Melukis Citra Dengan Cahaya

Melukis Citra Dengan Cahaya
Part 21


__ADS_3

Setelah mengganti pakaiannya dengan baju olahraga, Bagio melanjutkan kegiatannya malam itu dengan berolahraga di gym.


Tidak ada Coach di sana, namun ada beberapa orang model lain, yang tampak sedang berolahraga suka-suka mereka sendiri.


Bagio yang sudah hapal dengan apa saja yang menjadi urutan saat berolahraga, melakukan pemanasan lebih dulu, sebelum berlari di atas treadmill.


Ada satu model wanita yang berlari di atas treadmill, bersebelahan dengan Bagio.


Wanita itu tampak memasang penyuara telinga di kedua sisi indera pendengarannya itu, dan seolah-olah tidak menghiraukan kedatangan Bagio yang ikut berlari di dekatnya.


Jika saja rambutnya tidak panjang, dan wajahnya yang terlihat masih memakai riasan wajah tipis, maka orang bisa salah mengira, dan menganggap kalau dia adalah seorang laki-laki.


Badan wanita itu sangat kurus, dan hampir rata di bagian depan maupun belakangnya, ketika Bagio melihatnya dengan ujung matanya.


Tapi, kekuatannya berlari di atas treadmill patut diacungi jempol.


Karena setelah beberapa menit Bagio mengimbangi kecepatan berlari dari wanita itu, Bagio rasanya akan kehabisan nafas.


Bagio menurunkan kecepatan gerakan lantai treadmill, dan menyesuaikan dengan kemampuannya saja, daripada dia jatuh pingsan di situ.


Merasa waktunya berlari di atas treadmill sudah cukup, Bagio kemudian berganti alat bantu olahraganya dengan menggunakan alat Chest Press Machine.


Tidak lama setelah Bagio duduk di atas alat olahraga yang melatih otot dadanya, model wanita itu juga terlihat berhenti berlari dari atas treadmill, dan beranjak pergi dari gym.


Sekarang ini, tinggal Bagio dan dua orang model lain yang ada di dalam ruang olahraga itu, tapi hanya Bagio yang berolahraga.


Meskipun mereka memakai pakaian olahraga, namun dua orang model laki-laki lain di situ, tampak hanya asyik bercengkrama, sambil duduk berhadap-hadapan di atas matras.


Entah cuma karena mereka memang berteman akrab, atau sebenarnya ada hubungan lebih dari itu di antara mereka.


Menurut penglihatan Bagio, gerak-gerik kedua model laki-laki itu, malah seperti sepasang kekasih yang sedang saling melepas rindu.


Bukan tanpa alasan hingga Bagio bisa menduga seperti itu.


Sesekali, salah satu dari laki-laki itu tampak mengelus pipi lawan duduknya, dan laki-laki yang dielus pipinya akan tersenyum sambil menatap orang di depannya dengan mata sayu.


Ah! Sudahlah!


Lebih baik Bagio berkonsentrasi menghitung waktu dan gerakan olahraganya, dan melakukannya sesuai dengan yang biasa dia lakukan di bawah arahan Coach.


Kelihatannya, dugaan Bagio kalau hubungan kedua laki-laki itu ada yang aneh, akan terbukti sekarang ini.


Tanpa berniat untuk memandangi tingkah laku kedua laki-laki, yang memang duduk tidak jauh di seberang depan Bagio.

__ADS_1


Ketika Bagio sedang melatih otot lengannya menggunakan EZ Curl Bar, tiba-tiba, penglihatan Bagio menangkap basah gerakan kedua orang itu yang sedang berciuman.


Kedua lengan Bagio seakan-akan kehilangan kekuatannya, saking terkejutnya melihat pemandangan yang tidak biasa di depannya.


Sampai-sampai, gagang besi yang sedikit meliuk, dan terpasang beban tambahan berbentuk bulat gepeng di kedua sisinya, dengan berat kurang lebih 10-an kilogram itu, hampir terjatuh ke lantai.


Bagio lantas menghentikan olahraganya, dan setelah meletakkan EZ Curl Bar kembali ke tempatnya, Bagio segera beranjak pergi dari ruang olahraga itu.


***


Sambil Bagio mandi, Bagio terpikir akan kejadian di gym tadi.


Apa tidak dilarang agensi, jika ada dari para model yang berhubungan lebih dari teman di dalam Dorm?


Tapi, bisa saja sih!


Soalnya, penghuni di Dorm rata-rata adalah orang yang sudah dewasa.


Tentu hal itu sudah diperhitungkan oleh pihak agensi, jika mereka menggabungkan beberapa orang sekaligus di dalam satu tempat tinggal.


