
Bagio meloncat dari atas tempat tidurnya, setelah mengintip dengan mata mengantuknya, ke arah jam dinding di dalam kamar.
Sudah pukul enam lewat beberapa menit, sedangkan menurut jadwal, Bagio akan dijemput di jam setengah tujuh nanti.
Baru hari ke-dua bekerja, jangan sampai dia terlambat, dan seolah-olah dia tidak menghargai pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.
Setengah berlari, Bagio keluar dari kamarnya, setelah mengambil pakaian ganti dari dalam lemari.
Ketika menuruni tangga untuk menuju ke kamar mandi, Bagio sempat terpeleset, karena kehilangan konsentrasi sebab dia yang melangkah terlalu terburu-buru.
"Eits! ... Huuffft ...! Nyaris!" ucap Bagio sambil mengelus-elus dada, lalu kembali melangkah dengan cepat, agar bisa segera mandi.
Keterlambatan Bagio bangun hari ini, gara-gara kerusuhan yang terjadi di seberang tempat tidurnya, malam tadi.
Sembari menggosok badannya dengan sabun, Bagio memikirkan kemungkinan hal yang terjadi di dalam kamarnya.
Entah ada apa, hingga di dalam kamarnya bisa terdengar suara erangan, dan bahkan hampir terdengar seperti tangisan, seolah-olah ada rekan sekamarnya yang sedang kesakitan.
Sudah lebih dari sebulan Bagio tinggal di Dorm, tapi Bagio tidak pernah tahu, bagaimana rupa dari dua orang yang tidur sekamar dengannya.
Dua model yang mendapatkan kamar yang sama dengan Bagio, selalu kembali ke situ saat sudah tengah malam dan mendekati subuh.
Sedangkan pagi-pagi, setiap kali Bagio sudah bangun dan pergi mandi, kedua orang itu masih tidur, dengan memakai selimut yang menutupi sampai separuh wajah mereka.
Kadang-kadang, malah hanya ada satu tempat tidur yang terlihat seolah-olah ada penghuninya, saat Bagio melihatnya sepintas ketika berjalan keluar dari kamar.
Semalam juga demikian.
Di saat Bagio sudah terlelap tidur, di saat malam sudah sangat larut, barulah mereka masuk ke dalam kamar.
Bagio yang kelelahan karena bekerja, dan masih berolahraga setelahnya, benar-benar merasa enggan untuk membuka matanya, walau hanya sekedar mengintip kedatangan rekan sekamarnya.
Ditambah lagi dengan kondisi kamar yang gelap, karena lampu yang dimatikan saat tidur malam, membuat Bagio semakin tidak berminat untuk mencari tahu, apa yang sedang terjadi di dalam situ.
***
Untung saja Bagio bisa bergerak dengan cepat, sehingga ketika Hana datang, Bagio sudah siap untuk pergi dengannya.
"Kenapa matamu? Bukannya kita semalam cepat pulang?" tanya Hana.
"Eh! Kenapa? Aku tadi nggak perhatikan," sahut Bagio, santai, karena atas permintaan Hana, agar percakapan mereka tidak perlu terlalu formal lagi.
Di dalam mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang, Hana mengeluarkan cermin kecil yang menempel di tempat bedaknya dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada Bagio.
__ADS_1
Ternyata bola mata Bagio tampak kemerahan, dan terlihat seperti orang yang kelelahan.
"Aku kurang tidur semalam," ujar Bagio. "Apa ini nanti akan jadi masalah?"
"Iya. Apa kamu nggak tahu?! Fotografer pasti mengomel, kalau dia melihat mata model yang akan dipotret close-up, lalu seperti matamu itu," sahut Hana.
Hana yang terlihat sedang mengacak-acak isi di dalam tasnya, kemudian memegang sebotol obat tetes mata dan memperhatikan benda itu baik-baik.
"Sudah kadaluarsa," celetuk Hana.
Hana lalu tampak mengangkat wajahnya, dan melihat ke arah supir. "Mas! ... Kalau melihat ada apotik, tolong singgah sebentar!"
"Kenapa kamu bisa kurang tidur?" tanya Hana, heran.
"Aku nggak tahu benar atau nggaknya. Tapi, kurasa, aku mendengar rekan sekamarku menangis. Makanya, aku nggak bisa tidur nyenyak," jawab Bagio ragu-ragu.
"Sudah kamu laporkan kepada Mas Andi?" tanya Hana lagi.
"Belum," jawab Bagio. "Aku tadi bangun kesiangan, jadi aku nggak sempat bertemu dengannya."
Bagio jadi ingat kejadian yang dia lihat di dalam ruang olahraga semalam, tapi rasanya Bagio ragu, kalau mau bertanya tentang hal itu kepada Hana.
