahi Eliza, wanita yang ingin kunikahi adalah Adrienne bu, aku ingin menikahinya karena sudah menidurinya tapi aku lupa ingatan dan mengira Eliza adalah wanita yang sudah kuberikan janji untuk menikahinya, apa ibu paham? Aku tidak selingkuh dan jangan berani-berani ibu menghina wanita sebaik dia, aku tidak akan rela" jelas Louis, dia sangat marah menjelaskannya.


Ibu Louis tak tahu lagi harus menjawab apa, helaan nafasnya yang berat terdengar nyaring di telinga putranya.


"Jadi, dimana wanita itu sekarang? Apa kau akan menikahinya?" tanyanya pasrah, dia pun tidak akan memaksa putranya, apapun yang Louis putuskan, dia akan mendukungnya.


"Tidak! Dia akan menikah bulan depan, tapi aku akan menemuinya sekali lagi, setidaknya aku harus mengungkapkan perasaan ku sebelum dia dimiliki pria lain" jawab Louis putus asa.


Ibu Louis menggeleng.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Kenapa kau jadi lemah begini Lou? Ibu sarankan, kejarlah dia sampai dapat, sebelum dia menjadi milik yang lain, toh pernikahannya masih lama, tidak ada salahnya kalau kau mencoba" sarannya tiba-tiba.


"Tapi bu-


"Tapi apa lagi? Apa kau mau anakmu memanggil ayah pria lain? Apa kau mau wanita bernama Adrienne itu dimiliki orang lain? Benarkah kau ikhlas dia bersama yang lain?" tanya ibunya tak terima.


Kalau dipikir-pikir, mempunyai cucu perempuan bukanlah hal yang buruk, itulah yang dipikirkan ibu Louis sekarang, itu sebabnya dia ingin putranya bangkit dan mencoba mencari cara agar wanita yang anaknya cintai bisa bersamanya, begitupun cucunya.


Louis menggeleng.


"Aku ingin bersama mereka, tapi bu, aku akan jadi orang jahat kalau merebut Enne dari pria yang sebentar lagi menikahinya, aku pernah bertemu dengannya, dia pria yang baik, aku khawatir kalau aku tidak lebih baik darinya bu" ungkapnya cemas.


Lagi-lagi ibu Louis menghela nafasnya.


"Jadi kau mau menyerah?" tanyanya tak habis pikir.


"Ya, menyerah saja, aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka" jawab Louis.


"Baiklah kalau itu yang kau mau, tapi apa kau yakin putrimu senang? Jangan sampai dia justru tidak menyukai pria baru yang akan menjadi ayahnya" hasut ibu Louis lagi, sebisa mungkin, dia ingin putranya berusaha mencapai keinginannya.


Louis nampak berpikir keras, memang benar tidak ada salahnya berusaha tapi kali ini dia sudah sangat terlambat, dia takut kalau mengejar Adrienne dan putrinya hanya akan merusak kebahagiaan yang sudah didapatkan wanita yang dicintainya.


"Sudahlah bu, aku tidak akan berharap ataupun berusaha mengejar dia lagi, yang ku mau hanya bertemu dengannya sekali saja sebelum dia menikah dengan pria pilihannya dan aku yakin, Adrienne tidak akan menikahi pria yang tidak disukai putrinya, aku tau sebesar apa dia menyayangi Valarie" jelas Louis.


"Dari ceritamu, sepertinya Adrienne memang wanita yang perhatian, jadi aku punya cucu bernama Valarie yah? Hm, namanya cantik sekali, dasar bodoh, kenapa kau harus lupa ingatan sih, seharusnya sekarang aku bisa bermain dengan cucu dan menantuku, Tck" ungkap Ibunya kesal, dia menatap nanar putranya.


"Yah, aku mungkin sangat tidak beruntung" sahutnya tak semangat.


"Benar! Kau sangat tidak beruntung" timpal ibunya.


"Ya sudah kamu ganti baju dan makan, aku membawakanmu sup ayam dan makanan lainnya, pergilah makan, kau sangat kurus, gelar tertampan se Indonesia sepertinya akan hilang kalau beratmu terus berkurang, cepatlah makan, jangan membuatku semakin marah" halaunya, dia mencoba menenangkan putranya dan juga menerima kenyataan pahit kalau dia tidak bisa menjadi nenek diusianya yang sudah sangat tua.


"Iya ma, aku akan makan" sahut Louis, dia berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


...*...

__ADS_1


...*...


__ADS_2