Buru-buru Bagio menyelesaikan mandinya, lalu beranjak pergi dari dalam kamar mandi umum itu.


Ketika Bagio berjalan kembali ke kamarnya, Dirga yang tampaknya baru pulang, hampir berpapasan dengannya, saat Bagio akan menaiki anak tangga.


Dirga yang berjalan bersama satu orang model wanita, terlihat sedang memapah wanita yang bersamanya itu, yang tampak berjalan pincang dengan salah satu kakinya yang terpasang perban.


"Eh! ... Dia terjatuh di catwalk, sampai terkilir," jawab Dirga. "Aku antar dia ke kamarnya dulu!"


Bagio yang melihat Dirga yang tampak kesulitan membawa wanita itu, segera berinisiatif untuk membantu mereka, dan ikut memapah model wanita itu di sisi berlawanan dari Dirga, menaiki anak tangga ke lantai dua.


"Terima kasih!" Dirga dan wanita itu, berucap secara bersamaan.


"Sama-sama," jawab Bagio. "Tadi, kalian berdua dapat pekerjaan di tempat yang sama?"


"Iya." Lagi, Dirga dan wanita itu menjawab pertanyaan Bagio secara serentak.


"Untung saja, dia terjatuh saat sudah tinggal di dua putaran terakhir," lanjut Dirga.


"Terus, apa sudah dipijit?" tanya Bagio.


Dirga dan wanita itu mengangkat pandangannya dan bersama-sama melihat Bagio, lalu tampak bertatap-tatapan.


Apa ada yang salah? Bagio bingung melihat reaksi Dirga dan wanita itu.

__ADS_1


Di kampung Bagio, kalau keseleo kan biasanya dipijit?


"Tadi aku sudah ke dokter, bang!" jawab wanita itu, pelan.


"Biasanya mungkin memang ada yang dipijit. Tapi kalau kita-kita ini, terbiasa untuk pergi memeriksakannya ke dokter. Karena takutnya, kalau asal dipijit, lalu hanya memperparah cedera....


... Tidak ada yang berani ambil resiko itu. Karena bisa-bisa, akan makin lama kita tidak bisa bekerja. Sedangkan biasanya, jadwal kerja sudah ada sejak jauh-jauh hari," sambung Dirga menjelaskan.


Bagio manggut-manggut mengerti.


Tanpa banyak berbicara lagi, mereka bertiga terus berjalan, sampai ke kamar nomor 5 yang kelihatannya menjadi tempat istirahat model wanita itu.


Dirga membukakan pintu kamar yang masih terlihat kosong tanpa ada penghuni lain, lalu, masih bersama-sama Bagio, membantu memapah wanita itu, sampai ke tempat tidurnya.


"Terima kasih!" ucap wanita itu, sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Sama-sama." Bagio dan Dirga menjawabnya secara serempak.


"Istirahat saja! Kalau butuh sesuatu, hubungi saja aku," lanjut Dirga.


Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Iya."


Bagio dan Dirga kemudian berjalan keluar dari kamar, meninggalkan wanita itu yang tampak segera berbaring di atas tempat tidurnya.


"Kakinya lumayan bengkak," ujar Bagio, sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.


Mungkin karena melihat Bagio yang masih menahan diri di depan pintu kamar, Dirga juga ikut berhenti berjalan, dan mengobrol dengan Bagio di depan situ.


"Iya. Cederanya jadi bertambah parah, gara-gara dia terjatuh, tapi masih ada satu putaran lagi," sahut Dirga.


"Eh! Maksudmu, setelah terkilir dia masih bekerja?" tanya Bagio bingung.


"Tentu saja. Apa kamu kira kalau terjatuh, lalu dia bisa langsung istirahat? Lalu siapa yang akan memperagakan pakaian, yang dibuat memakai ukuran badannya?" sahut Dirga.


Bagio jadi ingat waktu pemotretannya tadi siang.


Semua pakaian yang diberikan kepadanya, seolah-olah memang sudah diperkirakan agar pas di badan.


"Untuk peragaan busana, desainer mengukur badan modelnya, lalu membuat busana rancangannya, sesuai dengan ukuran model itu....


... Dengan begitu, pasti belum tentu akan cocok pakaiannya, kalau dipakai oleh model lain, kan?...


... Makanya, seperti dia tadi, mau tidak mau tetap harus memaksa berjalan meski kakinya sakit, seolah-olah tidak terjadi apa-apa," kata Dirga menjelaskan.

__ADS_1


"Kalau yang kayak aku, bagaimana?" tanya Bagio. "Aku memakai pakaian yang sudah jadi."


"Setahu aku, ukuranmu pasti sudah ada di berkas, yang dibawa oleh orang dari agensi yang mengantarmu bekerja," jawab Dirga.


__ADS_2