Karena, jika berhubungan lebih dari teman ternyata memang dilarang oleh agensi, maka Bagio akan terlihat seperti tukang adu.
Dan tidak menutup kemungkinan, kalau sesama penghuni Dorm nanti jadi tidak suka dengan keberadaan Bagio di antara mereka.
"Han! ... Hari ini, apa jadwalku ada sela waktu sedikit untuk singgah berbelanja? Aku nggak akan lama. Aku hanya mau singgah membeli pakaian dalamโ"
Bagio lalu menunjuk ke kakinya yang memakai sepatu olahraga dari Gym, dan pandangan mata Hana tampak mengikuti arah yang ditunjuk oleh tangan Bagio.
"... Sekalian membeli sandal, atau sepatu baru," lanjut Bagio.
Hana lalu melihat lembaran kertas yang dipangkunya sedari tadi, dan tampak memperhatikan isi tulisan yang tertera di dalamnya.
"Ada. Nanti siang jam dua," jawab Hana. "Sesi pemotretan selanjutnya nanti jam lima sore."
Setelah itu, Hana lalu tampak seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, lalu berkata, "Tapi ... Ada tempat yang harus kamu datangi di sela waktu kosong itu. Sempat nggak, ya?!"
"Ke mana?" tanya Bagio.
"Waxing," sahut Hana, lalu melihat ke arah lain.
"Apa itu?" Bagio makin penasaran.
__ADS_1
"Beneran kamu nggak tahu?" Hana malah balik bertanya, sambil mengerutkan alis dan dahinya.
Bagio menggelengkan kepalanya. "Nggak."
"Pencabutan bulu-bulu di badanmu," kata Hana menjelaskan, tanpa mau bertatapan dengan Bagio.
Meskipun Hana tampak memalingkan pandangannya, tetap saja Bagio masih merasa malu saat mendengar perkataan Hana barusan.
Apalagi, Bagio tadi sempat menangkap gerakan mata Hana, yang melihat ke arah perut Bagio, sebelum Hana melihat ke arah lain.
Dengan begitu, Bagio jadi mengerti bulu-bulu bagian mana yang akan dicabut dari badannya.
Tapi ... Dicabut?
Tidak sengaja tertarik sedikit saja sudah terasa sakit, bagaimana kalau harus dicabut?
Lalu, apa akan dicabut semuanya? Rasanya, kemungkinan besar memang demikian, agar bisa bersih seperti pekarangan Dirga.
Membayangkannya saja sudah membuat Bagio merasa ngilu, sampai-sampai Bagio menyilangkan kakinya.
Sudah ...! Jangan terlalu dipikirkan ...! Nanti tidak bisa konsentrasi bekerja.
Sampai mereka tiba di lokasi pemotretan yang pertama, tidak ada lagi yang Bagio dan Hana perbincangkan.
"Sini! Aku berikan obat di matamu dulu!" ujar Hana, sebelum mereka keluar dari dalam mobil.
Sambil tetap duduk di jok, dan Bagio yang mendongakkan kepalanya, Hana yang setengah berdiri di dekat Bagio, lalu menjatuhkan beberapa tetesan cairan obat, di kedua bola mata Bagio yang terbuka.
"Sudah! Ayo kita pergi!" ajak Hana yang keluar dari mobil lebih dulu, kemudian disusul Bagio yang masih mengedipkan berkali-kali, matanya yang basah.
Kali ini, pemotretan akan dilakukan oleh beberapa model secara bergantian, dan ada yang akan dipotret secara bersamaan.
Untuk pemotretan iklan untuk krim pelembab wajah itu, para model tidak perlu sibuk berganti pakaian.
Justru sebagian dari pengambilan gambar dari para model, akan dilakukan hanya dengan kondisi bertelanjang dada, dan benar-benar terfokus dari bagian dada ke atas.
Bagio sempat mengira kalau iklan yang dia bisa lihat di spanduk, ataupun brosur, dan papan reklame, modelnya memang benar-benar memiliki kulit mulus.
Tapi ternyata tidak demikian adanya, setelah Bagio menjalani sendiri pemotretan untuk iklan perawatan kulit itu.
Wajah para model justru dirias untuk menutupi kekurangannya sebelum dipotret, hingga kulit mereka bisa terlihat lebih sempurna.
Lebih parahnya lagi, hasil pemotretan itupun ternyata masih di edit lagi, hingga kulit para model seakan-akan tidak ada pori-porinya lagi, saking halusnya.
__ADS_1
Bagio jadi merasa sedikit tertipu, dengan produk perawatan kulit yang sempat dibelinya dengan harga mahal.
Dan seketika itu juga Bagio menyadari, kalau produk seperti itu mungkin memang bagus, tapi hanyalah mimpi, jika ingin mendapatkan kulit yang benar-benar sempurna, seperti tampilan foto model yang ada di iklan.