
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
'Apa Enne tidak ada? Kalau aku mengetuk sekeras ini, mustahil dia belum keluar' batin Louis.
Dia berjalan mengelilingi rumah Adrienne, siapa tahu sudah terjadi hal yang tidak-tidak padanya, langkah Louis terburu-buru saat mendapati siluet seorang pria dari jendela kaca yang tertutup gorden tipis.
"Siapa pria itu? Apa dia suruhan Eliza? Dasar wanita itu, jelas-jelas aku sudah menyuruhnya menarik orangnya, awas saja Eliza, aku benar-benar akan merusak namamu" ucap Louis kembali terpancing amarah.
Aron kebingungan.
Dan suara ketukan Louis semakin terdengar jelas.
"Hah, aku benci keributan" keluh Aron, dia tidak begitu takut dengan pria yang sedang menggedor pintu Enne, tapi entah mengapa dia tidak suka, rasanya ada sesuatu yang mendorongnya untuk tidak membuka pintu.
"BUKA ATAU AKU AKAN MELAPOR POLISI" teriak Louis dari luar.
Akhirnya keponakan Laura memberanikan diri membuka pintunya.
Mata mereka saling memandang dalam diam, Aron terkejut mendapati Louis yang raut wajahnya sudah seperti ingin membunuhnya.
"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Aron tidak paham.
Bisa-bisanya dia melihat aktor terkenal berdiri didepan rumah seorang Adrienne yang pendiam itu.
"Siapa kau?" Louis balik bertanya. Sorot matanya yang tajam tidak memberi kesempatan Aron untuk bersikap santai.
"Aku? Aku calon suami Enne, tapi kamu siapa? Kenapa aktor terkenal sepertimu ada dirumah calon istriku?" tanya Aron tiba-tiba.
Tidak ada yang bisa dia percayai termasuk pria yang sudah terpancing emosinya itu, ingin sekali Louis memukuli Aron yang sangat santai menanggapi keseriusannya.
Keningnya mengerut mendengar pernyataan Aron yang tiba-tiba, dia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan kata-kata itu.
"Aku harus bertemu Enne, siapapun bisa pura-pura mengaku dekat dengannya, aku akan percaya dia calonmu kalau kalimat itu keluar dari mulut Adrienne" kecamnya, Louis masih tidak menurunkan kewaspadaannya.
Aron terkekeh.
"Wah! Suami orang datang kesini dan marah-marah padaku, apa kau berniat menambah selingkuhanmu? Kulihat diberita kau punya selingkuhan, apa kau benar-benar ingin calon istriku ikut menjadi selingkuhanmu?" tanya Aron ikut kesal, tiba-tiba tatapannya berubah tajam menusuk pandangan Louis yang sama-sama marah.
__ADS_1
Kalimat Aron memang membuat Louis mati kutu.
Dia benar, sikap Louis yang berlebihan sangat mencurigakan begitupun sikap Aron, tidak ada kepercayaan diantara mereka, disatu sisi Louis takut meninggalkan Adrienne karena bisa saja pria didepannya ini adalah suruhan istrinya tapi bagi keponakan Laura, justru keberadaan Louis lebih mencurigakan, apalagi emosinya yang meluap-luap membuatnya tidak bisa menyilakan suami si model cantik Eliza untuk masuk.
Karena merasa jalan buntu menghalanginya, Louis lalu mengambil handphonenya dan memotret wajah Aron.
"Aku akan melaporkanmu ke polisi kalau aku mendengar hal buruk terjadi pada Enne" ucap Louis, dia masih sangat kesal tapi lebih baik dia pergi daripada harus berhadapan dengan kerasnya pertahanan Aron.
"Itu tidak akan pernah terjadi" sahut Aron cepat, dia masuk kedalam rumah dengan raut wajah lega, akhirnya kandidat orang berbahaya sudah pergi.
'Sebenarnya kamu siapa Adrienne? Kenapa banyak sekali pria yang mendekati mu? Ya wajahmu memang sangat cantik tapi semoga saja kau tidak menjadikannya sebagai aset untuk selingkuh dengan suami orang' batin Aron masih mencoba memahami situasi.
Aron mengambil segelas air dan membawanya kedalam kamar Adrienne, dia melihat wajah polos wanita itu, memang sangat cantik dan menarik tapi juga jelas terlihat kesedihan mendalam dari keningnya yang mengerut.
"Apa seseorang menyakitimu? Kenapa kau sedih? Kenapa kau membuatku terus tertarik denganmu? Padahal aku sudah mati-matian untuk tidak menginginkan mu Adrienne, karena kau adalah wanita yang sangat dicintai Deon" ungkap Aron kecewa.
Andai saja Adrienne bukan wanita yang pernah menjalin cinta dengan sepupunya, mungkin dia akan menyatakan cinta dan berusaha memilikinya.
'Tapi aku tidak berhak merusak cinta kalian berdua kan? Aku hanya orang baru, nyatanya Deon lah yang lebih dulu membuatmu bahagia, aku sudah berusaha melupakan mu tapi Tante selalu saja menyuruhku menemuimu, aku bingung, kalau terus seperti ini, aku tidak bisa lagi lari dari perasaanku Enne' Aron membatin lagi.
Jam sudah menunjuk pukul sebelas dan Aron masih duduk disamping Enne, dia tetap terjaga meski tidak ada tanda-tanda wanita didepannya akan bangun dari tidurnya.
"Kenapa wajah Valarie lebih mirip Louis dibanding Deon? Bukankah dia putri Deon? Ah apa yang kupikirkan, itu bukan urusanku" ucap Aron mencoba mengembalikan kesadarannya, matanya yang indah tak sengaja mendapati beberapa obat diatas meja rias Enne.
"Obat apa itu?" tanyanya.
Aron berjalan mendekati posisi obat yang ada diatas meja, disana tertulis nama-nama obatnya, segera dia mencari tahu fungsi obat-obatan itu.
Betapa terkejut Aron mendapati kenyataan kalau Adrienne sedang dalam tahap pengobatan karena PTSD.
"Aku pasti sudah gila mengorek rahasia wanita ini! Maaf Enne, aku tidak bermaksud mengetahui rahasiamu, kalau Deon tahu mantan pacarnya se-menderita ini, dia pasti akan sangat sedih" ungkap Aron sedih, dia menatap lagi wajah Enne.
"Haruskah aku memberanikan diri untuk mendekatimu?" gumamnya ragu.
Sedetik setelah Aron menyatakan perasaannya, Adrienne terbangun membuat pria itu segera mendekat dan memberikan segelas air untuknya.
"Kau tidak apa-apa? Apa kau mau kupanggilkan dokter?" tanya Aron masih meminjamkan lengannya untuk Enne bersandar.
Adrienne tidak menyahut, dia belum sepenuhnya sadar, sorot matanya yang lemah mengitari ruangan seolah mencari sesuatu.
"Ada apa? Kau mencari apa?" tanya Aron, dia cukup tanggap melihat gerak-gerik ibu Valarie.
__ADS_1
Enne menoleh dan baru menyadari dirinya yang masih menyender di bahu Aron. Dia mendorong lengan sepupu Deon, meski lemah, Aron melepaskan rangkulannya, sebenarnya dia juga masih canggung.
"Bagaimana dengan pria itu?" tanyanya memandangi pintunya yang sedikit terbuka.
"Dia sudah ditangkap, kamu tenang saja" sahut Aron mencoba menenangkan.
"Terimakasih Aron" ucap Enne lagi.
Aron menggeleng karena tidak merasa yang dilakukannya sangat berharga.
"Aku tidak melakukan apapun, oh iya tadi Louis datang kesini, tapi aku mengusirnya karena aku tidak tahu apa dia berniat baik atau tidak padamu" jelasnya pada Enne.
"Louis? Kenapa dia kesini? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Enne lagi.
"Tidak ada hal yang penting, dia pergi setelah mengambil gambarku" sahut Aron.
"Kenapa dia mengambil gambar mu?" ucap Enne masih dengan rasa penasarannya.
"Entahlah, katanya dia akan melaporkan ku kalau aku berbuat jahat padamu" jawab Aron.
Adrienne hanya mengangguk mendengar jawaban Aron, dia agak bingung karena mendapati dirinya yang tidak merasa takut ataupun benci dengan keberadaan Aron disampingnya.
"Apa kau mau pergi ke suatu tempat?" tanya Aron, dia melihat koper Enne yang terbuka dan sudah ada beberapa pakaian didalamnya.
Adrienne mengangguk.
"Aku dan Valarie akan pergi ke rumah Laura, kami akan tinggal disana untuk beberapa waktu"
"Kamu mau kerumah Deon? Tapi disana tidak ada orang, tante sedang ke luar kota, kamu benar mau kesana?"
Aron sepertinya tidak setuju dengan ide Adrienne untuk tinggal dirumah Deon.
"Kami bisa tinggal disana meski Laura tidak ada" jawab Enne lagi.
"Tidak, maksudku kenapa kalian kesana?"
Aron masih gigih dengan pertanyaan-pertanyaannya sedangkan Enne menatap bingung pria disampingnya itu, sebenarnya kenapa dia bersikeras menanyakan tujuan Enne.
...*...
...*...
__ADS_1